LOGIN“Ng-nggak, Pak. Saya nggak ngintip. Saya cuma mau ambil minum aja," cicit Nadya dengan suara yang hampir habis.
Namun, tampaknya Johan tidak percaya. Pria itu justru melangkah mendekat, mengikis jarak yang tersisa di antara mereka hingga embusan napas hangatnya yang beraroma mint dapat dirasakan Nadya di puncak kepalanya.
Johan menatap Nadya dengan tatapan yang membuat Nadya kembali menelan ludahnya dengan susah payah.
Itu adalah tatapan menilai yang teramat tajam, gelap, dan seolah mampu menembus pakaian longgar yang dikenakan pelayan mudanya itu.
Semenjak dia bekerja di rumah mewah ini hampir setahun yang lalu, Nadya tak pernah melihat Johan hanya mengenakan celana dalam seperti itu.
Biasanya, sang majikan selalu tampil rapi, eksklusif, dan terkontrol dalam balutan kemeja kerja yang mahal atau piyama sutra yang kancingnya tertutup rapat.
Melihat sisi liar, kasual, sekaligus sangat primitif dari seorang Johan membuat seluruh pertahanan mental Nadya runtuh seketika.
Karisma maskulin pria itu terlalu pekat, mendominasi dapur bersih yang mendadak terasa begitu sempit dan pengap.
"Ambil minum, atau sengaja nungguin aku di sini karena dengar sesuatu?" bisik Johan.
Nadya meremas daster batiknya semakin kuat hingga jemarinya memutih. Dia merasa begitu kecil, begitu ringkih di bawah bayang-bayang tubuh tegap Johan.
Bukan karena dia menderita atau disiksa, melainkan karena getaran aneh yang mendadak melumpuhkan seluruh syaraf kakinya.
Dia tidak berdaya menolak pesona intimidatif yang memancar kuat dari pria di hadapannya.
"S-saya bersumpah, Pak. Saya baru saja ke sini," bohong Nadya dengan suara yang bergetar hebat.
Sadar situasi ini sudah tidak sehat dan dadanya bergemuruh terlalu kencang, Nadya memutuskan untuk mundur.
Dia tidak ingin terlalu lama berada di dekat pria itu. Sensasi telanjang Johan terlalu berbahaya untuk kewarasan jiwanya.
"Kalau begitu, saya... saya permisi ke belakang dulu, Pak. Maaf mengganggu," pamit Nadya terburu-buru.
Dia pun membalikkan badan dan berniat melarikan diri secepat mungkin menuju kamarnya yang berada di paviliun belakang.
Namun, sebelum Nadya sempat melangkahkan kaki kanannya, pergelangan tangannya dicekal.
Cekalan itu tidak kasar, namun begitu mencengkeram kuat dan mutlak, mengunci pergerakan Nadya dalam sekejap.
Kulit telapak tangan Johan yang hangat dan sedikit kapalan bersentuhan langsung dengan kulit pergelangan tangan Nadya, mengirimkan sengatan listrik yang instan ke sekujur tubuh wanita muda itu.
Nadya tersentak, tubuh mungilnya otomatis berputar kembali menghadap Johan akibat tarikan pelan namun tegas tersebut.
"Aku belum menyuruh kamu pergi, Nadya," ucap Johan datar.
Jarak mereka kini justru semakin mematikan. Dada bidang Johan yang telanjang dan bidang hampir bersentuhan dengan dada Nadya.
Nadya terpaksa mendongak sedikit karena tarikan itu, dan detik berikutnya, tatapan mereka bertemu untuk pertama kalinya.
Sepasang mata elang Johan berkilat penuh kepemilikan dan kepuasan yang ganjil saat melihat ketakutan yang murni di mata Nadya.
Pria itu sengaja maju satu langkah lagi, membuat tubuh bagian depannya yang hanya terbalut celana dalam hitam itu bergesekan samar dengan kain daster tipis Nadya.
Sentuhan yang tidak sengaja namun disengaja itu terasa begitu intim dan sensual. Nadya bisa merasakan ketegangan yang masih tersisa dari balik kain celana dalam Johan yang menekan paha atasnya.
Napas Nadya tercekat di tenggorokan. Wajahnya memerah padam, jantungnya berpacu seperti genderang perang. Tubuhnya gemetar, memberikan reaksi pasrah yang disukai oleh ego Johan yang baru saja terluka oleh Lyra.
Johan menurunkan pandangannya dari mata Nadya, turun ke belahan bibir pelayannya yang sedikit terbuka karena syok, lalu turun lagi ke lekuk tubuh Nadya yang tersembunyi di balik daster longgar.
