MasukMentari telah bersinar terang, dalam keadaan gelisah semalam akhirnya Shiren bisa memejamkan mata meski waktu pajar telah dekat. Pikiran entah melayang kemana karena suaminya tak kunjung pulang. Juga anaknya sering terbangun dan meminum Asi telah membuat matanya enggan terpejam. Tepat saat pukul 07 pagi, ketukan pintu terdengar, Shiren membukanya penuh semangat dan tanda tanya.
"Bang Niko! semalam kemana?" Niko masuk dan duduk ke atas sofa. "Semalam motorku mogok, cari bengkel dan semuanya hampir tertutup. Aku terus mencarinya hingga aku memutuskan untuk menginap saja di tempat teman yang tak jauh saat itu, handpone ku juga lowbat!" ucapnya lancar, Shiren masih belum puas jawaban suaminya. "Lalu apa motormu sudah bagus? Semalam aku khawatir sekali, sampai hubungi bang Dika, katanya kamu tak ke rumah sakit!" Niko menggaruk kepala tak gatal. "Maafkan aku sayang, aku tak sempat ke sana. Ini saja untung ketemu bengkel buka cepat, jadi aku bisa langsung pulang setelahnya," Shiren diam, Niko mengambil handuknya. "Aku akan mandi dan berangkat kerja, tak perlu masak, nanti aku sarapan di kantor saja." Shiren hanya diam, Niko tampak terburu-buru ke kamar mandi. "Kenapa aku jadi ragu?" Shiren menatap celana suaminya, tak ada di sana karena wanita itu berniat ingin memeriksa handpone. "Kenapa dia selalu bawa handponenya kemana pun ya?! bahkan ke kamar mandi sekali pun." Gumamnya lalu beralih mengambil sang anak yang menangis. *** Dika dan Airin telah sampai ke rumah mereka membawa bayi merah yang mereka nantikan selama sembilan bulan belakangan, ada Lastri dan Gusman juga. "Assalamu'alaikum.." Shiren menatap mereka dengan rasa bahagia. "Walaikumsalam..Masuk nak!" jawab Lastri ramah, Gusman mencebikkan bibir. "Wah, alhamdulillah ya kak Airin sudah keluar rumah sakit dengan bayinya. Mansyaallah, tampan sekali." Airin hanya diam menyunggingkan senyum. "Makasih Ren, dimana Niko?" Shiren menjelaskan jika suaminya ke rumah temannya. Suasana di sana cukup menghangatkan, ramai, juga penuh kebahagiaan. Apalagi keluarga Airin juga tampak lengkap datang, apalagi orang tuanya akan menginap di sana selama dua minggu untuk membantu mengurus bayi Dika dan Airin. "Beruntung sekali kak Airin, dikelilingi orang-orang yang begitu peduli padanya, tak ada yang tak suka dan membencinya. Berbeda dengan aku, tapi sudahlah. Bersyukur saja pasti ada pelangi sehabis hujan," Gumam Shiren membanthin, bahkan bayi kecil dipangkuannya nyaris diacuhkan dan tampak tak dianggap keberadaannya sama sekali di sana, semua hanya sibuk pada bayi lelaki itu. "Bu, semuanya. Saya pamit pulang dulu!" Shiren merasa tak nyaman. "Loh, kenapa Ren? Kamu mau nidurin Anakmu!" Ujar Lastri. "Eh enggak bu, hanya saja masih ada pekerjaan yang harus saya urus." Lastri hanya mengangguk, perempuan itu kini telah pulang. Hatinya pilu, perasaannya terasa sepi. Shiren duduk menyendiri di samping jendela kamar, menatap luar dan membayangkan akan hari indah. Merindukan ibu yang sudah lama melupakannya dan sosok nenek yang telah lama dipanggil sang ilahi. "Andaikan nenek dan ayah masih ada, pasti mereka sangat senang melihat kamu Nadhira! kata nenek, ayah dulu sangat sayang kepadaku. Andaikan dia masih ada!" Lirihnya. Sebuah ketukan pintu terdengar, rupanya Niko suaminya telah pulang ke rumah, memang hari ini dia berlibur kerja karna cuti tanggal merah. "Dek, abang ke rumah bang Dika dulu, liat baby boy. Kamu ikut?" Tawarnya, Shiren menggeleng. "Enggak bang, barusan aku ke sana. Oh ya, kapan kita cari kado buat anak bang Dika?" Niko tampak berfikir, karena Dika