로그인Hujan di luar semakin deras. Seolah menjadi latar dari sesuatu yang jauh lebih besar dari sekadar konflik perasaan. Santi belum bisa menebak seluruh kejadian yang akan terjadi. Dia hanya ingin melakukan yang terbaik.Di dalam mobil hitam yang terparkir tidak jauh dari rumah sakit, Arka masih menatap layar dengan senyum tipis yang sulit diartikan. Jarinya mengetuk pelan dashboard, ritmis, tenang, tapi penuh perhitungan.“Dia mulai berpikir,” gumamnya pelan, “dan itu bagus.” Seorang pria di kursi depan menoleh sedikit, “Tuan, apakah kita lanjut ke tahap berikutnya?”Arka tidak langsung menjawab. Matanya masih terpaku pada layar yang menampilkan rekaman CCTV rumah sakit tepat saat Santi keluar dari kamar Danira.“Belum,” jawabnya akhirnya, “aku ingin melihat seberapa jauh dia bisa berjalan tanpa jatuh.” ujar Arka seolah menggantung.“Tapi, jika dia bekerja sama dengan Baga, itu bisa berbahaya.” Arka tersenyum tipis, “Justru itu yang membuat permainan ini menarik.” tatapan Arka masih pada
Di rumah sakit Danira terbangun dengan napas berat. Ruangannya sunyi. Namun, perasaan diawasi itu kembali datang.Dia menoleh cepat. Tidak ada siapa pun.Tapi, tiba-tiba lampu berkedip. Sekali. Dua kali. Jantungnya berdegup kencang.Tidak ada yang tahu bahaya yang sedang mengancamnya. Danira bukan tidak tahu, tapi dia mencoba menenangkan dirinya. “Apa ada orang di sini?” bisiknya panik.Pintu perlahan terbuka. Danira langsung menegang. Namun, kali ini yang masuk bukan pria misterius itu. Santi. Langkahnya tenang. Tatapannya tajam.Berbeda dari biasanya. Danira membeku.“Kamu?” suaranya serak. Santi menutup pintu di belakangnya. Pelan.“Aku cuma mau tanya satu hal,” ucapnya.Dia mendekat. Setiap langkah terasa menekan.“Kamu mau terus jadi pion atau ingin melakukan sesuatu …,” suaranya rendah, “atau mulai bertahan hidup?” Danira menelan ludah.Tatapan Santi bukan lagi wanita yang bisa dikendalikan.“Kenapa kamu datang?” tanya Danira, mencoba bertahan. Santi berhenti tepat di depan ra
“Aku tahu, tapi aku benar-benar berterima kasih karena kamu masih sangat mempercayaiku,” hati Santi masih terasa lebih hangat dibandingkan perasaan Bimo yang semakin memudar.Entah kenapa cobaan pernikahan dirasakan sangat sulit. Santi benar-benar tidak menyangka semua hal akan terjadi sampai seperti ini.Dia yang membayangkan akan mendapatkan keluarga yang utuh dan mencintai sekarang berubah seperti ini. Dia bahkan sudah lama sekali tidak bertemu dengan anaknya, Keenan dan Kinara.Meskipun saat ini Baga berada disisinya perasaan kehilangan semakin terasa. Dia juga masih belum bisa merelakan kehilangan.“Aku benar-benar kangen anak-anak. Aku sudah lama sekali nggak bertemu dengan mereka,” tatapan Santi benar-benar menusuk. Dia sedih sekaligus rindu.“Apa kamu mau bertemu dengan mereka besok?” Santi mengangguk pelan, dia ingin sekali membawa mereka lagi. Benar-benar sudah lama tidak bertemu.Sibuk dengan kegiatan yang dipikirkan, tapi anak-anak malah diabaikan. Bukan hanya Santi, tapi
“Aku tahu.” Suaranya turun satu tingkat.Lebih berbahaya, “mereka mulai keluar dari bayangan.” Dia mematikan layar, “Dan mereka memilih Santi sebagai pintu masuk.”Sebelum semuanya berhasil aku akan mencegahnya. Aku tidak mungkin membuatnya dalam bahaya. Baga yakin bisa melindunginya.Apapun yang terjadi dia pasti menjadi garda yang paling utama membela Santi.Di rumah sakit. Danira terbaring lemah. Namun, matanya terbuka. Menatap kosong ke langit-langit.Pintu kamar terbuka perlahan. Seseorang masuk. Langkahnya tenang. Danira menoleh, matanya langsung membesar.“Kamu?” suaranya hampir tidak terdengar.Danira terkejut melihat orang dihadapannya.Pria itu tersenyum tipis, “Seharusnya kamu diam,” ucapnya santai. Tubuh Danira langsung menegang.“Kamu yang … melakukan ini?” air matanya jatuh lagi, kali ini karena takut.Pria itu mendekat. Membungkuk sedikit, “Bukan aku,” bisiknya, “aku hanya … memastikan semuanya berjalan sesuai rencana.” Napas Danira memburu.“Kamu bilang, cuma akan men
