Share

Bab 6

last update Tanggal publikasi: 2026-07-08 16:14:11

Tanpa menunggu jawaban atau persetujuan dari bibir Nadya yang sudah mengunci rapat, Johan mencekal pergelangan tangan wanita itu dengan cengkeraman yang mutlak.

Dia menarik tangan Nadya, menuntun langkah pelayan mudanya yang ringkih itu masuk kembali ke dalam rumah, melewati koridor terang, dan membawanya langsung ke dalam kamar tamu lantai bawah yang sunyi.

Cklek.

Pintu kamar ditutup dan dikunci dari dalam, menyegel takdir Nadya di bawah kuasa penuh sang majikan. Kamar tamu itu mendadak terasa begitu sempit begitu tubuh tinggi besar Johan mendominasi ruangan.

Nadya mundur hingga punggungnya membentur tepian ranjang berukuran king size, menatap Johan dengan sepasang mata yang dipenuhi kepanikan murni.

Johan maju selangkah dan menatap Nadya yang napasnya memburu tidak teratur. "Tenang, Nadya. Jangan gemetar seperti itu," ucap Johan.

"Malam ini, aku akan membuktikan kepada kamu... bahwa aku bukan pria lemah. Aku bukan pria yang menyerah dalam dua menit seperti yang kamu dengar sore tadi."

Mendengar penegasan yang begitu blak-blakan, wajah Nadya seketika memerah padam karena malu dan takut yang bercampur aduk.

Rasa tidak berdaya sebagai pelayan sempat tergantikan oleh gejolak penolakan dari dalam dirinya.

"Ta-tapi, Pak... saya bukan bahan percobaan untuk membuktikan harga diri Anda," cicit Nadya, mencoba menguatkan suaranya meski tubuhnya masih bergetar hebat.

Johan tidak marah mendengar bantahan itu. Dia justru terkekeh rendah, suara kekehan seksi yang langsung meremukkan sisa-sisa keberanian Nadya.

"Kamu bukan bahan percobaan, Nadya. Kamu adalah penuntas dari apa yang sudah kamu saksikan," balas Johan dingin namun tajam.

Sambil terus mengunci pandangan Nadya, jemari panjang Johan bergerak perlahan, membuka satu per satu kancing kemeja hitamnya.

Memperlihatkan otot-otot dada bidangnya yang tegap dan perut berotot yang tercetak sempurna seiring kemeja itu tersibak dan jatuh ke lantai.

Kini, pria itu bertelanjang dada di hadapan Nadya, memancarkan pesona maskulin yang begitu primitif dan intimidatif.

Sebelum Nadya sempat memalingkan wajah atau memikirkan cara untuk menghindar, Johan sudah mengikis jarak yang tersisa.

Dia lalu menunduk dan menangkup rahang mungil Nadya dengan satu tangan yang kokoh, lalu memulai sebuah ciuman panas yang langsung membungkam bibir wanita itu.

"Mmph..." Nadya melenguh tertahan.

Ciuman Johan tidak kasar, melainkan begitu menuntut, dalam, dan menguasai.

Lidah Johan menyapu rongga mulut Nadya dengan ritme yang memabukkan, sementara tangan satunya lagi mulai memberikan sentuhan-sentuhan ringan di sepanjang pinggang Nadya, naik merayap ke punggungnya.

Sentuhan telapak tangan Johan yang hangat di balik daster batik tipis itu seketika membuat bulu kuduk Nadya merinding hebat.

Saraf-saraf di tubuh Nadya yang semula tegang karena takut, perlahan-lahan mulai bereaksi secara ganjil terhadap keahlian pria dewasa di hadapannya.

Johan melepaskan pautan bibir mereka yang basah, menyisakan benang saliva tipis di antara mereka. Napasnya sendiri mulai memburu berat.

Dia pun menurunkan kecupannya ke arah rahang, lalu mengendus dan menyesap leher jenjang Nadya yang begitu memikat.