juga baik sama mereka, saat Nadhira lahir. Ia memberikan beberapa lembar uang untuk pegangan Shiren. "Kapan-kapan saja, lagian mereka juga baru pulang." Shiren mengangguk, Niko menaruh handpone dan mengisi daya ponselnya di samping meja televisi. Mata Shiren menatap handpone yang tergeletak di atas sana, seketika jiwa keponya muncul ingin melihat apa saja isi handpone sang suami, Shiren ingat sebuah angka yang pernah ia temukan di meja nakasnya. Barangkali dia beruntung jika itu adalah kode fassword handpone Niko, dengan debaran jantung di dada dia mencoba menekan angka-angka itu. "Yes, berhasil." Semangatnya kembali keluar, tapi degub jantungnya berpacu seolah merasa takut akan melihat privasi sang suami. "Astagfirullah..." Mata Shiren terbelalak, tangannya mengatup mulut terkejut menangkap sebuah aplikasi dan percakapan suaminya dengan beberapa wanita malam atau disebut LC. "Ya Allah, astagfiriullah...Ya Allah." Begitu syoknya ia, sampai kakinya merasa bergetar untuk berdiri, tangannya juga tak kalah bergetar dengan hebat. "Bang Niko, begini kelakuanmu di belakangku?" Suaranya nyaris hilang. Airmatanya telah luruh. "Pantesan selama beberapa bulan saat aku hamil ia tak sudi menyentuhku," Kini Shiren menangis, memeluk lututnya dan menatap handpone sang suami. Shiren duduk terpaku di sudut kamar, tubuhnya gemetar menahan sesak yang tiba-tiba mencekam dada. Bayangan suaminya, Niko, yang selama ini ia percayai, kini berubah menjadi bayangan kelabu yang menusuk hati. Ia memegang erat bayinya yang mulai mengantuk. Air matanya jatuh perlahan, menetes di atas kain yang membelit tubuhnya, membasahi setiap serat harapan yang dulu pernah ia rajut dengan penuh keyakinan. Suara pesan singkat yang tak sengaja terbaca di ponselnya terus berulang dalam pikirannya: janji temu dengan LC, kata-kata yang tak pernah ia bayangkan akan melekat pada suaminya. Rasa sakit dan pengkhianatan itu membakar setiap sudut hatinya, membuatnya ingin berteriak, tapi suaranya tercekat. Tubuhnya merunduk. "Dek, kamu kenapa?" Tiba-tiba suara itu menyadarkan kesedihannya, Niko telah berdiri di ambang pintu kamar. Shiren menghapus air matanya, lalu meletakkan bayinya perlahan ke atas kasur. Ia berjalan perlahan membawa suaminya ke ruang tamu. "Ini handponenya, aku sudah tahu perangaimu bang!" Niko terkejut melihat handponenya meyala menampilkan pesan-pesan itu. "Apa-apaan kamu melihat isi ponselku," ucapnya dengan merebut cepat dari tangan Shiren. "Jadi selama ini kamu sering menyewa wanita-wanita penghibur itu? Menjijikkan!" tukasnya dengan raut wajah marah. "Apaan sih kamu dek, jangan ngacok!" Niko berusaha berkilah. "Sudahlah bang, aku sudah baca semua pesan itu. Foto kamu dengan wanita itu, tega sekali kamu bang! pantes saja selama beberapa bulan kemarin kamu tak pernah menyentuhku!" tekan Shiren membuat Niko terdiam. "Kenapa bang? Yang terakhir itu, saat kak Airin melahirkan, kamu juga ke sana bukan? Sikap kamu sudah berubah, tapi rupanya semua hanya kedok untuk menutup sikap busukmu itu,, aku benci kamu!" Plakkk....tamparan itu mendarat di pipi manis wanita itu, Shiren tampak terkejut. "Berani kamu tampar aku? Baiklah, keputusanku sudah bulat, tak ada yang perlu kita pertahankan lagi, ceraikan aku!" suara Shiren tampak tegas dan yakin. "Heh, jangan sok belagak kamu. Memangnya kamu bisa apa tanpa aku? Makan apa kamu diluar sana, asal kamu tahu ya. Aku mencari pelampiasan di luar sana karena kamu saat hamil sangat menjijikkan, tubuhmu, bentuk perutmu, aku mual. Makanya cari wanita seksi dan cantik," senyum Niko tampak mengejek. "Jahat