Tangan Johan yang satu lagi, yang bebas, tiba-tiba terangkat. Nadya memejamkan mata, mengira dia akan ditampar karena dianggap tidak sopan.
Namun yang terjadi justru sebaliknya.
Jari-jari panjang Johan yang kekar bergerak perlahan, menyelipkan seuntai rambut Nadya yang berantakan ke belakang telinga wanita itu. Sentuhan kulit jari Johan di lehernya membuat Nadya meremang hebat.
Ibu jari Johan kemudian turun, mengusap pelan tulang selangka Nadya yang menonjol di balik kerah dasternya yang longgar.
Usapan itu begitu lembut, namun sarat akan ketegangan seksual yang pekat.
"Kamu... tahu apa yang baru saja terjadi di ruang tengah, kan?" tanya Johan, suaranya kini berubah menjadi bisikan berbahaya di dekat telinga Nadya.
Nadya tidak bisa berpikir jernih lagi. Aroma tubuh Johan, kehangatan kulitnya, dan dominasi mutlak pria itu mengunci seluruh akal sehatnya.
Dia hanya bisa mengangguk pasrah, terlalu lemah untuk berbohong lagi di bawah kungkungan pria sekuat Johan.
Johan terkekeh rendah, suara kekehan yang terdengar begitu seksi sekaligus mengancam.
"Bagus. Jadi kamu tahu kalau aku sedang tidak dalam kondisi yang baik."
Tangan Johan yang berada di tulang selangka Nadya bergerak turun secara perlahan namun pasti.
Nadya menahan napasnya saat merasakan telapak tangan besar majikannya itu merayap turun ke arah dadanya, berhenti tepat di atas detak jantung Nadya yang menggila.
Merasakan guncangan hebat di dada pelayannya, seringai tipis muncul di sudut bibir Johan.
“Ma-maksudnya apa ya, Pak?” tanya Nadya gugup.
Pria itu mendekatkan wajahnya, hingga bibirnya hampir menyentuh daun telinga Nadya yang panas.
"Istriku mau pergi seminggu ke Lombok," bisik Johan dengan nada yang luar biasa ambigu, membuat bulu kuduk Nadya meremang sembari rasa penasaran yang terlarang mendadak buncah di dadanya.
"Dan dia meninggalkanku dalam keadaan... lapar seperti ini. Menurut kamu, apa yang harus aku lakukan pada pelayan yang suka mengintip?"
"Mbak Nadya, mohon maaf mengganggu waktunya sebentar," panggil seorang pengawal pribadi yang bertugas di area pintu gerbang depan melalui saluran intercom ruang tengah.Nadya yang sedang meletakkan cangkir teh di atas meja kayu menghentikan gerakannya, lalu melangkah mendekati intercom seraya menekan tombol bicara dengan ragu."Iya, Pak... ada apa di luar? Apakah Pak Johan sudah kembali dari kantor?" tanya Nadya dengan nada suara yang bergetar pelan."Bukan Pak Johan, Mbak. Ada seorang pria yang mengaku datang jauh-jauh dari kampung halaman Mbak Nadya dan ingin bertemu sangat mendesak," lapor pengawal itu.Muslihat yang dirancang Kirana melalui pihak ketiga secara terselubung akhirnya resmi diluncurkan pada siang hari yang terik tersebut.Pria suruhan Kirana mencoba melancarkan skenario jebakan kotor dengan berpura-pura menjadi sosok ramah dan kenalan lama dari kampung halaman Nadya.Pria asing berpenampilan sederhana itu mendatangi pos penjagaan luar, memasang raut wajah panik seraya
Nadya menarik napas panjang yang terasa sangat berat, meremas jemarinya sendiri di depan gaun sederhananya seraya melangkah mundur kembali ke teras.Meski Nadya menyadari sepenuhnya bahwa pengawalan super ketat ini adalah bukti kasih sayang dan upaya perlindungan Johan demi keamanannya, hatinya tetap tersiksa.Ia tahu betul bahwa Johan rela mengeluarkan puluhan juta rupiah dan mengerahkan pasukan bersenjata hanya agar tak ada bahaya yang menyentuh raga dan jiwanya.Namun di sisi lain, batin gadis polos kampung itu merasa makin terkekang dan terisolasi dari kebebasan hidup yang biasa ia rasakan sejak kecil.Ruang geraknya yang semula bebas di dalam kediaman megah kini benar-benar dibatasi oleh tatapan waspada dan kewaspadaan tinggi dari para pengawal bersenjata.Bahkan saat berada di ruang keluarga, dua personel pengawal tetap berdiri kaku di sudut dekat pintu penghubung, memperhatikan setiap gerak-gerik yang dilakukannya."Juan... apa Pak Johan betul-betul harus menaruh orang sebanyak
