Share

Bab 7

Author: Nia Juwita
Darrel merasa heran, kenapa ibunya tiba-tiba peduli dengan urusan ibu mertuanya?

Ibu mertuanya memang pernah menjalani operasi sekali. Meski hasilnya tidak terlalu baik, untuk saat ini dia hanya perlu menjalani perawatan berkala dan diperbolehkan keluar jika ingin.

Namun, proses kepulangannya dari rumah sakit hingga kini tak kunjung diurus.

Dia menjawab, "Sudah, nanti setelah dia pulang baru diurus."

Mendengar Darrel berkata begitu, Zafira pun merasa lega. Sepertinya Celine tidak membohonginya.

Karena putra dan menantunya memang akan bercerai, tentu saja dia akan berpihak pada putranya.

Dia bertanya seperti sedang mengobrol santai, "Uang seserahan yang keluarga kita berikan itu semuanya digunakan untuk biaya pengobatan ibunya, 'kan?"

"Ya."

"Setelah menikah, penghasilan kalian jauh berbeda. Ibunya juga sakit dan butuh banyak uang untuk berobat. Selama ini semuanya ditanggung olehmu."

"Kamu benar-benar rugi. Tapi, seserahan yang diberikan Keluarga Suwandi juga nggak sedikit. Kita nggak berutang apa pun ke mereka."

Zafira mengingatkannya dengan sungguh-sungguh, "Kalau nanti dia minta sesuatu lagi, terutama uang, kamu nggak perlu terlalu mengalah. Kita bukan yayasan amal."

"Soal penyakit ibunya, asalkan kita membantu sedikit, itu sudah cukup untuk menunjukkan niat baik."

Mendengar sampai di sini, kekesalan Darrel semakin terlihat jelas.

"Ibu ini kenapa sih? Biasanya Ibu paling nggak suka membicarakan urusan rumah tangga orang lain seperti ini."

"Aku cuma takut dia nggak tahu diri dan minta uang banyak."

Bagaimanapun, kesenjangan status mereka memang ada.

Saat menikah dulu, Celine tidak membawa mas kawin. Hal ini menjadi topik yang sensitif di keluarga.

Keluarga Suwandi memang tidak terlalu memedulikan soal uang, tetapi menerima menantu yang tidak punya apa-apa cukup membuat mereka kehilangan martabat. Mereka bahkan sempat menjadi bahan tertawaan di kalangan mereka cukup lama.

Tentu saja Keluarga Suwandi tidak puas dengan Celine. Hanya saja, demi Darrel, mereka enggan membicarakannya agar tidak merusak keharmonisan keluarga.

Darrel berkata dengan dingin, "Apa semalam Ibu kurang tidur?"

Ucapan Darrel membuat Zafira tercekat. Dadanya terasa sesak menahan emosi.

Dia berpikir, memang dia tidak suka membicarakan urusan orang lain, tetapi masa urusan perceraian putranya sendiri juga tidak boleh dia tanyakan?

Sejak Celine masuk ke keluarga mereka sampai sekarang, tidak pernah sekali pun dia merasa tenang dan nyaman.

Namun, putranya ini selalu punya pendirian sendiri dan sangat menjaga harga dirinya.

Melihat Darrel tidak senang, Zafira pun tidak berani banyak bicara. Dia hanya menyuruhnya segera tidur, lalu naik ke lantai atas.

Darrel memandangi sosok ibunya yang tampak murung. Dia tak kuasa mengernyit.

Dia tidak bodoh. Sejak pulang ke rumah, dia tidak pernah melihat Celine.

Ibu dan adiknya juga tampaknya selalu mengeluh tentang Celine.

Berbagai kejanggalan itu membuatnya menyadari ada yang tidak beres.

Apakah terjadi sesuatu ketika dia tidak berada di rumah?

Darrel melihat jam. Hari sudah cukup larut.

Karena itu, keesokan harinya dia menyempatkan diri menelepon Celine untuk menanyakan keadaan.

Dia tidak tahu bahwa saat ini, Celine yang berada di rumah sakit Kota Litar, sedang menghadapi situasi sulit.

Celine duduk sendirian di lorong rumah sakit. Wajahnya tampak lelah dan cemas, hatinya dipenuhi kegelisahan.

Kemarin, Helen tiba-tiba pingsan di tempat wisata. Mungkin karena kelelahan ditambah mabuk ketinggian.

Celine sedikit menyesal.

