แชร์

Pesona Presdir Posesif
Pesona Presdir Posesif
ผู้แต่ง: catatanintrovert

Salah Orang

ผู้เขียน: catatanintrovert
last update วันที่เผยแพร่: 2024-02-02 12:11:19

“Ah ….” Lenguhan dan desahan bergema di ruangan hotel itu. 

Cahaya remang dari lampu tidur yang menyala memperlihatkan samar siluet dua orang yang tengah saling memagut satu sama lain. 

Namun, detik sang pria ingin menyatukan dirinya dengan wanita dalam pelukan, satu desisan terlepas dari bibir wanita tersebut.

"Kamu masih perawan?" tanya Ryuga yang mengerutkan kening saat melihat gadis di bawah kungkungannya meringis kesakitan, tepat begitu dia berusaha membobol mahkotanya.

Claudia mencengkeram punggung Ryuga kuat-kuat. “Terobos aja, Pak,” tukasnya cepat.

Satu tangan Claudia merangkul tengkuk Ryuga, berusaha mengalihkan perhatian pria itu dengan bibirnya. Namun, Ryuga menolak.

"Jawab pertanyaan saya," tegasnya.

Ditatap seperti itu, Claudia menggigit bibir. Frustrasi karena hasratnya terpaksa ditahan. "Ya menurut Bapak?!" balasnya ketus, ingin agar pria di atasnya ini cepat melanjutkan aksinya lagi.

Namun, tidak disangka, Ryuga malah menghela napas dan menjauhkan diri darinya. "Saya nggak bisa lanjut." Suara Ryuga kembali mengudara di tengah hawa panas yang menyelimuti keduanya.

"Loh, kenapa?!" rengek Claudia. “Kan sudah sesuai perjanjian!” 

Untuk melupakan rasa sakit hatinya karena ditinggal bertunangan oleh sang pujaan hati, Claudia memesan seorang pria dari muncikari yang direkomendasikan temannya. 

Pria dewasa dengan proporsi tubuhnya bagus, tidak kelebihan otot dan juga wajah yang menawan, itu ciri-ciri yang Claudia berikan sehingga dirinya berujung mendapatkan Ryuga, pria yang membuat Claudia merasa telah mendapatkan jackpot lantaran gigolo yang dia pesan ternyata bisa begitu memesona. 

Akan tetapi, karena dia perawan, Ryuga malah mengurungkan niatnya?! Transaksi macam apa ini!? Claudia sudah mengeluarkan uang, masa batal!?

Ryuga menautkan alis mendengar ucapan Claudia, entah karena bingung atau tidak setuju dengan kalimat gadis itu. Namun, kalimat yang tidak mampu Claudia percaya terlontar dari bibir Ryuga. 

"Kamu harus lakukan itu dengan seseorang yang kamu suka,” ujar pria tersebut seraya turun dari tempat tidur dan meraih jubah mandi di dekatnya. Otot perutnya yang menggoda masih dipertontonkan.

Mendengar kalimat Ryuga membuat Claudia mematung. Gigolo macam apa Ryuga ini?! Kok bisa menolak dan malah menyarankan kliennya untuk melakukan yang pertama kali dengan orang yang mereka suka?!

Ya, kalau misalkan bisa bersama dengan orang yang Claudia suka, dia juga tidak akan ada di tempat ini!

Kepalang tanggung karena hasrat sudah di ubun-ubun, Claudia memutuskan untuk membalas, "Saya sukanya Pak Ryuga!”

Sontak, Ryuga membeku. Ekspresi pria itu memang datar, tapi pancaran matanya memancarkan keterkejutan seiring dirinya perlahan menoleh untuk menatap mata Claudia. 

Wajah Ryuga tampak kesulitan, tapi setelah beberapa saat, pria itu kembali membuang wajah. “Tapi saya nggak suka kamu,” ucapnya, sukses membuat Claudia terbelalak. “Kamu amatir.”

"Pak, jahat banget sih mulutnya!" protes Claudia, merasa tersinggung.