Baga kembali ke kediaman dengan membawa Santi kemudian menyuruh salah seorang pengawal untuk menghubungi Jonathan. Dia tidak ingin kalau Santi lama-lama di rumah sakit hanya untuk melihat pertunjukan yang seharusnya tidak dia lihat. “Kamu percaya padaku?” Baga tidak menjawab pertanyaannya.“Diamlah kita akan obati lukamu setelah sampai di rumah setelah itu Kau boleh berbicara apapun,” Baga hanya ingin Santi beristirahat.Kondisinya ck sudah pasti dan dia tadi sudah melihat pertunjukan secara langsung aksi dardor der yang dilakukan oleh Baga. Di dalam lubuk hati tentu saja Baga sedikit cemas, dia takut Santi merasa takut ketika berdekatan dengannya. Di dalam mobil nanti juga tidak banyak bicara. Dia terlihat terpukul mendengar ucapan Bimo.“Dasar laki-laki kurang ajar! Ini semua karena Kamu yang merubah suasana hati. Andai saja aku benar-benar bisa membuatnya menghilang dari muka bumi yang pasti sudah melakukannya,” Baga mengeraskan gigitan gigi benar-benar ingin membela Santi tanpa
“Aku nggak pernah tahu sejak kapan kamu sampai punya pemikiran seperti itu. Aku benar-benar enggak menyangka semakin hari perbedaan kita malah semakin terlihat, Mas,” kata yang terucap terdengar getir.Santi hanya merasakan kalau Bimo bukan lagi sepenuhnya suaminya yang dulu. Suaminya yang dulu salah-sangat mempercayainya. Bimo yang sekarang, seolah selalu mencari alasan hanya untuk menutupi suatu alasan yang sebenarnya alasan itu tidak perlu dipertanyakan. Cinta yang sebenarnya seharusnya tanpa syarat. Tanpa banyak bertanya. Atau hal-hal kecil yang seperti itu, Bimo harusnya lebih mengenal Santi dibandingkan orang lain. Jujur saja, mungkin saat ini Santi merasa sangat kecewa. Perasaan-perasaannya yang dulu mekar itu hanya karena dia merasa gelora dan awalnya permainan panas dan gairah bercampur dengan hasrat liar yang tidak pernah dia dapatkan dari manapun. Sejak ketemu Riki dan merasakannya pertama kali, Santi terus merasa penasaran hingga dia bertemu dengan Bimo. Namun, kalau bu
Keesokan paginya, Santi akhirnya bertemu dengan Rio di sebuah kafe. Dia ingin sekali semua pertanyaannya terjawab dengan segera. Tidak ingin membuang rasa penasarannya. Dia hanya ingin membuktikan segala keraguan di hatinya. Rio adalah seorang pria berkacamata yang tampak sangat t
“Tutup mulutmu. Jangan pura-pura lagi!” dengus Bimo, dia benar-benar tidak suka dengan apa yang dikatakan Danira.“Hah! Aku ini sedang bicara apa adanya,” Danira tak sungkan untuk membalasnya dengan kecut. Dia juga tidak suka dengan nada bicara Bimo, semakin lama, Bimo tidak lagi menghargainya.“Ak
“Aku yakin, Kak Bimo nggak akan datang. Dia nggak memiliki perasaan apapun padamu,” Lana memprovokasi Danira.“Aku tahu itu, dia memang nggak memiliki perasaan padaku, tapi kalau semua berhubungan dengan ini …,” seraya memberitahu sambil mengusap perut Danira yang masih buncit, menegaskan kembali
Baga melirik dengan cemas. Walaupun kepercayaan dirinya teramat tinggi, namun jika berhubungan dengan Santi dan tatapannya mulai beralih lagi pada Bimo, Baga juga akan merasakan hal tidak nyaman itu.“Sayang, aku mohon, dengarkan aku. Aku benar-benar sudah nggak menyentuhnya lagi. Dia bu







