Share

Bab 6

Author: Nia Juwita
Pria di hadapannya ini pernah berjanji akan menyayanginya seumur hidup.

AC di kamar tidak dinyalakan. Udara yang pengap bercampur dengan suasana menggoda yang samar.

Ada beberapa hal yang memang seolah akan terjadi begitu saja setelah waktunya tiba.

Keduanya saling menatap. Di dalam tatapan masing-masing tersembunyi begitu banyak hal.

Althea mengulurkan tangan dan menunggu.

Waktu terus berlalu.

Namun, yang Darrel sodorkan kepadanya hanyalah secangkir wedang jahe hangat.

"Minum ini, lalu tidur. Di lemari kamar mandi ada pembalut. Kalau sakitnya masih parah, ke rumah sakit saja."

Darrel meneruskan, lalu menghela napas, "Jangan keras kepala."

Setelah berkata demikian, dia berbalik dan keluar.

"Darrel ...." Althea bangkit dengan kesal.

Dia menatap punggung Darrel yang berhenti, lalu mencibir. "Kenapa? Aku bilang kamu suami orang, kamu malah benar-benar menjaga jarak dan sok menjaga nama baikmu?"

Punggung Darrel menegang. Dia menoleh dan mengernyit menatapnya.

Ada sedikit kelemahan dalam sikap Althea, tetapi lebih banyak rasa dingin dan angkuh.

"Darrel, sebenarnya kamu mau aku gimana?"

Pada akhirnya, Darrel tidak menjawab. Dengan wajah dingin, dia keluar dan menutup pintu untuknya.

"Darrel!"

....

Darrel pindah ke rumah Keluarga Suwandi.

Sejak menikah, dia keluar dari rumah dan tinggal berdua dengan Celine. Ayah dan ibunya, juga kakek dan neneknya, sempat tidak terbiasa karena rumah mendadak sepi.

Kali ini dia pulang, seluruh keluarga sangat senang.

Darryn pulang ke rumah setelah tidak ada kelas. Ketika melihat sosok kakaknya, dia tidak bisa menahan diri untuk bertanya.

"Kak Thea lagi sakit karena haid, 'kan? Kenapa kamu nggak menemani dia?"

Sambil membaca jurnal kedokteran, Darrel menyahut dengan datar.

"Biasanya dia cuma kesakitan di hari pertama. Setelah itu akan mendingan."

"Tetap saja, kamu juga harus menemaninya, 'kan? Dokter Darrel yang hebat masa nggak tahu kalau perempuan paling butuh perhatian saat sedang haid? Cepat balik sana ...."

Darrel menatapnya dengan tidak senang, lalu membawa jurnal itu dan bangkit dari sofa untuk naik ke lantai atas.

"Kak! Kamu benar-benar cowok yang nggak peka!"

Darryn merasa gemas melihat kakaknya yang tak kunjung mengerti.

Dia tidak tega membiarkan Althea menahan sakit haid sendirian, jadi dia buru-buru menggantikan Darrel untuk pergi ke sana dan mengambil hati calon kakak iparnya.

Althea mengira bahwa yang datang adalah Darrel.

Namun, setelah membuka pintu dan melihat sosok Darryn, dia langsung kembali berbaring dengan lesu di kasur.

Darryn bertanya dengan ragu, "Kak, kamu sama kakakku kenapa?"

Althea memeluk bantal dan balik bertanya, "Kakakmu cerita apa?"

"Nggak ada sih. Tapi sikap kalian sama-sama aneh, pasti ada masalah."

Darryn memahami sifat kakaknya. Dia juga tahu bahwa Althea adalah orang yang tidak bisa menoleransi sedikit pun kesalahan.

Dia mendekat dan membujuk Althea.

"Kak, sebenarnya setahun lalu waktu kamu tiba-tiba pergi, kakakku sangat terpukul. Karena marah, dia akhirnya menikahi wanita itu."

"Jadi, jangan menyalahkan kakakku atau bersikap dingin padanya cuma karena dia menikahi wanita itu. Toh mereka sebentar lagi akan cerai."

Hati Althea terasa tidak nyaman.

Entah berapa banyak dokter hebat dan putra keluarga kaya yang ingin mengejarnya. Namun, Darrel justru begitu pendendam dan sulit dibujuk.

"Darryn, kakakmu benar-benar akan cerai?"

Darryn menjawab dengan yakin, "Ya. Surat perjanjiannya bahkan sudah ditandatangani di depan seluruh keluarga kami."

Althea bertanya, "Kalau begitu, kenapa belum mengurus prosesnya?"

"Wanita itu mau mengulur waktu. Dia nggak rela cerai, jadi dia mengajak ibunya ke Kota Litar. Licik banget, 'kan?"

