Share

Sandiwara Di Depan Keluarga

Author: LV Edelweiss
last update Last Updated: 2025-10-15 17:57:55

Namun, setelah lama Arumi mematung, tidak ada yang terjadi dengan dirinya sama sekali. Bahkan hembusan napas hangat itu pun sudah tidak terasa di wajahnya lagi.

“Buka mata. Saya cuma mau ngasih tahu kamu, untuk bersikap biasa saja selama nanti di meja makan. Jangan sampai keluarga saya curiga soal pernikahan kita," tutur Langit dengan penekanan intonasi.

Ia lalu menjarak. Melihat Arumi dengan ujung ekor matanya. Sejenak hanya ada keheningan di antara mereka. Serta detak jantung Arumi yang sudah sedikit lebih stabil.

Perlahan dua netra indah itu pun terbuka. Ia lihat Langit sudah dalam posisi duduk di tepi ranjang. Fokus pria dewasa itu sudah beralih kepada benda pipih yang ada di tangannya.

‘Nggak jadi keluar kamar apa?’ batin Arumi.

"Lekas ganti pakaianmu, semua orang sudah menunggu kita," titah Langit lagi tanpa melihat sedikitpun kepada Arumi.

"I—iya, Om ...." Arumi lekas berlalu ke arah kopernya. Koper yang seharusnya tidak pernah ada di kamar itu. Dan menjadi saksi bisu betapa menyedihkannya hidupnya saat ini.

Sebab jika dikaji dari segi manapun, yang menjadi korban di sini tidak hanya Langit, tapi juga Arumi. Ia yang seharusnya masih memiliki masa depan yang panjang, menghabiskan masa muda dengan happy-happy bersama teman-teman, justru sudah harus menjadi seorang istri.

Parahnya lagi, laki-laki itu tidak pernah mencintainya. Sebab Arumi bukanlah sang ibu yang cantik, dewasa dan sangat sempurna di mata seorang Langit. Mau menandingi ibunya sendiri, rasanya Arumi hanya akan mencari jarum di dalam tumpukan jerami.

Arumi mengeluarkan sebuah dress panjang dengan warna kalem dan desain yang sopan. Ia langsung membawanya ke kamar mandi karena akan memakainya di sana. Tidak mungkin juga ia mengganti pakaian di depan Langit.

Walau pria itu sudah berstatus sebagai suami yang sah baginya. Tetap saja, mereka tidak saling menginginkan pernikahan ini. Dan pada akhirnya, mereka akan bercerai juga, kan?

Setidaknya, kalau pun nanti ia menjadi jandanya seorang Langit, dirinya tidak sampai harus rugi secara fisik.

Langit sempat melempar pandang ke arah Arumi, tapi kemudian kembali melihat kepada ponselnya.

***

"Kapan kamu mulai masuk kuliah lagi?" Viola-Bunda Langit, bertanya kepada Arumi di sela-sela makan malam mereka.

"Senin depan Arum udah mulai masuk kuliah lagi, Bu," jawab Arumi dengan sopan.

"Panggil Bunda saja. Kamu sekarang sudah menjadi istrinya Langit." Viola tersenyum ramah.

Arumi mengangguk patuh. Kemudian kembali menyendokkan nasi ke dalam mulut. Meski rasanya seperti menelan duri, tapi jujur saja, dikelilingi oleh banyak orang seperti ini membuat dirinya sedikit bahagia.

Wajar saja, sebab selama ini ia hanya hidup berdua bersama Andini. Wanita yang merupakan seorang single parent.

Sejak sang ayah meninggal, ibunya memang tidak menikah lagi. Hingga kemudian perempuan paruh baya itu bertemu dengan Langit. Pria dewasa yang lima tahun lebih muda darinya.

"Lusa kami sudah harus balik ke Belanda. Ayah tidak bisa meninggalkan pekerjaannya lama-lama. Nanti kabari Bunda ya Langit, kalau Arumi sudah hamil."

"Uhuk-uhuk-uhuk ...." Langit terbatuk mendengar kalimat spontanitas Bundanya. Dengan cepat, ia pun mengambil air putih dan menenggaknya hingga tandas.

Di sampingnya, Arumi juga tidak kalah terkejutnya. Perempuan itu bahkan sampai mematung beberapa saat dengan mulut yang ternganga. Tersadar tatkala Mutiara-adik Langit yang paling bungsu, menyenggol lengannya pelan.

