Beranda / Romansa / Pesona Anak Bos / Kalimat yang Sulit Diartikan

Share

Kalimat yang Sulit Diartikan

Penulis: E Widia
last update Tanggal publikasi: 2026-07-01 04:12:23

Kursor di layar monitor berkedip tanpa henti, menemani keheningan di ruangan yang mendadak terasa mencekik. Jemari Widi menggantung di atas papan ketik, gemetar tipis. Laporan logistik di depannya mengabur, digantikan bayangan adegan di pintu toilet beberapa menit lalu.

Secara refleks, telapak tangannya naik meraba leher. Masih ada sisa hangat di sana, jejak hembusan napas yang memburu dan sempat membuat dadanya berdesir egois, sebuah bentuk kekhilafan yang hampir ia nikmati di tengah sepinya kota perantauan.

Namun, kilau cincin kawin di jari manis Mas Eza seketika menampar kesadarannya. Pria itu milik wanita lain. Widi menarik napas sedalam mungkin, mengusir rasa bersalah yang mulai merayap di ulu hatinya.

“Nanti… mau makan siang bareng lagi, Wid?”

Suara berat Mas Eza memutus lamunannya. Widi mendongak, bersiap memaksakan senyum profesional. Namun, dering nyaring dari saku kemeja Mas Eza menyelamatkannya. Pria itu buru-buru mengangkat ponsel dengan sigap. “Iya, Bu Ella…”

Percakapan singkat itu berakhir dengan helaan napas pendek dari Mas Eza. Gurat lelah kembali membayang di wajahnya. “Saya harus ke gudang vendor sekarang, Wid. Bu Ella minta barangnya diambil segera.”

“Kalau begitu, Mas Eza berangkat sekarang saja, takut telat,” sela Widi cepat, menyelipkan nada khawatir demi menyembunyikan rasa leganya.

Mas Eza menatapnya sesaat, seolah mencari sesuatu yang tersembunyi di balik sepasang mata Widi, sebelum akhirnya mengangguk pasrah. “Aku pergi dulu, Wid.”

Widi hanya mengangguk tanpa menanggapi lebih lanjut.

Deru motor Mas Eza perlahan menjauh, meninggalkan halaman dalam pelukan sepi. Widi memaksakan jemarinya mengetik cepat, memburu angka-angka demi mengusir rasa canggung yang masih bergelantungan di sudut ruangan.

Sampai kemudian terdengar suara langkah kaki yang berat menuruni tangga kayu. Widi tersentak. Ia lupa, Yudo belum kembali ke kampus.

Cklek.

Pintu terbuka tanpa diketuk. Yudo melangkah masuk tanpa tas selempangnya. Wajahnya datar, sedingin es, namun sepasang matanya memancarkan pijar yang berbahaya.

Langkahnya lurus menuju meja Widi. Sebelum Widi sempat merangkai sapaan formal, sebuah gerakan cepat memotong udara.

Srett!

Yudo mencengkeram sisi kursi Widi, menyentaknya dengan satu tarikan kuat hingga berputar seratus delapan puluh derajat. Widi terpaksa menghadap langsung pada tubuh tingginya.

Brak.

Kedua telapak tangan Yudo mengunci sandaran lengan kursi, mencondongkan tubuh tegapnya ke depan hingga Widi terkurung sepenuhnya. Punggung Widi menempel rapat pada sandaran kursi, menahan napas.

Jarak mereka terkikis habis, hanya tersisa beberapa sentimeter. Aroma maskulin menguar kuat dari kemeja Yudo, menyapu wajah Widi yang memucat.

Tatapan pemuda itu tak lagi dingin; manik hitamnya berkilat tajam, menguliti setiap detail paras Widi yang ketakutan.

“Aku enggak akan membiarkan siapa pun mendekatimu, Wid,” bisik Yudo. Suara baritonnya rendah, menekan, bergetar dengan klaim kepemilikan yang mutlak. “Siapa pun.”

Udara di sekitar mereka seolah membeku. Widi mematung dengan jantung yang berdentam liar di rongga dada. Isi kepalanya mendadak kosong di bawah intimidasi yang begitu dekat dan intens.

Yudo membiarkan keheningan itu menjerat mereka selama beberapa detik yang menyiksa. Sudut bibirnya perlahan terangkat tipis, membentuk lengkungan misterius yang dingin, sebelum akhirnya ia menegakkan kembali tubuhnya.

