LOGINMas Eza terdiam di ambang pintu. Ia mendekat tanpa suara, lalu mengulurkan tangannya untuk mengusap lembut helaian rambut yang menutupi kening Widi.
Tiba-tiba, layar ponsel kantor di samping komputer berkedip cepat. Panggilan tidak terjawab dari Bu Ella berderet di sana.
Mas Eza bergerak cepat. Ia menempelkan dinding gelas es kopi yang dingin tepat ke pipi Widi.
"Mas Eza, dingin!" Widi tersentak bangun, refleks mengusap pipinya yang basah karena embun gelas. Matanya langsung membelalak menatap deretan panggilan di layar ponsel. Wajahnya seketika pucat.
Drrrtt... Drrrtt...
Ponsel di saku celana Mas Eza menyusul bergetar, menampilkan nama yang sama. Pria itu mengangkat tangan, memberi isyarat agar Widi diam, lalu menerima panggilan tersebut.
"Benar, Bu... Oh, Widi baru saja dari kamar mandi, Bu. Ponselnya tertinggal di meja kerja. Baik, segera saya sampaikan."
Sambungan terputus. Widi merosot di kursi, mengembuskan napas panjang. "Terima kasih banyak, Mas. Kalau tidak ada Mas Eza, aku tidak tahu harus bagaimana."
"Makanya, jangan tidur terus," gurau Mas Eza sambil mengacak rambut Widi sekilas sebelum menyodorkan es kopi ke tangannya.
Bias jingga sore mulai merayap di jendela. Mas Eza menarik kursi ke sebelah Widi, menikmati kopi yang mulai mencair. Obrolan santai mereka mengalir, sampai sebuah pertanyaan terlontar tanpa aba-aba.
"Kamu... sedang dekat ya dengan Mas Yudo?" Mas Eza mengaduk sisa es batu di gelasnya dengan santai.
Jemari Widi mendadak kaku. "Tidak, Mas. Kemarin hanya kebetulan searah, jadi dia sekalian memberi tumpangan."
Mas Eza menatap Widi dengan selidik. "Kemarin hujan deras sekali. Kalian tidak terjebak di jalan?"
Widi menelan ludah. "Tidak, Mas. Saat hujan lebat, aku sudah di dalam kos." Satu kebohongan terpaksa ia ucapkan demi melindungi rahasia panas semalam.
Mas Eza mengangguk lambat, lalu mengembuskan napas pendek yang terdengar berat. "Wid... jangan terlalu dibawa perasaan dengan Mas Yudo. Anak muda seusianya, rasa ingin tahunya memang sedang tinggi-tingginya."
Dada Widi berdesir ngilu. Kalimat itu seolah membenarkan sikap dingin Yudo di dapur pagi tadi.
Brummm!
Raungan mesin motor besar memecah keheningan halaman tepat pada jam pulang kerja. Yudo kembali.
Saat Widi dan Mas Eza melangkah ke ruang tamu untuk bersiap pulang, mereka berpapasan di dekat tangga menuju lantai atas.
"Mas Yudo, duluan ya," pamit Mas Eza, tetap ramah seperti biasa.
Yudo menghentikan langkah di anak tangga pertama. Sepasang matanya melirik sekilas, datar dan kosong—seolah menatap dua orang asing yang tidak berarti.
"Oh iya, Mas. Hati-hati," sahut Yudo pendek. Suaranya sedingin es.
Tanpa melirik Widi sedetik pun, ia berbalik dan berjalan naik ke lantai dua.
Widi terpaku. Jemarinya mencengkeram tali tas hingga buku-buku jarinya memutih. Pengabaian itu menghantam telak egonya. Semalam Yudo begitu posesif, tetapi hari ini ia diperlakukan seperti angin lalu. Widi menyeret langkahnya keluar melewati pagar dengan hati yang kecewa dan kebingungan yang membubung tinggi.
Hari-hari berikutnya merayap dalam rutinitas administrasi yang menjemukan.
Di ruang tengah kantor, Widi dan Mas Eza kembali sering pergi makan siang bersama. Beberapa kali Mas Eza menawarkan tumpangan atau sekadar mampir ke kedai kopi, namun Widi selalu menggeleng halus dengan senyum berjarak. Matanya sengaja dialihkan pada cincin kawin di jari manis Mas Eza. Batas itu harus tetap tegak.
Di dalam kamar kos saat akhir pekan, pertahanan logika Widi akhirnya goyah. Jemarinya mengetikkan nama Yudo di kolom pencarian media sosial. Profilnya sangat minimalis. Namun, mata Widi tertahan lama pada satu foto Yudo yang tampil tanpa atasan, memamerkan bentuk tubuhnya yang atletis. Foto itu melempar paksa ingatan Widi pada malam hujan di kosnya.
Widi menepuk kedua pipinya dengan gusar, lalu melempar ponsel ke kasur. Ia kesal karena perasaannya diobrak-abrik lalu ditinggalkan tanpa kejelasan.