"Kak ...."

"Heuh?" sahut Arumi seadanya.

"Kok kalian kaget gitu sih? Yang mama bilang kan hal yang wajar dari sebuah pernikahan. Masa sudah menikah, nggak mau punya anak?" jelas Viola lagi.

Arumi mengulas senyum canggung. Dalam hati hanya bisa berkata, bagaimana mau hamil dan punya anak, Langit saja sudah bilang tidak akan pernah mau menyentuhnya. Bibit dari mana coba?

"Kecepatan membahas itu, Bun." Langit buka suara.

Jelas, mana mungkin dia setuju. Dia bahkan tidak menganggap Arumi sebagai istri sungguhan. Hanya tebusan atas kesalahan yang telah Andini lakukan.

Lagi pula, selama ini ia hanya menaruh hati kepada Andini, bukan Arumi. Bagaimana mungkin ia bisa tidur dengan wanita yang tidak pernah ia cintai.

"Nggak ada yang kecepatan, Lang. Kami ini sudah tua dan sudah kepingin sekali menimang cucu." Erlangga, Ayah Langit ikut nimbrung di sela-sela percakapan ibu dan anak itu.

"Arumi masih kuliah, Yah. Biar dia selesaikan dulu kuliahnya." Langit jelas membuat alibi.

Arumi hanya terdiam dan terus memainkan sendoknya. Membolak-balik nasi tanpa berniat memasukkannya lagi ke dalam mulutnya. Seketika terlintas kembali bagaimana awal mula kesalahan ini terjadi.

Semua berawal dari Andini yang mendadak menghilang tanpa jejak. Padahal, Langit sudah memberitahu keluarganya yang saat itu sudah menetap di Belanda, jika ia akan menikah sebentar lagi.

Tak ingin keluarganya kecewa, ia pun mendatangi Arumi. Menuntut gadis tak berdosa itu untuk bertanggung jawab atas kesalahan yang sudah ibunya lakukan.

"Kamu tahu, siapa yang sudah membayar kuliah kamu selama ini? Itu saya. Saya yang sudah menanggung semua kebutuhan kamu dan Mama kamu. Sekarang, anggap saja kamu sedang membalas kebaikan saya. Bisa kan?" ucap Langit sore itu di depan kampus Arumi.

"Tapi Arum bukan Mama, Om," ucap gadis polos itu.

"Kamu tidak perlu khawatir. Keluarga saya tidak pernah melihat Andini. Mereka hanya tahu kalau saya akan menikah. Besok mereka akan tiba di Indonesia. Saya tidak mungkin mengecewakan mereka. Lagi pula, ini semua karena ulah Mama kamu, kan?"

Triiinggg!

Suara sendok Arumi yang mental dari ayam goreng, seketika menyadarkannya dari lamunnya. Sekilas ia sapu pandang ke arah semua orang. "Ma—maaf," ucapnya lirih.

"Tidak apa-apa, sayang." Viola mengelus lembut punggung tangan Arumi.

Dan setelah makan malam, Arumi pun membantu Mbok Jum untuk membersihkan piring-piring kotor. Awalnya perempuan itu melarangnya, tapi Arumi tetap mau membantu. Lagi pula, selama ini ia sudah terbiasa dalam melakukan pekerjaan rumah, di saat Andini pergi bekerja.

"Sedang apa kamu?" tiba-tiba saja suara Langit mengejutkan Arumi. Ia lekas berbalik dan melihat kepada laki-laki itu.

"Eh, Om. Arum lagi bantu Mbok Jum cuci piring," jawab Arumi polos.

"Tidak perlu. Langsung masuk kamar," perintah yang punya kuasa.

"Tap—"

"Kamu tidak dengar saya?" tanya Langit dengan intonasi yang lebih tegas.

"Sudah, Non, biar si Mbok aja yang lanjutkan." Mbok Jum mengelus pelan lengan Arumi. Satu-satunya orang yang tahu dengan apa yang tersembunyi dibalik pernikahan Arumi dan Langit.

Arumi mengangguk patuh. Ia lalu membersihkan tangannya dan segera mengikuti Langit kembali ke kamar.

Padahal sesuai perjanjian di awal, mereka akan tidur secara terpisah, tapi karena keluarga Langit masih ada di rumah itu, malam ini, mau tidak mau, suka tidak suka, Langit tetap harus sekamar dengan Arumi.

