LOGIN“Kamu pasti haus juga kan?” Santi mengangguk pelan.Baga menarik kereta dorong makan dan mengambil minuman, “Ini coklat hangat dan ada jus jeruk hangat. Kamu mau dua-duanya?” Bukan pilihan yang dikatakan Baga, tapi keduanya.Lagi-lagi Santi menurut, Baga menarik kursi agar mereka bisa saling berhadapan. Lalu Baga mengarahkan gelas jeruk hangat lebih dulu ke mulut Santi. Santi meneguknya.Ada sedikit ragu sebenarnya karena sekarang posisinya. “Anakku sedang kelaparan rupanya!” Santi tidak menjawab hanya menerima suapan minuman lagi dari Baga, “biarkan aku bantu,” Baga secara naluri seperti seorang ayah juga suami mengambil alih gendongan tadi dan meletakkan di kereta bayi. Kemudian mengambil lagi satunya dan memberikan pada Santi.“Kamu cantik sekali kalau sedang seperti ini,” Baga merapikan rambut Santi dan meletakkannya di daun telinga. Tentu saja Santi tidak bisa menolak karena posisinya sekarang memang tidak bisa menolak. “Aga!” Dia hanya bersedia.“Aku mengatakan yang sebenarn
“Kenapa terus melihatku? Kamu sudah mulai tertarik padaku?” Santi menelan ludahnya saat mendengar Baga berbicara.Lelaki itu benar-benar seperti kehilangan pikiran. Santi bahkan benar-benar tidak habis pikir kenapa dia bisa bertemu dengan laki-laki itu.“Kamu yakin bisa menggendongnya?” nada bicara Santi sedikit rendah. Dia tidak ngegas atau sewot sendiri.“Sekarang menurutmu bagaimana?! Apa aku terlihat kaku?! Atau anakmu yang kugendong akan jatuh?” Spontan Santi menggeleng. Dia memang tidak melihat tanda-tanda itu. Dibandingkan dengan suaminya Bimo, Ini pertama kalinya Santi melihat anaknya digendong orang lain selain Rossa dan Pak Abdi.“Sepertinya suamiku harus belajar darimu!” Kata Santi berucap tanpa sadar. “Belajar dariku? Kau yakin? Bukankah dia ayahnya?” Santi terdiam saat mendengar ucapan Baga, “ada apa? Kau bertengkar dengannya? Apakah serius? Apa ada kemungkinan kau bercerai dengannya?”Baga bicara terus terang pada Santi. Dia benar-benar sudah bertekad akan mengambil Sa
“Dasar cecunguk bodoh dan nggak tahu diri. Itu namanya dia sedang memberikan kamu kesempatan. Eh, malah kamu tolak!” sergap pak Abdi sedikit emosi saat mendengar ucapan anak yang selalu dianggap mencari masalah.“Udahlah Pa, Santi juga nggak masalah. Dia nggak keberatan. Papa masih mau protes?!” Bimo malah semakin sewot saat pak Abdi melakukan protesnya.“Awas aja kalau sampai terjadi apa-apa sama menantuku. Papa nggak akan maafin sama belain kamu ya. Minta tolong sambil bersujud pun papa nggak akan mau nolongin kamu!” cetus pak Abdi melakukan serangkaian serangan.“Ya ampun, Pa, segitunya. Yang anak Papa itu siapa sih? Aku apa Santi? Papa malah lebih ngebelanya?” dengus Bimo malah tidak mau kalah dengan ucapan Pak Abdi. “Papa beneran ya Bimo, Papa nggak bakal maafin kamu kalau Santi mengambil keputusan yang berbeda dengan pikiranmu. Saat ini Santi itu berada dalam tahap yang harus diperhatikan. Dia akan mudah lelah bukan hanya melayani kamu, tapi juga menjaga anak-anakmu. Dia pasti
Tidak peduli dimanapun, Lana selalu menjadi teman, adik yang paling baik untuk Santi. Dia akan selalu membelanya. Namun, ada sedikit rasa ragu dalam hati Santi.“Mana kak Bimo, mana orangnya, ma. Kalau aku ada disitu aku yang jambak rambutnya!” Lana masih bersemangat dari ujung pengeras suara telepon Rossa.“Apa sih, kamu, Lana!” Bimo sedikit sewot saat menjawabnya. Dia terdengar tidak suka saat mendengar Lana mengumpatnya.“Kakak, kamu ngapain kak Santi, aku nggak mau ya kakak nyakitin kak Santi. Kalau kakak ngelakuin itu, aku bakal kabur dari sini dan langsung pulang. Aku nggak mau lagi sama Alan!” ujar Santi dalam panggilan dengan nada setengah berteriak.“Aku udah kangen banget pengen ketemu kak Santi dan dua keponakanku … pokoknya kalau kak Bimo macam—macam sama kakak, kakak bilang aku ya!” Santi tidak bisa berkata saat mendapatkan dukungan yang paling besar.Padahal Lana bukanlah adik kandungnya, tapi dia memperlakukan Santi seperti kakaknya sendiri.“Jangan macam—macam Lana, A
“Apakah dulu aku salah mengambilnya keputusan? Aku terlalu cepat menerima lamaran hanya karena mas Bimo nggak ingin aku kembali lagi dengan Riki!” sambil menyusui, pikiran Santi terus melayang.Ada sedikit rasa sesal Santi jika melihat Bimo sekarang. Bimo seperti menjadi sosok lain setelah dia melahirkan atau itu memang hanya pikiran sempitnya saja.“Kenapa aku merasa mas Bimo berubah? Apa yang salah sebenarnya? Atau memang sejak awal aku yang sudah salah. Harusnya aku nggak ada diantara mereka. Aku bahkan nggak mengetahui banyak tentang kisah cinta mas Bimo sebelumnya. Aku hanya tahu, kalau mas Bimo suka sekali main dengan perawat papa.”Semakin dalam pikirannya, Santi semakin merasa goyah dengan segala prinsip kehidupannya.Dia merasa Bimo sudah berpaling hati atau memang sejak awal, Santi memang hanya seorang pengganti. Sekarang kisah lama suaminya sudah kembali, dia harus segera menyadarinya.Perasaan galau dan menyesakkan itu semakin mengganggu pikiran Santi. Dia tidak menyangka
“Aku bisa berbuat lebih gila lagi kalau kamu tidak memberikan balasan pesanku. Aku bisa masuk sekarang tanpa izin siapapun. Aku sanggup melakukannya. Asalkan aku bisa mendengar jawabanmu!”Ucapannya semakin terdengar tidak masuk akal, Baga masih menatap Santi dari bawah pagar rumah Bimo.Tatapannya yang sangat dalam mengartikan, dia tidak berbohong.“Jadi, apa jawabanmu, Sayang? Semakin kamu mengulur waktu, aku sama sekali tidak keberatan. Aku bisa tetap disini sambil memandangimu,” selagi Santi berpikir, aroma tekanan dari Baga semakin kuat.“Iya, baik, aku akan datang!” Santi langsung menjawabnya agar urusan segera selesai.“Sesuai waktu yang aku tentukan. Aku akan meminta orang untuk menjemputmu. Kamu juga bisa membawa anak-anak kita,” ucapannya lagi yang tidak masuk akal semakin membuat Santi frustasi dengan ucapannya.“Kamu gila! Itu nggak masuk akal. Aku bukan istrimu dan dia juga bukan anak-anakmu!” Santi hanya mengingatkan, kalau apa yang dilakukannya salah. “Istri? Apa kamu







