Share

Bab 7

last update Tanggal publikasi: 2026-07-08 16:26:14

"Akh!"

Nadya memekik tertahan, dengan air matanya seketika meleleh membasahi sudut mata begitu rasa nyeri yang luar biasa menghantam pusat kesadarannya.

Rasa sakit yang tajam dan menghentak itu terasa begitu nyata saat milik Johan yang berukuran besar memaksa masuk, menembus batasan paling suci yang selama ini dia jaga dengan taruhan harga diri.

Tubuh mungil Nadya spontan menegang hebat, kakinya gemetar di bawah kungkungan tubuh kekar sang majikan.

Johan menghentikan gerakannya seketika. Sepasang mata elangnya melebar, menatap Nadya dengan kilat keterkejutan yang mendalam sebelum akhirnya berubah menjadi binar kepuasan yang luar biasa maskulin.

Betapa beruntungnya pria itu malam ini; di balik daster batik murah dan kepolosan pelayannya, ternyata Nadya masih seorang gadis.

Dia adalah orang pertama yang menancapkan bendera kekuasaan di atas tubuh suci tersebut.

"Sshh... tenang, Nadya. Buka mata kamu," bisik Johan sembari mengusap lembut sisa air mata di pipi pelayannya dengan ibu jari, mencoba menenangkan ketegangan yang mengunci tubuh wanita itu.

"Aku janji akan pelan-pelan. Dan ingat ini... setelah malam ini, kamu akan mendapatkan semua fasilitas mewah yang tidak akan pernah dimiliki oleh pelayan lain di rumah ini. Kamu bukan lagi sekadar pelayan biasa bagiku."

Janji bernada kepemilikan itu menjadi awal dari penaklukan yang sesungguhnya.

Johan menepati ucapannya untuk memulai dengan gerakan yang awalnya pelan dan konstan, memberi waktu bagi tubuh Nadya yang sempit untuk beradaptasi dengan ukuran tubuhnya yang dominan.

Namun, gairah Johan yang tampaknya sudah tertahan terlalu lama, ditambah sensasi menjepit yang begitu ketat dari milik Nadya membuat darah di sekujur tubuh pria itu mendidih lebih cepat.

Gairahnya kian memanas, dan perlahan namun pasti, gerakan lambat itu berubah menjadi ketukan yang kian bertenaga dan mendalam.

Ruangan remang-remang itu segera dipenuhi oleh atmosfer yang liar dan membara.

Erangan berat Johan yang sarat akan kepuasan maskulin berpadu dengan desahan pasrah yang lolos dari bibir ranum Nadya, menciptakan simfoni erotis yang memantul di dinding-dinding kamar tamu yang sunyi.

Kedua tangan Nadya mencengkeram erat sprei marun di bawah tubuhnya hingga jemarinya memutih, mencari tumpuan di tengah badai kenikmatan baru yang asing sekaligus memabukkan.

Tak pernah bisa dia bayangkan sebelumnya dalam skenario terburuk sekalipun, bahwa majikannya yang begitu terhormat dan ditakuti ini akan menyentuh tubuh polosnya dengan begitu intens.

Pria itu kini menatapnya dari jarak yang begitu dekat, mengunci manik matanya dengan pandangan lapar yang menguliti, sementara tubuh mereka yang sama-sama telanjang kini telah basah oleh peluh yang menyatu karena gerakan yang kian liar.

Penyatuan itu menjadi semakin membara ketika Johan menaikkan ritme gerakannya menjadi hantaman yang intens dan tanpa ampun.

Setiap dorongan yang dilakukan Johan terasa begitu dalam, menghantam titik paling sensitif di dalam diri Nadya hingga membuat wanita muda itu melengkungkan punggungnya ke atas, mendesah keras tanpa bisa dia tahan lagi.

Kulit mereka yang bergesekan kasar menciptakan suara-suara basah yang sensual, mempertegas betapa intimnya hubungan terlarang yang sedang mereka rajut di atas ranjang majikan ini.

Johan terus memburu, memompa seluruh energinya yang meluap-luap, membuktikan dominasi mutlak seorang pria dewasa yang superior di atas tubuh pelayan yang ringkih.

Puncaknya telah tiba.

Dengan satu sentakan mendalam yang panjang dan kuat, Johan mengerang rendah, menyalurkan seluruh sisa frustrasinya ke dalam rahim sempit Nadya, sementara Nadya ikut memekik lirih saat merasakan pelepasan panas yang membanjiri bagian dalamnya, membawa mereka berdua terbang ke puncak pelepasan yang melelahkan.

Napas mereka berdua memburu berat di tengah keheningan yang kembali merayap.

Johan menjatuhkan tubuh kekarnya di samping Nadya lalu menyandarkan kepalanya pada tumpukan bantal dengan dada yang naik turun secara tidak teratur.

