LOGINSeno membawa Rindu menuju kamar gadis itu yang terletak di lantai dua. Sesekali keduanya terlibat aksi saling cium dengan begitu liar. Baik Rindu maupun Seno tak ingin mengalah satu sama lain. Membuat suasana di antara mereka semakin memanas. Pelukan Rindu di leher kokoh Seno terlepas kala pria itu membaringkan tubuhnya di atas ranjang. Netra mereka saling bertemu dengan gairah yang sama-sama menggebu. Wajah Seno menunduk, menempelkan keningnya dengan kening Rindu. Lalu bibirnya bergerak menyesap bibir bawah gadis itu dengan lembut. Dan Rindu dengan senang hati menyambut ciuman tersebut. Tangan Seno dengan terampil melepaskan pakaian yang melekat di tubuh Rindu. Menyisakan gadis itu dalam keadaan yang benar-benar polos. Rindu yang tidak ingin kalah, lantas ikut membantu Seno melepaskan pakaiannya. Membuat keadaan pria itu kini sama dengan dirinya. Seno menyeringai lebar memindai tubuh Rindu dari puncak kepala hingga ujung kaki dengan tatapan penuh minat. Visualnya masih sama sepe
Rindu tidak dapat menahan senyum leganya setelah pulang dari rumah Rudi. Tadinya dia merasa takut dan ragu untuk mengatakan semuanya pada sahabat ayahnya itu. Tapi setelah Seno memberikan dukungan dan nasihat, Rindu akhirnya memberanikan diri untuk datang ke rumah Rudi. "Kamu terlihat bahagia sekali." celetuk Seno yang tengah menyeduh kopi untuk dia minum. Saat ini mereka tengah berada di dapur setelah pulang dari rumah Rudi. Sebelumnya Rindu sudah menawarkan diri untuk membuatkannya, tapi Seno menolak karena tidak ingin Rindu merasa kelelahan. Benar-benar protektif sekali paman satu ini. Atensi Rindu beralih menatap Seno yang berdiri di sebrang meja. Gadis itu menatap kekasih tuanya sembari mengulas senyum lebar. "Tentu saja, Paman. Rindu merasa lega karena sudah jujur pada Om Rudi. Apalagi beliau juga memberikan restu pada kita." tutur Rindu kembali tersenyum. Mengingat pertemuan mereka dengan Rudi beberapa waktu lalu. Seno menimpalinya dengan sebuah anggukan. Pria itu lalu mem
"Paman yakin kita langsung masuk saja?" tanya Rindu menatap ragu pada pintu rumah yang terbuka lebar di depannya saat ini. Seno mengangguk dengan mantap. Tidak ada keraguan di sorot matanya saat ini. Tekadnya sudah benar-benar bulat. Rindu menghela napas pelan sebelum masuk ke dalam rumah yang dua hari lalu dia singgahi. Tentunya bersama Seno yang mengekor di belakangnya. "Sore, Om Rudi." sapa Rindu ketika melihat kedatangan Rudi. Rudi mengangguk singkat tanpa suara, dahinya mengernyit ketika mendapati sosok yang tidak asing datang ke rumahnya bersama Rindu. "Kamu datang bersama Seno, Nak?" tanya Rudi heran. Rindu mengangguk kecil dengan senyum tipis. Gadis itu berusaha untuk tidak memperlihatkan raut gelisah di depan Rudi saat ini. "Ada yang ingin Rindu ceritakan pada Om Rudi." kata Rindu mencoba untuk bersikap tenang. Tak ada lagi balasan yang Rudi berikan selain mengangguk. Memberikan waktu Rindu untuk bercerita padanya. Rindu menatap ke arah Seno sebentar, sebelum memulai
Rindu tampak terusik di dalam tidurnya ketika merasakan usapan lembut pada puncak kepalanya. Dengan setengah malas dia memaksa kedua matanya untuk terbuka. "Sudah bangun?" tanya Seno dengan suara serak namun pelan. Rindu hanya bergumam kecil dan ingin kembali menenggelamkan wajahnya di dada bidang Seno yang terasa nyaman. Namun gadis itu dibuat mendengus karena Seno menahannya agar tetap bangun. "Rindu masih mengantuk, Paman." gumam Rindu setengah sadar. Seno terkekeh geli dan mencubit pipi gadis itu gemas. "Kita harus segera berkemas, Sayang." kata Seno lagi menatap Rindu yang merajuk. Dengan lembut Seno mengusap sisi wajah Rindu. Menyingkirkan helaian rambut sang gadis yang menutupi sebagian wajahnya. Lalu mendaratkan kecupan panjang di keningnya. Rindu yang mendapat perlakuan romantis tersebut seketika membuka kedua matanya lebar. Membuat Seno terkekeh geli sembari menarik wajahnya menjauh. "Kamu bisa melanjutkannya nanti di perjalanan, Sayang." kata Seno dengan senyum meng
