Home / Romansa / Pesona Anak Bos / Batas yang Runtuh

Share

Batas yang Runtuh

Author: E Widia
last update publish date: 2026-07-01 03:32:29

Suara map tebal yang ditutup Bu Ella memutus keheningan siang itu.

Wanita paruh baya itu melepas kacamata bacanya, lalu menoleh. “Kamu membawa bekal makan siang, Non?”

Widi mengerjap. Senyumnya agak kaku saat menggeleng. Panggilan "Non" dari Bu Ella masih terasa asing di telinganya, meski terselip nada hangat yang familiar. “Saya makan di luar, Bu.”

Bu Ella mengangguk, lalu melirik ke meja di sudut seberang. “Bareng Eza saja. Kamu belum tahu seluk-beluk daerah sini. Eza tahu mana warung yang dekat.”

Widi menoleh. Di sana, Mas Eza masih tekun mencocokkan berkas. Widi meremas jemarinya yang mendadak dingin, lalu kembali menatap Bu Ella. “Apa tidak merepotkan, Bu?”

“Tanya saja sendiri,” sahut Bu Ella dengan senyum tipis.

Widi bangkit, melangkah perlahan memangkas jarak ke meja pria itu. “Mas…”

Mas Eza mendongak. “Iya, Wid? Ada yang bisa dibantu?”

“Boleh… saya ikut makan siang?” Ujung-ujung jari Widi saling bertaut di balik punggung.

Mas Eza terdiam sedetik. Sudut bibirnya perlahan terangkat, menyunggingkan senyum lebar yang seketika melonggarkan pundak Widi yang tegang. “Boleh banget. Kebetulan cacing di perut saya sudah mulai demo.”

Sepuluh menit kemudian, Widi sudah duduk di jok belakang motor Mas Eza. Angin siang yang terik menerpa wajahnya. Ia sengaja menggeser duduknya ke ujung paling belakang, menyisakan jarak satu jengkal dari punggung tegap di depannya.

Warung makan di tikungan jalan itu bising dan penuh asap tumisan yang menusuk hidung. Meja-meja plastik biru berjajar padat. Begitu mereka duduk di sudut, beberapa pengunjung sempat melambaikan tangan kepada Mas Eza.

“Mas Eza pelanggan setia di sini?” tanya Widi, meraih segelas es teh manis yang baru dihidangkan.

“Hampir setiap minggu,” Eza tertawa kecil, memajukan badannya sedikit agar suaranya tidak tenggelam oleh riuh warung. “Kalau Bu Ella sedang ada rapat di luar atau malas masak, di sinilah pelarian saya.”

Percakapan yang semula berputar seputar ritme kantor perlahan melambat. Eza meletakkan sendoknya, lalu mengetuk-ngetuk jemarinya ke dinding gelas. Tatapannya tertuju pada pusaran teh di dalamnya. Senyumnya berubah getir.

“Kadang, Wid… melangkah masuk ke rumah itu rasanya jauh lebih berat daripada menghadapi tumpukan logistik di kantor.”

Gerakan sendok Widi terhenti di udara. Ia menatap Eza, menangkap bayangan kelam dan gurat lelah di bawah kelopak mata pria itu.

“Rumah tangga saya… sedang tidak baik-baik saja,” lanjut Eza. Suaranya datar, tanpa emosi. Justru kerataan nada itulah yang membuat dada Widi terasa ngilu. “Kami sudah pisah kamar cukup lama. Hanya dua orang asing yang kebetulan berbagi atap. Jalan masing-masing.”

Suasana di meja mereka mendadak senyap di tengah riuhnya warung. Widi menelan ludah yang terasa kering, lalu berbisik lirih. “Semoga… semua segera membaik, ya, Mas.”

Mas Eza mendongak, matanya melembut. “Terima kasih, Wid.” Pria itu berdeham, buru-buru mengubah raut wajahnya. “Kalau kamu sendiri? Betah merantau sendirian?”

“Lelahnya ada, Mas. Tapi saya suka punya kendali atas hidup sendiri.”

Mas Eza mengangguk-angguk, sorot matanya lurus menatap Widi. “Hebat. Kamu gadis yang mandiri.”

