Share

Tanggung Jawab!

Auteur: LV Edelweiss
last update Dernière mise à jour: 2026-01-03 16:52:25

Suasana yang tadinya penuh haru dan tawa, kini berubah menjadi momen kocak yang menyudutkan Langit. Kejujuran Arumi yang terlalu polos itu bak bumerang yang menghantam Langit tepat di wajahnya sendiri.

​Arumi menjawab dengan raut wajah tanpa dosa. Seolah tak sadar, bahwa kalimatnya barusan telah “menumbalkan” suaminya di depan mertuanya sendiri. Sebenarnya ia hanya ingin jujur, namun kejujurannya justru membuat posisi Langit semakin terpojok.

“Tuh kan bener. Emang kamunya Langit, yang nggak jelas,” ucap Viola kesal.

“Bun, Langit ngelakuin ini juga untuk melindungi Arumi.” Langit berusaha membela diri.

“Melindungi dari apa?”

“Yah … dari apa saja.”

“Dari dirinya sendiri mungkin,” timpal Erlangga.

Viola mengulum senyum. “Jadi beneran udah?” tanyanya penasaran.

Pertanyaan Viola yang menggantung itu membuat suasana di ruang tamu mendadak berubah menjadi canggung tapi penuh selidik dan rasa penasaran.

Viola menatap putranya dengan tatapan ibu-ibu yang sedang menginterogasi. Sementara Aru
Continuez à lire ce livre gratuitement
Scanner le code pour télécharger l'application
Chapitre verrouillé

Latest chapter

  • Pesona Calon Ayah Tiriku Yang Penuh Kuasa    Pagi Bersama Suami

    Pagi kembali menjelang. Arumi bangun seperti biasa dan langsung melirik ke arah jarum jam di dinding kamar. Sudah pukul tujuh pagi. Ia lihat Langit sudah tak lagi ada di tempat tidur. Kemana laki-laki dewasa itu pergi?“Kamu udah bangun?” tanya Langit tiba-tiba.Baru saja Arumi bertanya, pria itu sudah muncul dari balik pintu kamar. Memakai setelan olahraga berwarna navy dari merek ternama.Wajahnya tampak segar, dengan butiran keringat tipis yang membasahi pelipis. Ia memegang sebotol air mineral yang tinggal separuh.“Udah, Om. Om dari mana?” tanyanya.“Lari,” jawab Langit santai, suaranya terdengar sedikit berat khas orang yang baru saja memacu fisik. “Udara di sekitar sini cukup bagus untuk jogging. Saya tadi sempat putar kompleks sekali.”“Oh … kok nggak ngajak-ngajak?” tanya Arumi dengan suara yang nyaris tak terdengar. Ia masih mengerjapkan mata, berusaha mengumpulkan nyawanya yang belum kembali sepenuhnya. Langit berjalan mendekati ranjang. Meletakkan botol minumnya di atas n

  • Pesona Calon Ayah Tiriku Yang Penuh Kuasa    Bikin Mual-Mual

    Langit dan Arumi saling melempar pandang satu sama lain. Dahi keduanya tampak bertaut bingung. Tak lama, Langit pun kembali melihat kepada Viola.“Bun, kan tadi kami udah ….,” ucap Langit menggantung.Viola tampak diam sejenak. “Astaga! Iya, maaf, maaf, Bunda lupa. Aduh, ini kepala, maklum … faktor usia,” cicitnya. Ia lalu beralih pandang kepada Arumi. “Maaf ya, Sayang. Bunda beneran lupa.” “Iya, Bunda. Nggak apa-apa.” Arumi tersenyum canggung dan langsung menundukkan kepala. Di kursi lain, Erlangga tampak menyenggol pelan lengan istrinya. Sebuah gerakan yang bermakna ketidaksetujuan atas sikap istrinya yang tak disengaja itu.“Bunda gimana sih? Arumi pasti tersinggung Bunda tanya seperti itu,” bisik pria tua itu.“Ya, gimana, Yah. Bunda juga nggak sengaja. Sumpah, Bunda beneran lupa,” jawab Viola sama berbisiknya.Ruang makan itu seketika berubah menjadi hening yang menyesakkan. Suara denting sendok yang beradu dengan piring porselen kini terdengar jauh lebih nyaring, seolah-olah s

  • Pesona Calon Ayah Tiriku Yang Penuh Kuasa    Bunda Tanya Mama

    Handle bergerak turun, pintu kamar terbuka. Di ambang, tampak Viola berdiri dengan tatapan menyelidik. Ia langsung mencuri-curi pandang ke arah dalam, mencari sosok yang baru saja ia panggil namanya tadi. “Arumi mana?” tanyanya kepada Langit. “Oh, mandi, Bun.” “Mandi? Bukannya udah dari tadi ya dia mandi? Kok belum selesai juga?” “Hmm … itu, Bun, tadi Arumi luluran dulu. Terus, maskeran … makanya lama,” Alibi Langit. “Oh, ya udah. Nanti kalau dia udah selesai, tolong bilangin langsung temui bunda di dapur ya? Bunda bingung soalnya mau masak apa.” “Siap, Bunda. Nanti Langit sampaikan.” “Ok.” Viola tersenyum hambar, kemudian berlalu meninggalkan kamar putranya itu. Langit segera menutup pintu dan kembali mendekati ranjang tempat tidur. “Bunda udah pergi,” ucapnya kepada Arumi yang masih bersembunyi di dalam bedcover. Nada bicaranya rendah dan tenang, sangat kontras dengan badai yang baru saja dilewati Arumi. ​Arumi perlahan menyembul dari balik kain tebal itu. Wajahn

