首頁 / Romansa / Pesona Anak Bos / Mawar Layu dan Sandaran Teduh

分享

Mawar Layu dan Sandaran Teduh

作者: E Widia
last update publish date: 2026-07-04 17:00:00

Mas Eza terdiam di ambang pintu. Ia mendekat tanpa suara, lalu mengulurkan tangannya untuk mengusap lembut helaian rambut yang menutupi kening Widi.

Tiba-tiba, layar ponsel kantor di samping komputer berkedip cepat. Panggilan tidak terjawab dari Bu Ella berderet di sana.

Mas Eza bergerak cepat. Ia menempelkan dinding gelas es kopi yang dingin tepat ke pipi Widi.

"Mas Eza, dingin!" Widi tersentak bangun, refleks mengusap pipinya yang basah karena embun gelas. Matanya langsung membelalak menatap deretan panggilan di layar ponsel. Wajahnya seketika pucat.

Drrrtt... Drrrtt...

Ponsel di saku celana Mas Eza menyusul bergetar, menampilkan nama yang sama. Pria itu mengangkat tangan, memberi isyarat agar Widi diam, lalu menerima panggilan tersebut.

"Benar, Bu... Oh, Widi baru saja dari kamar mandi, Bu. Ponselnya tertinggal di meja kerja. Baik, segera saya sampaikan."

Sambungan terputus. Widi merosot di kursi, mengembuskan napas panjang. "Terima kasih banyak, Mas. Kalau tidak ada Mas Eza, aku tidak tahu harus bagaimana."

"Makanya, jangan tidur terus," gurau Mas Eza sambil mengacak rambut Widi sekilas sebelum menyodorkan es kopi ke tangannya.

Bias jingga sore mulai merayap di jendela. Mas Eza menarik kursi ke sebelah Widi, menikmati kopi yang mulai mencair. Obrolan santai mereka mengalir, sampai sebuah pertanyaan terlontar tanpa aba-aba.

"Kamu... sedang dekat ya dengan Mas Yudo?" Mas Eza mengaduk sisa es batu di gelasnya dengan santai.

Jemari Widi mendadak kaku. "Tidak, Mas. Kemarin hanya kebetulan searah, jadi dia sekalian memberi tumpangan."

Mas Eza menatap Widi dengan selidik. "Kemarin hujan deras sekali. Kalian tidak terjebak di jalan?"

Widi menelan ludah. "Tidak, Mas. Saat hujan lebat, aku sudah di dalam kos." Satu kebohongan terpaksa ia ucapkan demi melindungi rahasia panas semalam.

Mas Eza mengangguk lambat, lalu mengembuskan napas pendek yang terdengar berat. "Wid... jangan terlalu dibawa perasaan dengan Mas Yudo. Anak muda seusianya, rasa ingin tahunya memang sedang tinggi-tingginya."

Dada Widi berdesir ngilu. Kalimat itu seolah membenarkan sikap dingin Yudo di dapur pagi tadi.

Brummm!

Raungan mesin motor besar memecah keheningan halaman tepat pada jam pulang kerja. Yudo kembali.

Saat Widi dan Mas Eza melangkah ke ruang tamu untuk bersiap pulang, mereka berpapasan di dekat tangga menuju lantai atas.

"Mas Yudo, duluan ya," pamit Mas Eza, tetap ramah seperti biasa.

Yudo menghentikan langkah di anak tangga pertama. Sepasang matanya melirik sekilas, datar dan kosong—seolah menatap dua orang asing yang tidak berarti.

"Oh iya, Mas. Hati-hati," sahut Yudo pendek. Suaranya sedingin es.

Tanpa melirik Widi sedetik pun, ia berbalik dan berjalan naik ke lantai dua.

Widi terpaku. Jemarinya mencengkeram tali tas hingga buku-buku jarinya memutih. Pengabaian itu menghantam telak egonya. Semalam Yudo begitu posesif, tetapi hari ini ia diperlakukan seperti angin lalu. Widi menyeret langkahnya keluar melewati pagar dengan hati yang kecewa dan kebingungan yang membubung tinggi.

Hari-hari berikutnya merayap dalam rutinitas administrasi yang menjemukan.