Di tengah keheningan sisa-sisa badai gairah itu, Nadya memiringkan tubuhnya yang masih lemas.

Dengan tatapan sayu yang masih dipenuhi sisa kabut kenikmatan, dia memberanikan diri untuk bertanya, menyuarakan rasa penasaran yang sejak sore mengusik pikirannya.

"Pak... kenapa ini Bapak bisa bertahan lama sekali sama saya? Kenapa... waktu sama Bu Lyra tadi sore cuma sebentar?" tanya Nadya serak.

Mendengar pertanyaan itu, Johan mendengus pelan, sebuah tawa sinis yang hambar terdengar dari tenggorokannya.

Kemudian menoleh dan menatap lekat wajah pelayan mudanya yang kini tampak begitu berantakan namun sangat menggoda di matanya.

"Lyra sendiri yang minta buru-buru, Nadya. Dia selalu merasa terpaksa setiap kali aku sentuh," jawab Johan dingin.

Johan kemudian menggeser tubuhnya kembali mendekat, merangkak di atas tubuh Nadya dan menatap lekat-lekat wajah wanita itu dari jarak dekat.

Jari-jarinya yang panjang mengusap dagu Nadya dengan tegas, memaksa mata sayu pelayannya untuk menatap langsung ke dalam obsidian hitamnya yang pekat.

"Jam 10 besok malam, tunggu aku lagi di sini," perintah Johan dengan suara baritonnya yang sangat rendah, tidak menerima bantahan apa pun.

"Jangan coba-coba mengunci pintu atau melarikan diri ke paviliun belakang. Karena mulai malam ini, sampai seterusnya... tubuh kamu sudah sah menjadi milikku, Nadya."

Lanjutkan membaca buku ini secara gratis
Pindai kode untuk mengunduh Aplikasi

Bab terbaru

  • Pesona Pelayan Tuan Muda   Bab 7

    "Akh!"Nadya memekik tertahan, dengan air matanya seketika meleleh membasahi sudut mata begitu rasa nyeri yang luar biasa menghantam pusat kesadarannya.Rasa sakit yang tajam dan menghentak itu terasa begitu nyata saat milik Johan yang berukuran besar memaksa masuk, menembus batasan paling suci yang selama ini dia jaga dengan taruhan harga diri.Tubuh mungil Nadya spontan menegang hebat, kakinya gemetar di bawah kungkungan tubuh kekar sang majikan.Johan menghentikan gerakannya seketika. Sepasang mata elangnya melebar, menatap Nadya dengan kilat keterkejutan yang mendalam sebelum akhirnya berubah menjadi binar kepuasan yang luar biasa maskulin.Betapa beruntungnya pria itu malam ini; di balik daster batik murah dan kepolosan pelayannya, ternyata Nadya masih seorang gadis.Dia adalah orang pertama yang menancapkan bendera kekuasaan di atas tubuh suci tersebut."Sshh... tenang, Nadya. Buka mata kamu," bisik Johan sembari mengusap lembut sisa air mata di pipi pelayannya dengan ibu jari,

  • Pesona Pelayan Tuan Muda   Bab 6

    Tanpa menunggu jawaban atau persetujuan dari bibir Nadya yang sudah mengunci rapat, Johan mencekal pergelangan tangan wanita itu dengan cengkeraman yang mutlak.Dia menarik tangan Nadya, menuntun langkah pelayan mudanya yang ringkih itu masuk kembali ke dalam rumah, melewati koridor terang, dan membawanya langsung ke dalam kamar tamu lantai bawah yang sunyi.Cklek.Pintu kamar ditutup dan dikunci dari dalam, menyegel takdir Nadya di bawah kuasa penuh sang majikan. Kamar tamu itu mendadak terasa begitu sempit begitu tubuh tinggi besar Johan mendominasi ruangan.Nadya mundur hingga punggungnya membentur tepian ranjang berukuran king size, menatap Johan dengan sepasang mata yang dipenuhi kepanikan murni.Johan maju selangkah dan menatap Nadya yang napasnya memburu tidak teratur. "Tenang, Nadya. Jangan gemetar seperti itu," ucap Johan."Malam ini, aku akan membuktikan kepada kamu... bahwa aku bukan pria lemah. Aku bukan pria yang menyerah dalam dua menit seperti yang kamu dengar sore tadi

