共有

Bab 7

作者: Stary Dream
last update 公開日: 2026-05-08 16:27:18

Matahari bahkan belum terbit sepenuhnya. Tapi suara Fiona sudah melengking seantero rumah. Apa saja pekerjaan Aluna selalu salah di matanya.

Biasanya Fiona tak akan mengomel hebat seperti ini. Tapi pagi ini kedua tanduk itu sudah keluar dari kepalanya.

Ada saja yang dikoreksi oleh Fiona. Baik dari teh hangat yang sudah dibuat, atau nasi uduk yang dijadikan sarapan.

Aluna serba salah. Tapi dia masih bisa berpikiran positif.

Mungkin karena ada Farah disini makanya Fiona menjadi cerewet. Ya.. walaupun hari-hari sebelumnya juga begitu.

"Selamat pagi.. mari kita sarapan." Ajak Fiona pada saudaranya yang baru saja keluar dari kamar.

"Wah.. harum banget nasi uduknya. Mbak yang buat, ya?" Farah bertanya pada kakak perempuannya.

"Iya, dong. Memang siapa lagi?" Sahut Fiona sambil melirik Aluna.

Aluna sendiri hanya diam tertunduk. Padahal sejak tadi dia yang pontang panting masak di dapur. Sementara Fiona hanya bisa mengomel.

"Mana suamimu? Belum bangun?" Kini pertanyaan diajukan pada Aluna.

"Belum tante. Mungkin lagi bersiap." Jawab Aluna sopan.

"Sana panggilin Arkan. Sekalian kamu panggil om mu suruh sarapan!" Suruhnya.

"I-iya, tante."

Aluna menyingkir untuk memanggil dua pria yang dimaksud. Namun baru beberapa langkah menjauh dari meja makan, suara kikikan khas gunjingan wanita terdengar dari sana.

Aluna yakin sekali bahwa kakak beradik itu tengah menjelekkan dirinya.

Melupakan soal itu, Aluna memanggil suaminya untuk sarapan bersama. Rupanya, Arkan tengah memasang dasi di kemejanya.

"Sudah siap, mas? Kita sarapan yuk.." ajak Aluna lembut.

Arkan menoleh sekilas. "Bentar lagi."

"Sini aku bantu."

Dengan terampil, Aluna mengambil alih dasi yang ada di tangan suaminya. Ia juga membantu Arkan memasang dasi tersebut hingga tergantung sempurna disana.

"Selesai."

Aluna tersenyum memandang wajah kaku suaminya. Arkan sendiri terdiam sejenak.

Senyuman Aluna seakan bisa meneduhkan hatinya. Padahal moodnya tadi berubah jelek karena Fiona yang sembarangan menggedor pintu.

"Kita sarapan, yuk.." Aluna menggenggam tangan suaminya dan mengajaknya keluar dari kamar.

Namun baru saja melewati pintu, Aluna keheranan karena Arkan yang tiba-tiba melepaskan tautan tangannya.

"Mas duluan aja ke meja makan. Ada mama dan tante yang udah nunggu. Aku mau panggil om Herdy dulu." Ujar Aluna.

Arkan mengangguk dan berlalu ke meja makan, sedangkan Aluna pergi ke kamar tamu dan memanggil Herdy.

Tak lama, Herdy bergabung ke meja makan dimana sudah ada tiga wanita dan satu pria disana. Herannya lagi, dua wanita paruh baya itu hampir menyelesaikan makanannya.

"Kalian nggak menunggu lagi?" Sindir Herdy ketika istrinya tak menunggunya sarapan.

"Salah papa sendiri yang telat keluar dari kamar. Aluna!" Panggil Farah. "Siapkan nasi uduk untuk om mu."

"Iya, tante."

Aluna terlebih dahulu menghidangkan nasi uduk kepada suaminya, setelah itu pada Herdy.

"Selamat makan, om." Ucap Aluna sopan.

Fiona si biang masalah lalu berdeham.

