LOGINPukul sembilan lewat lima puluh menit.
Nadya berdiri di kamar mandi paviliunnya sedang menatap pantulan dirinya di cermin yang buram. Jantungnya bertalu begitu keras hingga menciptakan rasa ngilu di dadanya.
Dia telah mengganti dasternya yang kotor dengan daster batik lain yang lebih bersih, namun tetap longgar dan sederhana.
Dia sengaja menguncir rambut hitamnya ke atas, menyisakan beberapa anak rambut yang membingkai wajah pucatnya. Semburat ketakutan yang murni masih tercetak jelas di matanya.
Nadya merasa seperti domba yang sedang berjalan sukarela menuju kandang serigala.
Dengan langkah kaki yang berat dan gemetar, Nadya keluar dari paviliun belakang.
Nadya berhenti tepat di depan pintu kayu jati berukir besar di ujung lorong lantai dua.
Di atas pintu itu, semburat cahaya keemasan mengintip dari celah bawah, menandakan sang pemilik ruangan memang sedang berada di dalam.
Nadya menarik napas dalam-dalam, mencoba mengumpulkan sisa-sisa keberaniannya yang sudah tercecer di lantai.
Tok... tok... tok...
Nadya mengetuk pintu itu dengan sangat pelan, hampir tak terdengar.
"Masuk," terdengar sahutan suara bariton dari dalam.
Nadya memutar knop pintu dengan tangan yang basah oleh keringat dingin.
Dia pun mendorong pintu itu perlahan dan melangkah masuk, dan langsung disambut oleh aroma maskulin yang pekat, perpaduan antara wangi kayu cendana, tembakau mahal, dan aroma khas tubuh Johan yang sangat dominan.
Ruang kerja itu sangat luas, didominasi oleh warna-warna gelap dan furnitur kulit yang mewah.
Di balik meja kerja besar yang terbuat dari kayu mahoni, Johan sedang duduk di kursi kebesarannya.
Pria itu kini sudah berpakaian lengkap, mengenakan kemeja hitam yang lengannya digulung hingga ke siku, menonjolkan otot-otot lengannya yang kekar dan urat-urat yang menyembul jantan.
Dua kancing teratas kemejanya dibiarkan terbuka, memperlihatkan sedikit kulit dadanya yang bidang.
Johan tidak langsung mendongak.
Tampak sengaja membiarkan Nadya berdiri mematung di dekat pintu selama beberapa saat, membiarkan keheningan dan intimidasi ruang kerja itu meremukkan mental pelayan mudanya terlebih dahulu.
Pria itu fokus membolak-balik berkas di hadapannya sebelum akhirnya menutup map tersebut dengan hentakan pelan yang sukses membuat Nadya tersentak kaget.
Mata elang Johan perlahan terangkat, langsung mengunci sosok mungil Nadya yang berdiri menunduk dengan jemari yang saling meremas di depan daster batiknya.
Tatapan Johan bergerak lambat, menyapu seluruh tubuh Nadya dari ujung kaki hingga berhenti di wajah pucat wanita itu. Seringai tipis yang sarat akan kepuasan maskulin kembali muncul di sudut bibirnya.
"Tepat waktu. Aku suka orang yang menepati janji," ucap Johan dengan nada suara yang terdengar sangat tenang namun bergetar rendah di udara.
"S-Saya memenuhi perintah Tuan," cicit Nadya bahkan tidak berani mengangkat wajahnya sama sekali.
Pandangannya terpaku pada karpet bulu mahal di bawah sepatunya.
Johan pun bangkit dari kursi kerjanya. Postur tubuhnya yang tinggi tegap seolah langsung menelan seluruh ruang oksigen di sekitar Nadya.
Pria itu lantas melangkah memutari meja kerja dan berjalan perlahan mendekati tempat Nadya berdiri. Setiap ketukan langkah sepatu rumah Johan terdengar seperti hitungan mundur bagi Nadya.
Lalu berhenti tepat di hadapan Nadya, memotong jarak hingga Nadya kembali bisa merasakan kehangatan yang memancar dari tubuh kekar sang majikan.
"Angkat wajah kamu, Nadya. Aku tidak suka bicara dengan ubun-ubun," perintah Johan dingin, sebuah instruksi mutlak yang tidak memiliki celah untuk dibantah.
Dengan sisa-sisa kekuatannya, Nadya mendongak lambat. Matanya yang berkaca-kaca menatap langsung pada rahang tegas Johan yang tercukur rapi.
Jarak mereka begitu dekat hingga Nadya bisa melihat kilat kepemilikan yang berbahaya di dalam manik mata hitam pria itu.