kamu!" pekik Shiren. "Aku hamil juga demi memberikan kamu gelar sebagai seorang ayah, bentuk tubuhku berubah demi akan melahirkan anakmu, tega sekali kamu begitu? Kau yang menjijikkan bang, bukan aku. Laki-laki hidung belang," Pekik Shiren lagi tak tahan akan amarahnya, suara pertengkaran mereka rupanya terdengar ke rumah Dika. "Niko, Shiren, ada apa ini?" Tiba-tiba Lastri datang, dia tak sendiri, ada Gusman juga Dika di sana yang juga ikut penasaran. "Ibu..." Niko terkejut, Shiren menumpahkan tangisnya dan mendekati Lastri. "Shiren, jangan gila. Jangan sampai kamu bocorkan permasalahan ini pada keluargaku," Niko berusaha membujuk istrinya. Lastri dan lainnya tampak kebingungan. "Ada apa ini? Apa yang kamu lakukan Niko!" Dika mendekat. "Jangan ikut campur, pergi kalian. Aku mau urus urusanku dengan Shiren," Usir Niko marah setengah panik, semua saling memandang. "Aku mau kita cerai!" Semuanya terkejut saat Shiren mengatakan akan hal itu. "Dasar menantu tak tahu diri, cerai ya cerai. Jangan sok belagak begitu, Niko. Ayah memang tak tahu urusan kalian, tapi ayah setuju kamu ceraikan wanita tak berguna ini." Cerocos Gusman, Lastri melotot pada suaminya yang kian membuat suasana semakin panas. "Shiren, kamu tenangkan dulu dirimu. Sekarang jelaskan pada ibu, apa yang terjadi?" Shiren mencoba tenang, menghirup udara dengan boros dan membuangnya dengan perlahan. "Bang Niko bermain bersama banyak wanita diluaran sana bu, dia dia sering menyewa wanita malam buat kesenangannya!" ucap Shiren seketika membuat Lastri amat syok, Gusman meneguk ludah kasar, Dika juga ikut syok. "Bohong bu, bohong yah, dia bohong." Sergah Niko mendekati orangtuanya. "Kalau kalian tak percaya, periksa saja handponenya. Barang bukti masih ada!" Niko segera menyembunyikan handpone ke dalam saku, tapi Dika berusaha merebutnya, dua orang lelaki itu saling berebutan bak anak kecil. "Cepat kasih aku handponemu, Niko!" "Nggak, jangan ikut campur. Ini ponselku, jangan seenaknya," Dika terdiam, Shiren mengangguk lemah. "Kalau memang bang Niko tak mau menunjukkan bukti itu tak apa kok, saya tak perlu memperlihatkan buktinya pada ibu, ayah dan abang Dika. Sekarang terserah kalian mau percaya atau nggak, tapi Shiren tetap akan memilih berpisah!" Suara wanita itu nyaris bergetar. "Shiren, apa tak bisa dipikirkan lagi. Kasihan anak kalian jika sampai orang tuanya bercerai, tolong dengarkan ibu, ibu yakin Niko bakalan berubah nak," Lastri tampak memohon. "Bu, sudah tak perlu, aku juga tak masalah kok. Memang dia bisa apa tanpa aku?" Sekali lagi Niko meremehkan Shiren. "Shiren pasti bertekuk lutut lagi kok setelah tahu kerasnya hidup di luaran sana, jadi rumah ini akan selalu terbuka buat dia. Asal tak mengungkit masalah ini lagi." Timpal Niko terlihat pongah. "Tak sudi aku bertekut lutut sama kamu bang, aku sudah bertekad akan memilih berpisah, aku tak rela hidup dengan lelaki tak punya iman sepertimu!" ketus Shiren, Niko tersenyum mengejek. "Yakin? Kamu itu hanya sebatang kara, memang ada sih ibumu. Tapi dia sudah membuangmu bak sebuah sampah bukan? Lalu mau kemana kamu mengadu? Kerja? Kerja apa! kamu punya bayi Shiren, mengapa tak mengalah saja, aku siap memaafkanmu atas fitnah keji ini!" Cerocos Niko tampaknya percaya diri. "Sudah cukup selama ini aku bertahan atas sikap sombongmu itu bang, kamu selalu meremehkan aku, memandang sebelah mata kepadaku. Sekarang tak ada yang perlu aku pertahanin lagi, talak aku sekarang juga!" Suasana di rumah itu semakin menegang.Pintu rumah Shera terbuka perlahan saat keluarga Sisil melangkah masuk