Masuk
"Berhenti menatap saya seolah saya ini adalah hantu. Tenang saja, saya tidak akan menyentuh kamu."
Kalimat itu terdengar datar, tapi cukup membuat bahu Arumi menegang. Suara berat itu mengisi kamar yang terlalu sunyi. Ia refleks menunduk, menghindari tatapan pria yang kini resmi menjadi suaminya. Angkasa Langit Cakrawiguna, laki-laki dewasa yang seharusnya menikahi ibunya, bukan dirinya. Arumi masih belum sepenuhnya percaya pernikahan itu benar-benar terjadi. Ia hanya menjalani apa yang diperintahkan, tanpa sempat bertanya kenapa hidupnya bisa berbelok sejauh ini. Langit berdiri di depan meja rias, terus mengancing kemejanya hingga selesai. Gerakannya tenang, tapi cukup dingin. Arumi duduk di tepi ranjang, diam dengan kepala menunduk, memainkan ujung piyama satinnya hanya untuk menutupi gugup yang semakin menjadi. Bukan karena Arumi menyimpan rasa pada pria itu. Bukan juga karena malu. Ia hanya … takut. Takut salah bicara, takut salah bersikap, takut membuat keadaan yang sudah rumit ini semakin terasa aneh. "Maksud Om Langit, apa?" suaranya keluar ragu, hampir bergetar. Langit menoleh sebentar, lalu menjawab tanpa basa-basi. “Status kita hanya sebatas hitam di atas putih. Setelah Mama kamu kembali, kita akan segera bercerai.” Arumi diam. Ucapan pria itu tidak mengejutkan, tapi tetap membuat dadanya terasa sesak. Ia mengangguk kecil, mencoba menelan keadaan yang bahkan belum sempat ia pahami. "Arumi tahu, kok, Om. Arumi juga nggak akan nuntut apa-apa. Sejak awal kan pernikahan ini cuma buat nutupin aib keluarga masing-masing, jadi Om Langit tenang aja," katanya pelan. Arumi berusaha menjaga suaranya tetap datar, meski hatinya campur aduk antara takut dan bingung. Baginya, ini semua hanya peran yang harus dijalani sampai ibunya kembali. Langit memicingkan mata sebentar, seolah menimbang sesuatu, tapi akhirnya hanya berbalik membelakangi gadis itu lagi. Keheningan kembali menyelimuti kamar. Arumi menatap punggung pria itu tanpa ekspresi. Ia tidak tahu harus apa. Tidak tahu juga harus bersikap bagaimana. Yang ia tahu, malam ini, ia resmi menjadi istri dari laki-laki yang bahkan tidak pernah ia bayangkan duduk bersanding dengannya dan mungkin sebentar lagi juga akan menjadi mantan suaminya. “Terus, kenapa juga wajahmu terlihat tegang saat melihat saya? Kamu takut saya tergoda?” tanya Langit tiba-tiba. Tersentak mendengar penuturan Langit, Arumi pun mengangkat kepala cepat dan segera menggeleng. "Nggak kok, Om. Nggak sama sekali," bantahnya. "Terus ...?" Tatapan Langit kembali mengintimidasi. "A—Arum ... Arum cuma gugup aja, Om. Soalnya ... soalnya Arum nggak pernah sekamar sama cowok." Suaranya kecil, nyaris seperti bisikan yang tenggelam di antara dengung pendingin ruangan. Ujung jarinya saling mencubit, mencoba menyalurkan gugup yang tak bisa diucapkan. "Oh ya?" Langit menyunggingkan senyum miring, lalu melipat lengan kemejanya sampai sepertiga panjang tangan. Gerakannya sederhana, tapi entah kenapa, mata Arumi seperti otomatis mengikuti tiap detailnya, urat halus di lengannya, garis otot yang samar, sampai jam tangan hitam yang kontras di kulitnya. Arumi buru-buru mengalihkan pandang. Lebih aman menatap lantai marmer, daripada terus melihat punggung pria itu. Hatinya berdebar tak karuan. Dada terasa sesak seolah ruang di kamar itu menyusut perlahan. "Jadi kamu tidak pernah pacaran?" tanya Langit tiba-tiba. "Nggak pernah, Om." "Masa sih?" Lagi-lagi Arumi hanya diam. Ia menggigit bibir bawahnya, tidak tahu harus menjawab apa. Di kepalanya, pertanyaan itu terasa seperti ujian yang jawabannya pasti salah apa pun yang ia katakan. “Berarti kamu tidak pernah berciuman?” Pertanyaan itu membuat Arumi spontan menegakkan kepala. Jantungnya berdenyut keras, lebih karena terkejut daripada marah. Untuk apa bertanya seperti itu? Bukannya tadi