Di ruang tengah kantor, Widi dan Mas Eza kembali sering pergi makan siang bersama. Beberapa kali Mas Eza menawarkan tumpangan atau sekadar mampir ke kedai kopi, namun Widi selalu menggeleng halus dengan senyum berjarak. Matanya sengaja dialihkan pada cincin kawin di jari manis Mas Eza. Batas itu harus tetap tegak.

Di dalam kamar kos saat akhir pekan, pertahanan logika Widi akhirnya goyah. Jemarinya mengetikkan nama Yudo di kolom pencarian media sosial. Profilnya sangat minimalis. Namun, mata Widi tertahan lama pada satu foto Yudo yang tampil tanpa atasan, memamerkan bentuk tubuhnya yang atletis. Foto itu melempar paksa ingatan Widi pada malam hujan di kosnya.

Widi menepuk kedua pipinya dengan gusar, lalu melempar ponsel ke kasur. Ia kesal karena perasaannya diobrak-abrik lalu ditinggalkan tanpa kejelasan.

Senin pagi, langkah Widi memasuki ruang tamu mendadak terhenti. Di atas meja kaca, bertengger sebuket mawar merah yang mulai mengering. Di sela kelopak layunya, terselip kartu kecil bertuliskan: “Wanna be my girlfriend?”

Dada Widi seketika sesak. Apakah dari Yudo untuk orang lain? Atau untuk Yudo dari perempuan lain? Asumsi itu merusak fokus kerjanya sejak pagi.

Sialnya, hari itu sistem komputer kantor mengalami gangguan teknis. Berkas administrasi menumpuk tinggi. Sikap dingin Bu Ella membuat atmosfer ruangan kian mencekik. Masalah memuncak menjelang jam pulang: selembar dokumen faktur penting raib dari map arsip.

Widi membongkar seluruh isi lemari arsip dengan tangan yang mulai gemetar dingin. Bu Ella berdiri di belakangnya tanpa suara, memancarkan aura intimidasi yang membuat pelupuk mata Widi memanas. Mas Eza ikut memeriksa laci meja, namun hasilnya nihil.

"Pulang saja dulu. Kita cari lagi besok," ucap Bu Ella sedingin es sebelum berbalik melangkah naik ke lantai dua.

Widi menunduk dalam, menahan air mata. "Baik, Bu. Mohon maaf yang sebesar-besarnya," bisiknya parau.

Di halaman rumah, Mas Eza sudah menunggunya di atas sepeda motor. "Wid, pulang bersamaku, ya," tawar Mas Eza lembut melihat wajah lesu Widi. Kali ini, benteng pertahanan Widi runtuh. Tanpa kekuatan untuk menolak, ia naik ke jok belakang.

Sepanjang perjalanan, air mata Widi luruh tanpa suara, dibelah angin malam. Mas Eza melirik kaca spion beberapa kali, lalu membelokkan setang motornya ke halaman sebuah minimarket. Ia meminta Widi menunggu di kursi besi teras.

Tidak lama kemudian, Mas Eza kembali membawa dua buah es krim dan sebotol air mineral dingin. Pria itu menyodorkannya dengan senyum teduh. Isak tangis Widi perlahan mereda.

Widi menatap Mas Eza dengan mata yang masih basah. Dadanya dipenuhi riak pertanyaan; bagaimana mungkin pria selembut dan sepeka ini memiliki kehidupan rumah tangga yang retak?

Brummm!

Raungan mesin motor besar yang sangat familier itu tiba-tiba terdengar, lalu berhenti tepat di tepi jalan depan minimarket. Di atas kemudi, Yudo duduk tegak. Dengan gerakan lambat yang penuh intimidasi, ia mendorong kaca pelindung helmnya ke atas.

Sepasang matanya berkilat tajam di bawah temaram lampu jalan, menatap lurus ke arah tangan Mas Eza yang sedang bergerak lembut mengusap sisa air mata di pipi Widi. Rahangnya mengeras seketika, memancarkan kemarahan pekat yang siap meledak.

