Share

Bab 6

Penulis: AliceLin
last update Terakhir Diperbarui: 2025-07-27 11:44:08

“Sherin, hentikan suami gilamu ini!”

Bentakan Penelope menggema di dalam ruangan, menampar ketegangan yang tengah mengudara. Wanita itu berdiri di samping David, menatap tajam ke arah putri tirinya dengan penuh kecaman.

Wajah David sudah sepucat kertas. Peluh membanjiri keningnya. Rahangnya mengatup rapat, menahan nyeri hebat di pergelangan tangannya yang masih dicengkeram kuat oleh Arnold.

Namun, tidak ada setitik pun belas kasihan di wajah Arnold.  Justru ketenangannya terasa semakin mengintimidasi.

"Bisa-bisanya kamu diam saja melihat Papa disakiti seperti ini sama suamimu, Kak!" Paula ikut menyerukan kepeduliannya terhadap sang ayah. 

Akan tetapi, Sherin tahu pasti, setiap kata yang meluncur dari mulut Paula tak lebih dari sandiwara murahan. Jelas hanya ingin memperburuk hubungannya dengan ayahnya.

“Kamu benar-benar keter—!"

Ucapan Paula mendadak terhenti saat tatapan dingin Arnold mengarah padanya. Hanya sekejap, namun cukup membuat nyalinya menciut. Wajahnya memucat, bahunya mengerut, dan ia spontan menunduk, tidak berani menatap pria itu lebih lama.

Sherin menoleh pada Arnold. Saat ini perasaannya masih sangat kacau. Ia tengah berjuang menenangkan diri, meredam ketakutan yang sempat muncul karena sikap Arnold yang sulit ditebak sebelumnya.

“Arnold,” panggil Sherin akhirnya.

Tak peduli seberapa kecewanya ia pada sang ayah, Sherin tidak bisa menutup mata dari penderitaan yang terpampang jelas di wajah pria paruh baya itu. Ia datang bukan untuk membuat keributan—hanya untuk menuntut haknya.

Namun, Arnold tetap bergeming. Sorot matanya tertuju tajam ke arah David yang kini menggertakkan gigi, menahan malu lebih dari rasa sakit.

“Sudah cukup, Sayang,” ucap Sherin pelan sambil menyentuh lengan suaminya yang masih menegang.

Arnold sempat mengerutkan kening, terkejut oleh panggilan mesra yang ditujukan padanya. Namun, tanpa banyak bicara, ia mengendurkan cengkeramannya, lalu menyentakkan tangannya dengan satu gerakan kasar.

David pun terhuyung, hampir terjatuh ke lantai. Mulutnya hendak mengumpat kasar, tetapi tertahan karena Arnold kembali menatap tajam ke arahnya seperti bilah pisau dingin yang siap menggorok lehernya.

“Astaga, pergelangan tanganmu … sampai memar begini!” seru Penelope dramatis saat memeriksa luka di tangan suaminya.

Ia mendelik Arnold dengan tajam seakan meminta pertanggung jawabannya, tetapi pria itu malah membuang pandangan darinya. Rahang Penelope terkatup rapat, menahan amarah yang sudah nyaris meledak karena sikap acuh tak acuh pria itu.

Tatapannya pun beralih pada Sherin. “Lihat apa yang sudah dilakukan suami berandalanmu, Sherin! Bisa-bisanya kamu memilih laki-laki semacam ini! Sungguh memalukan!”

Sherin mendecakkan lidahnya. Belas kasihannya ternyata malah dibalas dengan hinaan.

Begitu juga dengan Paula. Adik tirinya itu turut mencelanya, “Gadis pemberontak dan pria rendahan yang tidak tahu etika … Bukankah mereka sangat serasi, Ma?”

Penelope menyeringai sinis. “Sepertinya kamu benar, Putriku. Dia malah membuang berlian seperti Marco hanya untuk memungut kotoran menjijikkan.”

Tangan Sherin terkepal erat. Darahnya terasa mendidih. Tidak peduli apa pun status dan latar belakang Arnold, pria itu sekarang adalah suaminya. Ia tidak bisa diam saja membiarkan orang-orang menghinanya.

Namun, sebelum ia sempat membalas ucapan mereka, Arnold telah lebih dulu angkat bicara. “Jangan buang waktumu untuk meladeni orang bermulut sampah seperti mereka, Istriku,” ujar pria itu.

Satu alis Sherin terangkat saat mendengar panggilan sayang dari pria itu. Arnold tidak terlihat gugup sedikit pun. Ia tidak menyangka pria itu benar-benar mendalami perannya.

