Share

Memory Lama

Author: Azzurra
last update publish date: 2026-04-23 21:12:52

Sam berdiri mematung, pistolnya terkulai lemas di samping paha. Namun, saat Maria baru saja akan membuka mulut untuk menyebutkan syaratnya, sebuah suara tawa sinis memecah keheningan dari arah belakang.

"Cukup dramanya!" teriak Adrian.

Adrian tidak sudi melihat rencananya hancur hanya karena urusan anak haram. Ia menarik pistolnya sendiri dan mengarahkannya tepat ke arah Maria. "Sam! Jangan jadi pengecut! Bunuh mereka sekarang atau biarkan aku yang menyelesaikannya!"

"Adrian, jangan!" An
Continue to read this book for free
Scan code to download App
Locked Chapter

Latest chapter

  • Pesona Obsesi dan Dominasi Sang Mafia   Akhir Perjalanan.

    Sore itu, langit berwarna jingga keemasan. Di beranda belakang yang menghadap ke kolam ikan, Dalton sedang menggendong baby Aurora di pangkuannya. Meskipun luka tembak di tubuhnya sudah jauh membaik, Dalton masih betah duduk di kursi santai, menikmati perhatian lebih dari sang istri. Ana berjalan mendekat sambil membawa secangkir teh Roselle hangat kesukaannya. Langkah kakinya ringan, dan senyum di wajah cantiknya memancarkan kedamaian yang seutuhnya. Setelah meletakkan cangkir di meja, Ana mengambil alih Aurora yang sudah mulai mengantuk, lalu menidurkannya sejenak di stroller di samping mereka. Setelah bayinya terlelap, Ana kembali mendekati Dalton. Bukannya duduk di kursi sebelah, Ana justru bersedekap di depan Dalton sambil menyipitkan mata indahnya, menatap sang suami dengan pandangan menyelidik yang penuh godaan. "Tuan Dalton..." panggil Ana, nadanya sengaja dibuat seformal mungkin tapi sarat akan sindiran manja. "Ini sebenarnya kamu itu memang masih sakit, atau cuma pura-

  • Pesona Obsesi dan Dominasi Sang Mafia   Menuju Akhir.

    Gelak tawa renyah terdengar di ruang makan yang hangat itu, mengikis sisa-sisa ketegangan yang sempat mereka bawa lintas benua.Julian dan Mikail saling pandang, lalu tersenyum tipis. Untuk pertama kalinya dalam tiga puluh tahun hidup mereka, rasa aman yang hakiki itu benar-benar nyata. Bukan aman karena dikelilingi senjata atau barikade hukum, melainkan aman karena mereka tahu, mereka berada di tengah orang-orang yang tulus menyayangi mereka."Biarkan saja dia pergi, kemarin di Jenewa pun dia sesekali terlihat memandang foto yang dia simpan di sakunya." Sahut Mikail sambil terus mengunyah makanannya. "Pria sedingin Daniel juga butuh kehangatan. Lagipula, menghadapi dokter yang sedang merajuk jauh lebih sulit daripada meretas sistem keamanan tingkat tinggi."Dalton terkekeh, jemarinya mengetuk sandaran kursi roda dengan santai. "Kau benar, Mikail. Dan untuk kalian berdua ... selamat datang di rumah yang sesungguhnya. Mulai hari ini, Obsidian, Sam, dan semua bayang-bayang masa lalu itu

  • Pesona Obsesi dan Dominasi Sang Mafia   Pertemuan dengan Mama

    "Pesawat sudah lepas landas," ucap Daniel begitu sambungan terhubung. "Target aman secara fisik, tapi mental mereka terguncang ,mengetahui kenyataan.""Aku sudah menduganya," jawab Dalton di seberang sana, suaranya terdengar datar namun ada nada kelegaan yang terselip. "Sam selalu tahu cara menanamkan keraguan. Apa yang dia katakan pada mereka?"Daniel melirik ke arah kabin belakang tempat si kembar berada. "Dia menggunakan kartu 'kewajiban darah'. Dia mengatakan bahwa Maria-lah yang memisahkan mereka secara paksa. Mikail mulai mempertanyakan alasan di balik semua rahasia ini, sementara Julian tetap teguh pada komandonya—tapi aku tahu dia pun mencari kepastian.""Sam mencoba memutarbalikkan sejarah untuk menyelamatkan dirinya sendiri," sahut Dalton dingin. "Tapi dia lupa bahwa bukti finansial dan perlindungan yang di berikan ibu selama puluhan tahun lebih nyata daripada sekadar kata-kata manis tentang DNA.""Mereka ingin bertemu Maria segera setelah mendarat," Daniel memberi peringata

  • Pesona Obsesi dan Dominasi Sang Mafia   Kabut di Kepala.