Darrel benar. Mabuk ketinggian sangat berbahaya. Seharusnya dia lebih memperhatikannya.

Kebetulan, tepat pada saat itu Darrel menelepon.

Setelah melihat nama Darrel, Celine buru-buru mengangkatnya.

Dia ingin bertanya apa yang harus dilakukan dengan kondisi ibunya, apakah keadaannya akan serius.

Namun, dia tidak menyangka Darrel justru menelepon untuk mencari kesalahan.

Ketika tersambung, Darrel langsung bertanya, "Kenapa kamu masih belum pulang?"

Ketidakpuasan dalam suaranya bahkan terdengar jelas melalui telepon dan sampai ke telinga Celine.

Celine memandangi ibunya yang masih belum melewati masa kritis di dalam kamar rawat, lalu menimpali dengan susah payah, "Kamu sudah nggak sabar banget ya?"

Darrel terus memikirkan ucapan ibunya yang tidak menyenangkan semalam, lalu bertanya dengan terus terang, "Kamu minta uang ke keluargaku?"

Celine sempat tertegun.

Dia mengernyit, lalu menegakkan tubuhnya dari dinding yang dingin. Wajahnya bahkan lebih pucat daripada dinding di belakangnya.

Dia bukan hanya bingung, tetapi juga sangat kecewa.

Selama ini, dia mengira Darrel berbeda dari pria lainnya. Ternyata, pria yang sedingin dan sesulit itu untuk didekati pun tetap tidak bisa lepas dari hal semacam ini.

Hal pertama yang dipikirkan ketika bercerai tetap saja uang.

Celine tidak berkata apa-apa, tetapi Darrel mengira diamnya berarti dia mengaku. Suaranya pun terdengar dingin.

"Kalau ibumu butuh biaya untuk berobat, kamu bisa bilang ke aku. Lain kali jangan cari keluargaku untuk masalah seperti ini."

Celine tidak tidur semalaman, juga belum makan maupun minum. Karena emosinya memuncak, pandangannya berkunang-kunang dan jantungnya berdebar kencang.

Dalam pembagian harta saat perceraian, dia tidak meminta banyak.

Pertama, uang seserahan 2 miliar itu tidak perlu dia kembalikan.

Kedua, Keluarga Suwandi bersedia membantu mengobati ibunya.

Keluarga Suwandi memang memiliki akses ke sumber daya medis yang lebih baik, sehingga dia tidak pernah meminta uang lagi untuk biaya pengobatan.

Ternyata, dua syarat yang hanya sesederhana itu pun sudah membuat Darrel tidak senang.

"Darrel."

Celine memanggil namanya.

Terakhir kali, mereka juga berpisah dalam suasana tidak menyenangkan. Dalam pandangan Darrel, apa pun yang dia katakan, Celine selalu tidak ingin mendengarkannya.

Itu sebabnya, Darrel selalu meremehkan segala keributan yang terjadi dalam pernikahan mereka.

"Memangnya yang kukatakan salah? Kalau kamu butuh uang, cari aku. Untuk apa cari keluargaku?"

Celine bertanya dengan dingin, "Siapa yang bilang aku minta uang? Suruh dia datang ke sini dan bicara langsung denganku."

Namun, sikap Darrel bahkan lebih dingin dan keras darinya.

"Kalau ini soal pengobatan ibumu, cukup bilang ke aku. Nggak perlu cari keluargaku. Ayah dan Ibu juga sibuk."

Ya, sibuk. Celine menahan amarahnya sambil mengangguk.

Seorang kepala departemen di rumah sakit militer dan seorang direktur di rumah sakit, ibu dan anak itu memang sama-sama sibuk.

Mana mungkin dia berani merepotkan orang tua Darrel hanya karena urusan ibunya yang sepele?

Darrel kembali bertanya, "Sebenarnya kapan kamu mau pulang? Sudah beli tiket? Kalau belum, aku belikan tiket pesawat untukmu dan ibumu. Ibumu perlu masih perlu pemeriksaan lanjutan."

Mendengar soal pemeriksaan lanjutan ibunya, Celine semakin kesal.

"Rumah Sakit Jayaga ternyata cuma menjual nama tapi nggak punya kemampuan. Pelayanannya jelek dan nggak ada satu pun orang baik di sana."

