LOGINA/n: Update lagiiii^^“Misi rahasia pertamaku selesai.”Andra menyodorkan sebuah novel bersampul merah gelap bergambar hati yang patah dan dua jari kelingking yang saling bertaut sesaat setelah memasukki ruang kerja Dirga.“Novel Aldo yang kamu minta semalam,” jelas Andra saat melihat Dirga hanya menatapnya dengan serius.Mendapati keterdiaman Dirga, Andra membuka suaranya lagi, “Karena sedikit penasaran, aku sempat baca isinya,” ringisnya pelan. Mata besarnya menatap pria itu dengan penuh sesal. “Maaf, aku mencuri start.”Mengaku jujur lebih baik dibandingkan dia harus berpura-pura tidak mengintip isi novel tersebut. Lagi pula siapa yang tidak dibuat penasaran?Semalam, lebih tepatnya malam-malam sekali Dirga meminta bertemu dan meminta tolong padanya untuk dicarikan novel unlimited milik Aldo–sang penulis skenario di perusahaan yang juga pernah menjadi mantan pacar dari Alisa–.Katanya novel itu tidak dipasarkan secara luas karena diterbitkan secara mandiri. Jadi, Dirga kesulitan me
Dirga pernah mendengar satu hal bahwa dua orang yang berjodoh memiliki kemiripan, entah dari fisik maupun hal-hal lain. Ucapan Alisa yang satu itu terus menempel di benaknya. Sesuatu yang nyaris tidak pernah Dirga pikirkan sebelumnya. Jadi, kemiripan apa yang dimiliki keduanya? Sementara Dirga sendiri merasa dia dan Alisa memiliki banyak perbedaan. "Hei." Panggilan lembut itu menyadarkan keterdiaman Dirga. Pria itu saat ini berdiri di ambang pintu kamar dan mata hitam legamnya menatap lurus pada Alisa yang tampaknya sudah siap dengan menenteng tasnya. Usai membicarakan gantungan ponsel Alisa yang hilang, keduanya sempat sarapan bersama Larissa, Anton, dan juga Clarissa. Meski yah, suasananya masih terasa sedikit canggung karena Clarissa terlihat belum bisa berinteraksi bebas dengan Alisa. Akan tetapi, suasana meja makan tadi terasa hangat. Dirga bisa melihat sendiri bagaimana Alisa berusaha mendekati putri kecil Sam itu secara perlahan. "Kamu tidak sakit lagi ‘kan?" tan
Jujur saja, Alisa merasakan kejanggalan.Fokus utamanya tidak lagi memikirkan pada kemungkinan dia telah dibodohi sepupunya sejak awal, melainkan lebih kepada kebodohannya sendiri.Bisa-bisanya dia tidak memeriksa, bahkan sekadar mengkonfirmasi data pribadi pria yang kini telah menjadi suaminya?Padahal selama ini, riset sudah menjadi bagian dari pekerjaannya sebagai penulis cerita cinta fiksi. Namun, ironis kemampuan itu mendadak tidak terpakai ketika Alisa hendak menikahi Dirga.Jika ada yang harus disalahkan, Alisa akan menyalahkan dirinya sendiri karena begitu mempercayai Sabrina di awal. Dan sepertinya ... akal sehat Alisa ketika itu juga tidak bekerja.Satu tangan terangkat dan langsung menepuk keningnya cukup keras. 'Dasar bodoh!' makinya dalam hati.Bagaimana jika Dirga bukan manajer kantoran biasa, melainkan ternyata seorang mafia kejam?! Berbuat salah atau bahkan tidak menjadi istri penurut, Alisa yakin dia bisa mati ditembak.Seakan tombol imajinasinya dinyalakan, hal itu b
Selagi Alisa masih berada di kamar mandi, Dirga yang sudah selesai bersiap-siap memutuskan cepat turun untuk menemui sang keponakan yang sudah dipastikan marah padanya. Pernah tinggal cukup lama di negara luar beberapa tahun lalu membuatnya lebih sering mengunjungi kediaman Sam dibandingkan Dirga pulang ke tanah air. Jadi, Clarissa memang cukup menempel padanya jika bertemu. Dan sikapnya yang kekanakan seperti tadi, Dirga bisa sedikit memakluminya. Tapi, tetap saja tidak bisa dibiarkan. Usai menuruni anak tangga terakhir, Dirga berniat berbelok menuju dapur. Namun, dia urung begitu melihat keberadaan ibunya tengah bersandar di pintu dengan tubuh Clarissa yang menghadap ke pintu seolah meminta keluar sambil menggendong tas besarnya di punggung. Larissa sepertinya tengah membujuk cucunya itu. "Kamu sudah berjanji akan bersikap baik jika Halmonie membawamu ke Uncle Dirga." "Jadi, ayo cepat lepaskan tasmu dan sarapan pagi." Namun, dengan sikapnya yang keras kepala Clarissa menolak,"
