Accueil / Romansa / Pesona Paman Seno / PPS | Sandiwara

Share

PPS | Sandiwara

Auteur: Karl Valerie
last update Date de publication: 2026-05-06 15:19:06

Rindu menatap langit-langit kamarnya dengan pandangan menerawang. Pikirannya berkelana mengingat apa yang baru saja dia lakukan bersama Seno beberapa waktu lalu.

Masih teringat jelas di benaknya ketika pria itu menyentuh setiap jengkal tubuhnya dengan sentuhan panas nan memabukkan. Membuat dirinya yang baru pertama kali ini merasakan hal tersebut menjadi tidak berdaya. Hingga akhirnya begitu pasrah diombang-ambing oleh gelora nafsu yang membara.

Jantungnya kembali berdebar mengingat perlakuan m
Continuez à lire ce livre gratuitement
Scanner le code pour télécharger l'application
Chapitre verrouillé

Latest chapter

  • Pesona Paman Seno   PPS | Sandiwara

    Rindu menatap langit-langit kamarnya dengan pandangan menerawang. Pikirannya berkelana mengingat apa yang baru saja dia lakukan bersama Seno beberapa waktu lalu.Masih teringat jelas di benaknya ketika pria itu menyentuh setiap jengkal tubuhnya dengan sentuhan panas nan memabukkan. Membuat dirinya yang baru pertama kali ini merasakan hal tersebut menjadi tidak berdaya. Hingga akhirnya begitu pasrah diombang-ambing oleh gelora nafsu yang membara.Jantungnya kembali berdebar mengingat perlakuan manis Seno setelah kegiatan mereka selesai. Pria itu dengan penuh perhatian memperbaiki kondisinya. Yang lemas karena pelepasan dahsyat yang menjadi hal baru bagi dia rasakan.Rindu pikir setelah Seno mendapatkan apa yang dia mau, pria itu akan langsung pergi meninggalkannya. Namun nyatanya Seno tetap tinggal, dan membersihkan tubuhnya dari rasa lengket yang membuatnya tidak nyaman.Kini ketika hari semakin beranjak malam dan hanya sunyi yang menemani, Rindu masih terjaga dengan manik beningnya y

  • Pesona Paman Seno   PPS | Enak, Paman [+]

    Wajah Rindu menengadah, dengan bibir setengah terbuka merasakan sentuhan hangat yang hinggap di antara kedua kakinya. Gadis itu tak berhenti merintih, dengan sebalah tangan mungilnya yang meremas rambut seorang pria dewasa yang tengah berjongkok di depannya.Sebelah kaki jenjangnya telah berada di atas pundak Seno. Membuat posisinya terlihat sangat terbuka dan nakal. Apalagi dengan kondisi dirinya yang tak berpakaian.Emnh..Rintihan kembali keluar dari bibir Rindu saat sang paman memainkan lidahnya dengan begitu handal di pusat tubuhnya. Jilatan dan hisapan yang Seno berikan, membuatnya tak mampu lagi untuk menahan suaranya."Ahh.. kenapa rasanya seperti ini, Paman?" tanya Rindu dilanda kebingungan. Bagaimana bisa dia merasakan kenikmatan semacam ini hanya dengan permainan lidah Seno?Sulit untuk menjelaskan bagaimana rasa nikmat ini menderanya. Tak ada kata yang bisa dia ungkapkan untuk menggambarkan kenikmatan yang Seno berikan padanya.Awalnya, raga Rindu bisa menolak rasa baru ya

  • Pesona Paman Seno   PPS | Terbuai [+]

    Kedua insan berbeda usia itu saling bertukar saliva dengan mesra. Kedua netra mereka saling terpejam. Menikmati sensasi basah nan lembut yang tercipta dari sebuah ciuman yang mereka lakukan.Seno menekan punggung Rindu, merapatkan tubuh mungil itu pada tubuh jangkungnya. Membuat gesekan pada dada mereka kian terasa. Dan berhasil membakar gairah keduanya.Tangan Seno yang lain, turun menangkup sebelah bongkahan padat Rindu. Meremasnya gemas dan sesekali menamparnya.Pekikan Rindu teredam sesaat ketika dia merasakan tamparan pada pantatnya. Netranya membola, menatap Seno dengan penuh keterkejutan.Plop"Paman.." Rindu berusaha keras menahan suaranya agar tidak terdengar keras.Bukannya takut melihat Rindu yang melotot ke arahnya, Seno justru terkekeh geli tanpa rasa bersalah. Baginya melihat Rindu yang berekspresi demikian membuat dirinya merasa terhibur."Tangan Paman nakal sekali." omel Rindu dengan bibir mengerucut.Seno mencomot bibir Rindu tanpa dosa. Membuat gadis itu kembali memb