"Edwin memandang rendah ibuku, bahkan pemeriksaan lanjutan pun nggak mau dia lakukan. Kalau sampai terjadi sesuatu pada ibuku seperti yang kamu bilang, orang pertama yang akan kucari adalah kakak tingkatmu itu!"

"Celine, bicara sesuai fakta. Jangan asal bicara."

Darrel merasa Celine semakin tidak masuk akal.

Meskipun Edwin memang tidak mengurus masalah ini dengan baik, sebagai seorang dokter, dia lebih membenci keributan yang ditimbulkan pasien atau keluarganya terhadap rumah sakit.

Celine memijat kepalanya yang terasa berat dan berusaha keras menenangkan diri.

Sebagai seorang dokter, Edwin memang jelas salah karena lalai terhadap pasien.

Namun, Darrel tetap saja membela kakak tingkatnya itu.

Celine menarik napas panjang.

Melihat Helen yang masih belum sadarkan diri di dalam kamar rawat, dia merasa lelah. Dia sudah tidak punya tenaga untuk bertengkar lagi dengan Darrel.

"Aku akan pulang. Tunggu dua hari lagi. Kamu tenang saja."

Suaranya tenang seperti air yang sudah tidak bergelombang.

"Darrel, kamu bilang kalau penyakit ibuku bisa dibicarakan denganmu, terima kasih. Tolong atur semuanya. Kondisi ibuku sepertinya kurang baik."

Suaranya tercekat. Sebelum sempat menangis, dia segera menutup telepon karena tidak ingin Darrel mendengarnya.

Darrel meneleponnya lagi, tetapi semua panggilannya ditolak.

Dia tahu, bagi Darrel dan Keluarga Suwandi, dia dan ibunya sama-sama merupakan beban.

Di mata mereka, dia adalah wanita yang tidak tahu malu.

Ujung jari Celine terasa dingin. Dengan tangan gemetar, dia mengirim pesan kepada Johan.

Dia memberitahunya bahwa Helen jatuh sakit di Kota Litar dan masa cutinya harus diperpanjang.

....

Untungnya, malam itu Helen sadar dan dirawat di rumah sakit selama tiga hari.

Dengan tubuh lemah, dia berkata kepada Celine, "Celine, Ibu sudah puas jalan-jalan. Kita pulang ke Kota Purgawa saja. Kamu sudah menemani Ibu lama sekali, nanti Darrel nggak senang."

Celine mengangguk di samping ranjang.

Darrel memang tidak senang. Istri yang sudah bersamanya melewati masa sulit ini tidak boleh menghalanginya untuk bercerai dan menikah lagi.

"Dokter bilang, Ibu masih harus beristirahat di rumah sakit dua hari lagi. Lusa kita pulang ke Kota Purgawa."

"Ya sudah." Helen menjawab dengan mata setengah terpejam.

Celine melihat ibunya bahkan tidak memiliki tenaga untuk membuka mata. Melihat sang ibu yang begitu lemah dan tidak bersemangat, air matanya tak terbendung.

Dia ingin sekali berkata, "Bu, jangan tinggalkan aku. Aku hanya punya Ibu sebagai keluarga. Aku bahkan belum sempat membuat hidup Ibu lebih baik. Aku nggak mau jadi anak yatim piatu."

Namun, dia tidak bisa mengatakannya kepada ibunya, juga tidak punya tempat untuk bercerita.

....

Johan Theodora yang berada jauh di Kota Purgawa terus memikirkan Celine.

Saat mengenakan kacamata baca dan menonton berita malam, pikirannya tidak fokus. Dia terus menghela napas.

Dulu dia adalah profesor di Universitas Kedokteran Purgawa. Sekarang dia sudah pensiun dan bekerja di lembaga bioteknologi farmasi yang didirikan oleh cucunya.

Celine adalah murid yang dulu dia bimbing, sekaligus murid terakhir yang paling dia sayangi.

Darrel dan Celine bisa menikah juga karena dia yang memperkenalkan mereka.

Saat ini, seorang pria berwajah tenang dan bersetelan rapi membawa koper sambil menuruni tangga dan melihat jam tangannya.

Johan menoleh kepadanya. "Mau dinas ya?"

Pria itu mengangguk dan menghampirinya.

"Kali ini mungkin selama tiga hari. Jangan lupa minum obat tekanan darahnya."

Melihat paspor di tangannya, Johan tak mampu menahan diri untuk bertanya, "Kamu mau pergi ke mana?"

"Ke Negara Durbak, mau membahas kerja sama penelitian dan pengembangan obat biologis serta vaksin mRNA."

