共有

Bab 2

last update 公開日: 2026-07-08 13:11:59

“Ng-nggak, Pak. Saya nggak ngintip. Saya cuma mau ambil minum aja," cicit Nadya dengan suara yang hampir habis.

Namun, tampaknya Johan tidak percaya. Pria itu justru melangkah mendekat, mengikis jarak yang tersisa di antara mereka hingga embusan napas hangatnya yang beraroma mint dapat dirasakan Nadya di puncak kepalanya.

Johan menatap Nadya dengan tatapan yang membuat Nadya kembali menelan ludahnya dengan susah payah.

Itu adalah tatapan menilai yang teramat tajam, gelap, dan seolah mampu menembus pakaian longgar yang dikenakan pelayan mudanya itu.

Semenjak dia bekerja di rumah mewah ini hampir setahun yang lalu, Nadya tak pernah melihat Johan hanya mengenakan celana dalam seperti itu.

Biasanya, sang majikan selalu tampil rapi, eksklusif, dan terkontrol dalam balutan kemeja kerja yang mahal atau piyama sutra yang kancingnya tertutup rapat.

Melihat sisi liar, kasual, sekaligus sangat primitif dari seorang Johan membuat seluruh pertahanan mental Nadya runtuh seketika.

Karisma maskulin pria itu terlalu pekat, mendominasi dapur bersih yang mendadak terasa begitu sempit dan pengap.

"Ambil minum, atau sengaja nungguin aku di sini karena dengar sesuatu?" bisik Johan.

Nadya meremas daster batiknya semakin kuat hingga jemarinya memutih. Dia merasa begitu kecil, begitu ringkih di bawah bayang-bayang tubuh tegap Johan.

Bukan karena dia menderita atau disiksa, melainkan karena getaran aneh yang mendadak melumpuhkan seluruh syaraf kakinya.

Dia tidak berdaya menolak pesona intimidatif yang memancar kuat dari pria di hadapannya.

"S-saya bersumpah, Pak. Saya baru saja ke sini," bohong Nadya dengan suara yang bergetar hebat.

Sadar situasi ini sudah tidak sehat dan dadanya bergemuruh terlalu kencang, Nadya memutuskan untuk mundur.

Dia tidak ingin terlalu lama berada di dekat pria itu. Sensasi telanjang Johan terlalu berbahaya untuk kewarasan jiwanya.

"Kalau begitu, saya... saya permisi ke belakang dulu, Pak. Maaf mengganggu," pamit Nadya terburu-buru.

Dia pun membalikkan badan dan berniat melarikan diri secepat mungkin menuju kamarnya yang berada di paviliun belakang.

Namun, sebelum Nadya sempat melangkahkan kaki kanannya, pergelangan tangannya dicekal.

Cekalan itu tidak kasar, namun begitu mencengkeram kuat dan mutlak, mengunci pergerakan Nadya dalam sekejap.

Kulit telapak tangan Johan yang hangat dan sedikit kapalan bersentuhan langsung dengan kulit pergelangan tangan Nadya, mengirimkan sengatan listrik yang instan ke sekujur tubuh wanita muda itu.

Nadya tersentak, tubuh mungilnya otomatis berputar kembali menghadap Johan akibat tarikan pelan namun tegas tersebut.

"Aku belum menyuruh kamu pergi, Nadya," ucap Johan datar.

Jarak mereka kini justru semakin mematikan. Dada bidang Johan yang telanjang dan bidang hampir bersentuhan dengan dada Nadya.

Nadya terpaksa mendongak sedikit karena tarikan itu, dan detik berikutnya, tatapan mereka bertemu untuk pertama kalinya.

Sepasang mata elang Johan berkilat penuh kepemilikan dan kepuasan yang ganjil saat melihat ketakutan yang murni di mata Nadya.

Pria itu sengaja maju satu langkah lagi, membuat tubuh bagian depannya yang hanya terbalut celana dalam hitam itu bergesekan samar dengan kain daster tipis Nadya.

Sentuhan yang tidak sengaja namun disengaja itu terasa begitu intim dan sensual. Nadya bisa merasakan ketegangan yang masih tersisa dari balik kain celana dalam Johan yang menekan paha atasnya.

Napas Nadya tercekat di tenggorokan. Wajahnya memerah padam, jantungnya berpacu seperti genderang perang. Tubuhnya gemetar, memberikan reaksi pasrah yang disukai oleh ego Johan yang baru saja terluka oleh Lyra.

Johan menurunkan pandangannya dari mata Nadya, turun ke belahan bibir pelayannya yang sedikit terbuka karena syok, lalu turun lagi ke lekuk tubuh Nadya yang tersembunyi di balik daster longgar.

Tangan Johan yang satu lagi, yang bebas, tiba-tiba terangkat. Nadya memejamkan mata, mengira dia akan ditampar karena dianggap tidak sopan.

Namun yang terjadi justru sebaliknya.