bilang tidak akan menyentuhnya? "Apa itu penting untuk Arum jawab, Om?" suaranya keluar pelan, tapi tegas. Ada sedikit getar di sana, tapi juga keberanian yang tak ia sadari sebelumnya. Langit terdiam. Mungkin tidak menyangka gadis itu bisa membalas. Pandangan matanya berubah dari menggoda, jadi seperti sedang menilai sesuatu yang baru. Arumi kembali menunduk, mencoba menyembunyikan wajahnya yang memanas. Ia bisa mendengar detak jantungnya sendiri, bisa merasakan setiap detik keheningan yang lewat seperti gema. “Bersiaplah, kita harus makan malam bersama Ayah dan Bunda," kata Langit akhirnya. Suaranya terdengar datar, tapi ada sesuatu yang tertahan di ujung nada itu. Arumi menelan ludah. Ia akhirnya berani mengangkat kepala, menatap pria itu sejenak sebelum berdiri. Langit sudah lebih dulu berbalik, tapi entah kenapa, punggungnya terasa lebih lebar dari sebelumnya dan udara di ruangan itu masih saja membawa sisa aroma tubuhnya yang membuat Arumi sulit bernapas. Langit sudah melangkah ke arah pintu dan Arumi bersiap untuk bangkit dari duduknya. Namun, belum sempat tangannya menyentuh handle, ia pun kembali berbalik dan berkata, "Oh, ya ... ada satu lagi." Arumi berbalik dan melihat ke arahnya. Untuk beberapa saat pandang mereka bertemu dalam posisi yang sama-sama berdiri. "Apa, Om?" tanya Arumi. Langit maju mendekat. Bahkan sangat-sangat dekat hingga wajah keduanya nyaris bertabrakan. Arumi menelan ludah berat. Ia bahkan sampai menutupkan mata saking gugupnya. Ia pikir, apa ini alasan kenapa Langit bertanya soal ciuman pertamanya. “Katanya tadi nggak akan nyentuh, Om?!” seru Arumi tiba-tiba, dengan rasa panik dan matanya terpejam.Arumi tertegun di kursi taman kampus sembari melihat ke arah kerumunan mahasiswa yang lalu lalang dengan kesibukan masing-masing. Ia baru saja bertemu dengan Pak Dewa, dosen pembimbing skripsinya dan sudah memulai penyusunan bab dua dan tiga. Sejauh ini, Pak Dewa tampak normal—tak melakukan sesuatu yang tak senonoh kepada Arumi. Itu maknanya, ucapan pria dewasa itu beberapa waktu yang lalu, bisa dibilang hanya lelucon semata.“Hei, melamun aja.” Eva datang dan langsung menepuk pundak Arumi.“Eh, kaget gue. Udah selesai bimbingannya?” tanya Arumi.“Udah.”“Banyak revisi nggak?” “Enggak. Cuma beberapa baris aja.”“Syukur deh. Ya udah, balik yuk?” Ajak Arumi. Dia sudah bangkit dan memakai kembali tas selempangnya. Bersiap untuk pulang karena hari juga sudah mulai sore.Eva mengangguk setuju. Mereka segera melangkah menuju ke gerbang kampus. Dari jauh, tampak mobil hitam mengkilap jenis crossover sudah terparkir tak jauh dari pintu masuk gedung.“Suami Lo udah nyampek tuh,” tunjuk Eva k
Dua bola mata Arumi terus menatap Langit tanpa berkedip. Seolah ia tengah mentransfer ketakutan dirinya setelah bertemu Andini tadi. “Om … peluk,” pinta Arumi manja.“Peluk?” tanya Langit dengan raut wajah yang tak lagi setegang tadi.“Eum,” angguk Arumi.Dengan segera Langit pun memeluk tubuh mungil itu hingga tenggelam di dalam dekapannya. “Kenapa tiba-tiba minta peluk?” tanya Langit.“Nggak tau, Om. Tiba-tiba kepingin aja.”Langit tersenyum tipis. “Yang berangkat Ayah dan Bunda, Arumi. Bukannya saya. Kamu gini kayak kita mau pisah saja.” “Ya … mau gimana. Kan kepinginnya tiba-tiba.”“Ngidam?” tebak Langit.“Hah? Ngidam?” tanya Arumi balik, nada bicaranya sedikit naik. Dengan perlahan ia pun melepaskan pelukannya dari Langit. “Kok ngidam, sih Om?” Langit terkekeh melihat reaksi kaget Arumi. Ia mencubit pelan hidung istrinya yang memerah, mencoba mencairkan suasana yang sejak tadi terasa aneh baginya. Sebagai seorang pria yang sudah lama mengenal Arumi, ia pasti tahu gestur tubuh