dengan wajah penuh penyesalan. Ayah Sisil menghela napas berat, mencoba mengatur kata-kata yang ingin diucapkan. “Kami datang untuk meminta maaf, Shera. Semua ini salah kami, terutama Sisil. Kami mohon, pernikahan ini tetap bisa dilanjutkan,” suaranya bergetar, menahan rasa malu dan kecewa.Shera berdiri di samping Shaki, menatap keluarga Sisil dengan tatapan dingin. Shaki sendiri tampak tegang, bibirnya terkatup rapat seolah menahan amarah yang bergejolak di dalam dada. Matanya tidak lepas dari Sisil yang duduk di pojok ruangan, wajahnya memerah dan penuh penyesalan, tapi juga ada keputusasaan yang mengekang.“Aku sudah memikirkan semuanya, dan aku tidak bisa memaafkan kebohongan yang Sisil lakukan,” kata Shaki dengan suara tegas namun bergetar. Ia menundukkan kepala sejenak, lalu menatap lurus ke depan, “Pernikahan ini harus dibatalkan. Aku tidak mau memulai hidup baru dengan dasar yang penuh dusta.”Sisil menang
Keluarga besar Shaki berkumpul di ruang tamu yang penuh dengan bisik-bisik dan tatapan penasaran. Ketika Shaki mengumumkan keputusannya untuk membatalkan pernikahan dengan Sisil, keheningan seketika menyelimuti ruangan. Wajah-wajah yang tadinya cerah berubah menjadi campuran antara terkejut dan tidak percaya. Beberapa anggota keluarga saling bertukar pandang, seolah menunggu penjelasan lebih lanjut. Shera, ibu Shaki, yang dari awal tampak tegar, akhirnya angkat bicara dengan suara lembut namun penuh keyakinan. "Anakku, kau sudah tahu hatimu sendiri. Jika Sisil bukan yang terbaik untukmu, maka jangan dipaksakan," katanya sambil menggenggam tangan Shaki erat-erat. Matanya memancarkan kehangatan dan dukungan tanpa syarat, membuat Shaki merasa sedikit lega di tengah tekanan keluarga. Shaki menundukkan kepala, merasa beban berat di pundaknya perlahan mencair oleh kata-kata ibunya. Di balik keraguan yang masih membayangi, ada secercah harapan baru untuk masa depan yang lebih baik. Suasan
Airin sedang duduk santai di sofa ruang keluarga, tangannya memegang secangkir teh hangat sambil menonton acara favorit di televisi. Suasana tenang itu tiba-tiba pecah ketika pintu depan diketuk dengan keras. Dengan ragu, Airin berdiri dan membuka pintu, di depan matanya berdiri dua petugas kepolisian dengan ekspresi serius. "Apakah Ibu Airin?" tanya salah satu petugas dengan suara tegas namun sopan. Jantung Airin berdegup kencang, ia tak mengerti apa yang sedang terjadi. "Ya, saya Airin. Ada apa, Pak?" Petugas itu mengeluarkan surat panggilan dan membacakan, "Kami datang berdasarkan laporan dari Shiren Amirah terkait dugaan pencemaran nama baik yang dilakukan oleh Ibu." Airin terdiam sejenak, wajahnya berubah pucat. Dalam benaknya berputar cepat, mencoba mengingat apakah yang harus dia lakukan. Matanya membelalak, mulutnya kering. Rasa takut dan kebingungan menyelimuti dirinya. "Dugaan... pencemaran nama baik?" suaranya bergetar, tak percaya. "Ini pasti salah paham." Petugas itu meng
Video itu diputar ulang berkali-kali, wajah Airin yang kemarinnya penuh kesombongan kini terlihat pucat pasi. Di layar, suaranya tampak lantang dan tegas takkan mau mengembalikan nama baik Shiren dan yakin perempuan itu akan hancur atas berita hoaks yang dia sebarkan. "Aku bodoh sekali kenapa bisa terperangkap atas jebakan Shiren dan lelaki itu," ucapnya dengan mata berkaca-kaca, mencoba menahan rasa malu yang membuncah.Di sisi lain, komentar netizen membanjiri unggahan Arshaka. Hujatan dan cercaan mengalir deras, Airin disebut sebagai perempuan licik yang tega menghancurkan reputasi orang lain demi kepentingan pribadi. Beberapa bahkan mengungkapkan kebencian mendalam, mengutuk Airin tanpa ampun.Shiren yang menonton video itu dengan tangan gemetar, tak mampu menyembunyikan kelegaan yang mengalir di hatinya. Hatinya yang dulu penuh luka kini mulai memancarkan ketegaran baru. Ia tahu, meski luka itu masih menganga, kebenaran akhirnya terbuka ke permukaan. Namun, di balik itu semua, t
