首頁 / Romansa / Pesona Anak Bos / Batas yang Lebur

分享

Batas yang Lebur

作者: E Widia
last update publish date: 2026-07-02 17:00:00

Gumpalan awan hitam pekat langsung menelan sisa langit jingga sore itu. Tidak butuh waktu lama hingga hujan deras tumpah dan membanjiri jalanan aspal.

Cit!

Ban motor Yudo berdecit keras saat ia berbelok tajam, mencari tempat berteduh di bawah atap seng sebuah halte tua yang bocor di beberapa sisi.

Tampias angin membawa butiran air menerobos masuk. Widi mendekap lengannya erat-erat, menggigil menahan dingin yang mulai menusuk tulang. Blus putih tipis yang dikenakannya sudah basah kuyup, menempel ketat pada kulit dan mencetak jelas siluet pakaian dalam di baliknya.

Yudo menoleh. Pandangannya sempat terkunci selama beberapa detik sebelum ia menelan ludah dan berdehem canggung. "Pakai ini," katanya sambil menyampirkan jaket ke bahu Widi.

Widi menunduk dalam-dalam. Ia buru-buru menarik ritsleting jaket yang kelonggaran itu hingga ke dagu. "T-terima kasih," gumamnya, sama sekali tidak berani menatap mata Yudo.

Hujan di luar tidak kunjung reda. Yudo melirik Widi yang masih gemetaran. "Kita terjang saja?"

Widi mengangguk cepat.

Di atas jok motor yang basah dan licin, Widi terpaksa merapatkan tubuhnya ke punggung Yudo, menyembunyikan wajahnya dari terpaan air hujan yang perih di kulit.

"Maaf, gara-gara aku kamu jadi terlambat ke rumah temanmu!" seru Widi, setengah berteriak melawan deru mesin dan angin.

"Tidak apa-apa!" balas Yudo sambil menambah kecepatan motornya.

Motor berhenti tepat di depan pagar kos Widi. Widi turun dan melepas helmnya, merapikan rambutnya yang lepek dan menempel di dahi. Air hujan masih menetes dari rahang tegas Yudo yang juga basah kuyup. Widi meremas ujung jaket Yudo yang masih ia kenakan dengan ragu.

"Mau… mampir sebentar? Mengeringkan baju dulu. Baju kamu basah semua, aku ada kaus longgar yang mungkin muat."

Yudo menatap Widi lekat-lekat sebelum akhirnya mengangguk singkat. "Boleh."

Langkah kaki mereka yang basah terdengar jelas di lorong lantai dua yang sepi. Widi memutar kunci lalu mendorong pintu kamar kosnya yang sempit. Aroma vanila yang hangat langsung menyambut mereka.

"Maaf, kamarku sempit," kata Widi canggung. Ia langsung berjalan ke arah lemari, sementara Yudo memilih berdiri diam di dekat pintu supaya air dari bajunya tidak membasahi lantai ke mana-mana.

Widi mengambil sepotong kaus katun hitam longgar miliknya. "Ini cukup nyaman."

Yudo menerima kaus itu. Namun, bukannya berjalan ke kamar mandi, ia malah mendekatkan kain katun tersebut ke hidungnya sambil memejamkan mata sejenak.

"Aku suka," bisik Yudo, matanya langsung menatap tajam ke arah Widi.

Jantung Widi berdegup kencang. Belum sempat ia mundur, Yudo sudah memegang ujung kaus basahnya sendiri lalu membukanya tanpa ragu.

Widi tersentak dan refleks menutup mata dengan kedua tangan. "Ganti di kamar mandi, Yudo!"

Yudo tertawa kecil, suara tawanya terdengar serak. Bunyi kain basah yang jatuh ke lantai terdengar pelan. "Kenapa? Takut melihatnya?"

Widi mengintip dari celah jarinya, lalu terpaku. Di depannya, Yudo berdiri tanpa atasan. Tubuh atletisnya tampak berkilau karena sisa air hujan. Widi menelan ludah, mencoba mengendalikan dirinya sebagai wanita yang lebih dewasa. "Untuk ukuran mahasiswa, kamu cukup berani, ya?"

Yudo tersenyum tipis, lalu melangkah maju. Satu langkah. Dua langkah.

Dug.

