Share

Bab 3

last update publish date: 2026-07-08 14:50:20

"Ma-maksudnya apa, Pak?" tanya Nadya ketakutan.

Johan tidak langsung menjawab.

Dia justru bersandar dengan santai pada tepian meja, lalu melipat kedua tangannya di depan dada, hingga membuat otot-otot lengannya tercetak semakin kekar.

"Kamu bekerja di sini karena sudah tidak punya tempat tinggal lagi, kan?" tanya Johan dengan nada datarnya.

Nadya tertegun, dengan bola matanya yang bulat melebar cemas. Tak lama kemudian, dia pun mengangguk pelan secara refleks.

“I-iya betul, Pak.”

"Lalu, kalau hari ini aku memecat kamu karena kelancangan kamu tadi, kamu mau tinggal di mana?"

Pertanyaan retoris itu seketika memicu kepanikan massal di kepala Nadya. Bayangan harus menggelandang di jalanan kota metropolitan yang kejam langsung berputar di benaknya.

Nadya sadar betul posisinya di dunia ini begitu rapuh; dia sebatang kara dan rumah mewah ini adalah satu-satunya tempat bernaung yang dia miliki saat ini.

"Ta-tapi, Pak, saya mohon... jangan pecat saya," Nadya langsung memohon dengan suara parau, kedua tangannya bertaut di depan dada secara spontan.

Setitik air mata kecemasan mulai menggenang di pelupuk matanya, membuat penampilannya malam itu terlihat semakin ringkih dan mengundang naluri dominasi Johan.

"Saya minta maaf yang sebesar-besarnya, Pak. Saya bersumpah tidak akan pernah mengintip lagi. Saya tidak sengaja, tadi saya benar-benar hanya ingin ke dapur..."

"Tapi kamu tetap melihatnya, Nadya. Kamu melihat apa yang tidak seharusnya dilihat oleh seorang pelayan," potong Johan.

Alih-alih membentak, Johan justru mengintimidasi Nadya dengan ucapan-ucapan yang sangat tenang, dingin, dan tertata rapi.

Nada suaranya yang stabil justru seribu kali lebih mengerikan daripada amukan badai.

Pria itu mengunci tatapan Nadya, membiarkan aura superioritasnya menekan mental wanita muda itu hingga ke titik terendah.

"Saya masih sangat butuh tempat tinggal ini, Pak. Tolong kasihanilah saya," ratap Nadya lagi, bahkan mengabaikan harga dirinya yang mulai terkikis.

Dia tidak punya pilihan lain.

"Kalau saya dipecat sekarang, saya tidak tahu harus ke mana. Pulang ke kampung pun sangat jauh, dan saya... saya tidak punya ongkos yang banyak untuk membeli tiket kereta. Tabungan saya belum cukup."

Mendengar ketidakberdayaan yang keluar murni dari mulut Nadya, kilat kepuasan yang samar melintas di sepasang mata elang Johan.

Pria itu menyukai fakta bahwa dia memegang kendali penuh atas hidup dan nasib wanita di depannya.

Ego maskulinnya yang beberapa menit lalu sempat tercoreng oleh makian Lyra, kini perlahan-lahan pulih dan terasa melambung kembali berkat kepasrahan Nadya.

Johan mengubah posisi berdirinya. Dia melangkah maju satu demi satu, sangat lambat, seolah sengaja menikmati setiap jengkal ketakutan yang terpancar dari tubuh mungil Nadya yang bergetar.

"Kamu tahu, di luar sana ada ribuan orang yang mengantre untuk menggantikan posisi kamu di rumah ini. Orang-orang yang jauh lebih patuh, dan yang paling penting, tidak lancang menggunakan mata mereka," ucap Johan dengan nada rendah, kini jaraknya hanya menyisakan satu langkah dari Nadya.

"Saya berjanji akan melakukan apa saja, Pak!" potong Nadya cepat, matanya menatap Johan penuh harap bercampur rasa takut yang amat sangat.

"Apa saja... asalkan Bapak jangan memecat saya. Saya janji, saya bersumpah, tidak akan pernah berbuat lancang lagi di rumah ini. Tolong beri saya satu kesempatan lagi, Pak Johan."

Mendengar kalimat "akan melakukan apa saja", Johan menghentikan langkahnya tepat di hadapan Nadya.

Keheningan yang mencekam kembali merayap di antara mereka selama beberapa detik yang terasa seperti keabadian bagi Nadya.

Tatapan Johan bergerak turun, menilai kembali daster longgar Nadya yang bergetar tipis mengikuti ritme napasnya yang memburu.