'Dia ternyata sangat berbakat,' puji Sherin di dalam hati, merasa sangat puas.

Sementara itu, kata-kata  Arnold telah membuat wajah Penelope dan Paula memerah karena murka. Namun, kilatan dingin berbahaya yang terpancar dari sorot mata Arnold membuat semua makian yang menggantung di ujung lidah mereka pun tertelan kembali.

Bahkan Paula sampai bersembunyi di balik tubuh ibunya, khawatir menjadi sasaran kekerasan pria itu.

“Aku rasa kamu benar. Kalau begitu, ayo kita pergi, Sayang,” ucap Sherin seraya mengamit lengan Arnold, mengajaknya pergi dari tempat itu.

Akan tetapi, baru saja mereka hendak berbalik badan, David berseru dengan penuh amarah, “Kamu mau ke mana? Kita belum selesai bicara, Sherin!”

Sherin menghela napas kasar. Ia menoleh dengan malas. “Apa lagi yang mau dibicarakan, Pa? Aku rasa semua sudah jelas. Aku tidak akan pernah meminta maaf dan menikah dengan Marco. Karena aku …."

Sherin menoleh ke arah Arnold dan tersenyum lembut. "Karena aku sudah memilikinya," sambungnya seraya menggelayut lengan suaminya itu dengan manja, sengaja mengaduk emosi ayahnya.  

Keheningan menggantung selama beberapa saat di dalam ruangan tersebut. David melirik Arnold dengan tajam sebelum akhirnya pandangannya beralih kembali pada putri sulungnya. “Baiklah. Kalau memang itu keputusanmu, Sherin. Tapi, kamu hanya memiliki waktu enam bulan," tukasnya.

Kening Sherin mengernyit. Sebelum ia sempat berkata-kata, David melanjutkan, “Kamu tidak lupa kan kalau ibumu juga memberi syarat tambahan di dalam surat wasiatnya?”

Sherin terdiam. Tentu saja ia tidak melupakan hal tersebut.

Bukan hanya sekadar mendaftar pernikahan saja yang diinginkan ibunya, tetapi Sherin dituntut untuk mempertahankan pernikahannya dan mengembangkan Clover dalam waktu enam bulan. Apabila ia gagal, seluruh warisan galeri itu akan disumbangkan ke yayasan sosial yang telah ditentukan oleh mendiang ibunya.

Sherin tahu jelas jika sang ayah telah melakukan antisipasi. Sebulan lalu David telah mengambil alih yayasan sosial yang dimaksud dan itu berarti ayahnya yang akan menguasai galeri tersebut jika ia gagal memenuhi syarat itu.

“Tenang saja,” ucap Sherin dengan santai. “Aku pasti akan membuat nama Clover terkenal hingga ke seluruh negeri hingga tidak ada siapa pun memiliki kesempatan untuk menjatuhkannya.”

Sikap pantang menyerah putri sulungnya itu membuat David mengertakkan giginya. Dengan wajah penuh amarah, ia berkata, “Karena kamu memilih menikah dengan pria rendahan ini, mulai detik ini, kamu bukan putriku lagi!"

Untuk beberapa detik, dunia di sekeliling Sherin terasa membisu. Sebelumnya ia sudah menduga ayahnya akan mengambil tindakan keras atas keputusannya tersebut. Namun, ia tidak pernah menyangka pria paruh baya itu akan memutuskan hubungan darah di antara mereka.

"Apa pun yang kamu lakukan di luar sana nanti … tidak ada hubungan lagi dengan keluarga Scarlet!” tegas David lebih lanjut.

Tidak ada bantahan. Tidak ada permohonan ampun. Hanya senyum getir yang muncul di sudut bibir Sherin. Tanpa berkata apa pun, gadis itu pun berbalik pergi bersama Arnold.

Dari sudut matanya ia menangkap senyuman penuh kemenangan dari wajah Penelope dan Paula. Kepergiannya adalah harapan mereka sejak lama. Namun, Sherin menyadari bahwa saat ini dirinya belum memiliki kemampuan untuk melawan mereka.

Di saat dirinya tengah berjuang untuk menyembunyikan rasa perih yang menggerogoti hatinya, samar-samar Sherin merasakan genggaman jari-jari Arnold sedikit menekan tangannya, seperti isyarat diam yang terasa lebih menenangkan daripada seribu kata. Namun, pria itu tidak menunjukkan ekspresi apa pun saat Sherin menoleh padanya.

‘Mungkin hanya perasaanku saja,’ batin Sherin seraya menghela napas pelan.