Memang dia tidak seksi dan berisi seperti wanita-wanita lain di bar malam itu, tapi Claudia cukup pede dengan parasnya. Walau Claudia tidak selalu percaya, tapi banyak orang yang memuji kecantikannya, membuatnya yakin kalau paling tidak penampilannya masih berada di garis rata-rata!

Dengan mata yang mulai berkaca-kaca karena tersinggung, Claudia merengut selagi menatap Ryuga. Pria itu pun menyadari hal tersebut dan berujung kembali menghela napas.

"Saya minta maaf, tapi saya bener-bener nggak bisa," ucap Ryuga. 

"Kenapa?! Saya berkenan, Bapak juga. Saya mau, Bapak juga mau. Jadi harusnya–”

"Kamu takut,” potong Ryuga membuat Claudia terdiam. Pria itu menoleh saat selesai berpakaian dan menatap mata Claudia lurus. “Saya bisa lihat itu di mata kamu."

Mendengarnya, Claudia tersedak air ludahnya sendiri. Apa … sungguh sejelas itu?

Memang, sejujurnya Claudia takut karena ini pertama kali baginya. Bukan hanya itu, dari awal dirinya juga tak pernah senakal itu apabila berpacaran. Paling mentok juga berpegangan tangan dan berpelukan, sisanya tidak pernah karena nyalinya begitu kecil. 

Namun, karena patah hati yang begitu besar, malam ini Claudia memutuskan untuk nekat.

"Apa alasan kamu ingin tidur dengan saya?" tanya Ryuga lagi. “Penasaran? Ingin mencoba? Atau … karena ingin menjadikan malam ini pelampiasan?”

Claudia kaget. Tidak menyangka isi hatinya terbaca jelas oleh pria di hadapannya. Berusaha menghindari tatapan Ryuga yang tajam dan menusuk itu, Claudia pun menundukkan kepala, sedikit malu dan merasa bersalah.

Tahu tebakan terakhirnya benar, Ryuga berucap, “Saya nggak bersedia dijadikan pelampiasan.”

Ucapan Ryuga membuat Claudia mengepalkan tangannya. Dia sudah membayar sang muncikari, masa ditinggal tanggung begini!?

"Bener nih, Pak?" Claudia masih berharap, tapi Ryuga menganggukkan kepalanya mantap.

Keputusan Ryuga memang menyebalkan. Akan tetapi, pun dia seorang gigolo, Ryuga tetap manusia. Dia boleh punya pilihan.

Memikirkan itu, Claudia pun menghela napas kasar dan berkata, “Kalau begitu, saya minta yang lain saja.”

Mendengar tersebut, Ryuga yang baru saja ingin mengenakan jasnya mendadak membeku di tempat. “Apa?” Dia menatap gadis itu dengan wajah tidak percaya.

Claudia mengedikkan bahunya. “Ya, kalau Pak Ryuga nggak mau, saya cari pria lain. Rugi dong kalau kadung nanggung begini.” 

Namanya sudah bayar, masa mau minta balik uangnya. Mana mungkin si muncikari mau!?

Baru saja Claudia membuka hapenya untuk menyalakan internet dan mengirim pesan kepada si muncikari, tangannya langsung dicekal oleh Ryuga. “Kamu akan mencari pria lain kalau saya menolak?” tanya pria itu.

Claudia mengerjapkan mata, tapi dia menjawab, “Iya.” 

Ada kilatan aneh di mata Ryuga seiring dirinya berkata, “Apa kamu gila? Sebegitu nekatnya kamu sampai sama sekali tidak memedulikan harga dirimu?”

Alis Claudia tertaut, dia rasanya ingin marah. Apa hak Ryuga membicarakan harga diri dengannya?!

Baru saja ingin menyemprot pria itu, mendadak ponsel Claudia bergetar. Itu telepon dari ‘Mami’, panggilan untuk sang muncikari.

Melihat hal itu, Ryuga gegas melepaskan tangan Claudia. Mungkin baru sadar dia tidak ada hak menahan gadis tersebut.