Senin pagi, langkah Widi memasuki ruang tamu mendadak terhenti. Di atas meja kaca, bertengger sebuket mawar merah yang mulai mengering. Di sela kelopak layunya, terselip kartu kecil bertuliskan: “Wanna be my girlfriend?”
Dada Widi seketika sesak. Apakah dari Yudo untuk orang lain? Atau untuk Yudo dari perempuan lain? Asumsi itu merusak fokus kerjanya sejak pagi.
Sialnya, hari itu sistem komputer kantor mengalami gangguan teknis. Berkas administrasi menumpuk tinggi. Sikap dingin Bu Ella membuat atmosfer ruangan kian mencekik. Masalah memuncak menjelang jam pulang: selembar dokumen faktur penting raib dari map arsip.
Widi membongkar seluruh isi lemari arsip dengan tangan yang mulai gemetar dingin. Bu Ella berdiri di belakangnya tanpa suara, memancarkan aura intimidasi yang membuat pelupuk mata Widi memanas. Mas Eza ikut memeriksa laci meja, namun hasilnya nihil.
"Pulang saja dulu. Kita cari lagi besok," ucap Bu Ella sedingin es sebelum berbalik melangkah naik ke lantai dua.
Widi menunduk dalam, menahan air mata. "Baik, Bu. Mohon maaf yang sebesar-besarnya," bisiknya parau.
Di halaman rumah, Mas Eza sudah menunggunya di atas sepeda motor. "Wid, pulang bersamaku, ya," tawar Mas Eza lembut melihat wajah lesu Widi. Kali ini, benteng pertahanan Widi runtuh. Tanpa kekuatan untuk menolak, ia naik ke jok belakang.
Sepanjang perjalanan, air mata Widi luruh tanpa suara, dibelah angin malam. Mas Eza melirik kaca spion beberapa kali, lalu membelokkan setang motornya ke halaman sebuah minimarket. Ia meminta Widi menunggu di kursi besi teras.
Tidak lama kemudian, Mas Eza kembali membawa dua buah es krim dan sebotol air mineral dingin. Pria itu menyodorkannya dengan senyum teduh. Isak tangis Widi perlahan mereda.
Widi menatap Mas Eza dengan mata yang masih basah. Dadanya dipenuhi riak pertanyaan; bagaimana mungkin pria selembut dan sepeka ini memiliki kehidupan rumah tangga yang retak?
Brummm!
Raungan mesin motor besar yang sangat familier itu tiba-tiba terdengar, lalu berhenti tepat di tepi jalan depan minimarket. Di atas kemudi, Yudo duduk tegak. Dengan gerakan lambat yang penuh intimidasi, ia mendorong kaca pelindung helmnya ke atas.
Sepasang matanya berkilat tajam di bawah temaram lampu jalan, menatap lurus ke arah tangan Mas Eza yang sedang bergerak lembut mengusap sisa air mata di pipi Widi. Rahangnya mengeras seketika, memancarkan kemarahan pekat yang siap meledak.
Hari-hari berikutnya menjelma menjadi rutinitas kecil yang paling Yudo dambakan sekaligus takuti. Setiap jam istirahat bergema, kakinya seolah bergerak sendiri menuju kelas Deza. Ia tak pernah datang dengan tangan kosong—kadang membawa puding cokelat berhias krim lembut, roti susu favorit Deza, atau kotak jus buah manis yang ia selipkan diam-diam di atas meja.Hari itu, bau kertas tua dan dinginnya AC perpustakaan menjadi saksi bisu hari-hari yang Yudo curi. Di sudut karpet biru, Deza duduk menyandar di sisinya, memangku sepotong roti isi cokelat yang baru saja Yudo beli dari luar sekolah."Pak Yudo," panggil Deza pelan. Jarinya yang sedikit berlepotan cokelat menunjuk gambar di buku cerita yang terbuka di pangkuan mereka. "Kenapa anak beruangnya ditinggalin di hutan? Papanya ke mana?"Tenggorokan Yudo mendadak kering. Ia memaksakan senyum tipis, jemarinya terulur refleks mengusap lembut helai rambut Deza. "Papanya... tidak sengaja pergi jauh, Deza. Tapi papanya selalu mencari cara un
Gema suara Mas Eza masih menampar dinding kepala Yudo, berputar-putar bersama sisa napasnya yang tersengal-sengal. Tanpa sadar, kakinya melangkah mundur, menerobos keluar dari ruang kerja itu sebelum Maminya sempat menangkap basah air matanya.Begitu tubuhnya terempas di balik jok kemudi, tangannya langsung menghantam setir keras-keras. Brak!Deru mesin berteriak lolos saat ia menginjak pedal gas dalam-dalam, melarikan diri dari bayang-bayang masa depan palsu yang telah ia rajut.Di luar kaca jendela, lampu-lampu kota meleleh menjadi garis-garis cahaya yang buram oleh pelupuk matanya yang panas. Udara di dalam kabin terasa begitu tipis, mencekik paru-parunya setiap kali bayangan Widi melintas.Roda mobil Yudo berdecit tajam membelah jalanan kota, memacu kendaraannya bagai kesetanan menuju pusat perbelanjaan—tempat di mana sisa kewarasannya diuji kembali. Tubuhnya menegang saat matanya tak sengaja menangkap sosok Talia melintas di seberang jalan.Ia memarkir mobil sembarangan, lalu mel
