Share

Bab 4

last update publish date: 2026-07-08 15:17:40

Pukul sembilan lewat lima puluh menit.

Nadya berdiri di kamar mandi paviliunnya sedang menatap pantulan dirinya di cermin yang buram. Jantungnya bertalu begitu keras hingga menciptakan rasa ngilu di dadanya.

Dia telah mengganti dasternya yang kotor dengan daster batik lain yang lebih bersih, namun tetap longgar dan sederhana.

Dia sengaja menguncir rambut hitamnya ke atas, menyisakan beberapa anak rambut yang membingkai wajah pucatnya. Semburat ketakutan yang murni masih tercetak jelas di matanya.

Nadya merasa seperti domba yang sedang berjalan sukarela menuju kandang serigala.

Dengan langkah kaki yang berat dan gemetar, Nadya keluar dari paviliun belakang.

Nadya berhenti tepat di depan pintu kayu jati berukir besar di ujung lorong lantai dua.

Di atas pintu itu, semburat cahaya keemasan mengintip dari celah bawah, menandakan sang pemilik ruangan memang sedang berada di dalam.

Nadya menarik napas dalam-dalam, mencoba mengumpulkan sisa-sisa keberaniannya yang sudah tercecer di lantai.

Tok... tok... tok...

Nadya mengetuk pintu itu dengan sangat pelan, hampir tak terdengar.

"Masuk," terdengar sahutan suara bariton dari dalam.

Nadya memutar knop pintu dengan tangan yang basah oleh keringat dingin.

Dia pun mendorong pintu itu perlahan dan melangkah masuk, dan langsung disambut oleh aroma maskulin yang pekat, perpaduan antara wangi kayu cendana, tembakau mahal, dan aroma khas tubuh Johan yang sangat dominan.

Ruang kerja itu sangat luas, didominasi oleh warna-warna gelap dan furnitur kulit yang mewah.

Di balik meja kerja besar yang terbuat dari kayu mahoni, Johan sedang duduk di kursi kebesarannya.

Pria itu kini sudah berpakaian lengkap, mengenakan kemeja hitam yang lengannya digulung hingga ke siku, menonjolkan otot-otot lengannya yang kekar dan urat-urat yang menyembul jantan.

Dua kancing teratas kemejanya dibiarkan terbuka, memperlihatkan sedikit kulit dadanya yang bidang.

Johan tidak langsung mendongak.

Tampak sengaja membiarkan Nadya berdiri mematung di dekat pintu selama beberapa saat, membiarkan keheningan dan intimidasi ruang kerja itu meremukkan mental pelayan mudanya terlebih dahulu.

Pria itu fokus membolak-balik berkas di hadapannya sebelum akhirnya menutup map tersebut dengan hentakan pelan yang sukses membuat Nadya tersentak kaget.

Mata elang Johan perlahan terangkat, langsung mengunci sosok mungil Nadya yang berdiri menunduk dengan jemari yang saling meremas di depan daster batiknya.

Tatapan Johan bergerak lambat, menyapu seluruh tubuh Nadya dari ujung kaki hingga berhenti di wajah pucat wanita itu. Seringai tipis yang sarat akan kepuasan maskulin kembali muncul di sudut bibirnya.

"Tepat waktu. Aku suka orang yang menepati janji," ucap Johan dengan nada suara yang terdengar sangat tenang namun bergetar rendah di udara.

"S-Saya memenuhi perintah Tuan," cicit Nadya bahkan tidak berani mengangkat wajahnya sama sekali.

Pandangannya terpaku pada karpet bulu mahal di bawah sepatunya.

Johan pun bangkit dari kursi kerjanya. Postur tubuhnya yang tinggi tegap seolah langsung menelan seluruh ruang oksigen di sekitar Nadya.

Pria itu lantas melangkah memutari meja kerja dan berjalan perlahan mendekati tempat Nadya berdiri. Setiap ketukan langkah sepatu rumah Johan terdengar seperti hitungan mundur bagi Nadya.

Lalu berhenti tepat di hadapan Nadya, memotong jarak hingga Nadya kembali bisa merasakan kehangatan yang memancar dari tubuh kekar sang majikan.

"Angkat wajah kamu, Nadya. Aku tidak suka bicara dengan ubun-ubun," perintah Johan dingin, sebuah instruksi mutlak yang tidak memiliki celah untuk dibantah.

Dengan sisa-sisa kekuatannya, Nadya mendongak lambat. Matanya yang berkaca-kaca menatap langsung pada rahang tegas Johan yang tercukur rapi.

Jarak mereka begitu dekat hingga Nadya bisa melihat kilat kepemilikan yang berbahaya di dalam manik mata hitam pria itu.

"Kamu bilang tadi sore... kamu bersedia melakukan apa saja agar tidak aku pecat, kan?" tanya Johan dengan nada suaranya yang berubah menjadi bisikan rendah yang sangat sensual.

