首頁 / Romansa / Pesona Anak Bos / Topeng dan Peringatan

分享

Topeng dan Peringatan

作者: E Widia
last update publish date: 2026-07-03 17:00:40

Suasana kantor sangat sunyi pagi itu. Meja kerja Mas Eza tampak kosong. Saat Widi baru saja menyalakan komputer, suara ketukan tumit sepatu dari arah tangga memecah keheningan.

Bruk... bruk... bruk...

Bu Ella melangkah turun. Tidak ada senyum hangat yang biasanya terpancar. Wajah wanita paruh baya itu tampak kaku dengan guratan lelah yang kontras, sementara sorot matanya yang tajam menuntut kepatuhan mutlak. Tanpa sapaan akrab, ia langsung duduk di meja kerjanya dan mulai menekan papan ketik laptop dengan ritme cepat yang bising.

"Kamu datang jam berapa, Non?" tanya Bu Ella tanpa mengalihkan pandangan dari layar. Suaranya terdengar sedingin ruang interogasi.

Widi menahan napas. "Jam delapan kurang, Bu."

Gerakan jemari Bu Ella mendadak berhenti. Keheningan seketika mencekik ruangan. Ia menoleh lambat, menatap Widi lurus-lurus. "Tapi, saya tidak mendengar kamu masuk. Benar jam delapan kurang?"

Jantung Widi berdentam keras. Dengan gerakan tenang yang dipaksakan, ia menyodorkan layar ponselnya yang menampilkan swafoto dirinya di depan pagar halaman. "Saya terbiasa mengambil foto saat tiba untuk laporan grup pemilik kos, Bu. Ada keterangan waktu otomatis di pojok bawah."

Bu Ella menelisik angka digital di layar ponsel itu sesaat. Ketegangan di antara kedua alisnya perlahan mengendur. Ia menghela napas panjang, seolah mengusir awan curiga dari kepalanya. "Oh, ya sudah. Itu ada bakmi di meja luar. Sarapan dahulu, kamu pasti belum makan."

"Terima kasih banyak, Bu," jawab Widi dengan senyum kaku. Ia sangat paham tabiat bosnya; cerita Mas Eza tentang pengkhianatan mantan karyawan di masa lalu sering kali memicu sifat paranoid wanita paruh baya itu kepada orang baru.

"Mami, bakminya keburu dingin. Ayo sarapan."

Suara bariton yang berat dan akrab tiba-tiba menggema dari meja makan luar. Yudo. Suara yang semalam berbisik posesif di leher Widi.

Bu Ella bangkit dan merapikan blusnya. "Ayo, Non, sarapan bersama saya dan Yudo."

Widi buru-buru mengetik asal, menatap monitor seolah luar biasa sibuk. "Iya, Bu, silakan duluan. Sedikit lagi laporan keuangan ini selesai."

Bu Ella mengangguk maklum lalu melangkah keluar, menutup pintu di belakangnya.

Begitu daun pintu merapat, Widi melepaskan napasnya yang tertahan hingga dadanya terasa ngilu. Telapak tangannya sedingin es. Ia benar-benar belum siap melihat wajah Yudo pagi ini. Ia terlalu takut jika satu lirikan yang salah di atas meja makan akan membongkar seluruh rahasia panas semalam di bawah radar tajam Bu Ella.

"Widi, ayo sarapan!"

Panggilan kedua dari Bu Ella memutus paksa dinding kecemasan yang sedang dibangun Widi di meja kerjanya. Mau tidak mau, ia bangkit dan melangkah ke ruang makan dengan kaki seberat timah.

"Ini bakminya," kata Bu Ella, menyodorkan bungkusan hangat beraroma gurih. "Mangkuknya ambil di dapur belakang, ya."

Widi mengangguk kaku, lalu berbalik menuju dapur bersih. Namun, langkahnya mendadak terkunci di ambang pintu.

Yudo berdiri di depan dispenser. Kaus hitam membungkus ketat pundak tegapnya yang semalam mendekap Widi begitu erat. Sebelum Widi sempat mundur, Yudo berbalik tenang dan menyodorkan mangkuk keramik serta garpu.

"Ini," ucap Yudo datar, tanpa riak.

"Terima kasih," cicit Widi. Ujung jarinya gemetar saat menerima mangkuk itu.