Tanpa menambah satu patah kata pun, Yudo berbalik dan melangkah pergi dengan sikap sesantai biasanya. Pintu menutup dengan bunyi halus.

Widi merosot di kursinya, meremas dadanya yang sesak demi meraup oksigen yang sempat hilang. Layar komputer di hadapannya kembali memantulkan wajahnya yang pucat.

Kejadian gila dengan Mas Eza belum sepenuhnya reda, namun klaim posesif Yudo barusan justru melemparkannya ke dalam labirin baru yang jauh lebih gelap dan berbahaya.

Bias jingga di balik jendela perlahan memudar. Bu Ella belum juga kembali. Widi mematikan komputer, meraih tas, lalu berdiri di teras sambil menatap layar ponselnya.

Ojek daring yang ia pesan masih tertahan macet beberapa kilometer lagi. Ia mengembuskan napas panjang, membiarkan angin sore meredakan ketegangannya.

Brum...

Deru motor memecah sepi halaman. Mas Eza turun sambil membawa beberapa bundel berkas logistik. Langkahnya terhenti saat melihat Widi sudah menunggu di dekat pagar.

“Sudah mau pulang, Wid?” sapanya.

“Iya, Mas.”

Mas Eza tampak lebih lesu dari biasanya. Ia menunduk, memutar kunci motor di sela jemarinya hingga terdengar bunyi gemerincing pelan.

“Maaf soal tadi siang, Wid,” bisik Mas Eza lirih, menatap lantai semen di bawah kaki mereka. “Aku tidak bermaksud membuatmu tidak nyaman. Kepalaku sedang penuh sekali.”

Melihat gurat frustrasi di wajah pria matang itu, Widi tersenyum tipis. “Tidak apa-apa, Mas. Kalau ada apa-apa, Mas Eza bisa cerita ke saya.”

Mas Eza mendongak dan mengulas senyum tipis, lalu bertanya, “Mau pulang bareng? Anggap saja menebus kejadian tadi siang.”

Widi membuka mulut, bersiap merangkai penolakan—

“Widi pulang dengan saya, Mas.”

Suara bariton yang dingin memotong udara. Yudo muncul dari bayang-bayang teras yang menggelap, menjinjing helm hitam dengan wajah datar tanpa ekspresi.

Ia mengabaikan Mas Eza sepenuhnya dan langsung mengunci sepasang mata Widi. “Saya sekalian mau ke rumah teman. Kebetulan searah.”

Ketegangan mendadak mencekik teras. Yudo mengangkat sebelah alis tebalnya, menuntut kepatuhan mutlak. “Iya, kan, Wid?”

Widi melirik rahang Mas Eza yang seketika mengencang, lalu menelan ludah. “I-iya... Mas Eza,” ucap Widi akhirnya.

Mas Eza membeku, sebelum akhirnya mengulas senyum kecut. “Oh... ya sudah. Hati-hati di jalan, ya.”

Widi mematung sedetik sebelum membatalkan pesanan ojeknya dengan jari gemetar, lalu naik ke jok belakang motor besar Yudo. Ia sengaja duduk di ujung paling belakang, mencengkeram besi motor hingga buku-buku jarinya memutih.

Saat motor bergerak memotong halaman, Widi menoleh sekilas. Mas Eza masih berdiri mematung di teras, menatap kepergian mereka hingga hilang di tikungan.

Angin malam mulai menusuk pori-pori, mengiringi motor yang melaju membelah jalanan kota.

“Kamu ini tipe orang yang gampang percaya pada orang lain, ya?” Suara Yudo terdengar di tengah deru angin, pria itu tak menoleh. “Tadi itu. Kamu hampir mengiyakan ajakan Mas Eza.”

“Mas Eza hanya berniat baik,” balas Widi kesal.

Yudo tertawa pendek, sinis. “Kadang-kadang, orang tidak sadar kapan mereka mulai membiarkan diri mereka nyaman di tempat yang salah.”

Lampu merah menyala di persimpangan. Motor besar itu berhenti perlahan. Yudo memutar tubuhnya sedikit ke belakang. Jarak mereka begitu dekat hingga bisikannya menembus bisingnya jalanan.