Aroma tubuh Nadya yang alami, perpaduan sabun murah dan kehangatan kulit wanita muda ternyata mampu membakar gairah Johan jauh lebih cepat daripada parfum mahal mana pun yang pernah dipakai istrinya.

"Ah... Pak Johan…." Desahan pertama lolos dari bibir Nadya saat gigi Johan dengan sengaja menggigit kecil kulit lehernya yang sensitif.

Nadya mencoba melawan dengan mengangkat kedua tangannya yang gemetar, mencoba mencengkeram lengan kekar Johan untuk mendorong pria itu menjauh.

Namun, alih-alih menjauhkan, cengkeraman tangan Nadya yang lemah pada otot bisep Johan justru berubah menjadi pegangan erat demi menopang tubuhnya sendiri yang kian lemas.

Sentuhan yang intens yang dilakukan oleh Johan dengan begitu lihai perlahan-lahan berhasil membangkitkan gairah tersembunyi di dalam tubuh Nadya.

Sentuhan-sentuhan itu mengirimkan sengatan panas yang aneh langsung menuju inti tubuhnya, membuat lututnya benar-benar kehilangan daya untuk berdiri.

Merasakan kepasrahan yang ganjil dari pelayannya, Johan bergerak lebih berani.

Tangan besarnya merayap ke ujung daster Nadya, menarik kain longgar itu ke atas melewati kepala dan melemparnya sembarang tempat.

Dalam sekejap, tubuh ringkih Nadya yang hanya menyisakan pakaian dalam tipis terekspos sepenuhnya di bawah sorotan lampu kamar yang temaram.

Johan menatap mahakarya di depannya dengan tatapan lapar yang tidak lagi disembunyikan.

Dia dengan cepat menyinggalkan celana panjang beserta pakaian dalamnya sendiri, membiarkan tubuh mereka berdua kini benar-benar telanjang tanpa sekat.

Johan mendorong tubuh mungil Nadya dengan lembut hingga wanita itu terlentang di atas ranjang marun yang kontras dengan kulit putihnya.

Pria itu langsung mengungkung Nadya dari atas, menyatukan kembali bibir mereka dalam ciuman panas yang lebih menuntut dan dalam.

Nadya yang sudah terbuai oleh atmosfer sensual hanya bisa membalas dengan canggung, cengkeraman tangannya berpindah meremas bahu lebar Johan yang licin karena keringat tipis.

Johan menurunkan ciumannya, mengecup dada Nadya dengan perlahan sebelum akhirnya menyesap salah satu puncak dada Nadya dengan hisapan yang dalam dan ritmis.

"Nggkh... J-jangan, Pak... ahh..." desahan Nadya terdengar semakin rancu.

Kata-kata penolakan yang keluar dari mulutnya justru kontras dengan reaksi tubuhnya sendiri.

Semakin dia mencoba menolak dengan ucapan, tubuhnya justru menjadi semakin tegang dan sensitif, melengkung pasrah menerima setiap stimulasi mematikan dari sang majikan.

Sensasi basah dan panas dari hisapan Johan di dadanya membuat Nadya meremas sprei kasur dengan erat, menyembunyikan wajahnya yang sudah dipenuhi rona merah gairah.

Johan mengangkat tubuhnya sedikit, menatap ke bawah di mana pelayannya sudah sepenuhnya tak berdaya di bawah kendalinya.

Sentuhan lembut jemari Johan di area sensitif milik Nadya membuktikan bahwa wanita itu sudah sepenuhnya siap, basah oleh gairah yang berhasil dia pancing.

Di saat yang sama, milik Johan yang berukuran besar, kekar, dan sudah tegang sempurna kini telah berdiri kokoh, bergesekan langsung di ambang milik Nadya yang hangat dan sempit, siap untuk melakukan penetrasi pertamanya.

Johan menatap mata sayu pelayannya dengan pandangan yang begitu dominan dan penuh kepemilikan, seolah menegaskan bahwa mulai malam ini, wanita ini adalah miliknya seutuhnya.

"Tahan sedikit, Nadya….”