Punggung Widi membentur dinding. Yudo langsung mengurungnya dengan menumpukan kedua telapak tangan di tembok, menutup jalan keluar Widi. Hawa panas dari tubuh Yudo mendadak mengalahkan udara dingin di kamar itu.

"Memang kenapa kalau aku berani? Kamu mau menolak?" bisik Yudo, jarak mereka nyaris habis.

Suara hujan di luar mendadak kalah telak oleh detak jantung Widi yang menggila. Tatapan intens Yudo benar-benar mengunci pergerakannya, menyisakan keheningan yang intim dan memabukkan.

Yudo memajukan wajahnya, mengikis jarak yang tersisa sampai bibir mereka bertemu. Widi sempat tersentak, tetapi tangannya refleks mencengkeram bahu kokoh Yudo. Dinginnya malam itu seolah menguap begitu saja. Widi memejamkan mata, membiarkan pertahanannya runtuh saat membalas ciuman pemuda itu.

Perlahan, Yudo menuntun tubuh Widi terbaring di atas kasur. Sentuhan pakaian mereka yang lembap memicu ketegangan yang mengaburkan logika. Yudo melepaskan ciumannya dengan napas memburu, lalu beralih mencium leher Widi, membuat wanita itu meremang.

Tangan hangat Yudo perlahan menurunkan ritsleting jaket, menyelinap ke balik blus putih Widi yang basah, lalu bergerak lembut ke balik pakaian dalamnya dengan ritme yang menuntut.

"Mghh..."

Desah lirih lolos begitu saja dari tenggorokan Widi. Pikirannya mendadak kosong. Perbedaan usia dan status Yudo sebagai anak bosnya menguap begitu saja, kalah oleh gairah yang telanjur membakar kamar sempit itu.

Drrrtt! Drrrtt!

Getaran keras ponsel di sudut meja merusak suasana seketika. Di atas layar yang menyala, nama "Mami" berkedip.

Yudo langsung membeku. Widi memanfaatkan momen itu untuk menjauh, bergeser ke tepi kasur. Ia memunggungi Yudo dengan jantung yang masih berdebar karuan, sementara tangannya yang gemetar buru-buru merapikan blus putihnya yang berantakan.

Yudo berdecak kesal, mengusap wajahnya kasar sebelum menyambar ponselnya. "Iya, Mami. Ini Yudo langsung pulang," ucap Yudo, mencoba menstabilkan suaranya yang masih putus-putus. Sambungan langsung terputus. Yudo menghela napas panjang.

Widi berbalik perlahan dengan wajah yang masih memerah. "Bukannya tadi kamu bilang ada janji dengan teman?"

Gerakan Yudo yang sedang menyisir rambut lepeknya dengan jari langsung terhenti. Senyum tipis muncul di sudut bibirnya.

"Dari awal aku memang tidak ada janji dengan siapa pun," ujarnya santai sambil memakai kaus hitam pemberian Widi.

Widi tertegun. Kenyataan itu menamparnya seketika; alasan janji dengan teman itu hanya bualan. Skenario yang sengaja Yudo buat agar punya alasan untuk memisahkannya dari Mas Eza.

Yudo mendekat, memegang dagu Widi, lalu mendaratkan satu ciuman singkat namun dalam di bibir wanita itu—seolah menegaskan kepemilikannya. "Aku pulang dulu," bisiknya.

Ia menyambar jaket basah miliknya lalu melangkah keluar. Pintu kayu kamar kos itu tertutup rapat. Tak lama kemudian, suara deru motor besarnya memecah keheningan malam sebelum perlahan menjauh dan menghilang.

Widi masih duduk mematung di tepi kasur. Jarinya bergerak menyentuh bibir yang masih terasa hangat. Ia sadar, pesona berbahaya dari anak bosnya baru saja menjungkirbalikkan hidupnya.

Langit Jakarta pagi ini cerah sekali, kontras dengan badai semalam. Namun, langkah kaki Widi saat melewati pagar besi rumah besar itu terasa sangat berat. Di kepalanya, bayangan sentuhan hangat Yudo semalam masih berputar liar. Widi meremas tali tasnya kuat-kuat, memaksa logikanya untuk sadar. Hari ini ia harus profesional.