“Malam ini, jangan ada yang ganggu pengantin baru, biarkan mereka membuat keturunan untuk keluarga kita,” ucap Viola sambil tertawa ringan.

Continue to read this book for free
Scan code to download App

Latest chapter

  • Pesona Calon Ayah Tiriku Yang Penuh Kuasa    Pulang Ke Rumah Arumi

    Arumi tertegun di kursi taman kampus sembari melihat ke arah kerumunan mahasiswa yang lalu lalang dengan kesibukan masing-masing. Ia baru saja bertemu dengan Pak Dewa, dosen pembimbing skripsinya dan sudah memulai penyusunan bab dua dan tiga. Sejauh ini, Pak Dewa tampak normal—tak melakukan sesuatu yang tak senonoh kepada Arumi. Itu maknanya, ucapan pria dewasa itu beberapa waktu yang lalu, bisa dibilang hanya lelucon semata.“Hei, melamun aja.” Eva datang dan langsung menepuk pundak Arumi.“Eh, kaget gue. Udah selesai bimbingannya?” tanya Arumi.“Udah.”“Banyak revisi nggak?” “Enggak. Cuma beberapa baris aja.”“Syukur deh. Ya udah, balik yuk?” Ajak Arumi. Dia sudah bangkit dan memakai kembali tas selempangnya. Bersiap untuk pulang karena hari juga sudah mulai sore.Eva mengangguk setuju. Mereka segera melangkah menuju ke gerbang kampus. Dari jauh, tampak mobil hitam mengkilap jenis crossover sudah terparkir tak jauh dari pintu masuk gedung.“Suami Lo udah nyampek tuh,” tunjuk Eva k

  • Pesona Calon Ayah Tiriku Yang Penuh Kuasa    Benarkah?

    Dua bola mata Arumi terus menatap Langit tanpa berkedip. Seolah ia tengah mentransfer ketakutan dirinya setelah bertemu Andini tadi. “Om … peluk,” pinta Arumi manja.“Peluk?” tanya Langit dengan raut wajah yang tak lagi setegang tadi.“Eum,” angguk Arumi.Dengan segera Langit pun memeluk tubuh mungil itu hingga tenggelam di dalam dekapannya. “Kenapa tiba-tiba minta peluk?” tanya Langit.“Nggak tau, Om. Tiba-tiba kepingin aja.”Langit tersenyum tipis. “Yang berangkat Ayah dan Bunda, Arumi. Bukannya saya. Kamu gini kayak kita mau pisah saja.” “Ya … mau gimana. Kan kepinginnya tiba-tiba.”“Ngidam?” tebak Langit.“Hah? Ngidam?” tanya Arumi balik, nada bicaranya sedikit naik. Dengan perlahan ia pun melepaskan pelukannya dari Langit. “Kok ngidam, sih Om?” Langit terkekeh melihat reaksi kaget Arumi. Ia mencubit pelan hidung istrinya yang memerah, mencoba mencairkan suasana yang sejak tadi terasa aneh baginya. Sebagai seorang pria yang sudah lama mengenal Arumi, ia pasti tahu gestur tubuh

  • Pesona Calon Ayah Tiriku Yang Penuh Kuasa     Kamu Kemana?

    “Arumi, ada apa? Kamu kenapa? Kenapa suaramu seperti berat?” tanya Langit dengan suara yang mendadak berubah tajam. “Kamu menangis, Arumi? Apa ada orang yang ganggu kamu?” Rentetan pertanyaan terus Langit layangan. Ia benar-benar khawatir dengan keadaan istrinya.Arumi memejamkan mata rapat-rapat, mencoba menelan gumpalan sesak di tenggorokannya. Ia melirik Andini yang kini justru melipat tangan di dada, menonton drama itu dengan senyum miring yang seolah-olah tengah berkata kepadanya, ‘ayo, berbohonglah lebih hebat lagi.’“Nggak, Om. Arum … nggak nangis kok. Beneran,” dusta Arumi, suaranya bergetar meski ia sudah berusaha sekuat tenaga untuk menutupinya.“Yakin?” tanya Langit.“Ya, Om. Tadi ... tadi kaki Arum sempat kesandung, jadi sakit dikit. Makanya suara Arum agak aneh. Ini Arum lagi jalan ke tempat tadi. Om tunggu di sana ya? Jangan ke mana-man,” pinta perempuan berambut panjang tersebut.Tanpa menunggu jawaban Langit, Arumi pun segera memutus panggilan sepihak. Ia takut, jika