“Aku hanya tidak suka melihat ada orang lain terlalu gampang masuk ke dalam hidupmu, Wid.”

Lampu berubah hijau, motor kembali melesat membelah malam. Widi terpaku dengan jantung yang berdentam gila, ia tidak tahu harus mengartikan kalimat itu sebagai kehangatan yang manis, atau justru sebuah peringatan yang berbahaya.

Lanjutkan membaca buku ini secara gratis
Pindai kode untuk mengunduh Aplikasi

Bab terbaru

  • Pesona Anak Bos   Sinyal Bahaya

    Hari-hari berikutnya menjelma menjadi rutinitas kecil yang paling Yudo dambakan sekaligus takuti. Setiap jam istirahat bergema, kakinya seolah bergerak sendiri menuju kelas Deza. Ia tak pernah datang dengan tangan kosong—kadang membawa puding cokelat berhias krim lembut, roti susu favorit Deza, atau kotak jus buah manis yang ia selipkan diam-diam di atas meja.Hari itu, bau kertas tua dan dinginnya AC perpustakaan menjadi saksi bisu hari-hari yang Yudo curi. Di sudut karpet biru, Deza duduk menyandar di sisinya, memangku sepotong roti isi cokelat yang baru saja Yudo beli dari luar sekolah."Pak Yudo," panggil Deza pelan. Jarinya yang sedikit berlepotan cokelat menunjuk gambar di buku cerita yang terbuka di pangkuan mereka. "Kenapa anak beruangnya ditinggalin di hutan? Papanya ke mana?"Tenggorokan Yudo mendadak kering. Ia memaksakan senyum tipis, jemarinya terulur refleks mengusap lembut helai rambut Deza. "Papanya... tidak sengaja pergi jauh, Deza. Tapi papanya selalu mencari cara un

  • Pesona Anak Bos   Bolehkah Aku Merindukanmu?

    Gema suara Mas Eza masih menampar dinding kepala Yudo, berputar-putar bersama sisa napasnya yang tersengal-sengal. Tanpa sadar, kakinya melangkah mundur, menerobos keluar dari ruang kerja itu sebelum Maminya sempat menangkap basah air matanya.Begitu tubuhnya terempas di balik jok kemudi, tangannya langsung menghantam setir keras-keras. Brak!Deru mesin berteriak lolos saat ia menginjak pedal gas dalam-dalam, melarikan diri dari bayang-bayang masa depan palsu yang telah ia rajut.Di luar kaca jendela, lampu-lampu kota meleleh menjadi garis-garis cahaya yang buram oleh pelupuk matanya yang panas. Udara di dalam kabin terasa begitu tipis, mencekik paru-parunya setiap kali bayangan Widi melintas.Roda mobil Yudo berdecit tajam membelah jalanan kota, memacu kendaraannya bagai kesetanan menuju pusat perbelanjaan—tempat di mana sisa kewarasannya diuji kembali. Tubuhnya menegang saat matanya tak sengaja menangkap sosok Talia melintas di seberang jalan.Ia memarkir mobil sembarangan, lalu mel

  • Pesona Anak Bos   Kebenaran yang Terungkap

    Matahari pagi menembus celah jendela kelas. Suara ketukan spidol di papan tulis tak sepenuhnya mampu menyamarkan gelisah yang menggelayuti pikiran Yudo sejak kemarin sore.Di barisan depan, Deza duduk tegak. Tangan kecilnya sibuk menorehkan garis-garis kata di buku tulis, sesekali mengetuk-ngetukkan pensilnya ke dagu saat berpikir."Pak Yudo?"Panggilan nyaring itu membuyarkan lamunan Yudo. Deza mengacungkan tangannya tinggi-tinggi."Eh... iya, Deza?" Yudo berdeham cepat, berusaha menguasai suaranya."Nomor tiga ini dibacanya twenty atau twentii?" tanya Deza seraya menunjuk lembar tugasnya.Yudo melangkah mendekat, berlutut di samping meja Deza untuk menyamakan tinggi tubuh mereka. "Yang benar twenty, Deza," bisik Yudo lembut.Ia menatap wajah anak di hadapannya dari dekat. Garis mata itu, cara Deza tersenyum... Yudo tak sanggup menahan dorongan di dadanya untuk bertanya."Deza... umur berapa tahun sekarang?""Lima tahun, Pak!" jawab Deza bangga, mengacungkan lima jari kecilnya ke uda