Lanjutkan membaca buku ini secara gratis
Pindai kode untuk mengunduh Aplikasi

Bab terbaru

  • Pesona Pelayan Tuan Muda   Bab 7

    "Akh!"Nadya memekik tertahan, dengan air matanya seketika meleleh membasahi sudut mata begitu rasa nyeri yang luar biasa menghantam pusat kesadarannya.Rasa sakit yang tajam dan menghentak itu terasa begitu nyata saat milik Johan yang berukuran besar memaksa masuk, menembus batasan paling suci yang selama ini dia jaga dengan taruhan harga diri.Tubuh mungil Nadya spontan menegang hebat, kakinya gemetar di bawah kungkungan tubuh kekar sang majikan.Johan menghentikan gerakannya seketika. Sepasang mata elangnya melebar, menatap Nadya dengan kilat keterkejutan yang mendalam sebelum akhirnya berubah menjadi binar kepuasan yang luar biasa maskulin.Betapa beruntungnya pria itu malam ini; di balik daster batik murah dan kepolosan pelayannya, ternyata Nadya masih seorang gadis.Dia adalah orang pertama yang menancapkan bendera kekuasaan di atas tubuh suci tersebut."Sshh... tenang, Nadya. Buka mata kamu," bisik Johan sembari mengusap lembut sisa air mata di pipi pelayannya dengan ibu jari,

  • Pesona Pelayan Tuan Muda   Bab 6

    Tanpa menunggu jawaban atau persetujuan dari bibir Nadya yang sudah mengunci rapat, Johan mencekal pergelangan tangan wanita itu dengan cengkeraman yang mutlak.Dia menarik tangan Nadya, menuntun langkah pelayan mudanya yang ringkih itu masuk kembali ke dalam rumah, melewati koridor terang, dan membawanya langsung ke dalam kamar tamu lantai bawah yang sunyi.Cklek.Pintu kamar ditutup dan dikunci dari dalam, menyegel takdir Nadya di bawah kuasa penuh sang majikan. Kamar tamu itu mendadak terasa begitu sempit begitu tubuh tinggi besar Johan mendominasi ruangan.Nadya mundur hingga punggungnya membentur tepian ranjang berukuran king size, menatap Johan dengan sepasang mata yang dipenuhi kepanikan murni.Johan maju selangkah dan menatap Nadya yang napasnya memburu tidak teratur. "Tenang, Nadya. Jangan gemetar seperti itu," ucap Johan."Malam ini, aku akan membuktikan kepada kamu... bahwa aku bukan pria lemah. Aku bukan pria yang menyerah dalam dua menit seperti yang kamu dengar sore tadi

  • Pesona Pelayan Tuan Muda   Bab 5

    Cengkeraman tangan Johan di belakang tengkuk Nadya semakin mengerat, menarik perlahan namun pasti wajah wanita muda itu agar semakin mendekat.Nadya bisa merasakan embusan napas Johan yang memburu, hangat dan sarat akan tuntutan yang mutlak.Jantung Nadya berdentum begitu keras hingga terasa menyakitkan di dadanya. Dia memejamkan mata rapat-rapat, memasrahkan diri pada nasib yang sebentar lagi akan merenggut batasan terakhir di antara mereka.Namun, tepat saat bibir Johan baru saja hendak menyentuh ranum bibir Nadya, seluruh ruangan mendadak gulita.Klik!Suara saklar otomatis yang memutus aliran listrik terdengar bersamaan dengan padamnya seluruh lampu di rumah mewah tersebut. Ruang kerja yang semula temaram seketika tenggelam dalam kegelapan total yang pekat."Ah!" Nadya memekik kaget, tubuh mungilnya tersentak ke belakang akibat keterkejutan yang instan."Sialan!" Johan mengumpat sejadi-jadinya.Suaranya yang biasa tenang kini menggelegar dipenuhi amarah dan frustrasi yang memuncak