“Saya ke kamar mandi dulu … kalau memang kamu mau lanjut, kita lanjutkan setelah kamu selesaikan panggilan itu!” Usai mengatakan hal tersebut, Ryuga langsung masuk ke kamar mandi.

Mendengar hal itu, Claudia tersenyum penuh kemenangan. Dia pun mengangkat panggilan.

“Halo?” sapa Claudia.

“Bu Claudia! Akhirnya, terhubung juga panggilannya! Ibu dari tadi ke mana?! Saya telepon berkali-kali!” tegur si mami dengan agak panik, membuat Claudia menautkan alis. Belum sempat dibalas, si mami melanjutkan, “Ini anak Mami nungguin dari tadi!”

Claudia mengerutkan kening. “Loh, ini anaknya udah sama saya.” Ryuga saja ada di dalam kamar mandi.

“Hah? Nggak, Bu Claudia. Ini anak Mami aja udah dua jam nungguin Ibu di depan bar!”

Informasi dari si muncikari membuat Claudia membeku. Dia perlahan menatap ke arah pintu kamar mandi, lalu berkata dengan agak bergetar, “Nama anak Mami … Ryuga, ‘kan?”

“Ryuga? Siapa itu? Anak Mami yang buat Bu Claudia namanya Evan!”

Balasan sang muncikari membuat dunia Claudia serasa berhenti. Jadi, dia salah orang!? Lalu, siapa Ryuga yang ada di dalam kamar mandi kalau bukan gigolo yang dia pesan?!

**

อ่านหนังสือเล่มนี้ต่อได้ฟรี
สแกนรหัสเพื่อดาวน์โหลดแอป
ความคิดเห็น (28)
goodnovel comment avatar
Bluberry Solenne
seru thor ceritanya
goodnovel comment avatar
Awik
nah lo clau,, untung belum jadi...
goodnovel comment avatar
nsoraya969
Ceritanya keren
ดูความคิดเห็นทั้งหมด

บทล่าสุด

  • Pesona Presdir Posesif   FINAL

    “Kamu di mana, Runa?” suara Anjani terdengar tajam dari seberang telepon. “Bukankah aku sudah bilang? Aku cuma ke luar sebentar, Jani,” jawabnya santai. Tangannya memutar sedotan plastik yang baru saja dia lepaskan dari kemasan susu kotak strawberry di tangannya. “Sebentar kamu bilang?!” Aruna segera menjauhkan ponsel dari telinganya. Nada suara tinggi Anjani membuatnya kaget. Tak sengaja pandangannya tertuju pada jam di layar ponsel yang kini sudah menunjukkan pukul delapan malam lebih. Sementara dirinya sudah ke luar sejak awal kedatangannya ke kota ini. Jelas kepergiannya bukan waktu yang bisa disebut sebentar. “Kalau sampai Daddy-mu tahu kamu tidak bersamaku,” jeda Anjani dengan nada semakin panik. Dia mengembuskan napas berat dan melanjutkan, “aku bisa habis nanti.” Aruna menghela napas pendek. Dia menatap langit-langit kamar, seolah tengah memikirkan sesuatu yang jauh lebih rumit daripada kekhawatiran Anjani saat ini. “Tenang saja,” gumamnya pelan. “Aku sudah menghubungi D

  • Pesona Presdir Posesif   Terungkap

    Jika bukan karena menginginkan penjelasan lebih lanjut, Aruna tidak akan bersedia diajak menuju kamar hotel tempat Argus menginap. Perasaan canggung yang semula menyelimuti tergantikan oleh rasa penasaran. Siapa gadis yang mirip dengannya itu? Berbagai macam dugaan memenuhi benak Aruna. ‘Apa jangan-jangan Om Papa punya anak dari wanita lain selain Natasha?’ batinnya seraya menatap Argus yang tengah membuka tas dan mengeluarkan satu berkas. Aruna meringis. Jujur saja, sejak dulu dia tidak pernah memiliki prasangka baik terhadap ayah biologisnya itu. “Om Papa …?” panggilnya pelan, sedikit ragu. Mendengar itu, Argus langsung mengalihkan pandangan pada putrinya. Sorot matanya tampak jauh lebih lembut. Mungkin itulah yang membuat Aruna mempertimbangkan untuk menyuarakan apa yang ada di dalam pikiran. “Aku tidak pernah mendengar kabar soal Natasha lagi. Bagaimana dia sekarang?” Nama itu disebut lagi. Natasha. Wanita yang telah membawa Aruna ke dunia, juga sekaligus yang tega menelantar

