MasukAir mata masih membanjiri pipi Santi. Perasaannya seperti sebuah kutukan yang mematikan. Kutukan yang membuatnya hidup dengan kehadiran Bimo dalam hidupnya.Dia memang mungkin bukan pengalaman pertamanya merasakan semua hasratnya dulu, namun saat ini semua sudah terasa sangat nyata dan mendalam … Santi merasakan kekecewaan yang sangat dalam.Dia terluka, namun tidak berdarah.Semua hal seperti sebuah gelembung yang melayang di udara. Begitu indah, namun saat semua gelembung itu pecah, semuanya akan hancur tidak tersisa.Bimo adalah segalanya. Dia permata juga pernah menjadi penawar segala kesedihannya.Sekarang Bimo lah yang membuatnya menangis. Wanita itu … masa lalu yang tidak mungkin bisa dikalahkan. Tidak ada jalan keluar untuk segalanya. Saat ini dia ingin sekali berlari dan bersembunyi.Luka yang Bimo torehkan terlalu dalam. Sakit hingga membuatnya tidak bisa berkata—kata.“Sudahlah … sayang, jangan menangis lagi. Aku benar—benar minta maaf. Aku tidak tahu akan separah ini bagi
“Jangan bicara lagi aku tidak mau dengar. Tutup mulutmu, Baga!” Santi yang sudah merasa lemah dan benar-benar ingin pingsan. Dia juga wanita biasa yang sama seperti wanita lainnya. Akan terluka karena cinta dan pengkhianatan.Apalagi ini adalah tentang cinta. Tentang perasaan yang dia rasakan dan semua hal yang membuat bahagia dia dulu.Sekarang yang indah terasa lenyap ditelan sang malam. Semua janji manis yang terucap oleh Bimo banyak ketika masa lalu itu benar-benar hadir.“Kamu masih mau ingin menonton?” Kembali bangga menyadarkan Santi dari apa yang tidak bisa dilukiskan. Rasa marah dan kekecewaan menjadi satu. Semua terjadi begitu saja di saat dia baru saja meneguk sedikit kebahagiaan.Santi tidak mengira kalau luka yang sama akan dirasakan kembali. Dia merasa dunianya gelap.“Tolong bawa aku pergi dari sini. Aku tidak mau di sini lagi. Aku benar-benar muak aku dan merasa jijik!” Santi menangis.Air mata itu membanjiri tanpa dia sadari. Ini pertama kalinya dia menangis begitu
“Aku tidak peduli. Yang aku tahu, apa yang aku mau harus aku dapatkan. Kamu, harus tahu itu dan berjanji tidak mengingkarinya!” Baga bersikeras dengan keinginannya.“Anak-anakku mana? Biarkan kami pulang! Aku tidak mau pulang ataupun keluar tanpa membawa anak-anakku!”Tentu saja Santi tidak akan membiarkan kedua anaknya ditinggal begitu saja supaya Baga bisa mencari alasan untuk mengekangnya. “Itu tidak mungkin akan aku izinkan. Aku akan membuat jaminan. Mereka, anak-anakmu adalah jaminannya. Mereka tidak akan aku biarkan pergi dan kamu tidak perlu khawatir, mereka akan baik-baik saja. Mereka juga anak-anakku!”Tidak ada jawaban lagi dari Santi ketika dia berdebat dengan Baga. Dia diam saja dan masih berada dalam gendongan Baga.Baga tersenyum puas, apapun yang menjadi jawaban, tetap saja Baga yang akan mengaturnya.Baga menurunkan Santi di depan pintu mobil. Dia menggandeng tinggal Santi masuk dan dengan cepat menariknya ke dalam pelukan. Karena sudah mendapat ucapan seperti tad
“Kamu?!” delik Santi.“Aku mendapati ini secara legal dan benar-benar valid. Atau kalau kamu ragu, kamu bisa membuktikannya sekarang!” Santi di tantang Baga.Dia masih tidak percaya dengan apa yang dilihatnya. Itu adalah sesuatu yang mustahil, tapi kejanggalan tetap terasa di hati Santi apalagi dia semalam juga merasakan keraguan itu. “Kau mengawasiku?” decak Santi.“Bukan hanya kamu, aku harus mengetahui rivalku dengan pasti. Apa yang aku inginkan harus aku dapatkan!” Baga berkata dengan tegas seolah dia tidak akan mengalah.“Apa kamu bilang? Kau ini benar-benar gila. Aku bilang, aku sangat mencintai suamiku dan nggak akan mungkin berpaling darinya. Dia satu-satunya lelaki yang kucintai.”Santi masih bersikeras dengan keputusan dan hanya itu yang dia ingin katakan saat ini. “Aku bisa jamin dan katakan semua akan berubah saat kau benar-benar mengetahui yang sebenarnya. Aku tidak akan membiarkan dia melukaimu. Kalau aku sedikit saja melihat kau menangis, aku akan langsung merampasmu
“Kita lakukan lagi, ya!” wajah Baga yang memelas sudah membuktikan kalau dia benar-benar menginginkannya lagi.“Nggak usah aneh-aneh! Aku sudah katakan nggak mau melakukannya lagi!” Santi yang tetap bersikeras dengan pendirian.Baga malah menyandarkan tubuhnya di dada Santi membuat ruang geraknya terhambat.“Aga, hentikan! Cepat turunkan aku!”Santi meronta. Namun, laki-laki berbadan tegap dan besar itu tidak membuat mudah digoyahkan. Dia tetap memeluk tubuhnya dengan erat.“Sayang … aku tahu kamu menyukainya. Aku tidak akan menggodamu, aku hanya ingin sekali lagi, ya, ya?” persis seperti anak kecil, dia sedang merengek.Untungnya beberapa pengawal dan pelayan yang berada di area tersebut semuanya berbalik.“Atau kamu ingin melakukan hal lainnya, hup!” Santi terkejut, tiba-tiba dia berdiri.Tubuh Santi diangkat dan Baga mulai berjalan keluar dari taman sementara pengawal dan pelayan diperintahkan untuk mengikuti juga membawa kereta bayi milik Santi.“Aga! Aga! Apa yang sedang kau laku
“Kamu pasti haus juga kan?” Santi mengangguk pelan.Baga menarik kereta dorong makan dan mengambil minuman, “Ini coklat hangat dan ada jus jeruk hangat. Kamu mau dua-duanya?” Bukan pilihan yang dikatakan Baga, tapi keduanya.Lagi-lagi Santi menurut, Baga menarik kursi agar mereka bisa saling berhadapan. Lalu Baga mengarahkan gelas jeruk hangat lebih dulu ke mulut Santi. Santi meneguknya.Ada sedikit ragu sebenarnya karena sekarang posisinya. “Anakku sedang kelaparan rupanya!” Santi tidak menjawab hanya menerima suapan minuman lagi dari Baga, “biarkan aku bantu,” Baga secara naluri seperti seorang ayah juga suami mengambil alih gendongan tadi dan meletakkan di kereta bayi. Kemudian mengambil lagi satunya dan memberikan pada Santi.“Kamu cantik sekali kalau sedang seperti ini,” Baga merapikan rambut Santi dan meletakkannya di daun telinga. Tentu saja Santi tidak bisa menolak karena posisinya sekarang memang tidak bisa menolak. “Aga!” Dia hanya bersedia.“Aku mengatakan yang sebenarn