Detik berikutnya, gadis itu mengingatkan dirinya sendiri bahwa babak baru hidupnya baru saja dimulai. Sesulit apa pun jalannya, ia tidak akan mundur. Sherin akan membuktikan kepada ayahnya bahwa ia tetap dapat hidup dan bernilai meskipun tidak menyandang nama besar Scalet!

AliceLin

Halo, Kakak. Maaf lama update karena masih ada beberapa revisi di bab sebelumnya dan tetap sabar menanti kelanjutannya ya, Kak ^^ Jangan lupa berikan dukungan dengan komentar ataupun gems dan gift jika berkenan. Terima kasih ^^

| 44
Lanjutkan membaca buku ini secara gratis
Pindai kode untuk mengunduh Aplikasi
Komen (12)
goodnovel comment avatar
Ida Rubaedah
aku sangat suka,lanjuuut
goodnovel comment avatar
Nia Yusniah
seru,nyesal kau david buang anakmu,semangat sherin
goodnovel comment avatar
LuckyStar
bapak gil4 silau akan harta dia memutus hubungan d4rah
LIHAT SEMUA KOMENTAR

Bab terbaru

  • Pesona Berbahaya Suami Dadakanku   Bab 349

    “Arnold, kenapa diam? Apa dia ….”Sherin menggigit bibirnya dengan erat. Dalam benaknya muncul satu kemungkinan terburuk, yakni nyawa Leon tidak berhasil terselamatkan. Buliran bening kembali berjatuhan dari sepasang netra zamrud gadis itu.Melihat sang istri yang menangisi rivalnya, hati Arnold pun bergolak dipenuhi rasa cemburu yang menyesakkan. Ia memalingkan wajahnya dengan jengah sembari menghela napas panjang, mencoba meredam amarah yang nyaris meledak.“Jangan sia-siakan air matamu untuk bajingan sialan itu, Istriku. Dia tidak pantas mendapatkannya,” desis Arnold dengan suara yang diselimuti kekesalan.Sherin mengerutkan keningnya, menatap suaminya dengan penuh tanya. “Apa dia juga ... selamat?” selidiknya dengan secercah harapan yang terdengar jelas dalam suaranya. Tangannya meremas lengan kokoh Arnold, membuat pria itu kembali mengalihkan pandangan ke arahnya.Arnold mendengus. “Apa bajingan itu sangat berharga bagimu?"Sherin tersenyum kikuk. Ia tahu suaminya itu sedang terba

  • Pesona Berbahaya Suami Dadakanku   Bab 348

    “Benarkah? Baguslah kalau begitu. Pastikan dia mendapatkan semua fasilitas yang terbaik. Masalah biaya, saya yang akan menanggung semuanya,” ucap Arnold sebelum mengakhiri sambungan teleponnya.Wajah Arnold terlihat dipenuhi kelegaan. Oliver baru saja memberikan kabar terbaru mengenai kondisi Sophia Nolan.Operasi wanita paruh baya sudah selesai dan dinyatakan berhasil. Atas perintah Arnold, Oliver langsung menghubungi Alvin dan memberitahu pemuda itu untuk segera mendonorkan darahnya untuk Sophia Nolan.Oliver mengatakan bahwa ia sudah memberitahu Alvin mengenai identitas Sophia. Meskipun awalnya Alvin merasa sangat terpukul dan terguncang, tetapi pada akhirnya pemuda itu langsung memberikan darahnya tanpa keraguan, demi wanita yang ternyata selama ini selalu menjaganya dalam diam.Kini, Alvin sedang menunggui sang ibu di ruang rawatnya. Mendengar penerimaan pemuda itu, Arnold turut merasa bahagia. Ia sempat khawatir adik angkatnya itu akan menolak atau bahkan membenci Sophia karena

  • Pesona Berbahaya Suami Dadakanku   Bab 347

    “N-Nyonya Callen … maafkan saya,” gumam Oliver sambil mengatur napasnya. Ia mengangguk sopan sebelum buru-buru melewati Natalie dan masuk ke dalam ruang rawat tersebut.Natalie hanya bisa menggelengkan kepalanya, lalu kembali meneruskan langkahnya, meninggalkan rumah sakit.Di dalam ruangan, Oliver bergegas menghadap Arnold. “Tuan Muda,” sapanya dengan suara berbisik pelan, khawatir suaranya akan membangunkan istri tuan mudanya.Arnold mendongak. Sorot matanya yang tadi melembut saat menatap Sherin seketika berubah menjadi tajam dan dingin.Melihat raut wajah pucat dan kegelisahan yang terpancar di wajah asistennya, firasat buruk langsung merayapi benak Arnold.“Bagaimana keadaan Madam Nolan? Apa operasinya sudah selesai?” selidiknya saat teringat bahwa Oliver yang mengurus proses evakuasi Sophia Nolan.Oliver menelan salivanya dengan bersusah payah sebelum akhirnya menggeleng. “Beliau kehilangan banyak darah, Tuan Muda,” lapornya dengan suara berat. “Sekarang … kondisi Madam Nolan kri

