เข้าสู่ระบบSatu ucapan Pras berhasil menggores luka baru di sudut hati Aruna. Dia tertegun. Di antara banyaknya hal yang bisa diucapkan, haruskah Pras memerintahkan dirinya untuk melepas pelukan? Alih-alih menuruti, lengan Aruna malah semakin melingkari erat pinggang pria itu, seolah lupa dengan situasi mereka saat ini. Aruna menempelkan kepalanya di dada Pras dan menantangnya, “Kalau aku tidak mau?” Beruntung Anjani cepat-cepat menyeret koper keduanya masuk ke dalam lift sehingga kini dia harus terjebak menyaksikan drama hubungan sepasang kekasih yang di ambang kehilangan harapan itu. Dia memilih tak bersuara. Namun, saat menengok ke belakang dan bertemu tatap dengan Pras, Anjani mengangkat jari tengahnya dan mengumpat padanya. Bibirnya bergerak mengatakan sesuatu. Tanpa suara. “Bas-tard!” umpatnya. Melihat Pras yang terlihat baik-baik saja tentu memancing kemarahan Anjani. Bisa-bisanya selama ini dia tak menghubungi Aruna, tapi bisa menghubungi Aland dan memberitahu kepergiannya ke
Satu minggu kemudian ….Agenda untuk pergi ke luar kota yang sudah lama ditunggu-tunggu Aruna, kini akhirnya terlaksana. Mobil yang ditumpanginya dari bandara baru saja tiba di depan hotel Aguwa Palace.Dengan semangat yang menyala, Aruna memilih menurunkan kopernya sendiri dari bagasi.Menyaksikan itu, Anjani menggelengkan kepala. Dia menyeletuk iseng dengan senyum samar menggoda, “Bisa sekalian bawa koperku juga nggak, Run?”Dan tanpa diduga, Aruna langsung mengiakan. “Boleh, sini,” angguknya.Seketika Anjani terperangah. Belum sempat dia mengatakan bahwa dirinya hanya bercanda, Aruna lebih dulu menyambar koper miliknya dan menyeretnya masuk ke dalam hotel yang cukup mewah itu.Aruna sempat memutar kepalanya ke belakang. “Kak Pras beneran menginap di hotel ini ‘kan?”Meski perasaannya diliputi rasa gembira, di sisi lain Aruna merasa cemas. Bagaimana jika ternyata dia tak bertemu Pras di hotel ini?Cepat-cepat Anjani menganggukkan kepalanya. “Iya, aku jamin Kak Pras menginap di hotel
Pulang dari apartemen Anjani, senyum di bibir Aruna mengembang lebih lebar sampai-sampai Garvi yang menjemputnya sore itu merasa sedikit keheranan. Demikian, dibalik setir kemudinya, pria itu bertanya, “Apa ada kabar baik hari ini?”Di kursi penumpang, Aruna menoleh dengan penuh semangat. Kepalanya mengangguk kuat-kuat. “Yap, sebenarnya memang ada kabar baik. Tapi, karena ini masih rahasia, jadi Kak Garvi nggak boleh tahu dulu.”Seandainya saja kabar pernikahan Dirga diumumkan, bukankah itu akan menjadi kabar baik bagi orang-orang terdekatnya? Namun, karena sudah berjanji untuk tidak memberitahu siapapun, Aruna terpaksa mengunci mulutnya rapat-rapat.Pun, rencananya dengan Anjani yang akan pergi ke luar kota untuk mengurus urusan bisnis juga enggan Aruna beritahukan pada kakak laki-lakinya itu. Apalagi dia memiliki niatan lain untuk menemui Pras. Kalau sampai informasi itu bocor, besar kemungkinan pertemuan mereka akan gagal.Demi menghindari itu, Aruna memilih merahasiakannya dan mem
Aruna memiliki pilihan untuk menolak. Sayangnya, dia berakhir mengiakan permintaan Dirga. Tentu untuk mengulik tujuan tersembunyi pria tersebut. “Ada hubungan apa kamu dengan keluarga ini?” tanyanya sambil menoleh ke arah Dirga yang duduk di kursi kemudi mobil. Ya, keduanya sudah berpindah tempat dari cafe tadi dan meluncur pergi menuju mansion keluarga Blair. Mobil Dirga terparkir berhenti tak jauh dari mansion mewah di sekitar mereka. Belum sempat memberikan respons, ponsel Dirga berdering. Pria itu langsung mengangkatnya. Dan dalam hitungan detik, Dirga larut dalam pembicaraan panggilan tersebut. Sejujurnya Aruna merasa penasaran dan berniat menguping. Namun, itu bukan hal baik untuk dilakukan. Jadi, selagi menunggu Dirga selesai, Aruna mengotak-atik ponselnya. Pun, jari tangannya sibuk menekan layar ponsel. Aruna sibuk memikirkan hal lain, satu di antaranya adalah tentang keluarga Blair. Dia membatin, ‘Sudah lama aku nggak pernah melihat Natasha.’ Dimana wanita itu sekarang?
[Bisakah kita bertemu? Tapi, tolong jangan beritahu siapapun.] Aruna kembali membaca email yang dikirimkan Dirga. Lantas mengalihkan pandangannya dari ponsel dan menatap ke sekitar. Kini, dia sudah berada di restoran–tempat janji temunya dengan Dirga. Sesekali dia menyeruput kopi pesanannya. Aruna mencoba meyakinkan diri bahwa keputusannya pagi ini untuk datang menemui Dirga adalah bukan sesuatu yang salah. Rasa penasaran memenuhi benaknya. Bukankah terakhir kali Dirga yang mengatakan untuk tidak saling bertemu lagi? Jadi, dengan alasan–ah, hal mendesak apa yang membuat pria itu kembali menghubunginya? Itu pasti sesuatu yang tak bisa dibicarakan melalui ponsel pintar. Selagi menunggu kedatangan Dirga, Aruna mengetuk-ngetukkan jarinya di atas meja. Pendingin di ruangan VIP ini cukup membuat tubuhnya sedikit menggigil. Mungkin karena bahan cardigan yang dia kenakan cukup tipis. Akan tetapi, tidak masalah mengingat ruangannya menjaga privasi dan menawarkan kenyamanan. Dia berharap t
“Aruna nggak mau jawab.” Menurutnya, itu pilihan yang tepat. Toh memberitahu Ryuga juga akan berakhir sia-sia. Daddy-nya menginginkan hubungannya berakhir, sementara dia sendiri berkebalikan dari itu. Aruna memiliki cara pandangnya sendiri. Baginya, terlalu mudah untuk mengakhiri hubungannya dengan Pras begitu saja. Ryuga tidak mengatakan apapun lagi setelahnya. Jawaban Aruna menutup perbincangan di antara ayah dan anak tersebut. Pun, setibanya di rumah, Aruna masuk ke dalam lebih dulu tanpa menunggu Daddy-nya. Kedatangannya langsung mendapatkan atensi Claudia beserta adik-adiknya yang tengah bersantai di ruang keluarga: Gara dengan Lego di tangan dan Cherrish tengah memakan camilan. “Kenapa sudah pulang, Na?” tanya Claudia kebingungan. Netra matanya menatap ke arah buah-buahan dan buket bunga yang ditenteng kedua tangan Aruna. Dia segera bisa menjawab pertanyaan sendiri. “Unga, mau!” Cherrish menengadahkan tangan seolah meminta buket bunga dari kakak pertamanya itu. “Buat Cher