"Paman kembali?" lirih Rindu merasa tak percaya dengan kehadiran Seno di sampingnya.Pria itu menoleh ke arah Rindu dengan tatapan tak terbaca, sebelum kembali menatap penuh ke arah pemuda yang ada di depannya.Romi tampak menampilkan raut tercengang. Netranya menatap tangan Seno yang tengah merangkul pinggang Rindu dengan tatapan memicing. "Anda siapa? Kenapa Anda selalu mengganggu saya dan Rindu?" tanya Romi dengan kesal. Masih belum meyakini akan ucapan Seno barusan. Baginya apa yang pria itu katakan hanya sebuah bualan saja.Seno mendecih pelan merasa lucu mendengar ucapan Romi."Apa ucapan saya tadi belum jelas? Saya calon suami Rindu." jawab Seno tanpa ragu.Kali ini gantian Romi yang mendecih sinis. Apa-apaan pria dewasa di depannya ini? Mengapa dia bisa mengaku sebagai calon suami Rindu.Tatapan Romi beralih ke arah Rindu yang tengah menatap Seno dengan sorot yang tidak bisa dijelaskan."Sebenarnya siapa dia, Rin? Kenapa dia selalu ganggu aku setiap ketemu kamu?" tanya Romi m
Rindu berbaring di atas ranjang kamarnya dengan posisi meringkuk. Dingin dan sendirian, itulah yang saat ini dia rasakan.Setelah pembicaraannya bersama Seno beberapa waktu lalu, pria itu entah pergi kemana. Rindu tidak mendapati sosoknya di segala penjuru rumahnya.Berbagai pikiran buruk berkecamuk di dalam hatinya saat ini. Tentang Seno yang akan meninggalkannya di saat dirinya tengah mengandung buah hati mereka. Dan Seno yang merasa begitu kecewa padanya dan tidak ingin bersamanya lagi.Hiks..Isakan kecil kembali terdengar dari bibir Rindu yang tampak bergetar. Gadis itu meremas bantal yang basah akan air matanya. Melampiaskan rasa sesak yang membelenggu dirinya saat ini.Rindu sadar jika apa yang terjadi saat ini merupakan balasan dari apa yang telah dia lakukan dulu. Awalnya dia memang berniat menjadikan Seno sebagai batu loncatan untuk merealisasikan balas dendamnya pada Hanum. Tapi siapa sangka jika dirinya justru ikut terjerat ke dalam pesona pria dewasa itu.Seno dengan sega
Pagi sekali Rindu sudah bangun dari tidurnya. Tak seperti biasanya yang dia akan dengan sengaja bangun siang, hari ini dia tampak sudah segar dengan wajahnya yang sedikit basah setelah mandi.Dengan kaos pendek berwarna sage dipadukan dengan rok mengembang sebatas lutut, Rindu keluar dari kamarnya.
Demi melancarkan aksi balas dendamnya, Rindu rela mengubur kekesalannya pada Seno. Setelah merenung di dalam kamarnya selama hampir satu jam, gadis itu akhirnya keluar dari kamarnya. Tujuannya saat ini adalah dapur. Dia ingin menarik perhatian Seno dengan membuatkannya secangkir kopi.Dengan raut w
Rindu terbahak-bahak setelah keluar dari ruangan pamannya, Seno. Gadis itu masih ingat bagaimana raut syok Seno setelah dia sempat mencium pipinya. Jujur saja Rindu merasa terhibur dengan segala reaksi yang pamannya itu berikan.Bersenandung kecil sembari memainkan kunci motor yang ada di tangannya
Seno dengan reflek menjatuhkan Rindu yang sejak tadi duduk di atas pangkuannya. Membuat gadis itu memekik dan mengaduh kesakitan karena bongkahan padatnya menghantam lantai dengan cukup keras."Aduhh.. Paman.." ringis Rindu.Seno yang tersadar sontak membantu Rindu untuk bangun. Lalu mendudukkan ga