Motor Mas Eza kembali terparkir di bawah rindang pohon mangga halaman kantor. Widi turun, merapikan roknya yang sedikit kusut akibat angin jalanan. Namun, suara deru mesin mobil yang halus memutus gerakan Widi.

Sebuah sedan hitam mengilat merayap masuk, memotong jalan, lalu berhenti tepat beberapa jengkal di depan mereka.

Wesss...

Kaca jendela mobil perlahan turun. Udara dingin dari AC mobil berembus keluar, menerpa kulit Widi yang masih hangat oleh matahari siang.

Di dalam sana, Yudo duduk bersandar santai. Sorot matanya yang gelap langsung mengunci Widi, sebelum perlahan bergeser, menatap dingin lengan Mas Eza yang berdiri terlalu dekat di samping gadis itu.

Atmosfer halaman mendadak membeku. Yudo tidak mengatakan sepatah kata pun. Namun, sudut rahangnya yang mengeras seolah mengirimkan sinyal ancaman yang membuat detak jantung Widi melompat dari ritme normalnya, tepat sebelum mobil itu melaju pelan menuju garasi.

Sebulan bergulir laksana air yang tenang.

Widi mulai terbiasa dengan tumpukan dokumen logistik dan tawa renyah Mas Eza saat mereka pergi makan siang bersama.

Sementara itu, Yudo tetap menjadi bayangan yang datang dan pergi. Pemuda sembilan belas tahun itu jarang bersuara. Namun, beberapa kali Widi menangkap basah sepasang mata tajam Yudo yang terpaku padanya dari balik sekat ruang kerja.

Singkat dan sedingin es, tatapan itu sanggup menyisakan getaran aneh di tengkuk Widi yang buru-buru ia tepis.

Siang itu, kantor dilingkupi sunyi. Bu Ella rapat, Yudo ke kampus, dan Mas Eza pergi mengantar barang.

Cklek.

Baru saja Widi membuka pintu toilet, tubuhnya nyaris menabrak dada bidang Mas Eza yang tiba-tiba sudah berdiri di sana. Wajah pria itu pucat dengan sepasang mata yang menyiratkan keputusasaan gersang.

Sebelum Widi sempat bertanya, Mas Eza melangkah maju, mendorong Widi kembali ke dalam bilik sempit, lalu mengunci pintu.

Klik.

Sebelum Widi sempat membuka mulut, sepasang lengan kekar Mas Eza sudah melingkar, mendekap tubuh mungil Widi begitu erat hingga rusuknya terasa ngilu.

Widi membeku. Seluruh sendinya lumpuh oleh kejutan yang menghantam tiba-tiba. Detik berikutnya, napas hangat Mas Eza yang memburu mulai menyapu ceruk lehernya, mendaratkan ciuman menuntut yang lahir dari rasa putus asa.

BRRUMMM! Raungan knalpot motor Yudo membelah halaman depan.

Sentakan itu memicu adrenalin Widi. Ia mendorong dada Mas Eza sekuat tenaga. “Ada orang, Mas!” bisiknya panik.

Begitu pintu terbuka, Widi setengah berlari keluar. Namun, di belokan koridor, langkahnya mendadak lumpuh. Ia berhadapan langsung dengan Yudo yang baru saja melangkah masuk.

Yudo mematung. Tatapan tajamnya menghunjam rambut Widi yang acak-acakan dan parasnya yang pucat, lalu bergeser lambat ke arah Mas Eza yang turut keluar di belakangnya sembari membenahi kerah kemeja yang kusut. Udara di koridor mendadak terasa mencekik.

“Sedang apa kalian?” tanya Yudo, rendah dan mengintimidasi.

Widi mematung. Lidahnya mendadak kelu, dadanya naik turun dengan cepat menahan debar ketakutan.

Mas Eza berdeham, lalu melangkah maju menyampingi Widi. “Lampu toilet mati, saklarnya lepas. Widi minta tolong saya perbaiki,” potong Mas Eza cepat dengan nada tenang yang dipaksakan.

