Share

Pesona Duda Anak Satu
Pesona Duda Anak Satu
Penulis: Anggifey

Bartender Wanita

Yolanda seperti biasa tengah sibuk meramu minuman untuk pelanggannya. Senyum manisnya tak luput membuat para pelanggan pria yang tengah duduk di bar stool terus menatapinya. Yolanda tak begitu mempermasalahkan hal itu karena memang sudah jadi hal lumrah jika ia bekerja di bidang ini.

“Hey, bagaimana jika habis ini temani aku ke hotel? Aku pastikan akan membayarmu dengan harga tinggi,” ajak seorang lelaki hidung belang tersenyum pongah padanya.

Yolanda mengacuhkannya dan tetap melakukan pekerjaannya sebagai bartender. Merasa tak dipedulikan, pria itu marah besar dan menggebrak bar counter.

“Kau itu jangan sok suci! Aku tahu betul bahwa dirimu sudah biasa menjajakan tubuhmu pada lelaki hidung belang,” amuknya dengan nafas memburu.

Kegiatan Yolanda terhenti dan dirinya meletakkan shaking set nya ke bar table agar bisa sepenuhnya menatap pelanggan tak tahu diri itu. Ia paling tak suka ada yang menyebutnya sok suci atau sejenisnya. Hey, dia memang masih suci dan belum tersentuh, kok.

“Bisa tinggalkan saja tempat ini? Maaf, tapi kami tak melayani pelanggan barbar seperti anda,” ujar Yola terlampau tenang.

Bukannya menurut dan segera pergi, lelaki hidung belang itu malah mengamuk padanya. Ia menaiki meja dan mencekik lehernya Yola sampai empunya terbatuk.

Beberapa pelanggan yang kebetulan ada di depan bar counter panik melihat aksi nekat pria itu. Namun, tak ada yang mau menolong Yola sama sekali sebab terlalu segan dengan pria garang yang tengah mencekiknya.

“Yak, lepaskan aku, Bodoh!” pekik Yola dengan nafas tercekatnya. Tangannya bergerak terus untuk memukuli tangan yang tengah mencekiknya itu.

Alunan musik keras yang memekakkan telinga, nyatanya membuat Yola pasrah akan keadaan. Tak ada yang mendengar jeritan kesakitannya dan juga tak ada yang peduli akan keselamatan dirinya.

Saat mata Yolanda mulai tertutup pasrah, seseorang menarik pinggangnya dengan gesit. Dan saat Yola membuka matanya, ia sudah ada di pelukan seorang lelaki.

“Kau tak apa-apa, Nona?” tanyanya yang segera diangguki oleh Yola.

Usai memastikan wanita di pelukannya aman, ia melepaskan Yolanda dan menatap dingin ke arah pria hidung belang.

“Sikap anda pada wanita, sungguh keterlaluan sekali. Memangnya apa salah wanita ini sampai anda mencekiknya?” semprotnya dengan suara berat dan maskulin.

Pria hidung belang menuding Yolanda dengan jari telunjuknya. “Ia mengusirku dan sok jual mahal,” adunya yakin bahwa pria yang tengah menginterogasinya ini akan berpihak padanya.

“Tapi, dia juga merendahkanku. Aku bukan wanita murahan, asal kalian tahu saja.” Yolanda segera menyanggahnya.

Tepat saat ketiganya tengah bersitegang, Arka datang dan segera menengahi. Ia juga bartender dan merupakan rekan kerjanya Yolanda. Bisa dibilang ia juga teman mainnya Yolanda.

Arka tadi sedang pergi mengantar salah satu pelanggan wanita yang mabuk berat. Jadi, ia terpaksa meninggalkan Yolanda untuk melayani pesanan minuman para pelanggan lainnya. Tapi saat ia kembali, malah disuguhi oleh perdebatan di bar counter. Ia menghela nafas sebab saking terbiasanya dengan aksi barbar pelanggan yang merasa kesal oleh sikapnya Yolanda. Yah, memang Yola itu hanya bekerja sebagai bartender bukannya menjual diri.

“Maaf, tapi bisakah anda pergi saja dari sini? Atasan kami pasti membenci keributan seperti ini, Tuan,” tutur Arka lembut agar tidak makin membuat geram pelanggannya.

Dengan perasaan super kesal dan rasa malu, lelaki hidung belang itu menyabet jaket dan angkat kaki dari bar itu.

Tersisa Yolanda dan pria yang menolongnya tadi, sebab Arka sudah kembali ke belakang bar counter untuk melayani pelanggan lainnya.