“Arumi, ada apa? Kamu kenapa? Kenapa suaramu seperti berat?” tanya Langit dengan suara yang mendadak berubah tajam. “Kamu menangis, Arumi? Apa ada orang yang ganggu kamu?” Rentetan pertanyaan terus Langit layangan. Ia benar-benar khawatir dengan keadaan istrinya.Arumi memejamkan mata rapat-rapat, mencoba menelan gumpalan sesak di tenggorokannya. Ia melirik Andini yang kini justru melipat tangan di dada, menonton drama itu dengan senyum miring yang seolah-olah tengah berkata kepadanya, ‘ayo, berbohonglah lebih hebat lagi.’“Nggak, Om. Arum … nggak nangis kok. Beneran,” dusta Arumi, suaranya bergetar meski ia sudah berusaha sekuat tenaga untuk menutupinya.“Yakin?” tanya Langit.“Ya, Om. Tadi ... tadi kaki Arum sempat kesandung, jadi sakit dikit. Makanya suara Arum agak aneh. Ini Arum lagi jalan ke tempat tadi. Om tunggu di sana ya? Jangan ke mana-man,” pinta perempuan berambut panjang tersebut.Tanpa menunggu jawaban Langit, Arumi pun segera memutus panggilan sepihak. Ia takut, jika
Sosok itu berbalik perlahan. Ia menurunkan kacamata hitamnya sedikit, menampakkan mata yang persis seperti milik Arumi—mata yang menyimpan sejuta rahasia dan luka. Ya, itu benar-benar Andini.“Mama?” ulang Arumi. Kakinya mulai melangkah mendekati perempuan itu dan berhenti tepat di depannya. “Iya, beneran Mama,” seru Arumi bahagia. Matanya mulai berkaca-kaca dan hampir menangis.Ya, perempuan itu adalah Andini, ibunya Arumi.Arumi lalu kembali ingin maju dan memeluk Andini. Namun sayangnya, dengan gerakan spontanitas, Andini justru menjadikan telapak tangannya sebagai benteng penghalang bagi keinginan Arumi.“Mama …,” ucap Arumi sedih campur kecewa. Harapan untuk mendapatkan pelukan hangat atau setidaknya tatapan rindu dari seorang ibu yang sudah lama tak ia jumpai, seketika sirna.Andini menatap Arumi dari balik kacamata hitam yang ia turunkan sedikit hingga ke ujung hidungnya. Alih-alih memberikan putrinya senyum manis, bibirnya justru membentuk garis lurus yang dingin dan bahkan ce
Arumi menelan ludah dengan susah payah. Berusaha untuk menutupi gugup yang kian merajalela di dalam diri. Jari-jari tangannya terus saling tarik di atas pangkuannya. Seolah sedang berpikir, jawaban apa yang bisa dijadikan sebagai pelarian. “E … itu, Bun. Maksud Arumi, keluar-masuk ke dalam kamar. Kan … suara pintu berisik, Bunda. Jadinya Arum nggak bisa dengan nyaman. Gitu ….” Suara Arumi terdengar lirih, bahkan sangat-sangat lirih. “Oh, Bunda pikir apa yang keluar-masuk.” Viola tertawa kecil. Dari raut wajahnya, sepertinya perempuan paruh baya itu tahu, apa yang sebenarnya sedang Arumi bicarakan. Hanya saja, ia berpura-pura bodoh. Tidak ingin membuat sang menantu merasa tak nyaman lagi seperti semalam. “Nanti kalau Langit ada cuti, kalian ke Belanda ya? Arumi pasti belum pernah ke sana kan?” tanya Erlangga. “Heuh? Oh, belum, Ayah,” sahut Arumi dari jok belakang. Ia sedikit terperanjat, sebab pikirannya masih melalang buana entah kemana. “Saran yang bagus itu, Yah. Sekalian
Tanpa sepatah katapun lagi, Arumi segera mengalungkan kedua tangannya di leher Langit dan langsung mengecup sekali bibir pria itu. Sentakan keberaniannya yang mendadak itu seolah menghentikan waktu di dalam kamar mereka. Langit sempat tertegun selama satu detik—tidak menyangka istri kecilnya yang tadi sempat menangis pilu akan mengambil inisiatif secepat itu. Namun, keterkejutan itu segera berganti dengan respons yang jauh lebih intens. “Kamu mau coba goda saya?” tanya Langit dengan senyum khasnya. “Nggak kok, Om. Arum mana pintar menggoda,” ucap Arumi. “Kamu memang tidak pintar menggoda, tapi kamu cukup pintar membuat saya tergoda.” Langit segera merapatkan pelukannya pada pinggang Arumi. Menarik tubuh mungil itu hingga benar-benar menempel pada tubuhnya. Ciuman Arumi yang awalnya terasa ragu dan polos, kini disambut oleh Langit dengan lumatan yang dalam dan penuh otoritas. Seolah ia akan menelan tubuh kecil itu hidup-hidup. “Hhmmpp—” Desahan keduanya mulai terdengar.







