LOGINBea memandang dingin menanggapi hinaan Joice.“Tampar dia,” titah Bea kepada dua pengawal yang sedari tadi berada di belakangnya.Tanpa membuang waktu, salah satu pengawal bertubuh kekar itu langsung maju dan menampar pipi Joice sampai wanita itu terhuyung.“Joice!” Teresa berteriak panik melihat putrinya ditampar sampai sudut bibir Joice berdarah. “Kurang ajar! Berani sekali kalian memukul putriku!”Bea tersenyum miring. Akhirnya Teresa mengaku, lebih tepatnya keceplosan?“Putrimu? Oh, jadi wanita yang kau bilang temanmu ini adalah ibu kandung Joice?” Bea tersenyum smirk ke arah Jimmy—sampai sekarang Bea masih pura-pura tidak tahu tentang kebenaran hubungan mereka bertiga.Jimmy semakin bingung dan sedikit panik. “Itu, dia—”“Lalu di mana ayah kandungnya?” tukas Bea semakin memojokkan Jimmy. “Jangan-jangan selama ini kamu tahu siapa orang tua kandung Joice? Oh, jangan-jangan ini semua malah konspirasi kalian? Sengaja membawa anak haram orang masuk ke rumah ini demi bisa hidup enak da
Bea menatap rumah mewah di depannya dengan tatapan tajam. “Aku tidak akan membiarkan rumah penuh kenangan ini jatuh kepada mereka, Ma. Mama tenang saja, aku pasti akan membalaskan dendam kita, atas drama dan kepura-puraan bajingan itu selama ini. Aku pastikan Jimmy dan wanita brengsek itu menderita.”Ketukan sepatu dari langkah elegan Bea terdengar sangat berirama. Wanita itu masuk ke dalam rumah mewah milik ibunya dengan wajah angkuh.Ya, sekarang ia harus bersikap angkuh. Bea tak ingin lagi bersikap lunak.Bea tak ingin menjadi lemah!Kacamata hitam bertengger di batang hidungnya, membuat Bea terlihat semakin menawan.Bea berjalan seperti sedang berjalan di panggung peragaan busana—layaknya seorang model profesional. Bea memang seorang model level menengah yang sudah cukup ternama.Setiap pergerakannya sangat indah dan menawan, apalagi lekuk tubuhnya yang seksi membuat setiap langkah Bea semakin menarik perhatian.Hampir sempurna.Pada kenyataannya sedari dulu Bea memang seakan tak
“Benar-benar monster.” Bea menggerutu sembari berjalan pelan ke arah kamar mandi. Ia melirik kesal ke arah Nigel yang masih terbaring telan-jang di atas ranjang. “Gayanya angkuh, ego tinggi, dia bilang tidak akan tergoda meski aku menggodanya seperti apa pun, tapi kenyataannya? Aku bahkan tidak menggodanya sama sekali, tapi dia sendiri yang langsung bergairah. Kekuatannya seperti monster, aku jadi susah jalan. Dia lebih ganas dari yang pertama kali malam itu.”Bea menggigit bibir bawahnya menahan rasa perih di bagian selangkangannya. Akibat permainan panas mereka tadi malam berkali-kali sampai hampir pagi, sekarang Bea kesulitan berjalan.Benar-benar gila.Mungkin karena tidak tidur hampir satu malam tadi, sekarang Nigel masih tidur meski hari sudah pagi. Biasanya pagi-pagi sekali Nigel sudah siap untuk berangkat ke kantor.Tidur Nigel mulai terganggu saat mendengar suara berisik dari kamar mandi. Perlahan mata tajam Nigel terbuka, ia langsung meraih ponsel untuk melihat jam.Nigel me
Tiba-tiba Nigel langsung menarik tengkuk Bea, lalu menyambar bibir merah wanita itu. Bea sampai terkejut, bahkan mata wanita itu dibuat melotot karena aksi tiba-tiba Nigel.“Hmmp.” Bea mencoba mendorong dada bidang Nigel, tetapi pria itu malah semakin mengganas menyantap bibirnya. “Pria ini benar-benar gila. Kalau begini, bibirku bisa bengkak. Apa dia memang sengaja?” ucapnya dalam hati.Nigel semakin ganas. Meski Bea berusaha kuat untuk menahan tangan Nigel, tetap tak sebanding dengan tenaga pria kekar itu.“Eng-gh, aa-ah.” Bea langsung mengatupkan kedua bibirnya menahan era-ngan saat tangan Nigel bergerilya nakal pada tubuhnya.Bea hanya bisa mengigit bibir bawahnya supaya tak mengeluarkan suara erangan—Bea tak ingin terkesan seakan menikmati semua tindakan Nigel kepadanya.“Tidak usah ditahan, mende-sah saja. Bukannya sebelumnya kau lebih liar dari ini?” bisik Nigel tepat di area leher Bea. “Cepat mendesah.”“H-hentikan. C-cukup ... a-hh—T-tuan Luca, hentikan.”Beberapa detik Nigel
“Aah, apa yang kamu lakukan? Lepaskan kakiku.” Bea mencoba tetap sadar saat serangan bibir dan lid4h Nigel malah semakin menggila di setiap jari-jari kakinya. “T-tuan, hentikan.”Nigel seakan tuli. Ia tak menghiraukan era-ngan pelan Bea yang mencoba menarik kakinya. Pria itu malah menahan kaki Bea semakin kuat.“Bukannya ini yang kau mau? Tidak usah pura-pura, tidak usah munafik. Harusnya kau senang karena kau berhasil menggoda saya,” bisik Nigel begitu angkuh.Bea menggeram, ia merasa dilecehkan. “Siapa yang menggoda Anda, Tuan? Saya tidak melakukan apa pun. Saya mengatakan kalimat itu juga saat kamu tidak ada. Kamu yang mengintip, jadi bukan saya yang sengaja menggodamu, tapi kamu sendiri yang tergoda pada tubuh saya. Tidak usah beralasan dengan melemparkan kesalahan kepada orang lain. Bilang saja kamu yang tergoda, kenapa kamu malah mengatakan saya yang menggodamu? Bedakan antara digoda dan tergoda.”Dengan kesal Bea menarik kakinya cukup kasar dari genggaman tangan Nigel. Padahal
Semua orang terpaku.Wajah cantik Alika tertoleh setelah ditampar oleh Bea.Cukup sudah. Sedari tadi Bea berusaha tenang dan bersabar menghadapi Alika yang terus menghinanya.Kesabaran Bea pun didobrak saat Alika menyeret mendiang ibunya dengan kata-kata begitu kasar. Bea tak terima.“Saya sudah peringatkan untuk tidak keterlaluan dalam bicara, Nona.” Bea memandang Alika dengan dingin. “Anda boleh menghina saya seperti apa pun Anda mau, tetapi jangan pernah menyeret ibu saya!”Tangan Alika terkepal. Ia marah besar.Tentunya ini pertama kalinya seseorang menampar Alika—seorang tuan putri manja dari keluarga kaya.“Kau berani menampar saya? Apa kau ingin mati? Kau benar-benar tidak tahu siapa saya? HAAH?!” Alika murka.Awalnya Bea tak ingin melayani celotehan Alika, karena ia sedikit merasa bersalah jika harus pura-pura menjadi kekasih Nigel di depan calon tunangan resmi pria itu. Namun, setelah kalimat kasar Alika yang menyereng sang ibunda, rasa bersalah Bea pun sirna.Sorot mata Bea







