Home / Romansa / Pesona Anak Bos / Pertemuan Tak Terduga

Share

Pesona Anak Bos
Pesona Anak Bos
Author: E Widia

Pertemuan Tak Terduga

Author: E Widia
last update publish date: 2026-07-01 03:02:23

Layar ponsel di tangan Widi menyala, menampilkan angka 07:10. Jantungnya berdetak lebih keras dari alarm yang baru saja ia matikan. Di usia dua puluh tiga, dengan modal nekat merantau dan kamar kos petakan yang dindingnya setebal kertas, hari ini adalah pertaruhan terbesar dalam hidupnya.

"Kerja cuma Senin sampai Jumat, Wid. Suasananya enak." kata-kata teman lamanya terngiang lagi. Di tengah gempuran lowongan kerja enam hari dengan gaji di bawah UMR, tawaran ini bagai oase yang mustahil ia tolak.

Widi menatap bangunan di hadapannya. Sebuah rumah megah yang merangkap menjadi kantor penyedia suku cadang. Alih-alih bising oleh deru mesin, tempat itu justru dilingkupi keheningan.

Tangannya bergerak menekan tombol bel di pagar besi.

Tak lama, pintu utama terbuka. Seorang pria dengan kemeja rapi melangkah keluar. Senyumnya langsung merekah hangat saat membukakan pagar. "Cari siapa, Mbak?"

Widi mengerjap, refleks meremas tali tasnya. "Saya Widi, Mas. Hari ini mulai kerja di sini."

Pria itu mengangguk ramah, sepasang matanya menyiratkan keteduhan. "Oh, Mbak Widi. Mari masuk. Saya Eza."

Langkah Widi mengikuti Mas Eza. Begitu melewati ambang pintu, indra penciumannya langsung disambut aroma pekat kopi yang berpadu dengan wewangian kayu mahoni yang menenangkan.

Ruangan itu dipenuhi meja kayu kokoh dan deretan rak dokumen yang tersusun presisi. Mas Eza dengan cekatan mengambil alih tumpukan berkas tebal di pelukan Widi.

"Tenang saja, jangan tegang. Hari pertama kita pakai untuk adaptasi," ucap Mas Eza. Suaranya yang lembut seketika melonggarkan pundak Widi yang kaku.

Widi tersenyum santun. Dari dekat, ia bisa menangkap gurat kedewasaan di wajah Mas Eza yang tampaknya sudah menginjak kepala tiga. Ada kilat cincin kawin di jari manis pria itu saat ia menata berkas.

Bruk... bruk... bruk...

Bunyi hak sepatu dari arah tangga memecah obrolan mereka. Seorang wanita paruh baya dengan pakaian yang anggun muncul di balik sudut.

"Ini Widi, ya?" Bu Ella melangkah mendekat.

Widi refleks menegakkan punggung. "Iya, Bu. Saya Widi."

"Saya Ella. Santai saja di sini, Non," Bu Ella mengulas senyum, namun sepasang matanya yang tajam seolah menuntut kepatuhan mutlak. "Kantor kita memang tidak besar, tapi saya ingin semua laporan tetap rapi dan teliti. Saya tidak mentolerir kesalahan fatal."

Bu Ella kemudian beralih menatap tangan kanannya. "Mas Eza, tolong siapkan manifes klien internasional kita yang kemarin. Biar Widi pelajari alurnya. Setelah itu, tolong urus berkas logistik di pelabuhan, ya."

"Baik, Bu," sahut Mas Eza sigap.

Dari interaksi singkat itu, Widi langsung tahu bahwa Mas Eza adalah denyut nadi tempat ini. Pria itu bukan sekadar staf administrasi, melainkan pemegang kendali operasional yang dipercaya penuh oleh Bu Ella.

Bu Ella mengajak Widi duduk di meja panjang, mulai menjabarkan alur administrasi dengan runut. Jemari Widi sibuk mencatat.

Namun, baru beberapa lembar halaman terisi, daun pintu depan yang setengah terbuka mendadak berderit kasar. Embusan angin fajar yang dingin menerobos masuk, mengacaukan kehangatan ruangan.

Bahu Mas Eza seketika menegak di dekat lemari arsip. "Mas Yudo," ucapnya dengan suara yang mendadak kaku.

Kalimat Bu Ella terhenti di udara.

Atmosfer ruangan seketika berubah. Udara yang tadi hangat mendadak terasa berat, seolah seluruh oksigen di ruang itu tersedot oleh sosok yang baru saja melangkah masuk.

Seorang pemuda bertubuh tinggi melangkah masuk. Kemeja putihnya digulung asal hingga siku, memperlihatkan urat lengan yang samar. Sebuah tas selempang hitam menggantung santai di bahunya, memberikan kesan acuh tak acuh.

"Mi, aku berangkat kuliah dulu," ucapnya santai, melompati seluruh sekat formalitas kantor.

Bu Ella seketika menghentikan penjelasannya. Wanita sepuh itu tersenyum hangat, aura dominasinya lenyap seketika. "Oh, sebentar. Kenalkan dulu, ini Widi, karyawan baru Mami."