"Jadi, kamu nggak sempat datang ke seminar antarmuka otak-komputer di Kota Litar?"

"Nggak."

Mendengar itu, Johan merasa cukup kecewa.

Melihat Johan sepertinya masih memikirkan sesuatu, Levin bertanya, "Ada apa?"

Johan menjawab, "Nggak apa-apa, cuma soal Celine."

Mendengar nama yang disebutnya, ekspresi Levin sedikit berubah. Dia pun sepertinya tak lagi terburu-buru untuk pergi.

"Celine mengajak ibunya berlibur ke Kota Litar. Beberapa hari lalu dia mengirimiku pesan, katanya harus memperpanjang cuti. Ibunya tiba-tiba jatuh sakit di Kota Litar."

Johan melepas kacamata bacanya dan menghela napas.

"Tumornya sudah diangkat, tapi kondisi ibunya memang sejak awal nggak pulih dengan baik. Menurutmu ...."

"Ibunya sakit?" Levin mengernyit.

Continue to read this book for free
Scan code to download App

Latest chapter

  • Pesan Cerai Sudah Terkirim   Bab 50

    Kalimat terakhirnya jelas terdengar tegas dan tajam.Celine tidak ingin siapa pun melihat air matanya.Dia selalu berusaha terlihat kuat. Bahkan di depan ibunya sendiri, dia tidak pernah menangis.Terlebih lagi, dia tidak ingin menangis tersedu-sedu di depan orang lain. Tidak ada seorang pun yang boleh melihatnya menangis.Dia berusaha keras menahan air matanya tanpa mengeluarkan suara.Mata dan hidungnya sudah sangat merah, bahkan area di sekitar matanya pun mulai basah karena air mata.Jas putih yang dikenakannya dan helaian rambut yang jatuh di sisi pipinya semakin menonjolkan wajahnya yang begitu pucat dan lelah, membuat seluruh dirinya seolah akan hancur.Levin menatapnya. Dadanya terasa sesak. Amarah dan rasa tidak rela membara di dalam dirinya.Ada seseorang yang membuat Celine bersedih dan sekarang dia menangis karena orang itu.Celine tidak menceritakan kesedihannya kepada Levin. Levin hanya mengembalikan ponselnya dengan tenang."Kak, aku ke ruang penelitian dulu."Celine ber

  • Pesan Cerai Sudah Terkirim   Bab 49

    Dokter memberinya beberapa obat herbal untuk membantu mengurangi tekanan mental.Saat Levin pergi mengambil obat, dokter berbisik kepada Celine, "Pak Levin sudah menemanimu selama dua jam lho.""Hah?" Celine terkejut.Sebelumnya, media keuangan pernah bergurau bahwa kalau penghasilan Levin dihitung dengan standar gaji pegawai kantoran biasa, penghasilannya bahkan bisa dihitung per milidetik.Berapa banyak uang Levin yang terbuang sia-sia karena dia pingsan kali ini?Celine langsung bergidik.Levin berjalan ke arahnya dan bertanya sambil mengernyit, "Kenapa? Masih nggak enak badan?""Nggak, aku sudah mendingan."Levin menopangnya ke luar. Dia menunduk sejenak sebelum berkata."Waktu kamu pingsan, Darrel meneleponmu."Tubuh Celine langsung menjadi kaku.Kepalanya seketika terasa seperti ditusuk jarum."Celine? Kamu kenapa?""Aku nggak apa-apa ...."Levin merangkul bahu Celine untuk berjaga-jaga agar dia tidak jatuh.Matanya yang dalam seperti kolam tenang menyiratkan sedikit rasa ingin t

  • Pesan Cerai Sudah Terkirim   Bab 48

    Dia kembali ke pusat penelitian farmasi dengan langkah gontai."Celine, coba analisis data dari kumpulan galur sel ini ...."Johan berjalan menghampirinya. Melihat wajahnya yang tampak pucat, dia bertanya, "Ada apa?"Sambil membetulkan kacamatanya, dia bergumam, "Semalam, kakek Darrel sampai meneleponku dan memintaku biar aku nggak memberimu beban pekerjaan yang terlalu berat."Mendengar perhatian Johan, entah kenapa Celine merasa sangat lelah dan tertekan.Sekarang hanya ada dua hal yang dia inginkan.Pertama, bercerai dari Darrel dan tak pernah lagi bertemu dengan siapa pun yang berkaitan dengan Darrel.Kedua, ibunya segera membaik dan diberi umur panjang agar bisa menemaninya lebih lama.Dia tidak bisa punya anak. Jadi, di sisa hidupnya, hanya ibunya yang menjadi satu-satunya keluarganya.Johan berkata, "Wajahmu pucat sekali. Kamu nggak enak badan ya?"Celine menekan emosinya, lalu menggeleng sambil tersenyum. "Aku nggak apa-apa.""Mau pulang dan istirahat?""Nggak perlu."....Sian