  • Pesona Presdir Posesif   Satu Rahasia Lagi

    Satu ucapan Pras berhasil menggores luka baru di sudut hati Aruna. Dia tertegun. Di antara banyaknya hal yang bisa diucapkan, haruskah Pras memerintahkan dirinya untuk melepas pelukan? Alih-alih menuruti, lengan Aruna malah semakin melingkari erat pinggang pria itu, seolah lupa dengan situasi mereka saat ini. Aruna menempelkan kepalanya di dada Pras dan menantangnya, “Kalau aku tidak mau?” Beruntung Anjani cepat-cepat menyeret koper keduanya masuk ke dalam lift sehingga kini dia harus terjebak menyaksikan drama hubungan sepasang kekasih yang di ambang kehilangan harapan itu. Dia memilih tak bersuara. Namun, saat menengok ke belakang dan bertemu tatap dengan Pras, Anjani mengangkat jari tengahnya dan mengumpat padanya. Bibirnya bergerak mengatakan sesuatu. Tanpa suara. “Bas-tard!” umpatnya. Melihat Pras yang terlihat baik-baik saja tentu memancing kemarahan Anjani. Bisa-bisanya selama ini dia tak menghubungi Aruna, tapi bisa menghubungi Aland dan memberitahu kepergiannya ke

  • Pesona Presdir Posesif   Bab Bertemu Pras

    Satu minggu kemudian ….Agenda untuk pergi ke luar kota yang sudah lama ditunggu-tunggu Aruna, kini akhirnya terlaksana. Mobil yang ditumpanginya dari bandara baru saja tiba di depan hotel Aguwa Palace.Dengan semangat yang menyala, Aruna memilih menurunkan kopernya sendiri dari bagasi.Menyaksikan itu, Anjani menggelengkan kepala. Dia menyeletuk iseng dengan senyum samar menggoda, “Bisa sekalian bawa koperku juga nggak, Run?”Dan tanpa diduga, Aruna langsung mengiakan. “Boleh, sini,” angguknya.Seketika Anjani terperangah. Belum sempat dia mengatakan bahwa dirinya hanya bercanda, Aruna lebih dulu menyambar koper miliknya dan menyeretnya masuk ke dalam hotel yang cukup mewah itu.Aruna sempat memutar kepalanya ke belakang. “Kak Pras beneran menginap di hotel ini ‘kan?”Meski perasaannya diliputi rasa gembira, di sisi lain Aruna merasa cemas. Bagaimana jika ternyata dia tak bertemu Pras di hotel ini?Cepat-cepat Anjani menganggukkan kepalanya. “Iya, aku jamin Kak Pras menginap di hotel

  • Pesona Presdir Posesif   Ending Diana Garvi

    Pulang dari apartemen Anjani, senyum di bibir Aruna mengembang lebih lebar sampai-sampai Garvi yang menjemputnya sore itu merasa sedikit keheranan. Demikian, dibalik setir kemudinya, pria itu bertanya, “Apa ada kabar baik hari ini?”Di kursi penumpang, Aruna menoleh dengan penuh semangat. Kepalanya mengangguk kuat-kuat. “Yap, sebenarnya memang ada kabar baik. Tapi, karena ini masih rahasia, jadi Kak Garvi nggak boleh tahu dulu.”Seandainya saja kabar pernikahan Dirga diumumkan, bukankah itu akan menjadi kabar baik bagi orang-orang terdekatnya? Namun, karena sudah berjanji untuk tidak memberitahu siapapun, Aruna terpaksa mengunci mulutnya rapat-rapat.Pun, rencananya dengan Anjani yang akan pergi ke luar kota untuk mengurus urusan bisnis juga enggan Aruna beritahukan pada kakak laki-lakinya itu. Apalagi dia memiliki niatan lain untuk menemui Pras. Kalau sampai informasi itu bocor, besar kemungkinan pertemuan mereka akan gagal.Demi menghindari itu, Aruna memilih merahasiakannya dan mem

