Masuk
"Lingga …." Desahan bernada putus asa itu lolos dari bibir wanita cantik, yang saat ini sedang berada di dalam kendali berondong bayarannya. "tante udah gak tahan." Wanita bernama Maudy itu melenguh, menahan sesuatu yang sedari tadi dia tahan.
Jari-jari milik Maudy, yang dihias kuku-kuku akrilik berwarna merah meremat rambut Bagaskara —pemuda yang dikenalnya sebagai Lingga, sementara kedua paha miliknya makin terentang lebar, seolah memberi akses pada sang pemuas di bawah sana. "Euhh …." Maudy mendesah lagi, kali ini dia benar-benar tidak bisa mengendalikan diri. "Ini enak banget, Lingga," erangnya seraya mendongak, dengan satu tangannya bertumpu pada tepi kitchen island. Ruangan yang seharusnya untuk memasak itu kini telah berubah menjadi area panas, karena ulah dua manusia tanpa sehelai benang, yang saat ini sedang beradegan intim. Bagas— gigolo bayaran Maudy menyeringai puas menyaksikan salah satu pelanggan tetapnya hampir mencapai puncak klimaks. "Lepasin, Tan," ucapnya, yang makin memperdalam permainan lidahnya di lembah basah milik Maudy. "Lingga, kamu … Na-kal!" Inti milik Maudy semakin basah dan mengetat saat Bagas terus memainkannya. Hingga sesuatu yang tidak bisa lagi ditahan lepas tanpa kendali, membuat tubuh polosnya menggelinjang. "Lingga …." Erangan panjang meluncur erotis, menggema di seluruh area pantry. Napas Maudy putus-putus, seiring dadanya yang memiliki ukuran cukup besar naik turun. Seluruh tubuhnya terasa ringan dalam sekejap karena dia telah mencapai puncak kenikmatan, yang luar biasa. Melihat pelanggannya puas, Bagas tentu merasa senang. "Gimana, Tan?" Pemuda itu berdiri, mengusap pipi Maudy yang masih merah dan terasa hangat. Sisa-sisa kepuasan masih berjejak di sepasang matanya yang sayu. "Enak, Lingga," sahut Maudy yang napasnya berangsur teratur. Punggung Maudy menegak, menatap ketampanan wajah Bagas, yang telah membuatnya tergila-gila dengan sorot mendamba. Wanita berambut panjang lurus itu lantas meraba dada polos Lingga, sambil menggigit bibirnya dengan sensual. Dan Bagas tahu persis akan berlabuh ke mana tangan lembut itu. Maudy menyusuri setiap jengkal tubuh polosnya yang begitu maskulin, dengan otot-otot yang terbentuk sempurna di bagian-bagian yang seharusnya. Berkat latihan fisik yang sering dia kerjakan dengan rutin. Hanya menyentuh saja membuat darah Maudy kembali berdesir panas. Hasratnya masih belum terpenuhi secara tuntas, karena dia masih belum berkesempatan untuk menikmati milik Bagas yang masih menegak di bawah sana. Keras dan panas. "Tapi, Tante masih pengen icip ini." Maudy merengek manja bak anak kecil yang meminta mainan. "Lingga gak pengen apa masukin tante?" Dia mengurut milik Bagas dengan gerakan maju mundur, membuat pemuda itu mengerang singkat. Namun erangan itu berubah menjadi kekehan saat melihat Maudy yang merengek padanya seperti anak kecil. Dan rengekan ini tak sekali dua kali dia dengar dari para pelanggannya, yang menginginkan lebih dari sekadar sentuhan lidah. Sebab, Bagas tak pernah bahkan sama sekali tidak mengizinkan siapa pun menikmati benda pusakanya. Aneh? Memang terdengar cukup aneh. Karena hal itu terdengar sangat kontradiktif dengan profesi yang dijalani Bagas selama ini. Mana ada seorang gigolo pemuas wanita kesepian tidak pernah sekalipun memasuki lobang-lobang surgawi milik pelanggannya? Ada. Bagas contohnya. Dan hal itu menjadi daya pikat tersendiri bagi Lingga yang bukan nama sebenarnya. Nama asli Lingga adalah Bagaskara Saputra. Namun, para pelanggannya mengenalnya sebagai Lingga. Gigolo berwajah oriental dan bermata sayu. Buat jaga-jaga aja, sih... dan tentunya menghindari masalah. Soalnya sering kejadian, suami-suami para pelanggannya mukulin Bagas kalo