  • Pesan Cerai Sudah Terkirim   Bab 47

    Celine sedikit kehilangan fokus.Di mata Darrel, dirinya ternyata semurah itu. Hanya dengan beberapa hidangan, Darrel mengira dia sudah bisa disuap untuk mengurus perempuan yang dicintainya.Dengan kesal, dia berkata, "Dibunyikan seratus kali pun nggak bakal ada yang buka."Setelah mengatakan itu, dia langsung menutup telepon.Ternyata sampai sekarang Darrel masih tidak tahu bahwa dia sudah pindah?Betapa konyolnya. Istrinya sendiri sudah pindah, tetapi dia bahkan tidak tahu.Apakah keberadaannya di rumah, bahkan di dalam hati Darrel, benar-benar tidak berarti?Celine sudah mengambil keputusan.Besok, setelah akta cerai sudah berada di tangannya, kalau pria berengsek itu mengatakan satu kata saja kepadanya, dia akan langsung membalas dengan tegas. Persetan denganmu!Membayangkan kejadian besok, dia pun terkekeh.Helen keluar dari dapur dan bertanya dengan heran, "Celine, kenapa matamu merah?""Mana ada."....Setelah makan, seseorang menelepon Celine lagi. Ternyata Juan.Celine agak e

  • Pesan Cerai Sudah Terkirim   Bab 46

    Sepulang dari kantor, Zafira mengirim pesan kepada Celine, menanyakan kapan dia dan Darrel akan mengurus akta cerai.Sesuai keinginannya, Celine menjawab. [Besok kami akan mengurusnya. Aku sudah janjian sama Darrel.][Ya, cepat selesaikan. Itu akan lebih baik untuk semua orang, supaya kamu dan Darrel nggak saling menunda.]Sudut bibir Celine terangkat membentuk senyuman sinis.Kata-katanya terdengar begitu manis, padahal sangat menusuk. Masa depan putranya memang tidak akan terhambat lagi setelah bercerai.Namun, bagaimana dengan dirinya yang tidak bisa punya anak?Kalaupun dia bisa menikah lagi dan mendapatkan suami yang baik, mantan ibu mertuanya ini juga belum tentu akan ikut senang.Benar-benar orang egois yang hanya mementingkan dirinya sendiri.Celine hanya membalasnya dengan satu kata. [Ya.]Zafira juga tidak mempermasalahkannya. Yang penting, besok mereka berdua segera menyelesaikan perceraian.Tiba-tiba, Riani berjalan mendekat dan duduk di sampingnya dengan langkah pelan.Set

  • Pesan Cerai Sudah Terkirim   Bab 45

    Di ujung telepon, Darrel berbicara dengan suara yang jernih dan dingin."Althea kena gastroenteritis akut dan harus dirawat di rumah sakit. Aku mau menemani dia dulu di sini."Celine menyahut, "Nggak perlu lapor ke aku.""Masakkan makanan yang ringan di rumah. Nanti aku suruh Darryn mengambilnya."Darrel menambahkan, "Masakkan sayuran hijau juga, rebus sampai lunak."Celine pura-pura tidak mengerti. "Bukannya dulu di rumahmu aku nggak boleh masak? Kamu nggak suka bau minyak dan asap masakan."Di seberang sana Darrel terdiam sesaat."Aku cuma mau minta bantuanmu memasakkan makanan yang ringan. Nggak usah bahas hal-hal yang nggak perlu."Darrel menghela napas. "Kalau nggak mau masak, ya sudah. Kamu dan Ibu jangan lupa makan tepat waktu. Begini saja, aku minta restoran antarkan makanan untuk kalian."Celine membalas dengan datar, "Nggak usah. Suruh saja restoran antarkan untuk Althea."Percakapan itu tidak berlangsung dengan menyenangkan. Darrel tidak memaksanya. "Baiklah."Saat hendak me

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status