"Kamu bilang tadi sore... kamu bersedia melakukan apa saja agar tidak aku pecat, kan?" tanya Johan dengan nada suaranya yang berubah menjadi bisikan rendah yang sangat sensual.
Nadya menelan ludahnya karena tenggorokannya terasa kering kerontang.
Lalu mengangguk dengan pasrah. "I-iya, Pak. Apa saja... asal saya tetap boleh bekerja dan tinggal di sini."
Johan terkekeh rendah, suara tawa yang begitu seksi sekaligus mengintimidasi ego Nadya.
Tangan kanan Johan yang besar tiba-tiba terangkat, membelai lembut pipi Nadya yang terasa dingin karena ketakutan.
Ibu jarinya bergerak perlahan, mengusap bibir bawah Nadya yang sedikit bergetar. Sentuhan itu begitu intim, kontras dengan status mereka sebagai majikan dan pelayan.
"Kamu tahu, Nadya... Istriku tidak pernah menjalankan tugasnya dengan benar. Dan hari ini, dia pergi meninggalkanku dalam keadaan yang sangat tidak terpuaskan," bisik Johan sembari mendekatkan wajahnya hingga napas hangatnya menerpa permukaan kulit wajah Nadya.
"Karena kamu yang sudah lancang mengintip sisa frustrasiku tadi sore, maka kamu yang harus bertanggung jawab untuk menuntaskannya malam ini."
Napas Nadya tercekat. Jantungnya bergemuruh hebat dan kepalanya mendadak pusing mendengar tuntutan terselubung yang begitu gamblang dari mulut Johan.
Sebelum Nadya sempat mundur atau mencerna kepasrahannya lebih jauh, tangan Johan berpindah ke belakang tengkuk Nadya, mencengkeramnya dengan lembut namun mengunci pergerakan wanita itu sepenuhnya.
Johan menunduk lebih dalam, sementara bibirnya hampir menyentuh ranum bibir Nadya yang terkunci rapat oleh rasa syok.
"Jangan kecewakan aku, Nadya. Masa depan kamu di rumah ini... ada di tanganku malam ini," bisik Johan tepat di depan bibir Nadya, sebelum akhirnya perlahan memangkas sisa jarak yang ada di antara mereka.
Sinar mentari pagi menyiram pelataran rumah utama dengan pendar hangat yang begitu menenangkan.Suasana di kediaman mewah itu tampak jauh lebih semarak dari biasanya. Deretan karangan bunga segar bernuansa putih dan biru lembut berjajar rapi di sepanjang lobi teras, menyebarkan aroma harum yang memanjakan penciuman.Dekorasi pita dan balon-balon kustom bertuliskan "Welcome Home, Jevas Alendra" menghiasi koridor utama, menyambut kepulangan sang pewaris kecil yang amat dicintai.Mobil sedan hitam mewah milik Johan berhenti perlahan tepat di depan lobi. Juan dengan sigap membukakan pintu belakang.Johan keluar lebih dulu, lalu bergerak dengan sangat perlahan dan kehati-hatian tinggi untuk membantu Nadya turun seraya menggendong Jevas yang terbungkus rapi dalam selimut katun lembut.Para ART dan staf rumah tangga berdiri berjejer rapi di teras, menyambut kepulangan mereka dengan senyum mekar dan raut wajah bahagia."Selamat datang kembali di rumah, Pak Johan, Bu Nadya, dan Den Jevas..." s
Pendar hangat mentari pagi menyusup lembut di antara celah tirai tipis ruang perawatan VIP yang bernuansa elegan dan tenang.Aroma wangi bunga segar berpadu dengan keharuman khas minyak telon bayi, menguar lembut memenuhi setiap sudut ruangan.Di atas ranjang medis bernuansa putih bersih, Nadya bersandar rileks pada tumpukan bantal empuk.Wajah cantiknya tampak sedikit pucat pasca-perjuangan hebat melahirkan, namun aura keibuan nan anggun yang memancar dari binar matanya membuat pesonanya kian memikat hati.Di samping ranjang, sebuah box bayi porselen berbantal sutra terhias rapi, menyajikan pemandangan paling indah dalam hidup pasangan tersebut.Namun pagi itu, sang bayi mungil yang telah dibersihkan dan terbedung kain katun lembut berwarna putih tidak sedang terbaring di dalam box. Bayi merah itu tengah berada rapat di dalam garapan lengan tegap milik ayah kandungnya.Johan duduk berlutut tepat di samping ranjang Nadya. Lengan kokohnya yang biasa mengeksekusi dokumen-dokumen penting