Baru beberapa langkah melewati pintu utama, matanya langsung bertatapan dengan Yudo yang baru saja keluar dari dapur. Pemuda itu hanya meliriknya sekilas, lalu berjalan santai ke lantai atas... seolah-olah tidak pernah terjadi apa pun di antara mereka semalam.

在 APP 繼續免費閱讀本書
掃碼下載 APP

最新章節

  • Pesona Anak Bos   Bayangan di Antara Kita

    Widi keluar dari kafe, menyapu pandangan ke segala arah.Di sudut tikungan jalan, sesosok bayangan yang tak asing tampak bergerak tergesa.Tanpa membuang waktu, langkahnya memburu, menembus keramaian hingga tangannya berhasil merengkuh pundak sosok itu."Ada apa, ya, Mbak?" Pria itu berbalik sembari menarik turun maskernya.Langkah Widi terhenti seketika."M-maaf, Mas... salah orang," gumam Widi gagap, menatap sekeliling dengan kebingungan yang makin membuncah.Pria itu mengernyit heran, menggeleng pelan, lalu berlalu pergi.Gagang pintu kamar kosnya terasa dingin saat Widi memutar anak kunci. Suara decitan kayu yang nyaring menyambut jiwanya yang remuk.Tanpa melepaskan sepatu, ia menghempaskan tubuh ke atas kasur, membiarkan dirinya tenggelam dalam keheningan kamar.Ponsel di dalam tasnya tak henti bergetar, memancarkan cahaya redup berulang kali di kegelapan. Namun, ia tak sudi menjangkaunya.Yudo melangkah menghampiri motor besarnya yang terparkir di halaman kampus dengan ponsel y

  • Pesona Anak Bos   Benang yang Mulai Terurai

    "M-maksudmu apa, Mas?" Suara Widi tertahan di tenggorokan.Kata "sudahi" yang baru saja diucapkan Mas Eza terus bergema di telinganya, terasa begitu dingin dan asing."Aku rasa itu yang terbaik untukmu, Wid. Bu Ella sudah telanjur menaruh kepercayaan besar kepadamu. Jangan sampai hubunganmu dengan Yudo merusak segalanya; kariermu taruhannya," cecar Mas Eza. Tatapannya lurus, sarat kecemasan mendalam.Pandangan Widi langsung mengunci mata Mas Eza, terasa dingin tanpa emosi. "Yang berhak menyudahi hubunganku dengan Yudo hanya aku dan dia, Mas."Mas Eza tertegun. Ia menghela napas berat melihat ketegasan di wajah wanita di hadapannya."Kamu pulang saja sekarang. Hari ini biar aku yang menangani pekerjaanmu. Tenang, Bu Ella tidak akan tahu. Kamu butuh istirahat," sambungnya dengan nada melembut.Tanpa menyahut, Widi menyambar tasnya lalu bangkit. Namun, langkahnya sempat tertahan di ambang pintu saat suara Mas Eza kembali memecah keheningan ruangan."Pikirkan lagi ucapan-ucapanku, Wid. Ak

  • Pesona Anak Bos   Siapa yang Mengintai?

    Suara langkah kaki Mas Eza yang memasuki ruangan seketika memecah keheningan. Langkahnya mendadak terhenti saat tatapannya jatuh pada Widi.Wanita itu berdiri mematung di dekat meja kerja. Tubuhnya bergetar hebat dengan mata berkaca-kaca yang menatap nanar lembaran di tangannya."Wid?" panggil Mas Eza pelan.Widi menoleh cepat. Tatapannya yang biasa lembut kini menghunus tajam, penuh luka dan sikap defensif."Ini dari kamu, kan, Mas?" tuduh Widi dengan suara bergetar menahan tangis.Mas Eza mengernyitkan dahi, lalu melangkah maju. "Apa, Wid? Aku tidak mengerti."Plak!Widi melemparkan tumpukan foto itu ke atas meja kerja Mas Eza. Lembaran cetak tersebut berhamburan, menampilkan potret-potret intim yang seharusnya menjadi rahasia."Aku tidak tahu apa-apa soal ini," sangkal Mas Eza cepat setelah melirik sekilas ke arah meja."Cuma kamu yang tahu hubunganku dengan Yudo, Mas!" Suara Widi meninggi, serak oleh emosi yang membuncah. Air mata akhirnya lolos membasahi pipinya."Kamu, kan, yang