"Pasti mas Herdy seneng banget karena bentar lagi mau punya cucu, ya!" Selorohnya.

Herdy terkekeh. "Alhamdulillah Adel langsung dikasih cepat sama Allah."

"Syukurlah.. abisnya ada yang bertahun-tahun menikah tapi belum dikasih juga."

"Mama!" Tegur Arkan. Pembicaraan semalam sepertinya ingin diulangi oleh ibunya ini.

"Anak itu rezeki, mbak Fiona. Mau cepet atau lambat sama aja.. tergantung kapan Allah mau memberinya." Sahut Herdy bijak.

Pria ini bukan tak mengenal kakak iparnya. Ia sangat tahu jika Fiona ini sangat congkak dan sombong. Herdy juga sadar kalau Fiona sedang berusaha menyindir menantunya sendiri. Tapi Herdy harus bijaksana.

"Oh, ya.. Aluna kok nggak kerja? Atau kamu memang fokus jadi ibu rumah tangga?" Tanya Herdy mencoba mencairkan suasana canggung barusan. Namun, sepertinya Herdy sudah salah memberikan pertanyaan.

"Emang Aluna bisa apa, pa?" Bukannya Aluna yang menjawab melainkan, Farah. "Istrinya Arkan ini kan cuma tamat SMA. Beda sama Adel yang sarjana."

Fiona tergelak. "Itu betul. Aluna juga nggak punya keahlian. Masak aja kadang enak tapi banyak nggak enaknya! Bisanya cuma membersihkan rumah."

Mendengar Fiona dan adiknya yang bersatu untuk menyindirnya membuat Aluna terdiam. Ia semakin menekuk wajahnya ke dalam.

Herdy berdeham. "Nggak apa-apa. Jadi ibu rumah tangga sama saja dengan bekerja. Dapet pahala lagi! Intinya, asalkan Arkan bisa memenuhi tanggung jawabnya dan keperluanmu.. kamu nggak usah risau!!" Ucapnya untuk Aluna.

Aluna hanya tersenyum mendengar Herdy yang membelanya. Sementara tenggorokannya tercekat untuk menyampaikan sesuatu.

Namun, Fiona malah terperangah akan ucapan Herdy. Dia pun tersentak.

Dulu, Fiona ini mantan wanita pekerja. Dia sudah terbiasa memiliki uang sendiri meski ada suami yang menafkahinya.

Nah... malangnya sekarang dia memiliki menantu yang tak bisa diandalkan. Yang tahunya hanya bisa menadah pada anak laki-lakinya saja..

Oh.. kalau begitu Fiona harus memutar otak!

Enak saja Arkan capek-capek bekerja tapi yang menikmati seluruh gajinya adalah Aluna.

Hmm.. ini tidak bisa dibiarkan.

この本を無料で読み続ける
コードをスキャンしてアプリをダウンロード

最新チャプター

  • Pesan Mesra Untuk Suamiku   Bab 105

    "Kamu yakin, Aluna?" Langit memandang ragu pada wanita yang tengah menyiapkan dua buah hatinya itu. Aluna mendesah pelan lalu mengangguk. "Kalau mereka malah berusaha mengintimidasimu dengan anak-anak ini bagaimana?" "Maka mereka akan salah lawan!" Sahut Aluna tanpa takut. "Aluna.." panggil Langit sekali lagi. Aluna membalas tatapan pria ini. "Setidaknya aku harus memberikan hukuman pada mereka. Dimana dulu mereka semua pernah meragukan darah yang mengalir di kedua tubuh anakku. Hari ini, aku ingin menampar mereka dengan kenyataan." "Baiklah. Aku ikuti ucapanmu. Tapi jika terjadi sesuatu, aku nggak segan untuk bertindak!" Ujar Langit mengingatkan. Aluna tersenyum dan mengangguk lagi. Dua orang dewasa ini membawa dua anak kecil yang tampak kegirangan. Dipakaikan baju rapi lalu diajak keluar itu sama saja dengan bermain di taman hiburan. Senyum tak lep

