Share

Pasien VVIP

Author: Azzurra
last update publish date: 2026-04-25 22:35:01
Anggel tak konsentrasi saat memeriksa luka di kaki Daniel. Tatapan empat mata ini seperti mengulitinya, jika tak mengenal Ana rasanya Anggel akan enggan menolong dua pria ini. Dia bukan Anastasia yang memiliki empati tinggi, dia Anggel, dokter yang akan dengan berani menyuntik mati orang-orang yang menurutnya harus di musnahkan dari muka bumi ini.

Ana menyentuh tangan Anggel, karna Ana yakin Anggel sedang tak berkonsentrasi. "Ada apa?"

Anggel tergeragap. Dia melirik ke arah Ana, lalu menyeka
Azzurra

Terimakasih masih terus membaca keseruan Ana dan Dalton. Beri ulasan untuk menaikkan buku ini ya teman.

| 2
Continue to read this book for free
Scan code to download App
Locked Chapter

Latest chapter

  • Pesona Obsesi dan Dominasi Sang Mafia   Di Persimpangan.

    Sam terdiam sejenak, seringai di wajahnya perlahan luntur saat menyadari Dalton tidak sedang menggertak sambal. Ruang kerja itu mendadak terasa lebih sempit, seolah dinding-dinding jati di sana ikut menekan Sam. "Jadi, kau sudah tahu sejauh mana?" tanya Sam, suaranya kini lebih rendah, kehilangan nada meremehkannya yang tadi. Dalton menyandarkan punggungnya, meski perih di perutnya makin menjadi, ia tetap menjaga harga dirinya. "Aku tahu segalanya, Paman." Sam mengepalkan tangannya hingga buku-bukunya memutih. Tatapan Dalton seolah menguliti semua dosa yang selama ini ia kunci rapat di dasar hatinya. "Dosa itu ... aku tidak pernah tahu kalau gadis itu mengandung," suara Sam tiba-tiba melirih, ada getaran penyesalan yang jujur di sana, namun Dalton hanya memandangnya dengan jijik. "Penyesalan tidak akan mengubah fakta kalau kau adalah monster, Paman," desis Dalton. "Kau merampas masa depan gadis itu, membuangnya seperti sampah, dan sekarang kau ingin menggunakan Ibuku untuk menc

  • Pesona Obsesi dan Dominasi Sang Mafia   Semua Demi Kepentingan.

    Sam berdiri mematung di pelataran, menyambut kedatangan Dalton dengan senyum yang dipaksakan. "Selamat datang kembali, Dalton. Maaf kalau Paman lancang datang ke rumahmu tanpa meminta persetujuanmu terlebih dahulu." Dalton mendengus dingin. Sorot matanya yang tajam menatap Sam dengan penuh kebencian yang masih menyala. Baginya, kata maaf dari seorang pengkhianat tak lebih dari sekadar angin lalu yang memuakkan. "Kalau saja aku tidak menghormati Ibuku, peluruku sudah lebih dulu bersarang di kepalamu, Paman," ucap Dalton tanpa basa-basi. Suaranya rendah namun penuh ancaman yang nyata. Ia tak memberi ruang bagi Sam untuk menjawab. Kursi rodanya terus melaju masuk ke dalam rumah, melewati Sam begitu saja seolah pria itu hanyalah debu yang mengganggu pandangannya. Dalton tak peduli jika Sam merasa terhina di hadapan para penjaga. Maria yang sejak tadi menunggu, langsung bangkit dari duduknya. Wajahnya tampak cemas sekaligus tidak enak hati melihat perlakuan kasar putranya. "Dalton! B

  • Pesona Obsesi dan Dominasi Sang Mafia   Perhitungan yang Tertunda.

    Angel membeku di ambang pintu. Suara deheman Daniel barusan terdengar seperti lonceng kematian bagi ketenangannya. Ia perlahan berbalik, menatap Daniel yang kini memasang wajah sok lemah, padahal Angel tahu pria ini punya daya tahan tubuh seperti robot."Ada apa? tadi katanya lalat saja tidak berani mendekat karena kamu jamin keamanan ku? Sekarang mau ke kamar mandi saja minta bantuan?" sindir Angel tajam. Ia melipat tangan di dada, enggan mendekat.Daniel meringis, tangannya memegangi sisi perutnya yang terbebat perban. "Menabok lalat itu urusan nyali, Dokter. Tapi jalan ke kamar mandi dengan perut robek itu urusan gravitasi. Kamu mau jahitanku lepas lagi?""Dasar manja!" gerutu Angel. Dengan langkah terpaksa, Angel mendekati ranjang. Ia mengalungkan tangan Daniel ke bahunya. Saat tubuh tegap pria itu bersandar padanya, Angel baru sadar betapa berat dan padatnya otot Daniel. Aroma antiseptik bercampur wangi tubuh maskulin yang khas langsung menyerbu indra penciuman Angel, membuatnya