  • Pesona Anak Bos   Di Antara Dua Bayangan

    Deru mesin mobil silver milik Mas Eza menderu halus, memelankan laju hingga terparkir pas di depan rumah kecil bercat putih asri itu.Tak berselang lama, pintu kayu depan terdorong pelan. Mas Eza melangkah masuk seraya mengayunkan tiga kotak pizza hangat yang aroma kejunya menyeruak ke udara."Sore! Penjahat lalu lintas akhirnya sampai!" seru Mas Eza riang, berusaha mengikis rasa bersalahnya. "Maaf ya, Aku bener-bener mati konyol di jalan tol."Namun, keceriaan Mas Eza menguap begitu saja.Di meja makan kayu yang tampak usang, Widi duduk mematung. Jemarinya tertaut begitu erat di atas pangkuan hingga buku-buku jarinya memutih.Tatapannya lurus mengarah ke permukaan meja—kosong, redup, dan menyimpan kabut tebal yang menekan.Di sebelahnya, Deza duduk mengayunkan kaki kecilnya yang menggantung."Wah, Pizza! Makasih, Om Eza!" pekik Deza kegirangan, matanya berbinar menatap kotak-kotak di tangan Mas Eza.Mas Eza memaksakan senyum, mengusap puncak kepala bocah itu. Namun pandangannya tak l

  • Pesona Anak Bos   Dua Jalan Berbeda

    Deza melepaskan genggamannya, berlari kecil menembus kerumunan. "Mama!"Widi berlutut di tepi trotoar, merentangkan kedua tangannya. Deza langsung menghambur, menubrukkan tubuh kecilnya ke pelukan sang ibu hingga tas punggungnya berguncang."Eits, jangan lari-lari, nanti jatuh..." tegur Widi lembut seraya mengusap punggung Deza.Namun, saat Widi mendongak, gerak tangannya seketika terhenti.Tepat dua langkah di belakang Deza, Yudo berdiri. Napas pria itu memburu pelan, matanya menatap Widi tanpa berkedip. Senyum di bibir Widi perlahan memudar, berganti dengan tarikan tipis di sudut rahangnya yang menegang."Bisa... bicara sebentar?" suara Yudo terdengar serak, hampir tenggelam di antara deru mesin kendaraan.Widi menelan ludah gatal di tenggorokannya. Ia bangkit berdiri pelan-pelan, membetulkan kerah baju Deza tanpa berani membalas tatapan Yudo terlalu lama."Ada taman di samping," Yudo memberi isyarat ke arah sudut halaman sekolah yang teduh di bawah naungan pohon pule. "Biarkan Deza

  • Pesona Anak Bos   Jejak yang Kembali

    Riuh tawa dan celoteh anak-anak bersahutan menembus dinding kelas. Namun, saat derap langkah kaki asing terdengar mendekati ambang pintu, suasana mendadak surut.Puluhan pasang mata mungil menengadah, menatap hening pada sosok yang baru saja melangkah masuk.Yudo menarik napas pelan, menguasai panggung pertamanya. Setelah perkenalan singkat yang disambut senyum polos, ia membuka buku absen di atas meja dan mulai memanggil nama mereka satu per satu."Abimana?""Hadir, Pak!"Satu per satu suara nyaring menyahut. Hingga jemari Yudo terhenti tepat di baris paling bawah. Matanya terpaku pada sebaris nama yang terasa begitu asing, namun anehnya menghentakkan dadanya."Yudeza..." ucap Yudo pelan, hampir seperti berbisik pada dirinya sendiri."Saya, Pak!" Tangan mungil di barisan tengah terangkat tinggi-tinggi.Yudo mendongak. Saat mata mereka saling bertaut, napas Yudo seketika tertahan.Binar mata jernih itu, bentuk alisnya, hingga caranya menatap lurus... terasa begitu familier. Ada getaran

Bab Lainnya
Jelajahi dan baca novel bagus secara gratis
Akses gratis ke berbagai novel bagus di aplikasi GoodNovel. Unduh buku yang kamu suka dan baca di mana saja & kapan saja.
Baca buku gratis di Aplikasi
Pindai kode untuk membaca di Aplikasi
DMCA.com Protection Status