Nadya menelan ludahnya karena tenggorokannya terasa kering kerontang.

Lalu mengangguk dengan pasrah. "I-iya, Pak. Apa saja... asal saya tetap boleh bekerja dan tinggal di sini."

Johan terkekeh rendah, suara tawa yang begitu seksi sekaligus mengintimidasi ego Nadya.

Tangan kanan Johan yang besar tiba-tiba terangkat, membelai lembut pipi Nadya yang terasa dingin karena ketakutan.

Ibu jarinya bergerak perlahan, mengusap bibir bawah Nadya yang sedikit bergetar. Sentuhan itu begitu intim, kontras dengan status mereka sebagai majikan dan pelayan.

"Kamu tahu, Nadya... Istriku tidak pernah menjalankan tugasnya dengan benar. Dan hari ini, dia pergi meninggalkanku dalam keadaan yang sangat tidak terpuaskan," bisik Johan sembari mendekatkan wajahnya hingga napas hangatnya menerpa permukaan kulit wajah Nadya.

"Karena kamu yang sudah lancang mengintip sisa frustrasiku tadi sore, maka kamu yang harus bertanggung jawab untuk menuntaskannya malam ini."

Napas Nadya tercekat. Jantungnya bergemuruh hebat dan kepalanya mendadak pusing mendengar tuntutan terselubung yang begitu gamblang dari mulut Johan.

Sebelum Nadya sempat mundur atau mencerna kepasrahannya lebih jauh, tangan Johan berpindah ke belakang tengkuk Nadya, mencengkeramnya dengan lembut namun mengunci pergerakan wanita itu sepenuhnya.

Johan menunduk lebih dalam, sementara bibirnya hampir menyentuh ranum bibir Nadya yang terkunci rapat oleh rasa syok.

"Jangan kecewakan aku, Nadya. Masa depan kamu di rumah ini... ada di tanganku malam ini," bisik Johan tepat di depan bibir Nadya, sebelum akhirnya perlahan memangkas sisa jarak yang ada di antara mereka.

Continue to read this book for free
Scan code to download App

Latest chapter

  • Pesona Pelayan Tuan Muda   Bab 121

    "Mbak Nadya, mohon maaf mengganggu waktunya sebentar," panggil seorang pengawal pribadi yang bertugas di area pintu gerbang depan melalui saluran intercom ruang tengah.Nadya yang sedang meletakkan cangkir teh di atas meja kayu menghentikan gerakannya, lalu melangkah mendekati intercom seraya menekan tombol bicara dengan ragu."Iya, Pak... ada apa di luar? Apakah Pak Johan sudah kembali dari kantor?" tanya Nadya dengan nada suara yang bergetar pelan."Bukan Pak Johan, Mbak. Ada seorang pria yang mengaku datang jauh-jauh dari kampung halaman Mbak Nadya dan ingin bertemu sangat mendesak," lapor pengawal itu.Muslihat yang dirancang Kirana melalui pihak ketiga secara terselubung akhirnya resmi diluncurkan pada siang hari yang terik tersebut.Pria suruhan Kirana mencoba melancarkan skenario jebakan kotor dengan berpura-pura menjadi sosok ramah dan kenalan lama dari kampung halaman Nadya.Pria asing berpenampilan sederhana itu mendatangi pos penjagaan luar, memasang raut wajah panik seraya

  • Pesona Pelayan Tuan Muda   Bab 120

    Nadya menarik napas panjang yang terasa sangat berat, meremas jemarinya sendiri di depan gaun sederhananya seraya melangkah mundur kembali ke teras.Meski Nadya menyadari sepenuhnya bahwa pengawalan super ketat ini adalah bukti kasih sayang dan upaya perlindungan Johan demi keamanannya, hatinya tetap tersiksa.Ia tahu betul bahwa Johan rela mengeluarkan puluhan juta rupiah dan mengerahkan pasukan bersenjata hanya agar tak ada bahaya yang menyentuh raga dan jiwanya.Namun di sisi lain, batin gadis polos kampung itu merasa makin terkekang dan terisolasi dari kebebasan hidup yang biasa ia rasakan sejak kecil.Ruang geraknya yang semula bebas di dalam kediaman megah kini benar-benar dibatasi oleh tatapan waspada dan kewaspadaan tinggi dari para pengawal bersenjata.Bahkan saat berada di ruang keluarga, dua personel pengawal tetap berdiri kaku di sudut dekat pintu penghubung, memperhatikan setiap gerak-gerik yang dilakukannya."Juan... apa Pak Johan betul-betul harus menaruh orang sebanyak