Darryn melanjutkan dengan kesal, "Tunggu saja. Kamu pikir kakakku nggak terburu-buru? Setelah wanita itu kembali, kakakku akan langsung menceraikannya."

Althea mengangguk. "Dia juga masih teleponan sama kakakmu juga. Entah sebenarnya mau apa."

Mendengar itu, amarah langsung membara di mata Darryn yang cerah.

"Dia sengaja cari perhatian kakakku. Di depan memang menyetujui dengan senang hati, tapi diam-diam masih terus mengganggu kakakku."

Althea hanya diam melihatnya marah. Dia tidak menjelaskan bahwa sebenarnya yang lebih dulu menelepon adalah Darrel.

Malam itu, Celine melihat unggahan yang dibuat Darryn.

Edwin memberikan like dan berkomentar. [Dua wanita cantik.]

Darryn dan Althea berfoto bersama dengan pose akrab seperti saudara perempuan.

Latar belakangnya sangat familier bagi Celine.

Itu kamarnya, tempat tidurnya, dengan seprai yang dia pasang sendiri.

Pakaian yang dikenakan Althea juga sangat familier. Itu kemeja putih milik Darrel.

Semua kemeja miliknya dibuat khusus dan sangat mahal. Setiap helai dicuci dengan hati-hati oleh Celine menggunakan tangannya sendiri.

Sementara pakaian dan beberapa barang miliknya yang tertinggal di rumah Keluarga Suwandi telah dikemas seperti sampah dan dibuang di depan pintu.

Darryn menulis keterangan.

[Pergilah, nasib buruk! Semoga sepasang kekasih bisa segera bersatu. Selamat datang anggota baru keluarga kami! Kak Thea, kali ini kita nggak akan pernah mengucapkan selamat tinggal lagi. Muach!]

Celine tersenyum. Ini jelas sengaja diperlihatkan kepadanya.

Dia dan Darrel bahkan belum bercerai, tetapi Keluarga Suwandi sudah berani bertindak begitu terang-terangan?

Tidak masalah. Dia menyimpan gambar itu. Setelah pulang, dia akan meminta Darryn mengganti rugi semua barang yang dibuangnya. Tidak boleh kurang sepeser pun.

Dia ingin melihat apakah Keluarga Suwandi bisa mengelak dari tanggung jawab.

Darrel jarang membuka story. Ketika akhirnya melihat unggahan Darryn, itu sudah keesokan malamnya.

Dia memarahi Darryn dan menyuruhnya menghapus unggahan itu.

Darryn tidak terima. "Kamu masih membela wanita itu? Pantas saja Kak Thea tidak punya rasa aman. Masa kamu nggak merasa bersalah ke Kak Thea?"

Darrel berkata dengan dingin, "Kalau kamu terus bersikap kekanakan begini, aku nggak akan menganggapmu sebagai adikku lagi."

"Kamu gila ya? Gara-gara wanita itu kamu sampai nggak mau mengakui adikmu lagi?"

Suara pertengkaran kedua kakak beradik itu menarik perhatian Zafira.

"Kakek kalian lagi nggak sehat. Sekarang dia dan Nenek sudah tidur. Kalian berdua ribut soal apa?"

Kakek Darrel sudah enam bulan dirawat di rumah sakit. Beberapa waktu lalu kondisinya bahkan kritis. Baru dua hari ini dia dibawa pulang untuk dirawat di rumah.

Darryn selalu dimanja. Dia menunjuk Darrel dan berkata dengan suara pelan tetapi penuh amarah, "Ibu tanya saja dia!"

Darrel berdiri di sana dengan wajah dingin. Bibir tipisnya terkatup rapat, sementara sudut matanya memancarkan ketegasan yang tajam.

Zafira melihat unggahan yang dibuat Darryn di layar ponsel Darrel dan langsung mengerti.

Sebenarnya saat pertama kali melihatnya, dia juga ingin mengatakan hal yang sama.

Dia mengantar Darryn kembali ke kamar, lalu berkata dengan sungguh-sungguh.

"Kakakmu belum cerai. Jangan bertindak terlalu terang-terangan. Persaingan di dunia medis sangat ketat. Kalau ada orang yang menemukan celah untuk menyerangnya, gimana kakakmu bisa naik jabatan nanti?"

"Bagaimanapun, Althea belum resmi masuk ke keluarga kita. Unggahan seperti itu nggak baik untuk reputasinya."

Setelah mendengar perkataan ibunya, Darryn memikirkannya dan merasa ada benarnya juga.

Dia mengerucutkan bibir dan berkata dengan murung, "Aku juga nggak langsung bilang kalau Kak Thea adalah kakak iparku. Lagian, Kak Thea sendiri juga nggak masalah aku mengunggahnya."

Zafira berkata, "Cepat hapus unggahan itu. Kalau ayahmu lihat, dia pasti akan memarahimu."

