LOGIN"Hai, Aluna.. apa kabar?"
Aluna terkesiap. Ia lalu bangkit berdiri dan membalas pelukan Mawar."Mbak Mawar yang punya salon ini?" Tanya Aluna tak percaya.Mawar melepaskan pelukannya sambil terkekeh."Benar..""Astaga!" Aluna terperangah. Harusnya ia curiga saat mereka pertama kali bertemu di makan malam perusahaan. Dimana Mawar mengatakan jika video nail art Aluna viral pertama kalinya. "Aku nggak menyangka kalau mbak Mawar yang punya salon ini."<"Aluna.." Farah menatap tak percaya ke arah wanita cantik yang berada di sisi Aamir. Aluna yang melihat wanita parah baya itu bergegas menyembunyikan anak kembarnya ke belakang. "Tante. Adel!" Aamir terkejut bukan main. "Sedang apa kalian disini?" "Kami ingin membeli makan siang. Jadi mampir kemari." Jawab Adelina masih terperangah. "Apa itu benar kamu, mbak Aluna?" Tanyanya. "Iya." Sahut Aluna dengan mulut bergetar. Dia lalu memandang Langit. "Langit." Langit mengerti. "Ayo kita pergi!" "Aluna!" Cegah Aamir. "Aluna." Kini Farah ikut memanggil. Matanya beralih pada dua anak kecil yang bersembunyi di balik tubuh ibunya. "Itu anakmu?" "Iya, anakku." Kedua tangan Aluna menggenggam kedua anaknya. Ia lalu berjalan melewati Farah dan Adel sambil dikawal oleh Langit. "Aluna!" Panggil Aamir mengejar. Pria ini tak memperdulikan kehadiran Farah
"Sepertinya kita tidak perlu menyewa jasa influencer lagi. Percuma!" Langit menyahuti perkataan Aluna saat morning meeting hari itu. "Kenapa, Langit? Apa kamu sudah putus asa?" Bagaimana tidak? Hampir satu bulan, ayam bakar langit itu beroperasi dan selama itu juga warung ayam geprek ini kehilangan pelanggan. Benar. Komentar ataupun ulasan negatif sudah tak ada lagi. Tapi capaian pelanggan yang datang merosot sampai 50%. Lama-lama kalau begini Langit bisa bangkrut juga. Apalagi ia tengah mengembangkan cabang di tempat lain. "Aku punya ide lain. Pasang banner saja diluar sana. Untuk pembelian dua porsi nasi ayam kita berikan gratis satu porsi. Tulis dengan huruf yang besar untuk menarik pelanggan! Ah, satu lagi, Endang. Menyamar lah menjadi pembeli di restoran ayam bakar depan. Aku ingin lihat apa yang menjadi daya tarik mereka!" Langit memberikan perintah. "S
"Mas Aamirr.." Astaga! Aluna sampai menatap wajah Langit yang semakin masam tak sedap dipandang. Di depan sana ada Aamir yang baru turun dari mobilnya. Pria itu seperti biasa memberikan senyum cerahnya. Kepribadiannya yang hangat membuat semua orang merasa nyaman akan kehadirannya. Tapi bagi Langit, Aamir bak guntur yang menyuramkan suasana hatinya. Ketika melihat pria itu berjalan mendekat ke arah Aluna, Langit sampai mendengkus kesal. "Hai, Aluna. Mawar bilang udah dua minggu kamu nggak ke salon. Jadi aku kemari!" Ujarnya terkekeh. "Hai, mas." Balas Aluna tersendat. "Aku lagi sibuk di warung makan." "Begitu, ya?" Aamir lalu memperhatikan warung makan yang tak memiliki pengunjung serta sang pemilik yang menatap dengan mata gagaknya dari jauh. "Hai, Langit. Apa kabar?" "Baik." Jawab Langit ketus. "Mau makan disini atau bawa pulang??" Lang