Andika berdiri di tengah ruang tamu yang remang, matanya membara menatap layar ponsel yang menampilkan unggahan viral itu. Wajahnya memerah, napasnya memburu seolah hendak meledak. "Kenapa kamu lakukan ini, Airin?!" suaranya pecah, penuh amarah yang sulit ditahan. Tangan Andika mengepal kuat hingga urat-urat di lehernya tampak menegang. Airin, yang duduk di sudut ruangan, menunduk dengan bibir gemetar, tak mampu menatap suaminya. Tatapan tajam Andika menusuk hatinya, namun wanita itu tetap diam, seolah menunggu ledakan berikutnya."A-aku minta maaf bang, semua aku lakukan hanya untuk membalas Shiren," Andika menggeleng."Kamu benci Shiren dan hendak ingin menjatuhkannya tapi malah menjelekkan suamimu sendiri begitu?!" Teriak Dika membuat semua terdiam, kilatan emosi yang membara dan tak pernah dia luapkan sebelumnya membuat orang sekitar merasa takut. Lastri yang ada di sana juga terlihat tak mampu berbicara."Aku tak bermaksud bang, semua terjadi begitu saja!" Airin tampak menegang.
Niko tiba di rumah dengan langkah yang berat. Begitu pintu kamar diketuk, ia segera membanting sandal ke pojok ruangan, suara dentangnya mengisi keheningan malam. Dadanya naik turun cepat, wajahnya merah padam karena marah. "Akkhhh... brengsek! Gimana bisa dia tolak aku begitu saja!" geramnya sambil menjatuhkan kursi hingga terjungkal. Suara benturan barang di kamarnya tak luput dari perhatian Airin yang sedang melintas di halaman selesai dari warung, disusul Dika yang penasaran. "Dengar nggak sih? Ada apa di rumah Niko?" tanya Airin dengan alis berkerut. Tanpa pikir panjang, Dika menyusul masuk, menemui Niko yang masih gusar. "Niko! Kamu kenapa, sih? Kok ribut banget malam-malam?" tanya Dika sambil mengusap bahunya. Niko menghela napas panjang, matanya yang semula marah kini terlihat lelah."Nggak usah ikut campur, sudah bang sana pulang!" usirnya, Dika menggeleng. Lelaki itu pulang dengan kesal tapi Airin tetap berdiam diri di tempat, matanya celingukan melihat sang suami apakah
Lastri menggeleng mencoba meminta Niko untuk meminta maaf pada istrinya, tapi bukan Niko namanya jika merendahkan diri dengan meminta maaf, Dika juga mengepal erat tangannya terasa kesal, jika bukan ada ayah dan ibunya di sana. Sudah pasti ia melayangkan sebuah pukulan terhadap Niko yang dianggap m
Dua minggu berlalu sejak kelahiran anak Shiren dan Niko, usia bayi mereka kini baru sekitar dua minggu lebih tiga hari. Pagi-pagi sekali, Niko sudah tiba di rumah ibunya, mengemudikan mobil milik Dika. Lastri yang sedang sibuk memasak, menghentikan gerakannya, matanya mengerjap penuh tanda tanya."
Shiren terengah-engah saat didorong masuk ke ruang bidan yang remang-remang. Keringat membasahi dahinya, sementara tangan yang gemetar erat menggenggam kain perca yang diberikan oleh bidan. "Ibu, kontraksinya sudah sangat kuat, bayi akan segera lahir," kata bidan dengan suara tenang namun penuh ur
Sehabis subuh Shiren keluar rumah hendak ke rumah bu RT, sarapan buat suaminya sudah ia persiapkan, dia juga sarapan sedikit untuk mengisi tenaga nanti. Kedatangannya tentu telah ditunggu dengan senyum sumringah penuh harapan oleh tuan rumah."Ayo masuk! anak saya sudah bangun,""Assalamu'alaikum!"