“Clarissa, tidak boleh bicara seperti itu,” tegur Dirga dengan nada yang tegas tapi lembut. Dirga kemudian menolehkan wajah, menatap Alisa lurus-lurus. “Tentu Uncle menyayangi kalian.” Alisa akui, dia senang mendengarnya. Tapi, siapa yang tahu isi hati Dirga yang sebenarnya? Bagaimana kalau jawaban Dirga hanya untuk tidak menyakiti siapapun? Detik itu, Alisa membenci dirinya sendiri. ‘Kenapa aku ikut bersikap kekanakan, sih?’ “Aunty Alisa tidak jahat,” bantah Dirga. Bahkan sebelum Alisa menyadarinya, Dirga melangkah mendekat dan menarik tangannya. Alisa tersentak saat merasakan Dirga menautkan jadi tangan mereka. “Perhatikan, dia wanita yang baik dan juga …,” jedanya sambil melirik Alisa. Refleks, Alisa sendiri ikut melirik ke arah Dirga, menunggu kelanjutan ucapan pria itu. “Cantik sepertimu, bukan?” Demi mendengar itu, Alisa menahan napasnya. Apa Dirga bilang?! “Tidak, jelek! Rambutnya berantakan!” komentar Clarissa yang menyatakan pendapatnya dengan lantang. Matanya yang kec
Tiba-tiba terdengar suara nyaring anak kecil dari luar kamar. Seketika hal itu menyela ucapan Dirga yang langsung terdiam sambil memikirkan suara anak kecil yang terdengar familier baginya. “Uncle Dirga?” Lagi-lagi seruan panggilan ‘Uncle Dirga’ terdengar lebih jelas hingga membuat Alisa kebingungan. “Dirga–mphh!” Mata besarnya terbelalak mendapati pria itu yang tiba-tiba membungkam bibirnya dengan satu ciuman tanpa aba-aba. Sontak Alisa mengangkat kedua tangannya, hendak mendorong dada Dirga menjauh. Akan tetapi, seolah bisa membaca niatnya, Dirga meraih kedua tangan Alisa dan menempatkannya di atas kepala. Sepersekian detik berikutnya, tubuhnya menegang. Meski pikirannya ingin menolak, tubuh Alisa mengkhianatinya. Napas hangat Dirga yang menerpa wajah dan pagutan lembut di bibirnya perlahan meluluhkan Alisa dalam hitungan detik. Dia nyaris menutup mata dan membuka bibir kalau tidak mendengar suara di luar kamarnya. “Uncle! Uncle ada di mana?” Seolah tersadarkan, Dirga melepa
Alisa tidak langsung menjawab. Dia tiba-tiba saja menyodorkan jari kelingkingnya ke hadapan Erick. “Kakak mau janji satu hal padaku?”Mata besarnya menatap Erick lekat-lekat. Suaranya terdengar berbisik pelan. “Aku akan berkata jujur, tapi jangan beritahu Dirga, ya.”Sudut bibir Erick terangkat ke
Di sisi lain, di kamarnya, kini Alisa tengah kelimpungan sendiri memilah-milih pakaian yang akan dibawanya. Jari telunjuknya beberapa kali mengusap dagu sambil mata besarnya bolak-balik menatap ke arah lemari dan ranjang tidur yang sudah dipenuhi oleh beberapa jenis pakaian. “Mana yang harus kubaw
Erick langsung melayangkan tatapannya pada Dirga. Dari apa yang dia ketahui dari Larissa, mereka seumuran. Demikian, nada bicara Dirga terdengar santai. Dan, Erick juga bersikap tak kalah santai.“Apa?” sahutnya ringan. “Katakan saja jika itu bisa membuat Alisa senang.” Erick kemudian berpaling unt
Nama itu meluncur begitu saja dari bibir Alisa.Produser Argo.Dan seketika arus ingatan tentang pria tersebut melintas di kepalanya. Sosok yang dulu dijadikan alat tawar-menawar antara dirinya dan Sabrina. Alisa dijanjikan … jika dia mau berpura-pura menjadi Sabrina dan membatalkan perjodohan deng