  • Pesona Calon Ayah Tiriku Yang Penuh Kuasa    Pertemuan Maut

    Sosok itu berbalik perlahan. Ia menurunkan kacamata hitamnya sedikit, menampakkan mata yang persis seperti milik Arumi—mata yang menyimpan sejuta rahasia dan luka. Ya, itu benar-benar Andini.“Mama?” ulang Arumi. Kakinya mulai melangkah mendekati perempuan itu dan berhenti tepat di depannya. “Iya, beneran Mama,” seru Arumi bahagia. Matanya mulai berkaca-kaca dan hampir menangis.Ya, perempuan itu adalah Andini, ibunya Arumi.Arumi lalu kembali ingin maju dan memeluk Andini. Namun sayangnya, dengan gerakan spontanitas, Andini justru menjadikan telapak tangannya sebagai benteng penghalang bagi keinginan Arumi.“Mama …,” ucap Arumi sedih campur kecewa. Harapan untuk mendapatkan pelukan hangat atau setidaknya tatapan rindu dari seorang ibu yang sudah lama tak ia jumpai, seketika sirna.Andini menatap Arumi dari balik kacamata hitam yang ia turunkan sedikit hingga ke ujung hidungnya. Alih-alih memberikan putrinya senyum manis, bibirnya justru membentuk garis lurus yang dingin dan bahkan ce

  • Pesona Calon Ayah Tiriku Yang Penuh Kuasa    Mama?

    Arumi menelan ludah dengan susah payah. Berusaha untuk menutupi gugup yang kian merajalela di dalam diri. Jari-jari tangannya terus saling tarik di atas pangkuannya. Seolah sedang berpikir, jawaban apa yang bisa dijadikan sebagai pelarian. “E … itu, Bun. Maksud Arumi, keluar-masuk ke dalam kamar. Kan … suara pintu berisik, Bunda. Jadinya Arum nggak bisa dengan nyaman. Gitu ….” Suara Arumi terdengar lirih, bahkan sangat-sangat lirih. “Oh, Bunda pikir apa yang keluar-masuk.” Viola tertawa kecil. Dari raut wajahnya, sepertinya perempuan paruh baya itu tahu, apa yang sebenarnya sedang Arumi bicarakan. Hanya saja, ia berpura-pura bodoh. Tidak ingin membuat sang menantu merasa tak nyaman lagi seperti semalam. “Nanti kalau Langit ada cuti, kalian ke Belanda ya? Arumi pasti belum pernah ke sana kan?” tanya Erlangga. “Heuh? Oh, belum, Ayah,” sahut Arumi dari jok belakang. Ia sedikit terperanjat, sebab pikirannya masih melalang buana entah kemana. “Saran yang bagus itu, Yah. Sekalian

  • Pesona Calon Ayah Tiriku Yang Penuh Kuasa    Om Langit Keluar Masuk

    Tanpa sepatah katapun lagi, Arumi segera mengalungkan kedua tangannya di leher Langit dan langsung mengecup sekali bibir pria itu. Sentakan keberaniannya yang mendadak itu seolah menghentikan waktu di dalam kamar mereka. Langit sempat tertegun selama satu detik—tidak menyangka istri kecilnya yang tadi sempat menangis pilu akan mengambil inisiatif secepat itu. Namun, keterkejutan itu segera berganti dengan respons yang jauh lebih intens. “Kamu mau coba goda saya?” tanya Langit dengan senyum khasnya. “Nggak kok, Om. Arum mana pintar menggoda,” ucap Arumi. “Kamu memang tidak pintar menggoda, tapi kamu cukup pintar membuat saya tergoda.” Langit segera merapatkan pelukannya pada pinggang Arumi. Menarik tubuh mungil itu hingga benar-benar menempel pada tubuhnya. Ciuman Arumi yang awalnya terasa ragu dan polos, kini disambut oleh Langit dengan lumatan yang dalam dan penuh otoritas. Seolah ia akan menelan tubuh kecil itu hidup-hidup. “Hhmmpp—” Desahan keduanya mulai terdengar.

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status