  • Pesona Obsesi dan Dominasi Sang Mafia   Pikiran Mesum

    Pintu kamar VVIP itu terbuka pelan, Ana melangkah masuk dengan senyum manis yang seketika mencairkan suasana tegang di antara Daniel dan Anggel. Ana membawa keranjang buah dan wadah berisi makanan rumahan yang aromanya langsung memenuhi ruangan. "Apakah aku datang di waktu yang salah? Apa aku mengganggu sesi konsultasi privat kalian?" goda Ana sambil melirik Angel yang wajahnya masih merah padam. Anggel mendengus kesal, apalagi Daniel masih menatap intens seolah hendak menyerangnya. Perkataan Ana tentang keluarga Obsidian yang 'kuat' tiba-tiba berkelebat di kepalanya. Pikiran liar kini memenuhi rongga kepala Anggel. "Oh, no Anggel. Kenapa kepala kamu isinya mesum begini," Anggel menggelengkan kepala. Dia tersadar dan melihat Ana sedang menatapnya penuh tanda tanya. "Ana!" Angel langsung menghampiri Ana, "Tolong kasih tahu suamimu itu, jangan seenaknya memonopoli dokter! Aku punya pasien lain, An! Aku nggak bisa terus menerus berada di kamar ini." Ana tertawa kecil, ia meletakkan

  • Pesona Obsesi dan Dominasi Sang Mafia    Dapat Dibeli.

    Anggel berdiri di hadapan Gunawan, kepala rumah sakit, dengan napas memburu, ada kilat resah juga gelisah di setiap hembusan napasnya. Rupanya persahabatannya dengan Ana sekejap terasa seperti kutukan medis pagi ini, kebahagiannya bertemu kembali dengan Ana seperti ancaman."Pak, ini tidak masuk akal! Saya ini dokter spesialis bedah umum, jadwal saya padat! Kenapa saya harus menjadi dokter pribadi full-time hanya untuk pasien di kamar VVIP itu?" Angel memprotes dengan wajah memerah.Selama ini dia menghormati Pak Gunawan, tapi kali ini Pak Gunawan bertindak sewenang-wenang, melakukan persetujuan tanpa meminta pendapatnya terlebih dahulu.Gunawan mengelap kacamata perlahan, ada rasa sungkan tapi terpaksa dia lakukan demi karir yang lebih bagus. Ia bahkan tidak berani menatap mata Angel. "Dokter Angel, tolong mengertilah.""Mengerti? mengerti untuk apa, Pak? bapak tidak bisa seenaknya memerintah, saya di sini bekerja, ada kontrak kerjanya. Saya bukan dokter pribadi di rumah sakit ini."

  • Pesona Obsesi dan Dominasi Sang Mafia   Keluarga Obsidian.

    Di sudut kantin rumah sakit yang menghadap ke taman, Ana dan Angel duduk berhadapan. Di antara mereka ada dua cangkir kopi yang mengepul dan sepiring camilan yang hampir tidak disentuh. Keheningan sempat menyelimuti mereka selama beberapa saat, seolah keduanya masih tidak percaya bahwa takdir mempertemukan mereka kembali di sini. "Aku masih merasa ini mimpi, Ana," Angel memecah kesunyian, jemarinya mengaduk kopi perlahan. "Aku pikir kamu sudah mati di habisi lelaki itu!" Bola mata Anggel melebar menatap mata Ana yang sedikit menyipit karna tersenyum. "Dia mengobrak abrik klinik ku, semua pasienku kabur, aku bangkrut, beruntung rumah sakit ini menerimaku bekerja tanpa kesulitan berarti." Anggel menghela napas mengingat kebrutalan Dalton waktu itu."Sekarang dia duniaku, Nggel." "Kamu baik-baik saja kan, An. Kamu tetap waras kan?" Ana menggeleng. "Awalnya berat banget Nggel, aku hampir dibuat gila olehnya."Bibir Anggel membentuk huruf O, dia hanya diam menanti Ana melanjutkan cerit

  • Pesona Obsesi dan Dominasi Sang Mafia   Cemburu

    Elena tertawa kecil, berdiri dan melangkah mendekat. Ia mengabaikan Ana sepenuhnya, matanya terpaku pada Dalton. "Aku mendengar Silas sudah mati. Kupikir kau butuh seseorang yang benar-benar tahu cara merayakan kemenanganmu. Seseorang yang tahu setiap inci tubuhmu, seseorang yang Isa menyenangkan

  • Pesona Obsesi dan Dominasi Sang Mafia   Terkejut.

    Aula pertemuan di markas pusat Obsidian berbau cerutu mahal, kulit, dan ketegangan yang pekat. Dua belas Kapten paling berpengaruh duduk mengelilingi meja jati raksasa. Mereka adalah pria-pria yang tangannya sudah terlalu sering memegang senjata, dan wajah mereka penuh dengan bekas luka pengkhian

  • Pesona Obsesi dan Dominasi Sang Mafia   Menenangkan Ayah.

    Pintu kamar utama yang terbuat dari kayu jati hitam tertutup rapat, meredam seluruh kebisingan dunia luar. Ana berdiri mematung di tengah ruangan yang luas itu. Ia belum melepas jaket kulitnya, tangannya masih terasa kaku. Kalimat ayahnya yang mengatakan, Tatapannya kini seperti tatapan seorang pe

  • Pesona Obsesi dan Dominasi Sang Mafia   Kelinci Cantik

    Layar digital di kabin jet menampilkan cetak biru pelabuhan pusat. Dalton berdiri dengan tangan bersedekap, matanya tak lepas dari titik merah yang menandakan posisi Silas. "Silas ingin aku datang menyerah," suara Dalton berat, menggetarkan dinding jet. "Dia ingin aku berlutut di depa

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status