  • Pesona Presdir Posesif   Tawaran Anjani

    Aruna memiliki pilihan untuk menolak. Sayangnya, dia berakhir mengiakan permintaan Dirga. Tentu untuk mengulik tujuan tersembunyi pria tersebut. “Ada hubungan apa kamu dengan keluarga ini?” tanyanya sambil menoleh ke arah Dirga yang duduk di kursi kemudi mobil. Ya, keduanya sudah berpindah tempat dari cafe tadi dan meluncur pergi menuju mansion keluarga Blair. Mobil Dirga terparkir berhenti tak jauh dari mansion mewah di sekitar mereka. Belum sempat memberikan respons, ponsel Dirga berdering. Pria itu langsung mengangkatnya. Dan dalam hitungan detik, Dirga larut dalam pembicaraan panggilan tersebut. Sejujurnya Aruna merasa penasaran dan berniat menguping. Namun, itu bukan hal baik untuk dilakukan. Jadi, selagi menunggu Dirga selesai, Aruna mengotak-atik ponselnya. Pun, jari tangannya sibuk menekan layar ponsel. Aruna sibuk memikirkan hal lain, satu di antaranya adalah tentang keluarga Blair. Dia membatin, ‘Sudah lama aku nggak pernah melihat Natasha.’ Dimana wanita itu sekarang?

  • Pesona Presdir Posesif   Menyentuh Lebih Jauh

    Selagi tangannya bekerja di bawah sana, Ryuga membuat bibir dan lidahnya sibuk mengeksplorasi mulut Claudia lebih dalam melalui ciumannya yang berhasil membuat Claudia mabuk. Kedua tangan Claudia berpindah, yang tadinya berada di pundak Ryuga menjadi naik ke belakang kepala pria itu. Sesekali Claud

  • Pesona Presdir Posesif   Repetisi

    Sebuah repetisi. Ryuga membawa Claudia ke kamar hotel selayaknya malam itu terjadi. Saat pintu kamar hotel itu terbuka, manik hitam milik Ryuga menoleh ke arah Claudia dan menyorotnya dalam.“Kamu yakin dengan ini, Claudia?” Suara tegas Ryuga mengudara. Ekspresi wajahnya menunjukkan keseriusan.Di sat

  • Pesona Presdir Posesif   Check-in

    Baru Claudia menolehkan wajah untuk menanyakan lebih lanjut, bibir cherry-nya dibungkam lebih dulu oleh bibir tipis Ryuga melalui kecupan singkat sebanyak dua kali.Claudia merasa tubuhnya seperti tersengat aliran listrik. Matanya tampak sayu ketika bersinggungan dengan manik hitam Ryuga yang dihiasi

  • Pesona Presdir Posesif   Basah?

    “Ryuga ….” Bertepatan Claudia membuka kelopak mata, denting lift berbunyi. Begitu pintu lift sudah terbuka, alih-alih masuk, Claudia malah bergeming di tempatnya. Satu embusan napas menerpa belakang telinga Claudia. “Kenapa diam? Tidak jadi masuk, Claudia?” Suara berat pria itu membuat telinga belak

บทอื่นๆ
สำรวจและอ่านนวนิยายดีๆ ได้ฟรี
เข้าถึงนวนิยายดีๆ จำนวนมากได้ฟรีบนแอป GoodNovel ดาวน์โหลดหนังสือที่คุณชอบและอ่านได้ทุกที่ทุกเวลา
อ่านหนังสือฟรีบนแอป
สแกนรหัสเพื่ออ่านบนแอป
DMCA.com Protection Status