Widi mencuri pandang, namun wajah pemuda sembilan belas tahun itu sedatar dinding semen. Dingin dan acuh tak acuh, seolah badai gairah di atas kasur kos semalam hanyalah halusinasinya belaka. Sikap lihai Yudo dalam memakai topeng kepalsuan justru membuat dada Widi kian sesak.

Denting sendok yang beradu dengan mangkuk keramik mendominasi keheningan meja makan yang mencekik. Ketegangan baru mencair saat Yudo meletakkan sumpitnya. "Mami, setelah ini Yudo mau keluar. Mengurus pendaftaran tanding basket antarkampus."

"Jangan kesorean. Mami ada rapat setelah makan siang, mungkin pulang agak malam," sahut Bu Ella tanpa beralih dari ponselnya.

Yudo menyipitkan matanya tipis. "Diantar Mas Eza, Mami?"

"Tidak, Mas Eza mengirim barang ke luar kota sejak pagi-pagi sekali."

Widi menunduk dalam, mengunyah bakmi yang mendadak terasa hambar. Setidaknya, kini ia tahu ke mana pria matang itu pergi sejak pagi.

"Nanti kalau kamu pulang jangan kemalaman," tambah Bu Ella protektif. "Agar Kak Widi dan Mas Eza tidak terlalu sore menjaga rumah."

Yudo mengangguk pelan. Namun, bersamaan dengan itu, matanya melirik tajam ke arah Widi—sebuah tatapan pekat yang sarat akan peringatan tersembunyi.

Widi buru-buru menghabiskan suapan terakhirnya. "Saya ke belakang dulu, Bu, Yudo."

Di depan wastafel dapur, Widi menyalakan keran. Gemercik air dingin menyiram mangkuk kosong di tangan. Di tengah riuh air, ia tidak menyadari langkah kaki yang mendekat tanpa suara bagai predator.

Deg.

Tanpa aba-aba, tubuh tegap Yudo merapat dari belakang tanpa sisa celah. Dada bidang pemuda itu menekan punggung mungilnya, mengalirkan hawa panas yang kontras dengan dinginnya air yang membasahi jemari Widi. Widi membeku, napasnya tersangkut di tenggorokan.

Yudo merunduk, menempelkan bibirnya begitu dekat di pucuk telinga Widi hingga embusan napas hangatnya meremangkan bulu kuduk.

"Jangan macam-macam dengan Mas Eza," bisik Yudo rendah, serak, dan penuh penekanan yang mengintimidasi—sebuah klaim kepemilikan yang mutlak.

Jantung Widi berdegup gila. Belum sempat ia merespons, Yudo sudah menarik diri dan melenggang pergi dari dapur, seolah tidak pernah terjadi apa-apa.

Widi kembali ke meja kerja dengan lutut lemas dan wajah memucat.

"Kamu kenapa, Non? Wajahmu tegang begitu, seperti habis melihat setan," tegur Bu Ella yang baru masuk ruangan.

Widi tersenyum kaku, menggeser kursor dengan canggung. "Eh, tidak apa-apa, Bu. Hanya kurang fokus."

Matahari merangkak naik ke titik tertinggi, membawa pergi Yudo dan teman-teman basketnya dari rumah. Setelah jam istirahat, Bu Ella tampak merapikan tas kulitnya, bersiap pergi. "Saya berangkat dahulu ya, Non. Sebentar lagi Mas Eza seharusnya sudah kembali. Titip rumah, ya," pamit Bu Ella.

"Baik, Bu. Hati-hati di jalan."

Pintu depan tertutup dengan dentang pelan. Rumah besar itu kembali dilingkupi kesunyi pekat. Widi sendirian di tengah ruangan sepi.

Detak jarum jam dinding bergaung lambat di dalam ruangan yang sunyi. Di atas meja kerja, Widi melipat kedua lengannya, membenamkan wajah yang penat hingga akhirnya terlelap. Monitor di hadapannya perlahan meredup, menyisakan temaram yang senyap.

Langkah kaki yang berat tiba-tiba memecah keheningan. Mas Eza melangkah masuk, membawa sisa aroma jalanan setelah seharian penuh mengurus logistik di luar. Langkah pria itu terhenti tepat di ambang pintu ruang kerja. Menyaksikan Widi yang tertidur pulas, Mas Eza merasakan gurat keletihan di wajah matangnya perlahan memudar. Tatapan matanya berubah mendalam dan sulit terbaca, seiring langkah kakinya yang mulai mendekat tanpa suara.