  • Pesona Pelayan Tuan Muda   Bab 5

    Cengkeraman tangan Johan di belakang tengkuk Nadya semakin mengerat, menarik perlahan namun pasti wajah wanita muda itu agar semakin mendekat.Nadya bisa merasakan embusan napas Johan yang memburu, hangat dan sarat akan tuntutan yang mutlak.Jantung Nadya berdentum begitu keras hingga terasa menyakitkan di dadanya. Dia memejamkan mata rapat-rapat, memasrahkan diri pada nasib yang sebentar lagi akan merenggut batasan terakhir di antara mereka.Namun, tepat saat bibir Johan baru saja hendak menyentuh ranum bibir Nadya, seluruh ruangan mendadak gulita.Klik!Suara saklar otomatis yang memutus aliran listrik terdengar bersamaan dengan padamnya seluruh lampu di rumah mewah tersebut. Ruang kerja yang semula temaram seketika tenggelam dalam kegelapan total yang pekat."Ah!" Nadya memekik kaget, tubuh mungilnya tersentak ke belakang akibat keterkejutan yang instan."Sialan!" Johan mengumpat sejadi-jadinya.Suaranya yang biasa tenang kini menggelegar dipenuhi amarah dan frustrasi yang memuncak

  • Pesona Pelayan Tuan Muda   Bab 4

    Pukul sembilan lewat lima puluh menit.Nadya berdiri di kamar mandi paviliunnya sedang menatap pantulan dirinya di cermin yang buram. Jantungnya bertalu begitu keras hingga menciptakan rasa ngilu di dadanya.Dia telah mengganti dasternya yang kotor dengan daster batik lain yang lebih bersih, namun tetap longgar dan sederhana.Dia sengaja menguncir rambut hitamnya ke atas, menyisakan beberapa anak rambut yang membingkai wajah pucatnya. Semburat ketakutan yang murni masih tercetak jelas di matanya.Nadya merasa seperti domba yang sedang berjalan sukarela menuju kandang serigala.Dengan langkah kaki yang berat dan gemetar, Nadya keluar dari paviliun belakang.Nadya berhenti tepat di depan pintu kayu jati berukir besar di ujung lorong lantai dua.Di atas pintu itu, semburat cahaya keemasan mengintip dari celah bawah, menandakan sang pemilik ruangan memang sedang berada di dalam.Nadya menarik napas dalam-dalam, mencoba mengumpulkan sisa-sisa keberaniannya yang sudah tercecer di lantai.To

  • Pesona Pelayan Tuan Muda    Bab 3

    "Ma-maksudnya apa, Pak?" tanya Nadya ketakutan.Johan tidak langsung menjawab.Dia justru bersandar dengan santai pada tepian meja, lalu melipat kedua tangannya di depan dada, hingga membuat otot-otot lengannya tercetak semakin kekar."Kamu bekerja di sini karena sudah tidak punya tempat tinggal lagi, kan?" tanya Johan dengan nada datarnya.Nadya tertegun, dengan bola matanya yang bulat melebar cemas. Tak lama kemudian, dia pun mengangguk pelan secara refleks.“I-iya betul, Pak.”"Lalu, kalau hari ini aku memecat kamu karena kelancangan kamu tadi, kamu mau tinggal di mana?"Pertanyaan retoris itu seketika memicu kepanikan massal di kepala Nadya. Bayangan harus menggelandang di jalanan kota metropolitan yang kejam langsung berputar di benaknya.Nadya sadar betul posisinya di dunia ini begitu rapuh; dia sebatang kara dan rumah mewah ini adalah satu-satunya tempat bernaung yang dia miliki saat ini."Ta-tapi, Pak, saya mohon... jangan pecat saya," Nadya langsung memohon dengan suara parau

  • Pesona Pelayan Tuan Muda   Bab 2

    “Ng-nggak, Pak. Saya nggak ngintip. Saya cuma mau ambil minum aja," cicit Nadya dengan suara yang hampir habis.Namun, tampaknya Johan tidak percaya. Pria itu justru melangkah mendekat, mengikis jarak yang tersisa di antara mereka hingga embusan napas hangatnya yang beraroma mint dapat dirasakan Nadya di puncak kepalanya.Johan menatap Nadya dengan tatapan yang membuat Nadya kembali menelan ludahnya dengan susah payah.Itu adalah tatapan menilai yang teramat tajam, gelap, dan seolah mampu menembus pakaian longgar yang dikenakan pelayan mudanya itu.Semenjak dia bekerja di rumah mewah ini hampir setahun yang lalu, Nadya tak pernah melihat Johan hanya mengenakan celana dalam seperti itu.Biasanya, sang majikan selalu tampil rapi, eksklusif, dan terkontrol dalam balutan kemeja kerja yang mahal atau piyama sutra yang kancingnya tertutup rapat.Melihat sisi liar, kasual, sekaligus sangat primitif dari seorang Johan membuat seluruh pertahanan mental Nadya runtuh seketika.Karisma maskulin p

Bab Lainnya
Jelajahi dan baca novel bagus secara gratis
Akses gratis ke berbagai novel bagus di aplikasi GoodNovel. Unduh buku yang kamu suka dan baca di mana saja & kapan saja.
Baca buku gratis di Aplikasi
Pindai kode untuk membaca di Aplikasi
DMCA.com Protection Status