Jari-jari panjang Johan yang kekar bergerak perlahan, menyelipkan seuntai rambut Nadya yang berantakan ke belakang telinga wanita itu. Sentuhan kulit jari Johan di lehernya membuat Nadya meremang hebat.

Ibu jari Johan kemudian turun, mengusap pelan tulang selangka Nadya yang menonjol di balik kerah dasternya yang longgar.

Usapan itu begitu lembut, namun sarat akan ketegangan seksual yang pekat.

"Kamu... tahu apa yang baru saja terjadi di ruang tengah, kan?" tanya Johan, suaranya kini berubah menjadi bisikan berbahaya di dekat telinga Nadya.

Nadya tidak bisa berpikir jernih lagi. Aroma tubuh Johan, kehangatan kulitnya, dan dominasi mutlak pria itu mengunci seluruh akal sehatnya.

Dia hanya bisa mengangguk pasrah, terlalu lemah untuk berbohong lagi di bawah kungkungan pria sekuat Johan.

Johan terkekeh rendah, suara kekehan yang terdengar begitu seksi sekaligus mengancam.

"Bagus. Jadi kamu tahu kalau aku sedang tidak dalam kondisi yang baik."

Tangan Johan yang berada di tulang selangka Nadya bergerak turun secara perlahan namun pasti.

Nadya menahan napasnya saat merasakan telapak tangan besar majikannya itu merayap turun ke arah dadanya, berhenti tepat di atas detak jantung Nadya yang menggila.

Merasakan guncangan hebat di dada pelayannya, seringai tipis muncul di sudut bibir Johan.

“Ma-maksudnya apa ya, Pak?” tanya Nadya gugup.

Pria itu mendekatkan wajahnya, hingga bibirnya hampir menyentuh daun telinga Nadya yang panas.

"Istriku mau pergi seminggu ke Lombok," bisik Johan dengan nada yang luar biasa ambigu, membuat bulu kuduk Nadya meremang sembari rasa penasaran yang terlarang mendadak buncah di dadanya.

"Dan dia meninggalkanku dalam keadaan... lapar seperti ini. Menurut kamu, apa yang harus aku lakukan pada pelayan yang suka mengintip?"

この本を無料で読み続ける
コードをスキャンしてアプリをダウンロード

最新チャプター

  • Pesona Pelayan Tuan Muda   Bab 7

    "Akh!"Nadya memekik tertahan, dengan air matanya seketika meleleh membasahi sudut mata begitu rasa nyeri yang luar biasa menghantam pusat kesadarannya.Rasa sakit yang tajam dan menghentak itu terasa begitu nyata saat milik Johan yang berukuran besar memaksa masuk, menembus batasan paling suci yang selama ini dia jaga dengan taruhan harga diri.Tubuh mungil Nadya spontan menegang hebat, kakinya gemetar di bawah kungkungan tubuh kekar sang majikan.Johan menghentikan gerakannya seketika. Sepasang mata elangnya melebar, menatap Nadya dengan kilat keterkejutan yang mendalam sebelum akhirnya berubah menjadi binar kepuasan yang luar biasa maskulin.Betapa beruntungnya pria itu malam ini; di balik daster batik murah dan kepolosan pelayannya, ternyata Nadya masih seorang gadis.Dia adalah orang pertama yang menancapkan bendera kekuasaan di atas tubuh suci tersebut."Sshh... tenang, Nadya. Buka mata kamu," bisik Johan sembari mengusap lembut sisa air mata di pipi pelayannya dengan ibu jari,

  • Pesona Pelayan Tuan Muda   Bab 6

    Tanpa menunggu jawaban atau persetujuan dari bibir Nadya yang sudah mengunci rapat, Johan mencekal pergelangan tangan wanita itu dengan cengkeraman yang mutlak.Dia menarik tangan Nadya, menuntun langkah pelayan mudanya yang ringkih itu masuk kembali ke dalam rumah, melewati koridor terang, dan membawanya langsung ke dalam kamar tamu lantai bawah yang sunyi.Cklek.Pintu kamar ditutup dan dikunci dari dalam, menyegel takdir Nadya di bawah kuasa penuh sang majikan. Kamar tamu itu mendadak terasa begitu sempit begitu tubuh tinggi besar Johan mendominasi ruangan.Nadya mundur hingga punggungnya membentur tepian ranjang berukuran king size, menatap Johan dengan sepasang mata yang dipenuhi kepanikan murni.Johan maju selangkah dan menatap Nadya yang napasnya memburu tidak teratur. "Tenang, Nadya. Jangan gemetar seperti itu," ucap Johan."Malam ini, aku akan membuktikan kepada kamu... bahwa aku bukan pria lemah. Aku bukan pria yang menyerah dalam dua menit seperti yang kamu dengar sore tadi