在 APP 繼續免費閱讀本書
掃碼下載 APP

最新章節

  • Pesona Anak Bos   Bayangan di Antara Kita

    Widi keluar dari kafe, menyapu pandangan ke segala arah.Di sudut tikungan jalan, sesosok bayangan yang tak asing tampak bergerak tergesa.Tanpa membuang waktu, langkahnya memburu, menembus keramaian hingga tangannya berhasil merengkuh pundak sosok itu."Ada apa, ya, Mbak?" Pria itu berbalik sembari menarik turun maskernya.Langkah Widi terhenti seketika."M-maaf, Mas... salah orang," gumam Widi gagap, menatap sekeliling dengan kebingungan yang makin membuncah.Pria itu mengernyit heran, menggeleng pelan, lalu berlalu pergi.Gagang pintu kamar kosnya terasa dingin saat Widi memutar anak kunci. Suara decitan kayu yang nyaring menyambut jiwanya yang remuk.Tanpa melepaskan sepatu, ia menghempaskan tubuh ke atas kasur, membiarkan dirinya tenggelam dalam keheningan kamar.Ponsel di dalam tasnya tak henti bergetar, memancarkan cahaya redup berulang kali di kegelapan. Namun, ia tak sudi menjangkaunya.Yudo melangkah menghampiri motor besarnya yang terparkir di halaman kampus dengan ponsel y

  • Pesona Anak Bos   Benang yang Mulai Terurai

    "M-maksudmu apa, Mas?" Suara Widi tertahan di tenggorokan.Kata "sudahi" yang baru saja diucapkan Mas Eza terus bergema di telinganya, terasa begitu dingin dan asing."Aku rasa itu yang terbaik untukmu, Wid. Bu Ella sudah telanjur menaruh kepercayaan besar kepadamu. Jangan sampai hubunganmu dengan Yudo merusak segalanya; kariermu taruhannya," cecar Mas Eza. Tatapannya lurus, sarat kecemasan mendalam.Pandangan Widi langsung mengunci mata Mas Eza, terasa dingin tanpa emosi. "Yang berhak menyudahi hubunganku dengan Yudo hanya aku dan dia, Mas."Mas Eza tertegun. Ia menghela napas berat melihat ketegasan di wajah wanita di hadapannya."Kamu pulang saja sekarang. Hari ini biar aku yang menangani pekerjaanmu. Tenang, Bu Ella tidak akan tahu. Kamu butuh istirahat," sambungnya dengan nada melembut.Tanpa menyahut, Widi menyambar tasnya lalu bangkit. Namun, langkahnya sempat tertahan di ambang pintu saat suara Mas Eza kembali memecah keheningan ruangan."Pikirkan lagi ucapan-ucapanku, Wid. Ak

  • Pesona Anak Bos   Siapa yang Mengintai?

    Suara langkah kaki Mas Eza yang memasuki ruangan seketika memecah keheningan. Langkahnya mendadak terhenti saat tatapannya jatuh pada Widi.Wanita itu berdiri mematung di dekat meja kerja. Tubuhnya bergetar hebat dengan mata berkaca-kaca yang menatap nanar lembaran di tangannya."Wid?" panggil Mas Eza pelan.Widi menoleh cepat. Tatapannya yang biasa lembut kini menghunus tajam, penuh luka dan sikap defensif."Ini dari kamu, kan, Mas?" tuduh Widi dengan suara bergetar menahan tangis.Mas Eza mengernyitkan dahi, lalu melangkah maju. "Apa, Wid? Aku tidak mengerti."Plak!Widi melemparkan tumpukan foto itu ke atas meja kerja Mas Eza. Lembaran cetak tersebut berhamburan, menampilkan potret-potret intim yang seharusnya menjadi rahasia."Aku tidak tahu apa-apa soal ini," sangkal Mas Eza cepat setelah melirik sekilas ke arah meja."Cuma kamu yang tahu hubunganku dengan Yudo, Mas!" Suara Widi meninggi, serak oleh emosi yang membuncah. Air mata akhirnya lolos membasahi pipinya."Kamu, kan, yang