  • Pesona Berbahaya Suami Dadakanku   Bab 346

    “A-anda bilang apa, Dok?" gumam Arnold terbata.Ia menatap dokter paruh baya itu dengan sorot mata tak percaya. "I-istri saya … hamil?”Natalie ikut tertegun. Ia menutup mulutnya dengan kedua tangan. Air mata bahagia seketika menyeruak di pelupuk matanya. "Hamil? Sherin ... putriku hamil? Aku … aku akan jadi nenek?"“Terima kasih, Tuhan... terima kasih,” bisik Natalie dengan penuh haru di sela isak tangisnya. Ia segera menoleh ke arah Arnold yang masih mematung tanpa kata. “Arnold, kamu dengar itu? Sherin ... dia sedang mengandung anakmu. Kamu akan menjadi ayah!” serunya.“A-ayah?”Bisikan Arnold terdengar bergetar. Kata itu menggema di kepalanya seperti lonceng yang berdentang, menandai awal kehidupan baru yang sama sekali tidak pernah ia bayangkan sebelumnya.Mulut Arnold masih menganga syok. Ia masih tidak dapat mempercayai kabar bahagia yang baru diterimanya ini. Padahal beberapa saat lalu ia masih merasa cemas dan bersalah karena gagal melindungi Sherin dalam rencana berbahayanya

  • Pesona Berbahaya Suami Dadakanku   Bab 345

    Aroma antiseptik yang tajam menyambut Arnold begitu ia menerobos masuk ke lobi Unit Gawat Darurat. Derap langkahnya yang tergesa menciptakan ketegangan yang terasa mencekam. Di depan ruang UGD, Hans Russel sudah bersiaga bersama beberapa perawat. Dalam perjalanan tadi, Oliver telah lebih dulu menghubungi dokter pribadi keluarga Windsor itu, memastikan semuanya siap sebelum mereka tiba. “Cepat,” perintah Hans tegas. Para perawat segera memindahkan Sherin dari dekapan Arnold ke atas brankar. Tubuh wanita itu tampak begitu rapuh. Tanpa membuang waktu, mereka langsung mendorongnya masuk ke ruang observasi. Arnold hendak ikut melangkah masuk, tetapi dokter paruh baya itu menahan lengannya. “Maaf. Sebaiknya Anda menunggu di luar, Tuan Muda,” ujarnya. Dengan kondisi Arnold yang kalut saat ini, Hans khawatir pria itu hanya akan mengganggu konsentrasi kerja tim medisnya. Masih dengan raut wajah kacau dan deru napas yang tidak teratur, Arnold mencoba membantah, “Tapi─” “Saya akan melakuk

  • Pesona Berbahaya Suami Dadakanku   Bab 344

    “L-Leon, kamu ….”Bibir Evander bergetar pelan saat melihat putra kandungnya sendiri berdiri di hadapannya, menghadang peluru panas yang seharusnya merenggut nyawa Sherin. Tangan Evander yang masih menggenggam pistol gemetar hebat hingga senjata itu terlepas dari jemarinya dan jatuh ke tanah.Melihat kekagetan dan kekhawatiran yang terpahat di wajah sang ayah, Leon justru tersenyum getir. Ia memegang dadanya yang terasa terbakar hebat, membuat tarikan napasnya kian berat dan terputus-putus.“Uhuk—!”Batuk keras mengguncang tubuhnya. Darah segar muncrat dari bibir Leon. Tubuhnya limbung, lalu ambruk menghantam tanah.“LEON!”Evander berniat mendekati putranya. Akan tetapi, langkahnya terhenti saat merasakan sesuatu yang dingin menempel di tengkuknya.“Maaf aku terlambat bergabung,” ujar Ryan dengan nada santai. Moncong pistol di tangannya menekan tengkuk Evander, membuat pria paruh baya itu tidak berani bergerak seinchi pun.“Bisa-bisanya kalian bermain tanpa mengajakku. Padahal dari t

Bab Lainnya
Jelajahi dan baca novel bagus secara gratis
Akses gratis ke berbagai novel bagus di aplikasi GoodNovel. Unduh buku yang kamu suka dan baca di mana saja & kapan saja.
Baca buku gratis di Aplikasi
Pindai kode untuk membaca di Aplikasi
DMCA.com Protection Status