Widi hanya mengangguk kaku, ujung-ujung jarinya sedingin es, lalu bergegas kabur ke ruang kerjanya. Di depan monitor yang kabur, jantungnya berdentam liar.

Kebohongan Mas Eza mungkin masuk akal, namun kilat gelap di mata Yudo tadi tidak berbicara tentang kecurigaan seorang anak bos, itu sorot kelam seorang pria yang melihat miliknya baru saja disentuh tangan lain.

Continue to read this book for free
Scan code to download App

Latest chapter

  • Pesona Anak Bos   Sinyal Bahaya

    Hari-hari berikutnya menjelma menjadi rutinitas kecil yang paling Yudo dambakan sekaligus takuti. Setiap jam istirahat bergema, kakinya seolah bergerak sendiri menuju kelas Deza. Ia tak pernah datang dengan tangan kosong—kadang membawa puding cokelat berhias krim lembut, roti susu favorit Deza, atau kotak jus buah manis yang ia selipkan diam-diam di atas meja.Hari itu, bau kertas tua dan dinginnya AC perpustakaan menjadi saksi bisu hari-hari yang Yudo curi. Di sudut karpet biru, Deza duduk menyandar di sisinya, memangku sepotong roti isi cokelat yang baru saja Yudo beli dari luar sekolah."Pak Yudo," panggil Deza pelan. Jarinya yang sedikit berlepotan cokelat menunjuk gambar di buku cerita yang terbuka di pangkuan mereka. "Kenapa anak beruangnya ditinggalin di hutan? Papanya ke mana?"Tenggorokan Yudo mendadak kering. Ia memaksakan senyum tipis, jemarinya terulur refleks mengusap lembut helai rambut Deza. "Papanya... tidak sengaja pergi jauh, Deza. Tapi papanya selalu mencari cara un

  • Pesona Anak Bos   Bolehkah Aku Merindukanmu?

    Gema suara Mas Eza masih menampar dinding kepala Yudo, berputar-putar bersama sisa napasnya yang tersengal-sengal. Tanpa sadar, kakinya melangkah mundur, menerobos keluar dari ruang kerja itu sebelum Maminya sempat menangkap basah air matanya.Begitu tubuhnya terempas di balik jok kemudi, tangannya langsung menghantam setir keras-keras. Brak!Deru mesin berteriak lolos saat ia menginjak pedal gas dalam-dalam, melarikan diri dari bayang-bayang masa depan palsu yang telah ia rajut.Di luar kaca jendela, lampu-lampu kota meleleh menjadi garis-garis cahaya yang buram oleh pelupuk matanya yang panas. Udara di dalam kabin terasa begitu tipis, mencekik paru-parunya setiap kali bayangan Widi melintas.Roda mobil Yudo berdecit tajam membelah jalanan kota, memacu kendaraannya bagai kesetanan menuju pusat perbelanjaan—tempat di mana sisa kewarasannya diuji kembali. Tubuhnya menegang saat matanya tak sengaja menangkap sosok Talia melintas di seberang jalan.Ia memarkir mobil sembarangan, lalu mel

  • Pesona Anak Bos   Kebenaran yang Terungkap

    Matahari pagi menembus celah jendela kelas. Suara ketukan spidol di papan tulis tak sepenuhnya mampu menyamarkan gelisah yang menggelayuti pikiran Yudo sejak kemarin sore.Di barisan depan, Deza duduk tegak. Tangan kecilnya sibuk menorehkan garis-garis kata di buku tulis, sesekali mengetuk-ngetukkan pensilnya ke dagu saat berpikir."Pak Yudo?"Panggilan nyaring itu membuyarkan lamunan Yudo. Deza mengacungkan tangannya tinggi-tinggi."Eh... iya, Deza?" Yudo berdeham cepat, berusaha menguasai suaranya."Nomor tiga ini dibacanya twenty atau twentii?" tanya Deza seraya menunjuk lembar tugasnya.Yudo melangkah mendekat, berlutut di samping meja Deza untuk menyamakan tinggi tubuh mereka. "Yang benar twenty, Deza," bisik Yudo lembut.Ia menatap wajah anak di hadapannya dari dekat. Garis mata itu, cara Deza tersenyum... Yudo tak sanggup menahan dorongan di dadanya untuk bertanya."Deza... umur berapa tahun sekarang?""Lima tahun, Pak!" jawab Deza bangga, mengacungkan lima jari kecilnya ke uda