  • Pesona Paman Seno   PPS | Terlambat Pulang

    Permainan yang awalnya dikatakan sebentar ternyata berlangsung cukup lama. Ketika Seno melepaskan sang keponakan, hari sudah berubah menjadi gelap. Jam dinding yang ada di ruangannya telah menunjukkan pukul 6 lewat 20 menit."Paman benar-benar sangat puas, Sayang." kata Seno dengan wajah sumringah.Ditatapnya kedua gunung kembar Rindu yang penuh dengan jejak-jejak merah karyanya. Juga kedua puncak yang tampak lecet karena terlalu lama dia mainkan.Rindu sedikit meringis merasakan kebas pada kedua puncak dadanya. Hampir satu jam dia membiarkan Seno menyusu pada kedua gunung kembarnya. Dan berakhir dengan puncaknya yang lecet karena ulah pria itu."Maaf, Sayang. Paman terlalu kasar memainkannya. Paman benar-benar merasa gemas sampai tidak bisa menahan diri." ujar Seno yang menyadari kesakitan Rindu.Gadis itu menggeleng lirih sembari mengusap bibir Seno yang tampak mengkilap karena saliva. Walau pun dia merasa jijik dengan apa yang telah terjadi. Namun tidak dapat dipungkiri jika dia ju

  • Pesona Paman Seno   PPS | Bermain Sebentar [+]

    Dengan hati-hati Rindu membuka pintu ruangan Seno yang tertutup rapat. Kedua kaki mungilnya melangkah perlahan ketika mendapati sosok yang dia cari tengah terduduk di atas kursi kerjanya dengan mata terpejam.Tanpa disadarinya, Rindu tersenyum kecil melihat wajah Seno saat ini. Dia lantas mendekati pria itu dan berdiri di sisi kiri Seno. Lalu dengan tingkah malu-malu mendaratkan kecupannya di atas bibir pria itu.CupHanya kecupan singkat yang Rindu sematkan. Namun sepertinya gerakan kecil tersebut sudah mampu membuat Seno terusik di dalam tidurnya. Atau mungkin pria itu hanya sekedar memejamkan matanya saja?Begitu melihat kedua mata pria itu hendak terbuka, Rindu kembali menghadiahi Seno kecupan di bibir untuk yang kedua kalinya. Berbeda dengan tadi, kali ini Rindu sedikit menekan bibirnya dan mengecupnya cukup lama.Seno yang mendapatkan serangan tiba-tiba seperti itu tentu saja merasa terkejut. Dia refleks menahan kedua bahu Rindu. Membuat wajah mereka menjadi berjarak."Rindu." g

  • Pesona Paman Seno   PPS | Menjemput Seno

    Seperti biasa, sore ini Rindu tengah sibuk mempersiapkan makan malam di dapur. Tidak seperti kemarin, Hanum kali ini juga ikut membantunya."Sebenarnya Bibi ingin bersantai saja di kamar." celetuk Hanum memecah keheningan. Wanita itu tengah memotong bawang bombai dan cabai hijau.Rindu yang tengah meniriskan daging sapi yang telah dia rebus lantas menoleh ke arah wanita itu sejenak."Lalu kenapa Bibi memaksa membantu Rindu memasak? Padahal Rindu hanya ingin membuat tumis daging cabai hijau saja." timpal Rindu sembari meletakkan daging sapi ke atas talenan kayu.Gadis itu beralih memindahkan kaldu bekas rebusan daging ke dalam panci kecil untuk dia simpan. Kaldu tersebut bisa dia gunakan lagi untuk memasak sayur besok. Sayang jika dibuang karena rasanya akan nikmat jika dicampur dengan bumbu-bumbu yang lain."Bibi tidak ingin dimarahi Pamanmu seperti kemarin. Padahal Bibi juga hanya beberapa hari saja tidak memasak. Tapi sudah dimarahi seperti itu." jelas Hanum mengeluarkan unek-unekny

Plus de chapitres
Découvrez et lisez de bons romans gratuitement
Accédez gratuitement à un grand nombre de bons romans sur GoodNovel. Téléchargez les livres que vous aimez et lisez où et quand vous voulez.
Lisez des livres gratuitement sur l'APP
Scanner le code pour lire sur l'application
DMCA.com Protection Status