Sebuah senyuman tipis bahkan hampir tak kentara dan sarat akan maksud tersembunyi, terukir di sudut bibir Johan.

Janji kepatuhan mutlak yang baru saja diucapkan oleh pelayannya adalah senjata makan tuan yang memang dia tunggu-tunggu sejak awal.

Pria bertubuh tegap itu menundukkan kepalanya, mendekatkan wajahnya yang rupawan hingga helai rambutnya menyentuh dahi Nadya.

Aroma maskulin yang magis kembali membius kesadaran Nadya, mengunci kakinya agar tetap mematung di tempat.

"Apa saja?" bisik Johan, mengonfirmasi dengan nada yang teramat berat dan serak tepat di depan wajah Nadya.

Nadya yang sudah terpojok dan tidak memiliki daya tawar apa pun hanya bisa mengangguk pelan dengan pasrah. "I-iya, Pak. Apa saja."

Johan lantas menarik sudut bibirnya lebih lebar.

Dia pun memiringkan wajahnya, lalu berbisik dengan suara baritonnya yang sangat rendah, mengantarkan sensasi menggelitik yang aneh sekaligus berbahaya ke seluruh syaraf di tubuh Nadya.

"Kalau begitu, datang ke ruang kerjaku jam 10 malam."

Continue to read this book for free
Scan code to download App
Comments (1)
goodnovel comment avatar
Lidia Mangunsong
Masukan : Kalimat² Tak Lgs-nya trlalu ber-tele² & berulang, shingga pembaca keburu bosan mnunggu klimaks dari stiap peristiwanya. Akibatnya pembaca sdh tau & mnebak trlebih dahulu apa yg akan trjadi. Pdhl kalimat Lgs-nya (dialog antar tokoh) sdh cukup bagus.
VIEW ALL COMMENTS

Latest chapter

  • Pesona Pelayan Tuan Muda   Bab 188

    Sinar mentari pagi menyiram pelataran rumah utama dengan pendar hangat yang begitu menenangkan.Suasana di kediaman mewah itu tampak jauh lebih semarak dari biasanya. Deretan karangan bunga segar bernuansa putih dan biru lembut berjajar rapi di sepanjang lobi teras, menyebarkan aroma harum yang memanjakan penciuman.Dekorasi pita dan balon-balon kustom bertuliskan "Welcome Home, Jevas Alendra" menghiasi koridor utama, menyambut kepulangan sang pewaris kecil yang amat dicintai.Mobil sedan hitam mewah milik Johan berhenti perlahan tepat di depan lobi. Juan dengan sigap membukakan pintu belakang.Johan keluar lebih dulu, lalu bergerak dengan sangat perlahan dan kehati-hatian tinggi untuk membantu Nadya turun seraya menggendong Jevas yang terbungkus rapi dalam selimut katun lembut.Para ART dan staf rumah tangga berdiri berjejer rapi di teras, menyambut kepulangan mereka dengan senyum mekar dan raut wajah bahagia."Selamat datang kembali di rumah, Pak Johan, Bu Nadya, dan Den Jevas..." s

  • Pesona Pelayan Tuan Muda   Bab 187

    Pendar hangat mentari pagi menyusup lembut di antara celah tirai tipis ruang perawatan VIP yang bernuansa elegan dan tenang.Aroma wangi bunga segar berpadu dengan keharuman khas minyak telon bayi, menguar lembut memenuhi setiap sudut ruangan.Di atas ranjang medis bernuansa putih bersih, Nadya bersandar rileks pada tumpukan bantal empuk.Wajah cantiknya tampak sedikit pucat pasca-perjuangan hebat melahirkan, namun aura keibuan nan anggun yang memancar dari binar matanya membuat pesonanya kian memikat hati.Di samping ranjang, sebuah box bayi porselen berbantal sutra terhias rapi, menyajikan pemandangan paling indah dalam hidup pasangan tersebut.Namun pagi itu, sang bayi mungil yang telah dibersihkan dan terbedung kain katun lembut berwarna putih tidak sedang terbaring di dalam box. Bayi merah itu tengah berada rapat di dalam garapan lengan tegap milik ayah kandungnya.Johan duduk berlutut tepat di samping ranjang Nadya. Lengan kokohnya yang biasa mengeksekusi dokumen-dokumen penting