Pandangan pemuda itu bergeser.

Dan Widi lupa cara bernapas.

Manik matanya yang pekat langsung mengunci Widi. Tatapan itu tidak ramah, tidak pula dingin. Tatapan itu... mengukur. Seolah ia sedang memindai Widi.

Ia melangkah mendekat, mengulurkan tangan kanan. Dari jarak sedekat ini, Widi bisa melihat garis rahangnya tegas dan sorot matanya memiliki ketegasan yang melompati usianya.

"Yudo," ucapnya singkat. Suaranya berat, rendah. "Semoga betah."

Widi mengulurkan tangan, menyambut telapak tangan yang jauh lebih besar dan hangat. Kulitnya sendiri terasa sedingin es akibat gugup.

"Widi… terima kasih, Kak Yudo," ucapnya, suaranya terdengar lebih kecil dari yang ia inginkan.

Sudut bibir Yudo berkedut samar. 

"Panggil Yudo saja."

Widi menggeleng kaku dengan sopan santun yang canggung. "Enggak enak, Kak..."

Yudo tidak menyanggah.Ia menarik tangannya lalu berpamitan singkat pada ibunya, Yudo berbalik menuju pintu keluar. Namun, tepat di ambang pintu, langkahnya tertahan.

Ia menoleh sekilas. Melempar senyum tipis penuh teka-teki langsung ke arah Widi. 

Sebelum tubuh tingginya menghilang di balik pintu yang menutup dengan debuman halus.

Ruangan kembali ke suasana semula. Namun Widi tidak lagi sama.

Ia menunduk menatap buku catatannya, mencoba memfokuskan mata pada deretan angka yang mendadak buram di kepalanya. Jantungnya berdetak begitu keras hingga ia khawatir Mas Eza bisa mendengarnya. Tangannya yang memegang pulpen bergetar halus.

Di sudut ruangan, Mas Eza yang sedang menyusun berkas terkekeh pelan, memecah kecanggungan. "Mas Yudo memang begitu orangnya, Wid. Kelihatan dingin dan menjaga jarak di awal, tapi... jangan tertipu oleh penampilannya yang seperti mahasiswa biasa."

Widi hanya mengangguk pelan, mencoba menelan informasi itu.

Ia tidak pernah menduga, sapaan singkat barusan bukan sekadar sambutan.

Itu adalah ketukan pertama dari sebuah labirin.

Dan Widi baru saja menyadari, ia sudah terlambat untuk berbalik arah.

Continue to read this book for free
Scan code to download App

Latest chapter

  • Pesona Anak Bos   Sinyal Bahaya

    Hari-hari berikutnya menjelma menjadi rutinitas kecil yang paling Yudo dambakan sekaligus takuti. Setiap jam istirahat bergema, kakinya seolah bergerak sendiri menuju kelas Deza. Ia tak pernah datang dengan tangan kosong—kadang membawa puding cokelat berhias krim lembut, roti susu favorit Deza, atau kotak jus buah manis yang ia selipkan diam-diam di atas meja.Hari itu, bau kertas tua dan dinginnya AC perpustakaan menjadi saksi bisu hari-hari yang Yudo curi. Di sudut karpet biru, Deza duduk menyandar di sisinya, memangku sepotong roti isi cokelat yang baru saja Yudo beli dari luar sekolah."Pak Yudo," panggil Deza pelan. Jarinya yang sedikit berlepotan cokelat menunjuk gambar di buku cerita yang terbuka di pangkuan mereka. "Kenapa anak beruangnya ditinggalin di hutan? Papanya ke mana?"Tenggorokan Yudo mendadak kering. Ia memaksakan senyum tipis, jemarinya terulur refleks mengusap lembut helai rambut Deza. "Papanya... tidak sengaja pergi jauh, Deza. Tapi papanya selalu mencari cara un

  • Pesona Anak Bos   Bolehkah Aku Merindukanmu?

    Gema suara Mas Eza masih menampar dinding kepala Yudo, berputar-putar bersama sisa napasnya yang tersengal-sengal. Tanpa sadar, kakinya melangkah mundur, menerobos keluar dari ruang kerja itu sebelum Maminya sempat menangkap basah air matanya.Begitu tubuhnya terempas di balik jok kemudi, tangannya langsung menghantam setir keras-keras. Brak!Deru mesin berteriak lolos saat ia menginjak pedal gas dalam-dalam, melarikan diri dari bayang-bayang masa depan palsu yang telah ia rajut.Di luar kaca jendela, lampu-lampu kota meleleh menjadi garis-garis cahaya yang buram oleh pelupuk matanya yang panas. Udara di dalam kabin terasa begitu tipis, mencekik paru-parunya setiap kali bayangan Widi melintas.Roda mobil Yudo berdecit tajam membelah jalanan kota, memacu kendaraannya bagai kesetanan menuju pusat perbelanjaan—tempat di mana sisa kewarasannya diuji kembali. Tubuhnya menegang saat matanya tak sengaja menangkap sosok Talia melintas di seberang jalan.Ia memarkir mobil sembarangan, lalu mel