  • Pesona Calon Ayah Tiriku Yang Penuh Kuasa    Sore Di Ranjang

    Arumi terus menatap Langit, menunggu pria dewasa itu menjawab pertanyaannya. Ia begitu penasaran, apakah suaminya memikirkan hal yang sama dengannya. Atau ada alasan lain?“Sama. Saya juga takut kamu salah paham tentang saya. Posisi saya waktu itu, benar-benar sulit, Arumi. Saya tidak mungkin mengatakan kalau saya suka sama kamu, kagum sama kepribadian kamu, sementara saya masih menjalin hubungan dengan Mama kamu. Yang ada, kamu malah pikir saya ini laki-laki seperti apa lagi,” jelas Langit.Arumi mengulum senyum jengah. “Jadi … apa yang buat Om Langit suka sama Arum?” selidik Arumi.“Hmm … apa ya? Mungkin sifat dan karakter kamu. Setiap kali saya datang ke rumah Mama kamu, saya selalu melihat kamu duduk di kursi kayu, dengan kaca mata besar, pulpen, dan tumpukan buku-buku. Kamu membuat saya penasaran sekaligus kagum.” “Maksud, Om Langit, Arum culun gitu?” Bibir Arumi mulai maju dua centimeter.Langit tertawa pelan. Lalu kembali menarik tubuh Arumi masuk ke dalam pelukannya. “Kamu ng

  • Pesona Calon Ayah Tiriku Yang Penuh Kuasa    Suka Kamu Sejak Dulu

    Mendengar pengakuan Arumi, Langit pun terdiam seribu bahasa. Tatapan matanya yang tadi penuh kilat jenaka dan menggoda, kini berubah menjadi dalam dan sangat intens. Jantungnya sendiri, yang tadinya ia pikir sudah sangat terkendali, mulai berdegup dengan irama yang tak beraturan lagi. Ia bahkan bisa merasakan hembusan napas Arumi yang pendek-pendek mengenai lehernya. Serta getaran tubuh kecil istrinya yang masih memejamkan mata rapat-rapat, seolah sedang menunggu vonis hukuman mati.“Kamu bilang apa?” tanyanya mulai penasaran.“Bilang apa, Om?” tanya Arumi balik.“Yang tadi, Arumi. Yang baru saja kamu ucapkan?” “Yang ‘kita bisa bicara baik-baik’, Om?” “Bukan, yang selanjutnya.”“‘Om salah paham’?” “Bukan juga.”Arumi kembali diam. Dalam posisi masih memejamkan mata, ia tetap terlihat seperti orang yang sedang berpikir. “Yang … “Arum udah lama suka sama Om Langit’?” tanyanya dengan suara rendah.“Iya, itu! Maksudmu apa?” tanya Langit lagi.Arumi menelan ludah. Keheningan yang pekat

  • Pesona Calon Ayah Tiriku Yang Penuh Kuasa    Tanggung Jawab!

    Suasana yang tadinya penuh haru dan tawa, kini berubah menjadi momen kocak yang menyudutkan Langit. Kejujuran Arumi yang terlalu polos itu bak bumerang yang menghantam Langit tepat di wajahnya sendiri.​Arumi menjawab dengan raut wajah tanpa dosa. Seolah tak sadar, bahwa kalimatnya barusan telah “menumbalkan” suaminya di depan mertuanya sendiri. Sebenarnya ia hanya ingin jujur, namun kejujurannya justru membuat posisi Langit semakin terpojok.“Tuh kan bener. Emang kamunya Langit, yang nggak jelas,” ucap Viola kesal.“Bun, Langit ngelakuin ini juga untuk melindungi Arumi.” Langit berusaha membela diri.“Melindungi dari apa?” “Yah … dari apa saja.”“Dari dirinya sendiri mungkin,” timpal Erlangga. Viola mengulum senyum. “Jadi beneran udah?” tanyanya penasaran.Pertanyaan Viola yang menggantung itu membuat suasana di ruang tamu mendadak berubah menjadi canggung tapi penuh selidik dan rasa penasaran. Viola menatap putranya dengan tatapan ibu-ibu yang sedang menginterogasi. Sementara Aru

Plus de chapitres
Découvrez et lisez de bons romans gratuitement
Accédez gratuitement à un grand nombre de bons romans sur GoodNovel. Téléchargez les livres que vous aimez et lisez où et quand vous voulez.
Lisez des livres gratuitement sur l'APP
Scanner le code pour lire sur l'application
DMCA.com Protection Status