"Juan! Segera kumpulkan seluruh tim keamanan internal di ruang kerjaku sekarang juga!" perintah Johan dengan suara bariton yang berat dan menggelegar melalui sambungan telepon selulernya.Juan yang sedang berada di area selasar samping kaget mendengar nada suara pimpinannya yang teramat tegang, lalu segera mengangguk kaku di balik kemudi."Baik, Pak Johan. Dalam lima menit seluruh personel keamanan internal sudah siap berkumpul di ruang kerja," jawab Juan tegas tanpa berani bertanya lebih lanjut.Johan melempar ponsel mewahnya ke atas meja kerja jati, lalu melangkah menuju jendela kaca besar yang menghadap langsung ke arah pintu gerbang utama kediamannya.Naluri bisnis dan proteksi Johan menangkap firasat buruk bahwa Nyonya Kirana tidak akan pernah berhenti hanya pada gertakan verbal atau makian di meja makan keluarga.Menyadari ibunya kian nekat, dendam, dan berpotensi besar bermain kotor di belakang layar, Johan segera memutuskan untuk mengambil tindakan preventif berskala besar."P
"Pak Johan... kenapa Pak Johan belum tidur juga padahal ini sudah sangat larut malam?" bisik Nadya seraya perlahan memiringkan tubuhnya di atas kasur empuk.Johan yang sedang menatap layar tabletnya menghentikan jemarinya, lalu berbalik merangkul erat pinggang mungil Nadya ke dalam dada bidangnya."Aku cuma sedang memeriksa berkas perusahaan sebentar, sayang. Kamu kenapa terbangun lagi?" tanya Johan lembut seraya mengecup kening Nadya yang terasa dingin.Sementara intrik jahat sedang dirancang di luar, atmosfer mencekam juga merayapi batin Nadya secara perlahan di dalam rumah utama.Meski Johan selalu memberikan pengawalan ketat dan perlindungan yang teramat protektif setiap kali berada di rumah, naluri Nadya merasakannya.Gadis polos itu menangkap ada bahaya besar dan hembusan badai yang kian mengintai serta siap menghancurkan ikatan cinta mereka hingga ke akar-akarnya."Pak Johan... apa benar kemarin Pak Johan bertengkar hebat dengan Nyonya Kirana dan seluruh keluarga besar?" tanya
"Nyonya Besar, tim detektif swasta kotor dan beberapa aktor suruhan pilihan Nyonya sudah menunggu di ruangan sebelah," lapor sekretaris pribadi Kirana dengan suara berbisik.Kirana yang sedang berdiri di dekat jendela kantor pribadinya membalikkan badan, memoleskan gincu merah menyala di bibirnya dengan raut wajah amat licik."Suruh mereka semua masuk sekarang! Aku tidak punya banyak waktu untuk menghancurkan perempuan kampung itu!" perintah Kirana dengan nada dingin penuh intrik.Kekalahan telak di depan keluarga besar dan ancaman pemutus aliran dana dari Johan justru makin membakar rasa benci dalam dada Nyonya Kirana.Menyadari bahwa menekan Johan secara terbuka adalah tindakan bunuh diri secara finansial, Kirana mengubah strateginya menjadi muslihat terselubung yang jauh lebih berbahaya.Ia berkesimpulan bahwa satu-satunya cara untuk memisahkan Johan dari Nadya adalah dengan merusak rasa percaya Johan pada gadis tersebut hingga ke akar-akarnya."Selamat siang, Nyonya Kirana. Saya d
"Cukup! Jangan ada lagi satu pun mulut di meja ini yang berani menyebut nama Nadya dengan nada merendahkan!" bentak Johan dengan suara bariton yang menggema keras.Didera gempuran kata-kata kasar dan tatapan merendahkan dari puluhan anggota keluarga besarnya, aura dominansi Johan tidak goyah sedikit pun di tengah ruangan.Pria bertubuh tinggi tegap itu berdiri kokoh di ujung meja makan, menyapu seluruh wajah kerabatnya dengan tatapan elang yang teramat mengintimidasi.Suasana jamuan makan malam yang semula dipenuhi bentakan seketika mendadak bungkam, menyisakan keheningan mencekam yang dihinggapi ketakutan luarbiasa."Johan... kamu berani membentak paman dan bibimu sendiri demi perempuan itu?!" bisik Nyonya Kirana dengan nada suara yang bergetar menahan amarah."Aku membentak siapa pun yang mencoba mencampuri dan merusak kehidupan pribadiku!" balur Johan dingin dengan raut wajah keras tanpa kompromi.Johan dengan tegas menyatakan bahwa kehidupan pribadinya adalah wilayah kekuasaan mut