  • Pesona Anak Bos   Kebenaran yang Terungkap

    Matahari pagi menembus celah jendela kelas. Suara ketukan spidol di papan tulis tak sepenuhnya mampu menyamarkan gelisah yang menggelayuti pikiran Yudo sejak kemarin sore.Di barisan depan, Deza duduk tegak. Tangan kecilnya sibuk menorehkan garis-garis kata di buku tulis, sesekali mengetuk-ngetukkan pensilnya ke dagu saat berpikir."Pak Yudo?"Panggilan nyaring itu membuyarkan lamunan Yudo. Deza mengacungkan tangannya tinggi-tinggi."Eh... iya, Deza?" Yudo berdeham cepat, berusaha menguasai suaranya."Nomor tiga ini dibacanya twenty atau twentii?" tanya Deza seraya menunjuk lembar tugasnya.Yudo melangkah mendekat, berlutut di samping meja Deza untuk menyamakan tinggi tubuh mereka. "Yang benar twenty, Deza," bisik Yudo lembut.Ia menatap wajah anak di hadapannya dari dekat. Garis mata itu, cara Deza tersenyum... Yudo tak sanggup menahan dorongan di dadanya untuk bertanya."Deza... umur berapa tahun sekarang?""Lima tahun, Pak!" jawab Deza bangga, mengacungkan lima jari kecilnya ke uda

  • Pesona Anak Bos   Di Antara Dua Bayangan

    Deru mesin mobil silver milik Mas Eza menderu halus, memelankan laju hingga terparkir pas di depan rumah kecil bercat putih asri itu.Tak berselang lama, pintu kayu depan terdorong pelan. Mas Eza melangkah masuk seraya mengayunkan tiga kotak pizza hangat yang aroma kejunya menyeruak ke udara."Sore! Penjahat lalu lintas akhirnya sampai!" seru Mas Eza riang, berusaha mengikis rasa bersalahnya. "Maaf ya, Aku bener-bener mati konyol di jalan tol."Namun, keceriaan Mas Eza menguap begitu saja.Di meja makan kayu yang tampak usang, Widi duduk mematung. Jemarinya tertaut begitu erat di atas pangkuan hingga buku-buku jarinya memutih.Tatapannya lurus mengarah ke permukaan meja—kosong, redup, dan menyimpan kabut tebal yang menekan.Di sebelahnya, Deza duduk mengayunkan kaki kecilnya yang menggantung."Wah, Pizza! Makasih, Om Eza!" pekik Deza kegirangan, matanya berbinar menatap kotak-kotak di tangan Mas Eza.Mas Eza memaksakan senyum, mengusap puncak kepala bocah itu. Namun pandangannya tak l

  • Pesona Anak Bos   Dua Jalan Berbeda

    Deza melepaskan genggamannya, berlari kecil menembus kerumunan. "Mama!"Widi berlutut di tepi trotoar, merentangkan kedua tangannya. Deza langsung menghambur, menubrukkan tubuh kecilnya ke pelukan sang ibu hingga tas punggungnya berguncang."Eits, jangan lari-lari, nanti jatuh..." tegur Widi lembut seraya mengusap punggung Deza.Namun, saat Widi mendongak, gerak tangannya seketika terhenti.Tepat dua langkah di belakang Deza, Yudo berdiri. Napas pria itu memburu pelan, matanya menatap Widi tanpa berkedip. Senyum di bibir Widi perlahan memudar, berganti dengan tarikan tipis di sudut rahangnya yang menegang."Bisa... bicara sebentar?" suara Yudo terdengar serak, hampir tenggelam di antara deru mesin kendaraan.Widi menelan ludah gatal di tenggorokannya. Ia bangkit berdiri pelan-pelan, membetulkan kerah baju Deza tanpa berani membalas tatapan Yudo terlalu lama."Ada taman di samping," Yudo memberi isyarat ke arah sudut halaman sekolah yang teduh di bawah naungan pohon pule. "Biarkan Deza

  • Pesona Anak Bos   Jejak yang Kembali

    Riuh tawa dan celoteh anak-anak bersahutan menembus dinding kelas. Namun, saat derap langkah kaki asing terdengar mendekati ambang pintu, suasana mendadak surut.Puluhan pasang mata mungil menengadah, menatap hening pada sosok yang baru saja melangkah masuk.Yudo menarik napas pelan, menguasai panggung pertamanya. Setelah perkenalan singkat yang disambut senyum polos, ia membuka buku absen di atas meja dan mulai memanggil nama mereka satu per satu."Abimana?""Hadir, Pak!"Satu per satu suara nyaring menyahut. Hingga jemari Yudo terhenti tepat di baris paling bawah. Matanya terpaku pada sebaris nama yang terasa begitu asing, namun anehnya menghentakkan dadanya."Yudeza..." ucap Yudo pelan, hampir seperti berbisik pada dirinya sendiri."Saya, Pak!" Tangan mungil di barisan tengah terangkat tinggi-tinggi.Yudo mendongak. Saat mata mereka saling bertaut, napas Yudo seketika tertahan.Binar mata jernih itu, bentuk alisnya, hingga caranya menatap lurus... terasa begitu familier. Ada getaran

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status