    Mobil terus melaju membelah jalanan Jenewa yang mulai sepi. Cahaya lampu jalan masuk bergantian lewat jendela, menerangi wajah Mikail yang tampak gelisah. "Apakah kita salah meninggalkannya sendiri?" gumam Mikail, suaranya nyaris tenggelam oleh deru mesin, namun telinga tajam Julian menangkapnya. Julian menoleh sedikit, matanya masih menatap jalanan yang basah. "Dia meninggalkan kita lebih dulu, Mikail. Tanpa Maria, kita tidak akan pernah menjadi seperti sekarang. Kita mungkin hanya akan menjadi pion di papan caturnya." "Tapi dia bilang Maria yang memisahkan kita," ucap Mikail lagi. Kalimat Sam tentang Maria yang menyembunyikan mereka terus berputar di kepalanya seperti kaset rusak. Sebagai pengacara, Mikail terbiasa melihat dua sisi cerita, dan keraguan itu mulai menyelinap. Daniel, yang duduk di kursi depan, tetap diam. Ia mencerna setiap kata yang keluar dari mulut si kembar. Ia tahu mereka sedang dalam persimpangan, mereka belum mengenal Maria juga belum mengetahui tentang mas

  • Pesona Obsesi dan Dominasi Sang Mafia   Pertemuan dan Penolakan.

    "Jarak tak menghalangiku untuk menghancurkan mu, Sam," jawab Dalton melalui sistem komunikasi yang telah ia retas sepenuhnya. "Kau bilang kau yang menciptakan Julian dan Mikail? Tidak. Kau hanya menyumbangkan darah. Maria-lah yang menghidupi mereka, kau tak berhak atas hidup mereka."Mikail dan Julian terhenyak mendapati kenyataan lelaki tua di hadapannya ini adalah benar-benar ayahnya. Tiba-tiba, layar laptop Mikail yang tadinya menampilkan file dari Sam, berubah menjadi tampilan radar satelit yang mengunci koordinat dermaga itu. "Mikail, jalankan protokol 'Ghost Protocol' yang sudah aku tanam di sistem mu," perintah Dalton tegas. Tidak memberikan Mikail waktu untuk berfikir. Mikail, yang otaknya bekerja secepat kilat, langsung mengerti. Jari-jarinya menari di atas keyboard. "Protokol aktif, Kak!" Dalam hitungan detik, semua ponsel dan alat komunikasi para pengawal Sam mengeluarkan suara melengking yang memekakkan telinga, diikuti dengan matinya semua lampu dermaga secara total.

  • Pesona Obsesi dan Dominasi Sang Mafia   Pertemuan

    Malam itu, Danau Jenewa diselimuti kabut tebal yang merayap dari permukaan air menuju dermaga kayu tua yang nampak rapuh. Suara ombak yang menabrak tiang-tiang dermaga menciptakan irama yang mencekam, seolah sedang menghitung mundur ledakan konflik yang tak terelakkan. Daniel berada di posisinya, mendekam di balik tumpukan kontainer tua yang menghadap langsung ke dermaga pribadi itu. Napasnya teratur, namun matanya tak lepas dari teropong malamnya. Ia sudah meminum dosis terakhir obat dari Dokter Obsidian, membuat indranya bekerja berkali-kali lipat lebih tajam. "Julian, Mikail, posisi kalian?" bisik Daniel melalui earpiece terenkripsi. Mereka merencanakan penyergapan ini beberapa hari setelah Daniel bertemu Mikail di galeri lukis tempo hari. "Aku di titik buta, arah jam dua dari dermaga. Sniper sudah siap, tapi aku hanya akan menembak jika kau memberi aba-aba," suara Julian terdengar dingin dan stabil. "Aku di dalam kabin kecil di ujung dermaga," timpal Mikail. Di depannya, l

  • Pesona Obsesi dan Dominasi Sang Mafia   Kisah Masalalu.

    Di tengah todongan belasan senjata, Maria tidak bergeming. Ia bahkan tidak berkedip saat moncong pistol Sam berada hanya beberapa inci dari wajahnya. Maria justru mengulas senyum tipis—senyum yang sangat mematikan. "Sam, sebelum kau menarik pelatuk itu ... ada baiknya kau mengingat satu nama yang

  • Pesona Obsesi dan Dominasi Sang Mafia   Menyambut Kematian.

    Langkah kaki mereka bergema di ruangan luas yang lembap dan berbau karat. Di tengah ruangan, di bawah satu-satunya lampu gantung yang tersisa, berdiri dua sosok yang selama ini menjadi hantu dalam kehidupan Ana. Sam berdiri dengan tenang, tangan di saku, sementara Adrian melangkah maju dengan sering

  • Pesona Obsesi dan Dominasi Sang Mafia   Menantang Maut.

    Mobil hitam itu berhenti sempurna di balik bayang-bayang kontainer berkarat di Sektor 4. Gudang besar di depan mereka tampak seperti raksasa tua yang tertidur, sunyi namun mematikan. Hanya ada satu lampu neon yang berkedip-kedip di atas pintu masuk, menambah kesan horor di pelabuhan yang terisola

  • Pesona Obsesi dan Dominasi Sang Mafia   Persekongkolan.

    Ana sudah berganti pakaian. Ia meninggalkan gaun tidurnya dan kini mengenakan pakaian serba hitam yang praktis—seperti seragam tempur yang dulu pernah ia kenakan di masa-masa sulitnya. Rambutnya diikat kuda dengan kencang, menunjukkan rahangnya yang tegas. Semua sudah siap di titik keberangkatan

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status