MasukBimo sudah mempersiapkan diri, dia berdiri perlahan dan menunjukan sesuatu yang dibukanya. Biasanya itu hanya bereaksi dengan istrinya Santi, sekarang si lele itu menjadi penghianat. Dia malah menunjukan kebesarannya dihadapan Danira.“Apa kamu yakin ingin melakukannya?” ujar Bimo, sebenarnya dia juga menginginkan, namun sikap egoisnya seakan menekan agar Danira yang mengakuinya lebih dulu.Sudah pasti tidak akan mundur lagi, Nira sudah sangat kepanasan. Darahnya hampir mendidih. Dia hanya bisa mengangguk pelan sambil menahannya hasratnya yang semakin menggila, “Ah!” napasnya kembali tertahan.Saat dia mengangguk pelan, Bimo tidak ada kata—kata langsung menerobos tanpa ampun. Nira menjerit dan tangisnya sedikit keluar. Dia membekap mulutnya sendiri.Sakit. Pertama kali dia menyerahkan hanya karena wawancara kerja apakah itu sepadan? Itulah hal tergila yang dilakukan Nira. Dia seolah kehilangan jati dirinya saat dihadapkan dengan Bimo.Laki—laki yang memang dulu yang menggila juga men
“Bi–Bimo? Kamu? Kamu sedang apa disini?” Danira sedikit gelagapan saat melihat Bimo berada di hadapan.Dia sama sekali tidak membayangkan bahwa dia akan bertemu ditempat yang akan dijadikannya sebagai tempat barunya bekerja.Kemarin dia bermasalah di tempat bekerjanya. Karena terlalu sering meminta izin untuk menghadapi urusan ibu dan adik laki-lakinya yang bermasalah Danira dipecat secara tanpa notifikasi.“Kamu masih bertanya? Bukankah seharusnya sekarang aku yang harus banyak bertanya denganmu!”Seketika Danira terdiam, mendengar ucapannya malah membuat hatinya jadi tidak enak. Tentu saja dia mengerti karena saat ini dia sedang berada dalam panggilan wawancara.“Maafkan … Aku …, Aku yang salah! Seharusnya aku tidak bertanya hal itu padamu,” Danira menundukkan wajah, dia merasa salah bertanya.“Aku yang akan mewawancarai kamu!” Bimo berjalan semakin mendekat dan mendekap pinggang Danira.“Wawa—wawancara? Apa kamu?” Danira menatap lekat wajah laki—laki yang sudah di dekatnya.“Tent
Air mata masih membanjiri pipi Santi. Perasaannya seperti sebuah kutukan yang mematikan. Kutukan yang membuatnya hidup dengan kehadiran Bimo dalam hidupnya.Dia memang mungkin bukan pengalaman pertamanya merasakan semua hasratnya dulu, namun saat ini semua sudah terasa sangat nyata dan mendalam … Santi merasakan kekecewaan yang sangat dalam.Dia terluka, namun tidak berdarah.Semua hal seperti sebuah gelembung yang melayang di udara. Begitu indah, namun saat semua gelembung itu pecah, semuanya akan hancur tidak tersisa.Bimo adalah segalanya. Dia permata juga pernah menjadi penawar segala kesedihannya.Sekarang Bimo lah yang membuatnya menangis. Wanita itu … masa lalu yang tidak mungkin bisa dikalahkan. Tidak ada jalan keluar untuk segalanya. Saat ini dia ingin sekali berlari dan bersembunyi.Luka yang Bimo torehkan terlalu dalam. Sakit hingga membuatnya tidak bisa berkata—kata.“Sudahlah … sayang, jangan menangis lagi. Aku benar—benar minta maaf. Aku tidak tahu akan separah ini bagi
“Jangan bicara lagi aku tidak mau dengar. Tutup mulutmu, Baga!” Santi yang sudah merasa lemah dan benar-benar ingin pingsan. Dia juga wanita biasa yang sama seperti wanita lainnya. Akan terluka karena cinta dan pengkhianatan.Apalagi ini adalah tentang cinta. Tentang perasaan yang dia rasakan dan semua hal yang membuat bahagia dia dulu.Sekarang yang indah terasa lenyap ditelan sang malam. Semua janji manis yang terucap oleh Bimo banyak ketika masa lalu itu benar-benar hadir.“Kamu masih mau ingin menonton?” Kembali bangga menyadarkan Santi dari apa yang tidak bisa dilukiskan. Rasa marah dan kekecewaan menjadi satu. Semua terjadi begitu saja di saat dia baru saja meneguk sedikit kebahagiaan.Santi tidak mengira kalau luka yang sama akan dirasakan kembali. Dia merasa dunianya gelap.“Tolong bawa aku pergi dari sini. Aku tidak mau di sini lagi. Aku benar-benar muak aku dan merasa jijik!” Santi menangis.Air mata itu membanjiri tanpa dia sadari. Ini pertama kalinya dia menangis begitu
“Aku tidak peduli. Yang aku tahu, apa yang aku mau harus aku dapatkan. Kamu, harus tahu itu dan berjanji tidak mengingkarinya!” Baga bersikeras dengan keinginannya.“Anak-anakku mana? Biarkan kami pulang! Aku tidak mau pulang ataupun keluar tanpa membawa anak-anakku!”Tentu saja Santi tidak akan membiarkan kedua anaknya ditinggal begitu saja supaya Baga bisa mencari alasan untuk mengekangnya. “Itu tidak mungkin akan aku izinkan. Aku akan membuat jaminan. Mereka, anak-anakmu adalah jaminannya. Mereka tidak akan aku biarkan pergi dan kamu tidak perlu khawatir, mereka akan baik-baik saja. Mereka juga anak-anakku!”Tidak ada jawaban lagi dari Santi ketika dia berdebat dengan Baga. Dia diam saja dan masih berada dalam gendongan Baga.Baga tersenyum puas, apapun yang menjadi jawaban, tetap saja Baga yang akan mengaturnya.Baga menurunkan Santi di depan pintu mobil. Dia menggandeng tinggal Santi masuk dan dengan cepat menariknya ke dalam pelukan. Karena sudah mendapat ucapan seperti tad
“Kamu?!” delik Santi.“Aku mendapati ini secara legal dan benar-benar valid. Atau kalau kamu ragu, kamu bisa membuktikannya sekarang!” Santi di tantang Baga.Dia masih tidak percaya dengan apa yang dilihatnya. Itu adalah sesuatu yang mustahil, tapi kejanggalan tetap terasa di hati Santi apalagi dia semalam juga merasakan keraguan itu. “Kau mengawasiku?” decak Santi.“Bukan hanya kamu, aku harus mengetahui rivalku dengan pasti. Apa yang aku inginkan harus aku dapatkan!” Baga berkata dengan tegas seolah dia tidak akan mengalah.“Apa kamu bilang? Kau ini benar-benar gila. Aku bilang, aku sangat mencintai suamiku dan nggak akan mungkin berpaling darinya. Dia satu-satunya lelaki yang kucintai.”Santi masih bersikeras dengan keputusan dan hanya itu yang dia ingin katakan saat ini. “Aku bisa jamin dan katakan semua akan berubah saat kau benar-benar mengetahui yang sebenarnya. Aku tidak akan membiarkan dia melukaimu. Kalau aku sedikit saja melihat kau menangis, aku akan langsung merampasmu