  • Pesona Anak Bos   Lembaran yang Mengintai

    Langkah Widi tertahan tepat di depan meja kerjanya. Pandangannya terpaku pada selembar amplop cokelat tebal yang tergeletak di sana.Jemarinya baru saja hendak menyentuh permukaan kertas yang kasar itu ketika getaran keras dari dalam tas memecah keheningan ruangan.Bzzzt! Bzzzt!Ia segera merogoh tasnya. Layar ponsel yang berkedip menampilkan nama "Bu Ella". Widi menggeser tombol hijau, lalu menempelkan gawai tersebut ke telinganya."Iya, Bu Ella?" ucap Widi, berusaha keras menjaga suaranya tetap tenang."Halo, Non. Kamu sudah di kantor?" Suara Bu Ella terdengar agak cemas."Sudah, Bu.""Saya boleh minta tolong? Kamu ke atas, ya? Tolong bangunkan Yudo. Dari tadi saya telepon tidak juga diangkat, padahal dia ada kelas pagi ini."Widi melirik sekilas ke arah amplop di mejanya. "Oh, iya, baik, Bu. Saya izin ke atas sekarang.""Maaf, ya, Non, merepotkan," ucap Bu Ella sebelum memutus sambungan.Widi menghela napas berat. Ia terpaksa meninggalkan amplop misterius itu, lalu melangkah cepat

  • Pesona Anak Bos   Sebelum Rahasia Terbongkar

    Akhir pekan baru saja berlalu, meninggalkan tumpukan pertanyaan tanpa jawaban dan rasa cemas yang menggelayuti dada Widi bagai kabut tebal.Hubungannya dengan Yudo kini terasa seperti sedang berjalan di atas seutas tali yang rapuh. Widi menarik napas dalam-dalam sebelum mendorong pintu gerbang kantor yang sekaligus menjadi kediaman Bu Ella tersebut.Di dalam ruangan, rutinitas menjadi pelarian terbaiknya. Terdengar bunyi klik dari tombol daya komputer. Jemari Widi mulai menari di atas papan ketik, mencoba menenggelamkan diri dalam barisan angka dan laporan keuangan.Namun, waktu seakan melesat tanpa permisi. Ketika jarum jam merayap mendekati waktu makan siang, kursi di sebelahnya tetap kosong. Mas Eza belum juga kelihatan.Widi memutar kursi kerjanya, menatap punggung Bu Ella yang tegak menghadap layar laptop. "Bu Ella... Mas Eza kok hari ini tidak kelihatan, ya, Bu?" Suara Widi memecah kesunyian, terdengar agak ragu.Bu Ella menjawab tanpa mengalihkan pandangan, jemarinya tetap linc

  • Pesona Anak Bos   Mata di Balik Bayangan

    Suara denting sendok dan garpu yang beradu dengan piring porselen seolah lenyap saat Widi menangkap sepasang siluet yang sangat ia kenal di ambang pintu masuk restoran: Bu Ella dan Pak Yohan.Tanpa berpikir panjang, Widi langsung menyelinap ke bawah meja. Ruang yang sempit dan terbatas itu seketika membuat napasnya terasa sesak. Sambil memeluk lutut, ia menatap sepatu Yudo, berusaha keras meredam detak jantungnya yang kian liar."Kamu kenapa?" Yudo menunduk. Wajahnya menyembul di balik kain taplak meja dengan alis bertaut heran.Widi segera menempelkan telunjuk di bibirnya yang memucat. "Ada Mami dan Papi kamu," bisiknya panik.Yudo tersentak. Ia langsung menegakkan tubuh, menoleh, dan sialnya langsung beradu pandang dengan Bu Ella."Gawat," desis Yudo. Ia terpaksa bangkit dan memasang senyum kaku untuk menyambut kedua orang tuanya. "Mami, Papi? Sedang apa di sini?""Papi mengajak Mami makan malam. Tadinya mau mengajak kamu juga, tetapi teleponmu tidak diangkat," kata Pak Yohan."Kamu

更多章節
探索並免費閱讀 優質小說
GoodNovel APP 免費暢讀海量優秀小說,下載喜歡的書籍,隨時隨地閱讀。
在 APP 免費閱讀書籍
掃碼在 APP 閱讀
DMCA.com Protection Status