pas gak sengaja ketemu.. Resikonya, muka cakepnya babak belur. "Kenapa, sih, kamu gak mau masukin tante?" Maudy tak menyerah dalam merayu Bagas agar mau mengiyakan permintaannya. "Kita udah main puluhan kali, loh. Masa tante gak boleh icip ini." Dia sengaja menekan sentuhannya pada milik Bagas yang membuatnya penasaran. Bagas mengusap dada Maudy yang ujungnya mengetat, lalu berkata, "Kan, gak harus masuk, Tan. Ada banyak cara buat nyenengin Tante. Seks itu gak melulu harus masuk." Dia membungkuk, menggigit ujung dada Maudy dan mengisapnya sekilas. Gelenyar aneh kembali menyerang tubuh Maudy, sementara tangannya belum mau melepas milik Bagas. "Geli, Lingga," protesnya, tetapi juga menikmatinya. "kamu curang!" "Kalo Lingga curang, gak mungkin Tante bisa sampe berkali-kali klimaks," sahut Bagas disela-sela memainkan puncak dada Maudy. "Kenapa, sih, Lingga gak mau masukin?" Maudy protes lagi di sisa kesadarannya yang hampir menipis karena saat ini dia menginginkan lagi. Bagas menyudahi isapannya, lalu menegak. Sambil membelai rambut Maudy, dia menjawab, "Karena Lingga cuma mau ngelakuin pengalaman pertama itu sama istri Lingga, Tan." Jawaban itu masih bisa dikatakan masuk akal 'kan? Agar si Maudy ini gak curiga. "Istri?" Manik Maudy menatap lekat-lekat wajah Lingga yang nampak serius. "Lingga mau nikah?" Tuh, kan... Maudy langsung penasaran. "Hmm." Telapak tangan Bagas berpindah di pipi Maudy. "Aku perhatiin Tante makin cantik. Kayak Kim Kardashian," katanya, yang mulai melancarkan aksinya, kemudian memerhatikan bentuk hidung Maudy yang makin mancung. "kayak … Ada yang diubah lagi." "Jeli juga mata kamu, ya," kata Maudy, menyentuh ujung hidung Bagas sambil mengerling. "Tante emang abis oplas kemarin waktu di Thailand. Bagus, gak hasilnya?" Empat bulan yang lalu dia sengaja terbang ke Bangkok untuk operasi plastik. "Bagus, Tan. Makin cantik," puji Bagas, lantas menyentuh dada Maudy dan meremasnya. "Ini kayaknya juga tambah gede, Tan. Ditambahin lemak mana lagi?" Remasan di dadanya, membuat Maudy mengerang. "Tante tambahin lemak paha. Biar kamu makin betah di sini." Maudy menyodorkan dadanya agar Bagas bisa lebih leluasa menjelajahinya. "Pantes paha Tante makin ramping dan kenceng," ucap Bagas. "aku suka ini, Tan." Dia mengisap lagi puncak dada Maudy. "Geli, Lingga." Maudy kegelian, dan makin gelisah. "Lingga, kamu mau nikah?" Maudy nampaknya masih penasaran, hingga tidak sadar bertanya demikian. Bagas sontak menghentikan isapannya, seringai licik terbit di sudut bibir. Punggungnya menegak, dan dia pun menjawab ambigu, "Hmm … Bisa iya bisa enggak." Sorot matanya berubah dingin, tetapi nampaknya Maudy tidak menyadarinya. Bila diperhatikan dengan saksama, nampaknya perempuan di hadapannya ini sedang menimbang-nimbang. Bagas tentu bisa membaca isi pikiran Maudy saat ini. Selama hampir mengenalnya, Maudy ini tipe perempuan yang harus bisa memiliki apa yang diinginkannya. Apalagi selama hampir kurang lebih setahun dia dan Maudy bersama. Bagas yakin seratus persen jika perempuan ini sangat menginginkannya. Mengingat, jika Maudy selama ini kesepian dan haus belaian. 'Bagus. Kena 'kan, lo?' Bagas membatin senang ketika melihat Maudy yang nampaknya mulai masuk ke dalam perangkapnya. 'Dasar jalang!' Ini semua memang sudah direncanakan Bagas sejak lama. Memancing Maudy agar makin penasaran. Pernikahan? Mungkin itu hanyalah satu-satunya cara agar Bagas bisa menjerat Maudy lebih erat. Mengendalikan hidup wanita jalang ini. "Tan?" Bagas mengusap pipi Maudy. Maudy terhenyak, menatap Bagas dengan tatapan penuh damba. "Lingga yakin mau nikah?" tanyanya tiba-tiba. Kening Bagas mengernyit. "Maksudnya?" Ah, Bagas cuma pura-pura tidak paham maksud Maudy. "Nikah." Maudy memainkan telunjuknya di dada polos Bagas. "nikah sama tante." Bolehkah Bagas berjingkrak sekarang? "Nikah sama Tante?" "Hmm." Maudy mengangguk. Raut Bagas pura-pura terkejut, dan ada seringai licik yang terulas tipis di sudut bibir. 