Koridor rumah sakit privat bernuansa putih bersih itu terasa begitu sepi dan mencekam di bawah pendar lampu neon yang dingin. Jarum jam menunjukkan pukul 04.15 pagi.Di dalam ruang persalinan eksklusif, Nadya sudah terbaring di atas ranjang medis, berjuang melewati gelombang kontraksi yang makin rapat dan hebat demi menunggu pembukaan rahimnya lengkap.Di luar ruangan, atmosfer tak kalah tegang. Johan, yang sempat keluar sebentar saat dokter memeriksa pembukaan jalan lahir, tampak berjalan bolak-balik di atas lantai marmer bagaikan orang kesetanan.Kemeja santai yang dikenakannya tampak kusut, rambut lebatnya berantakan, dan wajah tampannya berpeluh dingin.Pria tegap itu tak berhenti mengusap wajahnya yang tegang luar biasa, memancarkan kepanikan yang berada di puncaknya.Juan, yang berdiri tak jauh dari situ seraya memegang ponsel dan berkas rumah sakit, mencoba memberanikan diri untuk menenangkan bos besarnya."Tenang, Pak Johan... Semuanya akan berjalan lancar," ujar Juan dengan n
Dini hari bertaut dingin menyelimuti kediaman utama. Suasana di dalam kamar tidur utama yang temaram oleh pendar lampu dinding bernuansa keemasan semula terasa teramat hening dan damai.Jarum jam dinding buatan Swiss menunjuk tepat di angka 02.30.Di atas peraduan king-size, Johan tidur lelap dengan satu lengan tegapnya melingkar protektif di sekeliling tubuh Nadya, menjaga wanita tercintanya yang tengah hamil tua.Namun, keheningan malam itu seketika pecah saat sebuah sentakan rasa sakit yang luar biasa menghantam perut bagian bawah Nadya."Nghh... M-Mas... Mas Johan..." ringis Nadya parau.Nadya terbangun dengan napas memburu, kedua tangannya mencengkeram erat lengan tegap suaminya.Rasa mulas yang teramat pekat datang bergulung-gulung bagaikan gelombang dahsyat, mencengkeram rahimnya tanpa ampun. Keringat dingin seketika membasahi pelipis dan dahinya.Bersamaan dengan itu, Nadya merasakan pendar cairan hangat mulai merembes tipis membasahi pakaian dan seprai sutra di bawah tubuhnya
Usia kehamilannya kini telah menginjak trimester ketiga.Perut mulusnya yang dahulu rata, kini telah membuncah besar dan menggelembung indah, menandakan makin dekatnya momen pembuka dari kebahagiaan mereka.Untuk menjaga kebugaran tubuh serta memperlancar proses persalinan kelak, Nadya rutin melakukan aktivitas fisik ringan dan senam hamil di bawah pengawasan instruktur pribadi.Namun, yang membuat suasana pagi itu terasa amat istimewa sekaligus menggelitikadalah sosok tegap yang setia berada di sampingnya.Johan. Pria perkasa berkedudukan tinggi yang disegani di jagat bisnis nasional itu, rela membatalkan tiga agenda rapat penting luar kantor demi bekerja dari rumah.Semuanya dilakukan hanya demi satu alasan mutlak: menemani sang ratu berlatih yoga pagi.Tak ada setelan jas hitam kaku, kemeja serat halus, atau dasi sutra yang biasa melekat di tubuh kokohnya.Pagi ini, Johan mengenakan kaos olahraga santai berwarna abu-abu yang mencetak dada bidangnya, berpadu dengan celana training h
Di dalam mobil sedan mewahnya, Johan mengembuskan napas lega.Perasaan ringan kini melapisi dadanya, seluruh sisa masa lalu dan benalu bernama Lyra telah tuntas diselesaikan secara bersih melalui jalur hukum Randy. Tak ada lagi celah, tak ada lagi ikatan.Begitu mobil berhenti sempurna di depan lobi utama, Johan tak membuang waktu.Pria tegap itu melangkah lebar masuk ke dalam rumah, langsung melangkah menuju lantai dasar tempat jantung kehangatan rumah tangganya berada. Pikirannya hanya dipenuhi satu nama: Nadya.Namun, alih-alih menemukan istrinya tengah beristirahat santai di kamar tidur utama atau ruang keluarga, aroma harum pandan nan manis yang menguar kuat justru menuntun langkah Johan menuju area dapur utama yang berlantai marmer bersih.Di sana, di dekat kitchen island berbahan granit hitam, berdiri sosok anggun yang membuat pendar mata Johan seketika terkunci.Nadya tampak mengenakan celemek kain bermotif bunga-bunga kecil. Rambut hitamnya diikat asal ke belakang, menyisakan