Matahari pagi menembus celah jendela kelas. Suara ketukan spidol di papan tulis tak sepenuhnya mampu menyamarkan gelisah yang menggelayuti pikiran Yudo sejak kemarin sore.Di barisan depan, Deza duduk tegak. Tangan kecilnya sibuk menorehkan garis-garis kata di buku tulis, sesekali mengetuk-ngetukkan pensilnya ke dagu saat berpikir."Pak Yudo?"Panggilan nyaring itu membuyarkan lamunan Yudo. Deza mengacungkan tangannya tinggi-tinggi."Eh... iya, Deza?" Yudo berdeham cepat, berusaha menguasai suaranya."Nomor tiga ini dibacanya twenty atau twentii?" tanya Deza seraya menunjuk lembar tugasnya.Yudo melangkah mendekat, berlutut di samping meja Deza untuk menyamakan tinggi tubuh mereka. "Yang benar twenty, Deza," bisik Yudo lembut.Ia menatap wajah anak di hadapannya dari dekat. Garis mata itu, cara Deza tersenyum... Yudo tak sanggup menahan dorongan di dadanya untuk bertanya."Deza... umur berapa tahun sekarang?""Lima tahun, Pak!" jawab Deza bangga, mengacungkan lima jari kecilnya ke uda
Deru mesin mobil silver milik Mas Eza menderu halus, memelankan laju hingga terparkir pas di depan rumah kecil bercat putih asri itu.Tak berselang lama, pintu kayu depan terdorong pelan. Mas Eza melangkah masuk seraya mengayunkan tiga kotak pizza hangat yang aroma kejunya menyeruak ke udara."Sore! Penjahat lalu lintas akhirnya sampai!" seru Mas Eza riang, berusaha mengikis rasa bersalahnya. "Maaf ya, Aku bener-bener mati konyol di jalan tol."Namun, keceriaan Mas Eza menguap begitu saja.Di meja makan kayu yang tampak usang, Widi duduk mematung. Jemarinya tertaut begitu erat di atas pangkuan hingga buku-buku jarinya memutih.Tatapannya lurus mengarah ke permukaan meja—kosong, redup, dan menyimpan kabut tebal yang menekan.Di sebelahnya, Deza duduk mengayunkan kaki kecilnya yang menggantung."Wah, Pizza! Makasih, Om Eza!" pekik Deza kegirangan, matanya berbinar menatap kotak-kotak di tangan Mas Eza.Mas Eza memaksakan senyum, mengusap puncak kepala bocah itu. Namun pandangannya tak l
Deza melepaskan genggamannya, berlari kecil menembus kerumunan. "Mama!"Widi berlutut di tepi trotoar, merentangkan kedua tangannya. Deza langsung menghambur, menubrukkan tubuh kecilnya ke pelukan sang ibu hingga tas punggungnya berguncang."Eits, jangan lari-lari, nanti jatuh..." tegur Widi lembut seraya mengusap punggung Deza.Namun, saat Widi mendongak, gerak tangannya seketika terhenti.Tepat dua langkah di belakang Deza, Yudo berdiri. Napas pria itu memburu pelan, matanya menatap Widi tanpa berkedip. Senyum di bibir Widi perlahan memudar, berganti dengan tarikan tipis di sudut rahangnya yang menegang."Bisa... bicara sebentar?" suara Yudo terdengar serak, hampir tenggelam di antara deru mesin kendaraan.Widi menelan ludah gatal di tenggorokannya. Ia bangkit berdiri pelan-pelan, membetulkan kerah baju Deza tanpa berani membalas tatapan Yudo terlalu lama."Ada taman di samping," Yudo memberi isyarat ke arah sudut halaman sekolah yang teduh di bawah naungan pohon pule. "Biarkan Deza
Riuh tawa dan celoteh anak-anak bersahutan menembus dinding kelas. Namun, saat derap langkah kaki asing terdengar mendekati ambang pintu, suasana mendadak surut.Puluhan pasang mata mungil menengadah, menatap hening pada sosok yang baru saja melangkah masuk.Yudo menarik napas pelan, menguasai panggung pertamanya. Setelah perkenalan singkat yang disambut senyum polos, ia membuka buku absen di atas meja dan mulai memanggil nama mereka satu per satu."Abimana?""Hadir, Pak!"Satu per satu suara nyaring menyahut. Hingga jemari Yudo terhenti tepat di baris paling bawah. Matanya terpaku pada sebaris nama yang terasa begitu asing, namun anehnya menghentakkan dadanya."Yudeza..." ucap Yudo pelan, hampir seperti berbisik pada dirinya sendiri."Saya, Pak!" Tangan mungil di barisan tengah terangkat tinggi-tinggi.Yudo mendongak. Saat mata mereka saling bertaut, napas Yudo seketika tertahan.Binar mata jernih itu, bentuk alisnya, hingga caranya menatap lurus... terasa begitu familier. Ada getaran