  • Pesona Pelayan Tuan Muda   Bab 119

    "Juan! Segera kumpulkan seluruh tim keamanan internal di ruang kerjaku sekarang juga!" perintah Johan dengan suara bariton yang berat dan menggelegar melalui sambungan telepon selulernya.Juan yang sedang berada di area selasar samping kaget mendengar nada suara pimpinannya yang teramat tegang, lalu segera mengangguk kaku di balik kemudi."Baik, Pak Johan. Dalam lima menit seluruh personel keamanan internal sudah siap berkumpul di ruang kerja," jawab Juan tegas tanpa berani bertanya lebih lanjut.Johan melempar ponsel mewahnya ke atas meja kerja jati, lalu melangkah menuju jendela kaca besar yang menghadap langsung ke arah pintu gerbang utama kediamannya.Naluri bisnis dan proteksi Johan menangkap firasat buruk bahwa Nyonya Kirana tidak akan pernah berhenti hanya pada gertakan verbal atau makian di meja makan keluarga.Menyadari ibunya kian nekat, dendam, dan berpotensi besar bermain kotor di belakang layar, Johan segera memutuskan untuk mengambil tindakan preventif berskala besar."P

  • Pesona Pelayan Tuan Muda   Bab 118

    "Pak Johan... kenapa Pak Johan belum tidur juga padahal ini sudah sangat larut malam?" bisik Nadya seraya perlahan memiringkan tubuhnya di atas kasur empuk.Johan yang sedang menatap layar tabletnya menghentikan jemarinya, lalu berbalik merangkul erat pinggang mungil Nadya ke dalam dada bidangnya."Aku cuma sedang memeriksa berkas perusahaan sebentar, sayang. Kamu kenapa terbangun lagi?" tanya Johan lembut seraya mengecup kening Nadya yang terasa dingin.Sementara intrik jahat sedang dirancang di luar, atmosfer mencekam juga merayapi batin Nadya secara perlahan di dalam rumah utama.Meski Johan selalu memberikan pengawalan ketat dan perlindungan yang teramat protektif setiap kali berada di rumah, naluri Nadya merasakannya.Gadis polos itu menangkap ada bahaya besar dan hembusan badai yang kian mengintai serta siap menghancurkan ikatan cinta mereka hingga ke akar-akarnya."Pak Johan... apa benar kemarin Pak Johan bertengkar hebat dengan Nyonya Kirana dan seluruh keluarga besar?" tanya

  • Pesona Pelayan Tuan Muda   Bab 117

    "Nyonya Besar, tim detektif swasta kotor dan beberapa aktor suruhan pilihan Nyonya sudah menunggu di ruangan sebelah," lapor sekretaris pribadi Kirana dengan suara berbisik.Kirana yang sedang berdiri di dekat jendela kantor pribadinya membalikkan badan, memoleskan gincu merah menyala di bibirnya dengan raut wajah amat licik."Suruh mereka semua masuk sekarang! Aku tidak punya banyak waktu untuk menghancurkan perempuan kampung itu!" perintah Kirana dengan nada dingin penuh intrik.Kekalahan telak di depan keluarga besar dan ancaman pemutus aliran dana dari Johan justru makin membakar rasa benci dalam dada Nyonya Kirana.Menyadari bahwa menekan Johan secara terbuka adalah tindakan bunuh diri secara finansial, Kirana mengubah strateginya menjadi muslihat terselubung yang jauh lebih berbahaya.Ia berkesimpulan bahwa satu-satunya cara untuk memisahkan Johan dari Nadya adalah dengan merusak rasa percaya Johan pada gadis tersebut hingga ke akar-akarnya."Selamat siang, Nyonya Kirana. Saya d

  • Pesona Pelayan Tuan Muda   Bab 116

    "Cukup! Jangan ada lagi satu pun mulut di meja ini yang berani menyebut nama Nadya dengan nada merendahkan!" bentak Johan dengan suara bariton yang menggema keras.Didera gempuran kata-kata kasar dan tatapan merendahkan dari puluhan anggota keluarga besarnya, aura dominansi Johan tidak goyah sedikit pun di tengah ruangan.Pria bertubuh tinggi tegap itu berdiri kokoh di ujung meja makan, menyapu seluruh wajah kerabatnya dengan tatapan elang yang teramat mengintimidasi.Suasana jamuan makan malam yang semula dipenuhi bentakan seketika mendadak bungkam, menyisakan keheningan mencekam yang dihinggapi ketakutan luarbiasa."Johan... kamu berani membentak paman dan bibimu sendiri demi perempuan itu?!" bisik Nyonya Kirana dengan nada suara yang bergetar menahan amarah."Aku membentak siapa pun yang mencoba mencampuri dan merusak kehidupan pribadiku!" balur Johan dingin dengan raut wajah keras tanpa kompromi.Johan dengan tegas menyatakan bahwa kehidupan pribadinya adalah wilayah kekuasaan mut

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status