'Yes, akhirnya jalang ini masuk juga ke perangkap gue.' *** Bersambung....Sepanjang perjalanan meninggalkan rumah sakit, Bagas beberapa kali melirik Rachel yang duduk di sampingnya. Perempuan itu tampak sedang memikirkan sesuatu sambil sesekali mengusap perutnya yang semakin membesar. Ada senyum tipis di wajah Rachel, senyum yang sejak tadi belum benar-benar menghilang setelah pertemuan mereka dengan Sandra. Bagas tahu pertemuan tadi bukan sesuatu yang mudah bagi mereka. Untuk Rachel, itu adalah pertemuan pertama dengan perempuan yang selama ini menjadi bagian penting dari kehidupan laki-laki yang dicintainya. Sementara bagi Bagas, melihat ibunya bisa tersenyum, tertawa, bahkan memarahi dirinya karena kehamilan Rachel memberikan perasaan yang sulit dijelaskan. Seolah-olah ada bagian dari kehidupannya yang selama bertahun-tahun terasa kosong, kini mulai terisi kembali. "Mikirin apa?" tanya Bagas akhirnya. Rachel menoleh. "Nggak." "Kalau nggak mikirin apa-apa, kenapa senyum sendiri?" "Aku seneng." Bagas mengangkat alis. "Seneng karena apa? Karena akhirn
Keesokan harinya... Sejak pagi, Bagas sudah memikirkan satu hal. Hari ini dia ingin membawa Rachel menemui mamanya. Bukan karena dia ingin sekadar mengenalkan perempuan yang dicintainya. Ada sesuatu yang jauh lebih besar dari itu. Selama bertahun-tahun, satu-satunya keluarga yang masih dia miliki adalah Sandra. Namun setelah kematian Raditya, keadaan Sandra perlahan memburuk. Depresi yang dialaminya membuat perempuan itu harus menjalani perawatan panjang. Ada masa ketika Sandra bahkan tidak mengenali Bagas dengan baik. Ada hari-hari ketika dia hanya diam menatap jendela. Ada pula saat-saat ketika emosinya tidak stabil dan dia terus menyalahkan dirinya sendiri atas kematian suaminya. Bagas pernah merasa bersalah karena tidak mampu menyelamatkan keduanya. Ayahnya sudah pergi. Ibunya jatuh sakit. Dan dirinya sendiri justru sibuk membangun kehidupan sebagai Lingga demi membalas dendam. Sekarang... Setelah semuanya selesai, Bagas ingin memperbaiki satu hal yang paling la
Sore itu...Rumah Vanila terasa jauh lebih ramai dari biasanya. Rachel yang sejak siang berada di ruang tengah bahkan tidak menyadari ada sesuatu yang aneh.Vanila beberapa kali keluar masuk rumah. Kadang membawa sesuatu ke belakang. Kadang menerima telepon dan berbicara dengan suara yang sengaja dikecilkan. Rachel sebenarnya sempat curiga. Namun setiap kali ditanya, Vanila selalu memberikan jawaban yang sama. "Nanti juga kamu tau." Rachel akhirnya menyerah. Dia duduk nyaman di sofa sambil mengusap perutnya yang semakin membesar. Sejak beberapa hari terakhir, gerakan bayinya juga mulai semakin terasa. Tidak selalu kuat. Tetapi cukup untuk membuat Rachel tersenyum setiap kali merasakannya. Dia masih sering tidak percaya bahwa sebentar lagi akan ada seorang anak kecil yang memanggilnya Mama. Ada rasa takut. Ada rasa gugup. Tetapi lebih banyak rasa bahagia. Terutama setelah semua masalah yang mereka lalui akhirnya selesai. Rachel baru saja mengambil ponsel ketika terdengar su