  • Pesona Pelayan Tuan Muda   Bab 4

    Pukul sembilan lewat lima puluh menit.Nadya berdiri di kamar mandi paviliunnya sedang menatap pantulan dirinya di cermin yang buram. Jantungnya bertalu begitu keras hingga menciptakan rasa ngilu di dadanya.Dia telah mengganti dasternya yang kotor dengan daster batik lain yang lebih bersih, namun tetap longgar dan sederhana.Dia sengaja menguncir rambut hitamnya ke atas, menyisakan beberapa anak rambut yang membingkai wajah pucatnya. Semburat ketakutan yang murni masih tercetak jelas di matanya.Nadya merasa seperti domba yang sedang berjalan sukarela menuju kandang serigala.Dengan langkah kaki yang berat dan gemetar, Nadya keluar dari paviliun belakang.Nadya berhenti tepat di depan pintu kayu jati berukir besar di ujung lorong lantai dua.Di atas pintu itu, semburat cahaya keemasan mengintip dari celah bawah, menandakan sang pemilik ruangan memang sedang berada di dalam.Nadya menarik napas dalam-dalam, mencoba mengumpulkan sisa-sisa keberaniannya yang sudah tercecer di lantai.To

  • Pesona Pelayan Tuan Muda    Bab 3

    "Ma-maksudnya apa, Pak?" tanya Nadya ketakutan.Johan tidak langsung menjawab.Dia justru bersandar dengan santai pada tepian meja, lalu melipat kedua tangannya di depan dada, hingga membuat otot-otot lengannya tercetak semakin kekar."Kamu bekerja di sini karena sudah tidak punya tempat tinggal lagi, kan?" tanya Johan dengan nada datarnya.Nadya tertegun, dengan bola matanya yang bulat melebar cemas. Tak lama kemudian, dia pun mengangguk pelan secara refleks.“I-iya betul, Pak.”"Lalu, kalau hari ini aku memecat kamu karena kelancangan kamu tadi, kamu mau tinggal di mana?"Pertanyaan retoris itu seketika memicu kepanikan massal di kepala Nadya. Bayangan harus menggelandang di jalanan kota metropolitan yang kejam langsung berputar di benaknya.Nadya sadar betul posisinya di dunia ini begitu rapuh; dia sebatang kara dan rumah mewah ini adalah satu-satunya tempat bernaung yang dia miliki saat ini."Ta-tapi, Pak, saya mohon... jangan pecat saya," Nadya langsung memohon dengan suara parau

  • Pesona Pelayan Tuan Muda   Bab 2

    “Ng-nggak, Pak. Saya nggak ngintip. Saya cuma mau ambil minum aja," cicit Nadya dengan suara yang hampir habis.Namun, tampaknya Johan tidak percaya. Pria itu justru melangkah mendekat, mengikis jarak yang tersisa di antara mereka hingga embusan napas hangatnya yang beraroma mint dapat dirasakan Nadya di puncak kepalanya.Johan menatap Nadya dengan tatapan yang membuat Nadya kembali menelan ludahnya dengan susah payah.Itu adalah tatapan menilai yang teramat tajam, gelap, dan seolah mampu menembus pakaian longgar yang dikenakan pelayan mudanya itu.Semenjak dia bekerja di rumah mewah ini hampir setahun yang lalu, Nadya tak pernah melihat Johan hanya mengenakan celana dalam seperti itu.Biasanya, sang majikan selalu tampil rapi, eksklusif, dan terkontrol dalam balutan kemeja kerja yang mahal atau piyama sutra yang kancingnya tertutup rapat.Melihat sisi liar, kasual, sekaligus sangat primitif dari seorang Johan membuat seluruh pertahanan mental Nadya runtuh seketika.Karisma maskulin p

Bab Lainnya
Jelajahi dan baca novel bagus secara gratis
Akses gratis ke berbagai novel bagus di aplikasi GoodNovel. Unduh buku yang kamu suka dan baca di mana saja & kapan saja.
Baca buku gratis di Aplikasi
Pindai kode untuk membaca di Aplikasi
DMCA.com Protection Status