在 APP 繼續免費閱讀本書
掃碼下載 APP

最新章節

  • Pesona Anak Bos   Bayangan di Antara Kita

    Widi keluar dari kafe, menyapu pandangan ke segala arah.Di sudut tikungan jalan, sesosok bayangan yang tak asing tampak bergerak tergesa.Tanpa membuang waktu, langkahnya memburu, menembus keramaian hingga tangannya berhasil merengkuh pundak sosok itu."Ada apa, ya, Mbak?" Pria itu berbalik sembari menarik turun maskernya.Langkah Widi terhenti seketika."M-maaf, Mas... salah orang," gumam Widi gagap, menatap sekeliling dengan kebingungan yang makin membuncah.Pria itu mengernyit heran, menggeleng pelan, lalu berlalu pergi.Gagang pintu kamar kosnya terasa dingin saat Widi memutar anak kunci. Suara decitan kayu yang nyaring menyambut jiwanya yang remuk.Tanpa melepaskan sepatu, ia menghempaskan tubuh ke atas kasur, membiarkan dirinya tenggelam dalam keheningan kamar.Ponsel di dalam tasnya tak henti bergetar, memancarkan cahaya redup berulang kali di kegelapan. Namun, ia tak sudi menjangkaunya.Yudo melangkah menghampiri motor besarnya yang terparkir di halaman kampus dengan ponsel y

  • Pesona Anak Bos   Benang yang Mulai Terurai

    "M-maksudmu apa, Mas?" Suara Widi tertahan di tenggorokan.Kata "sudahi" yang baru saja diucapkan Mas Eza terus bergema di telinganya, terasa begitu dingin dan asing."Aku rasa itu yang terbaik untukmu, Wid. Bu Ella sudah telanjur menaruh kepercayaan besar kepadamu. Jangan sampai hubunganmu dengan Yudo merusak segalanya; kariermu taruhannya," cecar Mas Eza. Tatapannya lurus, sarat kecemasan mendalam.Pandangan Widi langsung mengunci mata Mas Eza, terasa dingin tanpa emosi. "Yang berhak menyudahi hubunganku dengan Yudo hanya aku dan dia, Mas."Mas Eza tertegun. Ia menghela napas berat melihat ketegasan di wajah wanita di hadapannya."Kamu pulang saja sekarang. Hari ini biar aku yang menangani pekerjaanmu. Tenang, Bu Ella tidak akan tahu. Kamu butuh istirahat," sambungnya dengan nada melembut.Tanpa menyahut, Widi menyambar tasnya lalu bangkit. Namun, langkahnya sempat tertahan di ambang pintu saat suara Mas Eza kembali memecah keheningan ruangan."Pikirkan lagi ucapan-ucapanku, Wid. Ak

  • Pesona Anak Bos   Siapa yang Mengintai?

    Suara langkah kaki Mas Eza yang memasuki ruangan seketika memecah keheningan. Langkahnya mendadak terhenti saat tatapannya jatuh pada Widi.Wanita itu berdiri mematung di dekat meja kerja. Tubuhnya bergetar hebat dengan mata berkaca-kaca yang menatap nanar lembaran di tangannya."Wid?" panggil Mas Eza pelan.Widi menoleh cepat. Tatapannya yang biasa lembut kini menghunus tajam, penuh luka dan sikap defensif."Ini dari kamu, kan, Mas?" tuduh Widi dengan suara bergetar menahan tangis.Mas Eza mengernyitkan dahi, lalu melangkah maju. "Apa, Wid? Aku tidak mengerti."Plak!Widi melemparkan tumpukan foto itu ke atas meja kerja Mas Eza. Lembaran cetak tersebut berhamburan, menampilkan potret-potret intim yang seharusnya menjadi rahasia."Aku tidak tahu apa-apa soal ini," sangkal Mas Eza cepat setelah melirik sekilas ke arah meja."Cuma kamu yang tahu hubunganku dengan Yudo, Mas!" Suara Widi meninggi, serak oleh emosi yang membuncah. Air mata akhirnya lolos membasahi pipinya."Kamu, kan, yang