  • Pesona Pelayan Tuan Muda   Bab 5

    Cengkeraman tangan Johan di belakang tengkuk Nadya semakin mengerat, menarik perlahan namun pasti wajah wanita muda itu agar semakin mendekat.Nadya bisa merasakan embusan napas Johan yang memburu, hangat dan sarat akan tuntutan yang mutlak.Jantung Nadya berdentum begitu keras hingga terasa menyakitkan di dadanya. Dia memejamkan mata rapat-rapat, memasrahkan diri pada nasib yang sebentar lagi akan merenggut batasan terakhir di antara mereka.Namun, tepat saat bibir Johan baru saja hendak menyentuh ranum bibir Nadya, seluruh ruangan mendadak gulita.Klik!Suara saklar otomatis yang memutus aliran listrik terdengar bersamaan dengan padamnya seluruh lampu di rumah mewah tersebut. Ruang kerja yang semula temaram seketika tenggelam dalam kegelapan total yang pekat."Ah!" Nadya memekik kaget, tubuh mungilnya tersentak ke belakang akibat keterkejutan yang instan."Sialan!" Johan mengumpat sejadi-jadinya.Suaranya yang biasa tenang kini menggelegar dipenuhi amarah dan frustrasi yang memuncak

  • Pesona Pelayan Tuan Muda   Bab 4

    Pukul sembilan lewat lima puluh menit.Nadya berdiri di kamar mandi paviliunnya sedang menatap pantulan dirinya di cermin yang buram. Jantungnya bertalu begitu keras hingga menciptakan rasa ngilu di dadanya.Dia telah mengganti dasternya yang kotor dengan daster batik lain yang lebih bersih, namun tetap longgar dan sederhana.Dia sengaja menguncir rambut hitamnya ke atas, menyisakan beberapa anak rambut yang membingkai wajah pucatnya. Semburat ketakutan yang murni masih tercetak jelas di matanya.Nadya merasa seperti domba yang sedang berjalan sukarela menuju kandang serigala.Dengan langkah kaki yang berat dan gemetar, Nadya keluar dari paviliun belakang.Nadya berhenti tepat di depan pintu kayu jati berukir besar di ujung lorong lantai dua.Di atas pintu itu, semburat cahaya keemasan mengintip dari celah bawah, menandakan sang pemilik ruangan memang sedang berada di dalam.Nadya menarik napas dalam-dalam, mencoba mengumpulkan sisa-sisa keberaniannya yang sudah tercecer di lantai.To

  • Pesona Pelayan Tuan Muda    Bab 3

    "Ma-maksudnya apa, Pak?" tanya Nadya ketakutan.Johan tidak langsung menjawab.Dia justru bersandar dengan santai pada tepian meja, lalu melipat kedua tangannya di depan dada, hingga membuat otot-otot lengannya tercetak semakin kekar."Kamu bekerja di sini karena sudah tidak punya tempat tinggal lagi, kan?" tanya Johan dengan nada datarnya.Nadya tertegun, dengan bola matanya yang bulat melebar cemas. Tak lama kemudian, dia pun mengangguk pelan secara refleks.“I-iya betul, Pak.”"Lalu, kalau hari ini aku memecat kamu karena kelancangan kamu tadi, kamu mau tinggal di mana?"Pertanyaan retoris itu seketika memicu kepanikan massal di kepala Nadya. Bayangan harus menggelandang di jalanan kota metropolitan yang kejam langsung berputar di benaknya.Nadya sadar betul posisinya di dunia ini begitu rapuh; dia sebatang kara dan rumah mewah ini adalah satu-satunya tempat bernaung yang dia miliki saat ini."Ta-tapi, Pak, saya mohon... jangan pecat saya," Nadya langsung memohon dengan suara parau

  • Pesona Pelayan Tuan Muda   Bab 2

    “Ng-nggak, Pak. Saya nggak ngintip. Saya cuma mau ambil minum aja," cicit Nadya dengan suara yang hampir habis.Namun, tampaknya Johan tidak percaya. Pria itu justru melangkah mendekat, mengikis jarak yang tersisa di antara mereka hingga embusan napas hangatnya yang beraroma mint dapat dirasakan Nadya di puncak kepalanya.Johan menatap Nadya dengan tatapan yang membuat Nadya kembali menelan ludahnya dengan susah payah.Itu adalah tatapan menilai yang teramat tajam, gelap, dan seolah mampu menembus pakaian longgar yang dikenakan pelayan mudanya itu.Semenjak dia bekerja di rumah mewah ini hampir setahun yang lalu, Nadya tak pernah melihat Johan hanya mengenakan celana dalam seperti itu.Biasanya, sang majikan selalu tampil rapi, eksklusif, dan terkontrol dalam balutan kemeja kerja yang mahal atau piyama sutra yang kancingnya tertutup rapat.Melihat sisi liar, kasual, sekaligus sangat primitif dari seorang Johan membuat seluruh pertahanan mental Nadya runtuh seketika.Karisma maskulin p

続きを読む
無料で面白い小説を探して読んでみましょう
GoodNovel アプリで人気小説に無料で!お好きな本をダウンロードして、いつでもどこでも読みましょう!
アプリで無料で本を読む
コードをスキャンしてアプリで読む
DMCA.com Protection Status