  • Pesan Mesra Untuk Suamiku   Bab 104

    "Bagaimana keadaan Arkan, mbak?"Pada siang hari Farah datang seorang diri mengunjungi keponakannya. Di atas ranjang Arkan terlihat masih tertidur dengan nyenyak."Begitulah. Tadi masih ada muntah dua kali. Makannya juga masih sedikit.""Kasihan sekali.." gumam Farah memandang lekat Arkan. "Dari hasil usg juga ditemukan tukak di lambungnya.." sambung Fiona."Oh, apa itu?""Semacam sakit yang lumayan parah di lambung. Arkan memang ada sakit maag. Biasanya dia rutin minum obat. Tapi.. beberapa bulan ke belakang Arkan nggak memperhatikan dirinya sendiri. Dia makan atau tidak aku juga kadang tidak tahu."Fiona jadi merasa bersalah karena kurang perhatian pada putra tunggalnya. Ah, bukan karena tidak perhatian. Lebih tepatnya Arkan yang tak mau menerima kasih sayang dari ibunya sendiri."Apa mbak Fiona sudah memberitahu Arkan kalau kita sudah menemukan anak-anaknya?"Fiona mendelik ke arah adiknya. Wanita i

  • Pesan Mesra Untuk Suamiku   Bab 103

    Arkan dilarikan ke rumah sakit setelah mengalami muntah hebat. Hasil pemeriksaan dokter, Arkan mengalami dehidrasi tingkat sedang disertai dengan gastritis. Pria ini pun membutuhkan perawatan lebih lanjut. "Arkan.." lirih Fiona memanggil sambil menangis. Mendengar suara itu membuat mata Arkan yang terpejam jadi terbuka. Ia pun menatap ibunya dengan mata yang memerah. Pedih sekali hati Fiona melihat keadaan putranya saat ini. Ada selang infus yang terikat di tangannya. Begitu juga dengan wajah Arkan yang pucat pasih. Fiona meminta ampunan kepada Yang Kuasa karena selama ini tak memperhatikan kondisi putranya. "Nak.. apa yang terjadi?" "Aku nggak apa-apa." Jawab Arkan dengan helaan nafas berat. Fiona menggeleng sambil menangis. Dia sungguh bersedih dengan keadaan putranya. Kabar sakitnya Arkan juga sampai ke telinga keluarga besar, termasuk Brastya. Saat Aamir pulang ke rumah, ayahnya ini langsung mengajukan pertanyaan. "Arkan dirawat di rumah sakit." Ucap Brastya mema

  • Pesan Mesra Untuk Suamiku   Bab 102

    "Aluna.." Farah menatap tak percaya ke arah wanita cantik yang berada di sisi Aamir. Aluna yang melihat wanita parah baya itu bergegas menyembunyikan anak kembarnya ke belakang. "Tante. Adel!" Aamir terkejut bukan main. "Sedang apa kalian disini?" "Kami ingin membeli makan siang. Jadi mampir kemari." Jawab Adelina masih terperangah. "Apa itu benar kamu, mbak Aluna?" Tanyanya. "Iya." Sahut Aluna dengan mulut bergetar. Dia lalu memandang Langit. "Langit." Langit mengerti. "Ayo kita pergi!" "Aluna!" Cegah Aamir. "Aluna." Kini Farah ikut memanggil. Matanya beralih pada dua anak kecil yang bersembunyi di balik tubuh ibunya. "Itu anakmu?" "Iya, anakku." Kedua tangan Aluna menggenggam kedua anaknya. Ia lalu berjalan melewati Farah dan Adel sambil dikawal oleh Langit. "Aluna!" Panggil Aamir mengejar. Pria ini tak memperdulikan kehadiran Farah

