ログインDengan hati-hati Rindu membuka pintu ruangan Seno yang tertutup rapat. Kedua kaki mungilnya melangkah perlahan ketika mendapati sosok yang dia cari tengah terduduk di atas kursi kerjanya dengan mata terpejam.Tanpa disadarinya, Rindu tersenyum kecil melihat wajah Seno saat ini. Dia lantas mendekati pria itu dan berdiri di sisi kiri Seno. Lalu dengan tingkah malu-malu mendaratkan kecupannya di atas bibir pria itu.CupHanya kecupan singkat yang Rindu sematkan. Namun sepertinya gerakan kecil tersebut sudah mampu membuat Seno terusik di dalam tidurnya. Atau mungkin pria itu hanya sekedar memejamkan matanya saja?Begitu melihat kedua mata pria itu hendak terbuka, Rindu kembali menghadiahi Seno kecupan di bibir untuk yang kedua kalinya. Berbeda dengan tadi, kali ini Rindu sedikit menekan bibirnya dan mengecupnya cukup lama.Seno yang mendapatkan serangan tiba-tiba seperti itu tentu saja merasa terkejut. Dia refleks menahan kedua bahu Rindu. Membuat wajah mereka menjadi berjarak."Rindu." g
Seperti biasa, sore ini Rindu tengah sibuk mempersiapkan makan malam di dapur. Tidak seperti kemarin, Hanum kali ini juga ikut membantunya."Sebenarnya Bibi ingin bersantai saja di kamar." celetuk Hanum memecah keheningan. Wanita itu tengah memotong bawang bombai dan cabai hijau.Rindu yang tengah meniriskan daging sapi yang telah dia rebus lantas menoleh ke arah wanita itu sejenak."Lalu kenapa Bibi memaksa membantu Rindu memasak? Padahal Rindu hanya ingin membuat tumis daging cabai hijau saja." timpal Rindu sembari meletakkan daging sapi ke atas talenan kayu.Gadis itu beralih memindahkan kaldu bekas rebusan daging ke dalam panci kecil untuk dia simpan. Kaldu tersebut bisa dia gunakan lagi untuk memasak sayur besok. Sayang jika dibuang karena rasanya akan nikmat jika dicampur dengan bumbu-bumbu yang lain."Bibi tidak ingin dimarahi Pamanmu seperti kemarin. Padahal Bibi juga hanya beberapa hari saja tidak memasak. Tapi sudah dimarahi seperti itu." jelas Hanum mengeluarkan unek-unekny
Anggukan malu-malu yang Rindu berikan membuat senyum Seno seketika mengembang. Pria itu merasa gemas dan tak segan lagi untuk mencubit pipi gadis di depannya ini. Membuat wajah Rindu semakin merah padam.Seno akui dia memang sudah tidak waras karena mengajak keponakan istrinya sendiri untuk menjalin sebuah hubungan di belakang Hanum. Tapi hanya inilah satu-satunya cara yang dia pikirkan untuk bisa memiliki Rindu.Seno tahu jika apa yang dia rasakan pada gadis itu hanyalah sebuah nafsu. Tapi dia tidak peduli akan hal itu. Kali ini dia ingin egois. Rindu pasti juga sudah tahu jika apa yang mereka lakukan salah. Tapi gadis itu tetap menerima ajakannya untuk menjalin hubungan gelap di belakang bibinya. Hal itu menandakan jika Rindu juga menginginkannya.Hubungan ini didasari karena rasa tertarik satu sama lain. Seno yakin jika cintanya masih tetap pada istrinya, Hanum. Dan Rindu hanya dia jadikan sebagai pelampiasan saja.Jahat sekali. Tapi memang itulah yang Seno rasakan. Siapa yang tida
Seno dan Rindu saling berpandangan begitu mendengar suara ketukan pintu. Dengan raut panik keduanya segera membenahi penampilan mereka.Rindu dengan cepat memungut kaos dan penghalang yang sempat Seno buang di lantai. Memakainya dengan cepat dan asal-asalan. Dia lalu mengambil posisi duduk di atas sofa dengan ponsel yang ada di tangannya. Sedangkan Seno segera membuka pintu setelah melihat Rindu telah rapi."Ya? Oh kamu, Doni. Baru datang?" tanya Seno berusaha untuk bersikap tenang.Doni, salah satu karyawan yang bekerja di bengkel Seno hanya mengangguk kecil. Netranya lalu beralih menatap sosok Rindu yang tengah duduk di sofa sembari bermain ponsel. Gadis itu sama sekali tidak meliriknya."Begini, saya.."Seno mulai berbicara pada Doni sembari berjalan keluar dari ruangannya. Membuat pemuda itu mengikutinya dari belakang setelah mencuri pandang ke arah Rindu yang masih cuek.Seno mengatakan jika dirinya baru saja mengecek gudang. Dan meminta Doni untuk membeli beberapa peralatan dan
Jantung Rindu berdegup kencang kala merasakan tangan Seno yang menjalar naik menyapa gunung kembar miliknya. Kaos pendek yang dia kenakan telah ditanggalkan oleh pria itu. Hanya penutup dada berwarna hitam yang masih melingkar di punggungnya. Dan sepertinya benda itu sebentar lagi juga akan bernasib sama seperti kaosnya yang dibiarkan teronggok di lantai.Remasan kecil dapat Rindu rasakan ketika Seno mulai menggerakkan kedua tangannya di atas gunung kembarnya yang masih berpenghalang. Membuat sesuatu di dalam dirinya membuncah entah apa penyebabnya.Netra beningnya menatap tepat ke arah manik kelam Seno yang tengah diliputi kabut gairah. Dan hal itu sukses membuat dirinya merasa berdebar sekaligus senang. Suami bibinya itu sepertinya benar-benar telah terjerat akan permainannya. Dan Rindu tidak akan membiarkan Seno sampai lepas, sebelum balas dendamnya berhasil.Jahat. Benar, dia memang sangat jahat karena memanfaatkan Seno yang tidak tahu apa-apa. Rindu berani mengatakan jika Seno ti
Perjalanan menuju bengkel yang biasanya hanya memakan waktu tidak sampai sepuluh menit, entah kenapa terasa lama bagi Seno saat ini. Mungkin karena ada seorang gadis cantik yang duduk di jok belakang motornya. Sembari memeluk pinggangnya karena beralasan takut jatuh. Awalnya Seno menolak ketika Rindu menyelipkan kedua lengan kecilnya di antara pinggangnya. Memeluknya erat hingga membuat tubuh depan gadis itu menempel pada punggungnya. Namun gadis itu bersikeras ingin tetap memeluknya hingga dia merasa lelah sendiri berdebat. Dan akhirnya Seno membiarkan Rindu melakukan apapun yang dia mau. Dalam hati pria itu tak henti mengumpat karena merasakan gundukan kenyal yang menempel pada punggungnya ketika Rindu memeluknya dari belakang. Membuat pikirannya kembali ricuh karena godaan kecil itu. Seno merasa kesal dengan dirinya yang akhir-akhir ini mudah sekali terpancing. Padahal Rindu tidak melakukan apapun. Dan dia benar-benar menyalahkan otaknya yang selalu berpikir yang tidak-tidak pad