  • Pesona Anak Bos   Lembaran yang Mengintai

    Langkah Widi tertahan tepat di depan meja kerjanya. Pandangannya terpaku pada selembar amplop cokelat tebal yang tergeletak di sana.Jemarinya baru saja hendak menyentuh permukaan kertas yang kasar itu ketika getaran keras dari dalam tas memecah keheningan ruangan.Bzzzt! Bzzzt!Ia segera merogoh tasnya. Layar ponsel yang berkedip menampilkan nama "Bu Ella". Widi menggeser tombol hijau, lalu menempelkan gawai tersebut ke telinganya."Iya, Bu Ella?" ucap Widi, berusaha keras menjaga suaranya tetap tenang."Halo, Non. Kamu sudah di kantor?" Suara Bu Ella terdengar agak cemas."Sudah, Bu.""Saya boleh minta tolong? Kamu ke atas, ya? Tolong bangunkan Yudo. Dari tadi saya telepon tidak juga diangkat, padahal dia ada kelas pagi ini."Widi melirik sekilas ke arah amplop di mejanya. "Oh, iya, baik, Bu. Saya izin ke atas sekarang.""Maaf, ya, Non, merepotkan," ucap Bu Ella sebelum memutus sambungan.Widi menghela napas berat. Ia terpaksa meninggalkan amplop misterius itu, lalu melangkah cepat

  • Pesona Anak Bos   Sebelum Rahasia Terbongkar

    Akhir pekan baru saja berlalu, meninggalkan tumpukan pertanyaan tanpa jawaban dan rasa cemas yang menggelayuti dada Widi bagai kabut tebal.Hubungannya dengan Yudo kini terasa seperti sedang berjalan di atas seutas tali yang rapuh. Widi menarik napas dalam-dalam sebelum mendorong pintu gerbang kantor yang sekaligus menjadi kediaman Bu Ella tersebut.Di dalam ruangan, rutinitas menjadi pelarian terbaiknya. Terdengar bunyi klik dari tombol daya komputer. Jemari Widi mulai menari di atas papan ketik, mencoba menenggelamkan diri dalam barisan angka dan laporan keuangan.Namun, waktu seakan melesat tanpa permisi. Ketika jarum jam merayap mendekati waktu makan siang, kursi di sebelahnya tetap kosong. Mas Eza belum juga kelihatan.Widi memutar kursi kerjanya, menatap punggung Bu Ella yang tegak menghadap layar laptop. "Bu Ella... Mas Eza kok hari ini tidak kelihatan, ya, Bu?" Suara Widi memecah kesunyian, terdengar agak ragu.Bu Ella menjawab tanpa mengalihkan pandangan, jemarinya tetap linc

  • Pesona Anak Bos   Mata di Balik Bayangan

    Suara denting sendok dan garpu yang beradu dengan piring porselen seolah lenyap saat Widi menangkap sepasang siluet yang sangat ia kenal di ambang pintu masuk restoran: Bu Ella dan Pak Yohan.Tanpa berpikir panjang, Widi langsung menyelinap ke bawah meja. Ruang yang sempit dan terbatas itu seketika membuat napasnya terasa sesak. Sambil memeluk lutut, ia menatap sepatu Yudo, berusaha keras meredam detak jantungnya yang kian liar."Kamu kenapa?" Yudo menunduk. Wajahnya menyembul di balik kain taplak meja dengan alis bertaut heran.Widi segera menempelkan telunjuk di bibirnya yang memucat. "Ada Mami dan Papi kamu," bisiknya panik.Yudo tersentak. Ia langsung menegakkan tubuh, menoleh, dan sialnya langsung beradu pandang dengan Bu Ella."Gawat," desis Yudo. Ia terpaksa bangkit dan memasang senyum kaku untuk menyambut kedua orang tuanya. "Mami, Papi? Sedang apa di sini?""Papi mengajak Mami makan malam. Tadinya mau mengajak kamu juga, tetapi teleponmu tidak diangkat," kata Pak Yohan."Kamu

更多章節
探索並免費閱讀 優質小說
GoodNovel APP 免費暢讀海量優秀小說,下載喜歡的書籍,隨時隨地閱讀。
在 APP 免費閱讀書籍
掃碼在 APP 閱讀
DMCA.com Protection Status