  • Pesan Mesra Untuk Suamiku   Bab 101

    "Sepertinya kita tidak perlu menyewa jasa influencer lagi. Percuma!" Langit menyahuti perkataan Aluna saat morning meeting hari itu. "Kenapa, Langit? Apa kamu sudah putus asa?" Bagaimana tidak? Hampir satu bulan, ayam bakar langit itu beroperasi dan selama itu juga warung ayam geprek ini kehilangan pelanggan. Benar. Komentar ataupun ulasan negatif sudah tak ada lagi. Tapi capaian pelanggan yang datang merosot sampai 50%. Lama-lama kalau begini Langit bisa bangkrut juga. Apalagi ia tengah mengembangkan cabang di tempat lain. "Aku punya ide lain. Pasang banner saja diluar sana. Untuk pembelian dua porsi nasi ayam kita berikan gratis satu porsi. Tulis dengan huruf yang besar untuk menarik pelanggan! Ah, satu lagi, Endang. Menyamar lah menjadi pembeli di restoran ayam bakar depan. Aku ingin lihat apa yang menjadi daya tarik mereka!" Langit memberikan perintah. "S

  • Pesan Mesra Untuk Suamiku   Bab 100

    "Mas Aamirr.." Astaga! Aluna sampai menatap wajah Langit yang semakin masam tak sedap dipandang. Di depan sana ada Aamir yang baru turun dari mobilnya. Pria itu seperti biasa memberikan senyum cerahnya. Kepribadiannya yang hangat membuat semua orang merasa nyaman akan kehadirannya. Tapi bagi Langit, Aamir bak guntur yang menyuramkan suasana hatinya. Ketika melihat pria itu berjalan mendekat ke arah Aluna, Langit sampai mendengkus kesal. "Hai, Aluna. Mawar bilang udah dua minggu kamu nggak ke salon. Jadi aku kemari!" Ujarnya terkekeh. "Hai, mas." Balas Aluna tersendat. "Aku lagi sibuk di warung makan." "Begitu, ya?" Aamir lalu memperhatikan warung makan yang tak memiliki pengunjung serta sang pemilik yang menatap dengan mata gagaknya dari jauh. "Hai, Langit. Apa kabar?" "Baik." Jawab Langit ketus. "Mau makan disini atau bawa pulang??" Lang

  • Pesan Mesra Untuk Suamiku   Bab 85

    "Arkan, mari sarapan.." tegur Fiona lembut.Tak ada lagi nada marah, wajah ketus yang suka memerintah. Semakin bertambah usia, Fiona berusaha untuk menjadi bijaksana.Dia sadari sikap tamaknya di masa lalu. Dimana ia yang merasa paling hebat selalu menindas orang lain yang diang

  • Pesan Mesra Untuk Suamiku   Bab 84

    Mobil hitam itu baru saja masuk ke dalam perkarangan rumah. Berhenti tepat di bawah kanopi yang meneduhkan mobil tersebut dari panasnya terik mentari dan dinginnya air hujan.Semua yang ada di rumah ini, dari depan hingga ke belakang terpelihara dengan baik. Tapi satu hal.. rumah ini mas

  • Pesan Mesra Untuk Suamiku   Bab 83

    "Aluna. Ini bagianmu." Aluna menerima amplop putih yang diberikan Langit untuknya. Ia pun kebingungan. "Amplop apa ini, Langit?" "Uang lembur." "Uang lembur? Bukannya ini biasa kamu kasih sekalian pas gajian?" Tanya Aluna. "Nggak apa-apa. Aku kasih aja sekarang." Langit memanggil seluruh pega

  • Pesan Mesra Untuk Suamiku   Bab 81

    "Kamu.."Mata Aamir membulat. Dia masih ingat siapa wanita berhijab panjang yang tengah duduk membalas tatapannya. Begitu juga dengan Aluna yang terdiam sesaat. Pria dihadapannya adalah sepupu dari mantan suaminya. Pria yang pernah memberikan hadiah yang besar untuk si kembar."

続きを読む
無料で面白い小説を探して読んでみましょう
GoodNovel アプリで人気小説に無料で!お好きな本をダウンロードして、いつでもどこでも読みましょう!
アプリで無料で本を読む
コードをスキャンしてアプリで読む
DMCA.com Protection Status