  • Pesona Anak Bos   Lembaran yang Mengintai

    Langkah Widi tertahan tepat di depan meja kerjanya. Pandangannya terpaku pada selembar amplop cokelat tebal yang tergeletak di sana.Jemarinya baru saja hendak menyentuh permukaan kertas yang kasar itu ketika getaran keras dari dalam tas memecah keheningan ruangan.Bzzzt! Bzzzt!Ia segera merogoh tasnya. Layar ponsel yang berkedip menampilkan nama "Bu Ella". Widi menggeser tombol hijau, lalu menempelkan gawai tersebut ke telinganya."Iya, Bu Ella?" ucap Widi, berusaha keras menjaga suaranya tetap tenang."Halo, Non. Kamu sudah di kantor?" Suara Bu Ella terdengar agak cemas."Sudah, Bu.""Saya boleh minta tolong? Kamu ke atas, ya? Tolong bangunkan Yudo. Dari tadi saya telepon tidak juga diangkat, padahal dia ada kelas pagi ini."Widi melirik sekilas ke arah amplop di mejanya. "Oh, iya, baik, Bu. Saya izin ke atas sekarang.""Maaf, ya, Non, merepotkan," ucap Bu Ella sebelum memutus sambungan.Widi menghela napas berat. Ia terpaksa meninggalkan amplop misterius itu, lalu melangkah cepat

  • Pesona Anak Bos   Sebelum Rahasia Terbongkar

    Akhir pekan baru saja berlalu, meninggalkan tumpukan pertanyaan tanpa jawaban dan rasa cemas yang menggelayuti dada Widi bagai kabut tebal.Hubungannya dengan Yudo kini terasa seperti sedang berjalan di atas seutas tali yang rapuh. Widi menarik napas dalam-dalam sebelum mendorong pintu gerbang kantor yang sekaligus menjadi kediaman Bu Ella tersebut.Di dalam ruangan, rutinitas menjadi pelarian terbaiknya. Terdengar bunyi klik dari tombol daya komputer. Jemari Widi mulai menari di atas papan ketik, mencoba menenggelamkan diri dalam barisan angka dan laporan keuangan.Namun, waktu seakan melesat tanpa permisi. Ketika jarum jam merayap mendekati waktu makan siang, kursi di sebelahnya tetap kosong. Mas Eza belum juga kelihatan.Widi memutar kursi kerjanya, menatap punggung Bu Ella yang tegak menghadap layar laptop. "Bu Ella... Mas Eza kok hari ini tidak kelihatan, ya, Bu?" Suara Widi memecah kesunyian, terdengar agak ragu.Bu Ella menjawab tanpa mengalihkan pandangan, jemarinya tetap linc

  • Pesona Anak Bos   Mata di Balik Bayangan

    Suara denting sendok dan garpu yang beradu dengan piring porselen seolah lenyap saat Widi menangkap sepasang siluet yang sangat ia kenal di ambang pintu masuk restoran: Bu Ella dan Pak Yohan.Tanpa berpikir panjang, Widi langsung menyelinap ke bawah meja. Ruang yang sempit dan terbatas itu seketika membuat napasnya terasa sesak. Sambil memeluk lutut, ia menatap sepatu Yudo, berusaha keras meredam detak jantungnya yang kian liar."Kamu kenapa?" Yudo menunduk. Wajahnya menyembul di balik kain taplak meja dengan alis bertaut heran.Widi segera menempelkan telunjuk di bibirnya yang memucat. "Ada Mami dan Papi kamu," bisiknya panik.Yudo tersentak. Ia langsung menegakkan tubuh, menoleh, dan sialnya langsung beradu pandang dengan Bu Ella."Gawat," desis Yudo. Ia terpaksa bangkit dan memasang senyum kaku untuk menyambut kedua orang tuanya. "Mami, Papi? Sedang apa di sini?""Papi mengajak Mami makan malam. Tadinya mau mengajak kamu juga, tetapi teleponmu tidak diangkat," kata Pak Yohan."Kamu

更多章節
探索並免費閱讀 優質小說
GoodNovel APP 免費暢讀海量優秀小說,下載喜歡的書籍,隨時隨地閱讀。
在 APP 免費閱讀書籍
掃碼在 APP 閱讀
DMCA.com Protection Status