  • Pesona Pelayan Tuan Muda   Bab 186

    Koridor rumah sakit privat bernuansa putih bersih itu terasa begitu sepi dan mencekam di bawah pendar lampu neon yang dingin. Jarum jam menunjukkan pukul 04.15 pagi.Di dalam ruang persalinan eksklusif, Nadya sudah terbaring di atas ranjang medis, berjuang melewati gelombang kontraksi yang makin rapat dan hebat demi menunggu pembukaan rahimnya lengkap.Di luar ruangan, atmosfer tak kalah tegang. Johan, yang sempat keluar sebentar saat dokter memeriksa pembukaan jalan lahir, tampak berjalan bolak-balik di atas lantai marmer bagaikan orang kesetanan.Kemeja santai yang dikenakannya tampak kusut, rambut lebatnya berantakan, dan wajah tampannya berpeluh dingin.Pria tegap itu tak berhenti mengusap wajahnya yang tegang luar biasa, memancarkan kepanikan yang berada di puncaknya.Juan, yang berdiri tak jauh dari situ seraya memegang ponsel dan berkas rumah sakit, mencoba memberanikan diri untuk menenangkan bos besarnya."Tenang, Pak Johan... Semuanya akan berjalan lancar," ujar Juan dengan n

  • Pesona Pelayan Tuan Muda   Bab 185

    Dini hari bertaut dingin menyelimuti kediaman utama. Suasana di dalam kamar tidur utama yang temaram oleh pendar lampu dinding bernuansa keemasan semula terasa teramat hening dan damai.Jarum jam dinding buatan Swiss menunjuk tepat di angka 02.30.Di atas peraduan king-size, Johan tidur lelap dengan satu lengan tegapnya melingkar protektif di sekeliling tubuh Nadya, menjaga wanita tercintanya yang tengah hamil tua.Namun, keheningan malam itu seketika pecah saat sebuah sentakan rasa sakit yang luar biasa menghantam perut bagian bawah Nadya."Nghh... M-Mas... Mas Johan..." ringis Nadya parau.Nadya terbangun dengan napas memburu, kedua tangannya mencengkeram erat lengan tegap suaminya.Rasa mulas yang teramat pekat datang bergulung-gulung bagaikan gelombang dahsyat, mencengkeram rahimnya tanpa ampun. Keringat dingin seketika membasahi pelipis dan dahinya.Bersamaan dengan itu, Nadya merasakan pendar cairan hangat mulai merembes tipis membasahi pakaian dan seprai sutra di bawah tubuhnya

  • Pesona Pelayan Tuan Muda   Bab 184

    Usia kehamilannya kini telah menginjak trimester ketiga.Perut mulusnya yang dahulu rata, kini telah membuncah besar dan menggelembung indah, menandakan makin dekatnya momen pembuka dari kebahagiaan mereka.Untuk menjaga kebugaran tubuh serta memperlancar proses persalinan kelak, Nadya rutin melakukan aktivitas fisik ringan dan senam hamil di bawah pengawasan instruktur pribadi.Namun, yang membuat suasana pagi itu terasa amat istimewa sekaligus menggelitikadalah sosok tegap yang setia berada di sampingnya.Johan. Pria perkasa berkedudukan tinggi yang disegani di jagat bisnis nasional itu, rela membatalkan tiga agenda rapat penting luar kantor demi bekerja dari rumah.Semuanya dilakukan hanya demi satu alasan mutlak: menemani sang ratu berlatih yoga pagi.Tak ada setelan jas hitam kaku, kemeja serat halus, atau dasi sutra yang biasa melekat di tubuh kokohnya.Pagi ini, Johan mengenakan kaos olahraga santai berwarna abu-abu yang mencetak dada bidangnya, berpadu dengan celana training h

  • Pesona Pelayan Tuan Muda   Bab 183

    Di dalam mobil sedan mewahnya, Johan mengembuskan napas lega.Perasaan ringan kini melapisi dadanya, seluruh sisa masa lalu dan benalu bernama Lyra telah tuntas diselesaikan secara bersih melalui jalur hukum Randy. Tak ada lagi celah, tak ada lagi ikatan.Begitu mobil berhenti sempurna di depan lobi utama, Johan tak membuang waktu.Pria tegap itu melangkah lebar masuk ke dalam rumah, langsung melangkah menuju lantai dasar tempat jantung kehangatan rumah tangganya berada. Pikirannya hanya dipenuhi satu nama: Nadya.Namun, alih-alih menemukan istrinya tengah beristirahat santai di kamar tidur utama atau ruang keluarga, aroma harum pandan nan manis yang menguar kuat justru menuntun langkah Johan menuju area dapur utama yang berlantai marmer bersih.Di sana, di dekat kitchen island berbahan granit hitam, berdiri sosok anggun yang membuat pendar mata Johan seketika terkunci.Nadya tampak mengenakan celemek kain bermotif bunga-bunga kecil. Rambut hitamnya diikat asal ke belakang, menyisakan

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status