Hari pertama kembali bekerja ternyata jauh lebih melelahkan daripada yang Bagas bayangkan.Bukan karena pekerjaannya terlalu berat. Justru karena sudah cukup lama pikirannya terbiasa hidup dalam ketegangan, sampai rutinitas kantor terasa seperti sesuatu yang asing. Pukul lima sore, Bagas keluar dari ruangannya sambil mengembuskan napas. Hari itu dia tidak melakukan sesuatu yang luar biasa. Hanya memeriksa beberapa dokumen, mengikuti rapat, mempelajari pekerjaan yang diberikan Hendra, dan menerima teguran kecil karena beberapa hal yang masih belum dia pahami. Tetapi anehnya...Bagas merasa senang. Bahkan ketika Hendra menyuruhnya memperbaiki laporan yang salah, dia tidak merasa kesal. Dulu, seluruh waktunya dipakai untuk menyusun strategi. Sekarang dia hanya perlu memikirkan pekerjaan yang ada di depan mata. Sesederhana itu. Bagas baru saja hendak masuk ke mobil ketika Hendra memanggilnya. "Bagas." Bagas menoleh. "Iya, Om?" Hendra berjalan mendekat. "Gimana kerja sama om
Malam itu...Untuk pertama kalinya setelah sekian lama, Bagas kembali ke apartemennya dengan perasaan yang sulit dijelaskan.Biasanya, ketika pintu apartemen itu terbuka, kepalanya langsung dipenuhi berbagai hal. Tentang Maudy.Tentang rencana yang belum selesai.Tentang bukti yang harus disimpan.Tentang identitas Lingga yang harus terus dia jaga. Bahkan setelah semuanya selesai, tubuhnya sering kali masih terasa tegang seolah-olah ada sesuatu yang harus dia waspadai. Namun malam ini berbeda. Bagas menutup pintu apartemennya, kemudian berdiri beberapa saat tanpa melakukan apa-apa. Sunyi. Tidak ada suara televisi. Tidak ada suara orang lain. Hanya suara pendingin ruangan yang terdengar samar. Bagas mengembuskan napas panjang. Kemudian dia berjalan menuju ruang tengah dan meletakkan kunci mobil di atas meja. Matanya menyapu seluruh ruangan. Apartemen itu masih sama seperti sebelumnya. Tetapi entah kenapa, malam ini terasa berbeda. Mungkin karena untuk pertama kalinya, dia ti
Beberapa hari kemudian...Pengadilan Negeri Jakarta kembali dipenuhi orang sejak pagi.Namun suasananya berbeda dari persidangan sebelumnya.Tidak banyak saksi yang menunggu di luar ruang sidang.Tidak ada lagi pemeriksaan panjang.Hari itu...Majelis hakim akan membacakan putusan terhadap Maudy Prameswari.Bagas berdiri di samping mobil sambil menatap gedung pengadilan.Untuk beberapa detik, dia hanya diam.Dulu...Dia datang ke tempat seperti ini dengan membawa satu tujuan.Balas dendam.Dia ingin melihat Maudy kehilangan semuanya.Seperti dirinya yang pernah kehilangan keluarga.Namun sekarang...Perasaannya sudah berbeda.Dendam itu masih meninggalkan bekas.Tetapi tidak lagi menguasai hidupnya.Sebuah tangan menyentuh lengannya."Mas."Bagas menoleh.Rachel berdiri di sampingnya.Perempuan itu mengenakan dress sederhana dan cardigan tipis. Perutnya yang semakin membesar membuat Bagas otomatis memperhatikan langkahnya."Pelan-pelan," ujar Bagas.Rachel tersenyum. "Aku masih bisa j
Dapat mangsa baru, temen sendiri langsung dilupakan. "Mana katanya yang tadi lagi gak mood pergi? Buktinya, dideketin mangsa baru langsung kecantol." Bagas berdecak melihat kelakuan Nathan, yang sudah terlihat akrab dengan Tante Karin. Temannya itu bahkan sepertinya sudah lupa dengan permasalaha
Bagas pikir jika Maudy tidak akan merealisasikan pernikahan siri dengannya secepat ini. Dan dengan segala perencanaan yang menurutnya sangat matang. Semua serba diatur oleh perempuan itu. Mulai dari tempat, penghulu dan para saksi. Oh, jangan lupa mas kawin yang berupa cincin berlian, yang past
Tawaran mengantar pulang Bagas, rupanya disambut baik oleh Rachel. Padahal dia tadi cuma iseng nawarin. Tak disangka, dia pikir Rachel akan menolak tawarannya. Namun, karena sudah terlanjur nawarin pulang, dan Bagas tidak ingin mengecewakan, dia pun terpaksa izin sama Mami Kumala. Dan saat ini
Gila! Katakan jika saat ini seorang Bagaskara sedang mengambil kesempatan. Oh … tidak! Bagas hanya mengikuti permintaan gadis ABG cantik ini. Kalo kata Bagas "Rejeki gak boleh ditolak." Anggap saja ini rejeki nomplok! Bagas tak hanya mengajari caranya ciuman yang benar. Dia juga sudah m