"Ah, aku sudah blokir Ayah sejak dulu. Soalnya Ayah ribut banget."

Zafira memelotot kepadanya. "Jangan cari masalah lagi dengan Celine. Kalau kamu memojokkan dia dan dia nggak mau cerai dari kakakmu, semuanya akan jadi makin rumit. Kakekmu juga masih belum tahu tentang masalah ini."

Darryn mengangkat ponselnya di depan ibunya. "Ya, ya, aku tahu. Sudah kuhapus."

Zafira keluar dari kamar putrinya dan melihat Darrel masih berada di lantai bawah.

Dia memperhatikan keadaan di rumah, lalu mendekati putranya dan bertanya dengan suara pelan.

"Kenapa Celine masih belum pulang?"

Dia mengeluh kepada Darrel selama beberapa saat, menunjukkan ketidakpuasannya terhadap Celine yang mengajak ibunya ke Kota Litar.

Darrel melirik Zafira dan menyahut dengan datar, "Dia mengajak ibunya untuk menenangkan pikiran. Itu bagus untuk kondisi penyakit ibunya. Jangan ikut campur."

"Tapi dengar-dengar dia cuma minta cuti dua minggu. Kalau dihitung-hitung, sekarang seharusnya sudah habis."

Semakin dipikirkan, Zafira semakin tidak tenang. Jangan-jangan Celine hanya pura-pura setuju dan sengaja mengulur waktu?

Kalau dia benar-benar memainkan trik seperti itu, Keluarga Suwandi juga punya banyak cara. Jangan salahkan dia jika bertindak tanpa ampun nanti.

Bagaimanapun juga, dia tidak akan membiarkan kebahagiaan putranya tertunda.

Dia bertanya, "Celine sudah bilang ke kamu, 'kan? Kapan mau diurus?"

Mengurus apa? Darrel mengernyit.

Continue to read this book for free
Scan code to download App

Latest chapter

  • Pesan Cerai Sudah Terkirim   Bab 50

    Kalimat terakhirnya jelas terdengar tegas dan tajam.Celine tidak ingin siapa pun melihat air matanya.Dia selalu berusaha terlihat kuat. Bahkan di depan ibunya sendiri, dia tidak pernah menangis.Terlebih lagi, dia tidak ingin menangis tersedu-sedu di depan orang lain. Tidak ada seorang pun yang boleh melihatnya menangis.Dia berusaha keras menahan air matanya tanpa mengeluarkan suara.Mata dan hidungnya sudah sangat merah, bahkan area di sekitar matanya pun mulai basah karena air mata.Jas putih yang dikenakannya dan helaian rambut yang jatuh di sisi pipinya semakin menonjolkan wajahnya yang begitu pucat dan lelah, membuat seluruh dirinya seolah akan hancur.Levin menatapnya. Dadanya terasa sesak. Amarah dan rasa tidak rela membara di dalam dirinya.Ada seseorang yang membuat Celine bersedih dan sekarang dia menangis karena orang itu.Celine tidak menceritakan kesedihannya kepada Levin. Levin hanya mengembalikan ponselnya dengan tenang."Kak, aku ke ruang penelitian dulu."Celine ber

  • Pesan Cerai Sudah Terkirim   Bab 49

    Dokter memberinya beberapa obat herbal untuk membantu mengurangi tekanan mental.Saat Levin pergi mengambil obat, dokter berbisik kepada Celine, "Pak Levin sudah menemanimu selama dua jam lho.""Hah?" Celine terkejut.Sebelumnya, media keuangan pernah bergurau bahwa kalau penghasilan Levin dihitung dengan standar gaji pegawai kantoran biasa, penghasilannya bahkan bisa dihitung per milidetik.Berapa banyak uang Levin yang terbuang sia-sia karena dia pingsan kali ini?Celine langsung bergidik.Levin berjalan ke arahnya dan bertanya sambil mengernyit, "Kenapa? Masih nggak enak badan?""Nggak, aku sudah mendingan."Levin menopangnya ke luar. Dia menunduk sejenak sebelum berkata."Waktu kamu pingsan, Darrel meneleponmu."Tubuh Celine langsung menjadi kaku.Kepalanya seketika terasa seperti ditusuk jarum."Celine? Kamu kenapa?""Aku nggak apa-apa ...."Levin merangkul bahu Celine untuk berjaga-jaga agar dia tidak jatuh.Matanya yang dalam seperti kolam tenang menyiratkan sedikit rasa ingin t