“Maaf, atas ketidaknyamanan nya, ya. Kalau aku boleh tahu, siapa namamu?” ujar Yola mencoba terdengar bersahabat.

“Panggil saja Yardan. Aku pergi kalau begitu. Sepertinya tempat ini sangat tidak cocok untukku,” sahut Yardan yang diikuti kekehan terlampau kecil sehingga malah terdengar canggung.

“Oh, baru pertama kali di night club, ya?” tanya Yola sekedar basa-basi.

Yardan mengangguk lalu pergi. Sedangkan Yolanda juga tak mau ambil pusing dan kembali ke tempatnya.

Saat sudah berdiri di sisi Arka, ia langsung dicekoki oleh pertanyaannya.

“Kau selalu saja bermasalah untuk mengendalikan amarahmu. Kenapa mulutmu tidak bisa diam saja saat pelanggan menggunjingmu? Kau jadi terus kena masalah seperti tadi itu karena membuat pelanggan kecewa,” cerocos Arka berbisik.

Yola mendecih. “Hey, aku hanya tidak suka dipandang rendah karena pekerjaanku. Yah, aku memang peracik minuman di bar seperti ini, tapi aku bukan wanita murahan yang menjajakan tubuhnya pada lelaki,” sanggahnya tak mau disalahkan.

“Iya-iya, aku paham. Tapi, kau juga harusnya bisa mengerti pandangan banyak orang pada kita yang bekerja di tempat seperti ini. Kita hanya akan dianggap hina oleh mereka,” jelas Arka lalu tersenyum saat memberikan gelas berisi wiski pada pelanggan wanita di depannya.

Jika sudah pembicaraan sampai tahap ini, maka Yola akan memilih diam. Ia tetap tak bisa terima akan kebenaran itu. Tetapi, berhenti dari pekerjaannya yang sekarang juga bukanlah jalan keluarnya.

Arka melirik Yola sebentar lalu kembali melanjutkan pekerjaannya.

*****

“Kau langsung pulang?” tegur Arka saat keduanya berbarengan keluar dari diskotek.

Yolanda sepertinya tengah merajuk dan tak mau bicara dengannya, Arka menebaknya. Yah, sudah sering hubungan keduanya seperti ini. Nanti juga akan kembali akur lagi, kok.

“Bagaimana jika kita pergi jalan-jalan dulu? Yah, pagi buta begini tak ada salahnya olahraga lebih cepat,” kekeh Arka yang mencoba santai.

Yola masih diam dan tak mau merespon candaannya. Arka lalu mengusak kasar rambutnya dan berjalan di depan Yolanda dengan menatap wajahnya. Ia tengah berjalan mundur lebih tepatnya.

“Hey, sudah mengambeknya! Kau tidak seru sekali, sih, begitu saja marah,” hela Arka sambil menaik-turunkan alisnya menggoda.

“Kau juga, sih, sama menyebalkannya. Kau tahu sendiri bagaimana kesalnya aku jika dihina, tapi dirimu malah ikut mengejek. Intinya, aku sebal denganmu,” tukas Yola membuka suaranya setelah sekian purnama Arka memancingnya.

Arka tertawa renyah akhirnya ditanggapi oleh Yolanda.

“Ya, maafkan. Aku bicara begitu juga untuk kebaikanmu, loh. Sudah ada berapa kasus yang hampir sama karena sikapmu itu,” tukas Arka seraya meringis imut.

“Oh iya, kau tadi kenal dengan pria yang membantumu, tidak? Kurasa dia bukan pelanggan tetap di tempat kita, ya, kan? Wajahnya tampak asing dan sikap canggungnya membuatku berpikir bahwa dirinya masih pertama kali pergi ke diskotek,” celoteh Arka yang malah menggosipkan lelaki yang tadi membantu Yola.

Yolanda kembali memutar kejadian beberapa saat lalu. Yah, ia juga bisa menebak bahwa pria itu baru pertama kali ke tempat seperti bar.

“Aku hanya tahu namanya Yardan—sekedar itu saja,” ungkap Yolanda santai.

Arka mengangguk paham lalu berjalan dengan benar, yaitu di sebelah Yolanda.

Komen (1)
goodnovel comment avatar
Anggifey
semoga suka dengan alur cerita dan penyampaiannya, ya ... salam hangat dari penulis Anggifey ...
LIHAT SEMUA KOMENTAR

Bab terkait

Bab terbaru

DMCA.com Protection Status