"Aku nggak suka kamu terlalu dekat dengan pria itu. Kamu tahu kalau Aamir itu bagian dari keluarga mantan suamimu, tapi kenapa kamu masih mau berdekatan dengannya?" Aluna sampai terperangah mendengar ucapan Langit. Pria itu nampak menggerutu selama perjalanan pulang ke rumah sewa. "Sudah kukatakan kalau mas Aamir itu berbeda, Langit. Dia baik padaku." "Aahhh!" Langit menggeleng. "Aku tahu betul watak pria itu, Aluna. Bisa jadi kebaikannya sekarang karena diam-diam ingin mengambil hak asuh anak-anakmu untuk Arkan!" Aluna tersentak akan ucapan langit. "Pikir saja, Aluna! Kamu sekarang berjuang sendirian menafkahi dua anakmu. Dan Aamir pasti mencari cela agar bisa membantu sepupunya mengambil mereka." "Tidak mungkin mas Aamir melakukan itu." Sela Aluna. "Pegang saja ucapanku, Aluna." Sahut Langit serius. Aluna jadi gelis
"Langit!" Langit menoleh dengan raut wajah yang berubah cepat. Dia yang sedang menggebu-gebu menjadi kesal karena melihat Aluna yang datang mengajak pengawalnya. Lagi-lagi pria itu. Sepupu mantan suaminya. Wanita ini bilang tak mau lagi berhubungan dengan keluarga mantan. Tapi kenapa sering kali Langit memergoki keduanya selalu bersama? Dan apa itu?? Kenapa si kembar begitu lengket pada Aamir? Bahkan Abi yang tak bersahabat pun sampai memeluk tak mau turun dari gendongan pria itu. "Apa yang terjadi?" Tanya Aluna mendekat. Langit berdeham. "Kita bicara di ruangan ku saja. Aryo ikut bergabung!" Suruhnya. Aluna mengangguk. Ia berjalan ke arah Aamir. "Mas, aku titip anak-anak sebentar ya. Aku mau ke ruangan Langit dulu." Ujar Aluna. "Tenang saja.. mereka aman bersamaku!" Sahut Aamir tersenyum.
"Eh!" Aluna terkejut melihat dua orang berdiri tegap di depan rumahnya. "Langit, Sinar!" Ditha berlari menuju pelukan Sinar. Sementara Langit menatap wanita yang baru saja tiba itu dengan lekat. "Udah lama menunggunya?" Tanya Aluna. "Setengah jam." Jawab Langit. "Astaga! Kenapa nggak ngabarin?" "Kami udah nelepon mbak tadi. Tapi cuma centang satu." Sahut Sinar. "Ya ampun. Mungkin ponselku mati." Seru Aluna. "Ada apa nih?" "Kami mau mengajakmu dan anak-anak makan malam diluar. Sekalian ke playground." Langit menjawab. "Aduh.. kami baru aja dari playground." Aluna jadi tak enak hati. "Sama siapa mbak pulang tadi? Nggak mungkin taksi online punya mobil semewah itu, kan? Warna burgundy lagi!" Sinar saja sampai takjub. "Oh.. itu mas Aamir." "Aamir siapa?" Tanya
"Ditha!" Aluna berteriak. Si keriting terjatuh ketika tubuhnya tak sengaja tertabrak oleh pria berbadan besar. Bukannya menangis, Ditha bangkit berdiri dan ingin berlari lagi. Namun untung saja langkahnya tertahan saat pria dewasa itu menahan tubuhnya. "M
"Tunggu sebentar. Aku udah pesankan makanan." Ujar Adelina pada dua wanita paruh baya ini. Setelah bekerja, Adel mampir ke rumah tantenya untuk menjemput Farah. Sesampainya disana, Farah mengadu jika tak nafsu makan gara-gara melihat masakan Asih yang hanya rebus-rebusan.
"Kenapa mbak nggak ngabarin kalau dirawat di rumah sakit?" Farah begitu mencemaskan keadaan kakaknya. Dia baru saja mendapat kabar dari Fiona jika kakaknya ini baru pulang perawatan di rumah sakit. Itupun Farah tak akan tahu jika ia tak menghubungi Fiona. "Cuma sakit
Si kembar dan pengasuhnya langsung menyambut kepulangan Aluna. Apalagi si kembar yang langsung naik ke pelukan ibunya. Ditha melirik ke belakang. Ada Langit yang tersenyum padanya. Si cantik berambut keriting ini berjalan dan memeluk Langit. Sementara, Abi lebih suka memeluk ibunya