  • Pesona Anak Bos   Di Antara Dua Bayangan

    Deru mesin mobil silver milik Mas Eza menderu halus, memelankan laju hingga terparkir pas di depan rumah kecil bercat putih asri itu.Tak berselang lama, pintu kayu depan terdorong pelan. Mas Eza melangkah masuk seraya mengayunkan tiga kotak pizza hangat yang aroma kejunya menyeruak ke udara."Sore! Penjahat lalu lintas akhirnya sampai!" seru Mas Eza riang, berusaha mengikis rasa bersalahnya. "Maaf ya, Aku bener-bener mati konyol di jalan tol."Namun, keceriaan Mas Eza menguap begitu saja.Di meja makan kayu yang tampak usang, Widi duduk mematung. Jemarinya tertaut begitu erat di atas pangkuan hingga buku-buku jarinya memutih.Tatapannya lurus mengarah ke permukaan meja—kosong, redup, dan menyimpan kabut tebal yang menekan.Di sebelahnya, Deza duduk mengayunkan kaki kecilnya yang menggantung."Wah, Pizza! Makasih, Om Eza!" pekik Deza kegirangan, matanya berbinar menatap kotak-kotak di tangan Mas Eza.Mas Eza memaksakan senyum, mengusap puncak kepala bocah itu. Namun pandangannya tak l

  • Pesona Anak Bos   Dua Jalan Berbeda

    Deza melepaskan genggamannya, berlari kecil menembus kerumunan. "Mama!"Widi berlutut di tepi trotoar, merentangkan kedua tangannya. Deza langsung menghambur, menubrukkan tubuh kecilnya ke pelukan sang ibu hingga tas punggungnya berguncang."Eits, jangan lari-lari, nanti jatuh..." tegur Widi lembut seraya mengusap punggung Deza.Namun, saat Widi mendongak, gerak tangannya seketika terhenti.Tepat dua langkah di belakang Deza, Yudo berdiri. Napas pria itu memburu pelan, matanya menatap Widi tanpa berkedip. Senyum di bibir Widi perlahan memudar, berganti dengan tarikan tipis di sudut rahangnya yang menegang."Bisa... bicara sebentar?" suara Yudo terdengar serak, hampir tenggelam di antara deru mesin kendaraan.Widi menelan ludah gatal di tenggorokannya. Ia bangkit berdiri pelan-pelan, membetulkan kerah baju Deza tanpa berani membalas tatapan Yudo terlalu lama."Ada taman di samping," Yudo memberi isyarat ke arah sudut halaman sekolah yang teduh di bawah naungan pohon pule. "Biarkan Deza

  • Pesona Anak Bos   Jejak yang Kembali

    Riuh tawa dan celoteh anak-anak bersahutan menembus dinding kelas. Namun, saat derap langkah kaki asing terdengar mendekati ambang pintu, suasana mendadak surut.Puluhan pasang mata mungil menengadah, menatap hening pada sosok yang baru saja melangkah masuk.Yudo menarik napas pelan, menguasai panggung pertamanya. Setelah perkenalan singkat yang disambut senyum polos, ia membuka buku absen di atas meja dan mulai memanggil nama mereka satu per satu."Abimana?""Hadir, Pak!"Satu per satu suara nyaring menyahut. Hingga jemari Yudo terhenti tepat di baris paling bawah. Matanya terpaku pada sebaris nama yang terasa begitu asing, namun anehnya menghentakkan dadanya."Yudeza..." ucap Yudo pelan, hampir seperti berbisik pada dirinya sendiri."Saya, Pak!" Tangan mungil di barisan tengah terangkat tinggi-tinggi.Yudo mendongak. Saat mata mereka saling bertaut, napas Yudo seketika tertahan.Binar mata jernih itu, bentuk alisnya, hingga caranya menatap lurus... terasa begitu familier. Ada getaran

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status