  • Pesan Cerai Sudah Terkirim   Bab 48

    Dia kembali ke pusat penelitian farmasi dengan langkah gontai."Celine, coba analisis data dari kumpulan galur sel ini ...."Johan berjalan menghampirinya. Melihat wajahnya yang tampak pucat, dia bertanya, "Ada apa?"Sambil membetulkan kacamatanya, dia bergumam, "Semalam, kakek Darrel sampai meneleponku dan memintaku biar aku nggak memberimu beban pekerjaan yang terlalu berat."Mendengar perhatian Johan, entah kenapa Celine merasa sangat lelah dan tertekan.Sekarang hanya ada dua hal yang dia inginkan.Pertama, bercerai dari Darrel dan tak pernah lagi bertemu dengan siapa pun yang berkaitan dengan Darrel.Kedua, ibunya segera membaik dan diberi umur panjang agar bisa menemaninya lebih lama.Dia tidak bisa punya anak. Jadi, di sisa hidupnya, hanya ibunya yang menjadi satu-satunya keluarganya.Johan berkata, "Wajahmu pucat sekali. Kamu nggak enak badan ya?"Celine menekan emosinya, lalu menggeleng sambil tersenyum. "Aku nggak apa-apa.""Mau pulang dan istirahat?""Nggak perlu."....Sian

  • Pesan Cerai Sudah Terkirim   Bab 47

    Celine sedikit kehilangan fokus.Di mata Darrel, dirinya ternyata semurah itu. Hanya dengan beberapa hidangan, Darrel mengira dia sudah bisa disuap untuk mengurus perempuan yang dicintainya.Dengan kesal, dia berkata, "Dibunyikan seratus kali pun nggak bakal ada yang buka."Setelah mengatakan itu, dia langsung menutup telepon.Ternyata sampai sekarang Darrel masih tidak tahu bahwa dia sudah pindah?Betapa konyolnya. Istrinya sendiri sudah pindah, tetapi dia bahkan tidak tahu.Apakah keberadaannya di rumah, bahkan di dalam hati Darrel, benar-benar tidak berarti?Celine sudah mengambil keputusan.Besok, setelah akta cerai sudah berada di tangannya, kalau pria berengsek itu mengatakan satu kata saja kepadanya, dia akan langsung membalas dengan tegas. Persetan denganmu!Membayangkan kejadian besok, dia pun terkekeh.Helen keluar dari dapur dan bertanya dengan heran, "Celine, kenapa matamu merah?""Mana ada."....Setelah makan, seseorang menelepon Celine lagi. Ternyata Juan.Celine agak e

  • Pesan Cerai Sudah Terkirim   Bab 46

    Sepulang dari kantor, Zafira mengirim pesan kepada Celine, menanyakan kapan dia dan Darrel akan mengurus akta cerai.Sesuai keinginannya, Celine menjawab. [Besok kami akan mengurusnya. Aku sudah janjian sama Darrel.][Ya, cepat selesaikan. Itu akan lebih baik untuk semua orang, supaya kamu dan Darrel nggak saling menunda.]Sudut bibir Celine terangkat membentuk senyuman sinis.Kata-katanya terdengar begitu manis, padahal sangat menusuk. Masa depan putranya memang tidak akan terhambat lagi setelah bercerai.Namun, bagaimana dengan dirinya yang tidak bisa punya anak?Kalaupun dia bisa menikah lagi dan mendapatkan suami yang baik, mantan ibu mertuanya ini juga belum tentu akan ikut senang.Benar-benar orang egois yang hanya mementingkan dirinya sendiri.Celine hanya membalasnya dengan satu kata. [Ya.]Zafira juga tidak mempermasalahkannya. Yang penting, besok mereka berdua segera menyelesaikan perceraian.Tiba-tiba, Riani berjalan mendekat dan duduk di sampingnya dengan langkah pelan.Set

  • Pesan Cerai Sudah Terkirim   Bab 45

    Di ujung telepon, Darrel berbicara dengan suara yang jernih dan dingin."Althea kena gastroenteritis akut dan harus dirawat di rumah sakit. Aku mau menemani dia dulu di sini."Celine menyahut, "Nggak perlu lapor ke aku.""Masakkan makanan yang ringan di rumah. Nanti aku suruh Darryn mengambilnya."Darrel menambahkan, "Masakkan sayuran hijau juga, rebus sampai lunak."Celine pura-pura tidak mengerti. "Bukannya dulu di rumahmu aku nggak boleh masak? Kamu nggak suka bau minyak dan asap masakan."Di seberang sana Darrel terdiam sesaat."Aku cuma mau minta bantuanmu memasakkan makanan yang ringan. Nggak usah bahas hal-hal yang nggak perlu."Darrel menghela napas. "Kalau nggak mau masak, ya sudah. Kamu dan Ibu jangan lupa makan tepat waktu. Begini saja, aku minta restoran antarkan makanan untuk kalian."Celine membalas dengan datar, "Nggak usah. Suruh saja restoran antarkan untuk Althea."Percakapan itu tidak berlangsung dengan menyenangkan. Darrel tidak memaksanya. "Baiklah."Saat hendak me

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status