تسجيل الدخولMalam pun tiba. Jam di dinding sudah menunjukkan pukul sembilan lewat lima belas menit. Mau tak mau, Nadya harus melangkahkan kakinya menuju kamar tamu di lantai bawah.Malam ini, dia terpaksa memakai satu-satunya mini daster yang dia miliki, sebuah daster satin tipis berwarna merah muda pudar yang panjangnya hanya mencapai pertengahan paha, memperlihatkan kaki jenjangnya yang mulus.Sepanjang koridor, Nadya menggerutu pelan dengan suara yang teramat lirih. Dia merutuki nasibnya yang malang.Bisa-bisanya dia terperangkap dalam situasi gila ini dan berakhir menjadi pemuas nafsu pria itu. Nadya membuka pintu kamar tamu yang tidak dikunci, lalu masuk dan menutupnya kembali dengan rapat.Nadya berjalan mendekat dan duduk di tepi tempat tidur yang luas. Di seberang ranjang, terdapat sebuah cermin besar yang memantulkan bayangan dirinya secara utuh.Nadya menatap pantulan dirinya sendiri di sana. Pikirannya melayang pada betapa sial nasibnya kini; sebatang kara di kota besar, dan sekarang h
Di pagi harinya, Nadya berdiri di depan jemuran besi, tangannya yang masih sedikit gemetar menjepit selembar handuk putih milik Johan.Matanya tampak agak sembap karena kurang tidur. Semalaman penuh, pikirannya dipenuhi oleh memori penyatuan panas yang terjadi di kamar tamu bawah.Tubuhnya masih menyisakan rasa pegal yang asing, mengingatkannya pada setiap inci sentuhan posesif sang majikan yang kini telah merenggut kesuciannya.Saat Nadya baru saja hendak mengangkat selembar kemeja dari dalam keranjang pakaian, sepasang lengan kekar tiba-tiba melingkar erat di pinggangnya dari arah belakang.Deg!Aroma maskulin yang begitu familier bercampur wangi sabun mentol segar langsung menyerbu indra penciuman Nadya. Tubuh mungilnya tersentak kaget, nyaris menjatuhkan jepitan baju di tangannya.Punggungnya langsung bergesekan erat dengan dada bidang Johan yang keras dan tegap.Pria itu tampaknya baru saja selesai mandi, hanya mengenakan kaus rumahan abu-abu tipis yang memperlihatkan lekuk otot
"Akh!"Nadya memekik tertahan, dengan air matanya seketika meleleh membasahi sudut mata begitu rasa nyeri yang luar biasa menghantam pusat kesadarannya.Rasa sakit yang tajam dan menghentak itu terasa begitu nyata saat milik Johan yang berukuran besar memaksa masuk, menembus batasan paling suci yang selama ini dia jaga dengan taruhan harga diri.Tubuh mungil Nadya spontan menegang hebat, kakinya gemetar di bawah kungkungan tubuh kekar sang majikan.Johan menghentikan gerakannya seketika. Sepasang mata elangnya melebar, menatap Nadya dengan kilat keterkejutan yang mendalam sebelum akhirnya berubah menjadi binar kepuasan yang luar biasa maskulin.Betapa beruntungnya pria itu malam ini; di balik daster batik murah dan kepolosan pelayannya, ternyata Nadya masih seorang gadis.Dia adalah orang pertama yang menancapkan bendera kekuasaan di atas tubuh suci tersebut."Sshh... tenang, Nadya. Buka mata kamu," bisik Johan sembari mengusap lembut sisa air mata di pipi pelayannya dengan ibu jari,
Tanpa menunggu jawaban atau persetujuan dari bibir Nadya yang sudah mengunci rapat, Johan mencekal pergelangan tangan wanita itu dengan cengkeraman yang mutlak.Dia menarik tangan Nadya, menuntun langkah pelayan mudanya yang ringkih itu masuk kembali ke dalam rumah, melewati koridor terang, dan membawanya langsung ke dalam kamar tamu lantai bawah yang sunyi.Cklek.Pintu kamar ditutup dan dikunci dari dalam, menyegel takdir Nadya di bawah kuasa penuh sang majikan. Kamar tamu itu mendadak terasa begitu sempit begitu tubuh tinggi besar Johan mendominasi ruangan.Nadya mundur hingga punggungnya membentur tepian ranjang berukuran king size, menatap Johan dengan sepasang mata yang dipenuhi kepanikan murni.Johan maju selangkah dan menatap Nadya yang napasnya memburu tidak teratur. "Tenang, Nadya. Jangan gemetar seperti itu," ucap Johan."Malam ini, aku akan membuktikan kepada kamu... bahwa aku bukan pria lemah. Aku bukan pria yang menyerah dalam dua menit seperti yang kamu dengar sore tadi
Cengkeraman tangan Johan di belakang tengkuk Nadya semakin mengerat, menarik perlahan namun pasti wajah wanita muda itu agar semakin mendekat.Nadya bisa merasakan embusan napas Johan yang memburu, hangat dan sarat akan tuntutan yang mutlak.Jantung Nadya berdentum begitu keras hingga terasa menyakitkan di dadanya. Dia memejamkan mata rapat-rapat, memasrahkan diri pada nasib yang sebentar lagi akan merenggut batasan terakhir di antara mereka.Namun, tepat saat bibir Johan baru saja hendak menyentuh ranum bibir Nadya, seluruh ruangan mendadak gulita.Klik!Suara saklar otomatis yang memutus aliran listrik terdengar bersamaan dengan padamnya seluruh lampu di rumah mewah tersebut. Ruang kerja yang semula temaram seketika tenggelam dalam kegelapan total yang pekat."Ah!" Nadya memekik kaget, tubuh mungilnya tersentak ke belakang akibat keterkejutan yang instan."Sialan!" Johan mengumpat sejadi-jadinya.Suaranya yang biasa tenang kini menggelegar dipenuhi amarah dan frustrasi yang memuncak
Pukul sembilan lewat lima puluh menit.Nadya berdiri di kamar mandi paviliunnya sedang menatap pantulan dirinya di cermin yang buram. Jantungnya bertalu begitu keras hingga menciptakan rasa ngilu di dadanya.Dia telah mengganti dasternya yang kotor dengan daster batik lain yang lebih bersih, namun tetap longgar dan sederhana.Dia sengaja menguncir rambut hitamnya ke atas, menyisakan beberapa anak rambut yang membingkai wajah pucatnya. Semburat ketakutan yang murni masih tercetak jelas di matanya.Nadya merasa seperti domba yang sedang berjalan sukarela menuju kandang serigala.Dengan langkah kaki yang berat dan gemetar, Nadya keluar dari paviliun belakang.Nadya berhenti tepat di depan pintu kayu jati berukir besar di ujung lorong lantai dua.Di atas pintu itu, semburat cahaya keemasan mengintip dari celah bawah, menandakan sang pemilik ruangan memang sedang berada di dalam.Nadya menarik napas dalam-dalam, mencoba mengumpulkan sisa-sisa keberaniannya yang sudah tercecer di lantai.To







