LOGIN"Kamu... siapa?" tanya Karen gelagapan, suaranya yang tadinya melengking kini bergetar hebat di bawah tatapan mata elang Langit.
Langit tidak menjawab. Ia bahkan tidak sudi menyebutkan namanya pada tiga gadis di depannya. Tatapan matanya yang dingin merengkuh seisi meja yang berantakan, lalu beralih pada manajer restoran yang berdiri kaku di samping mereka. "Berapa total kerugiannya?" tanya Langit datar, suaranya tenang namun sarat akan otoritas yang tak bisa dibantah. "Ah... i-iya, Tuan. Untuk ganti rugi gelas kristal dan piring impor, ditambah pembersihan lokasi, totalnya dua puluh lima juta rupiah," jawab sang manajer dengan membungkuk sopan, sadar betul dari aura dan pakaian Langit bahwa pria di depannya bukanlah orang sembarangan. Tanpa mengedipkan mata, Langit mengeluarkan dompet kulitnya, menarik kartu hitam tanpa batas limit, dan menyerahkannya pada manajer restoran. "Ambil secukupnya. Saya minta kalian minta maaf ke dia, dan bersihkan meja ini sekarang." Manajer itu dengan sigap menerima kartu tersebut dan membungkuk dalam-dalam. "Baik, Tuan! Segera kami proses!" Lalu mereka menatap ke arah Jeeva “Nona, Kami mohon maaf atas kesalahpahaman ini, semoga anda nyaman di tempat kami…” Karen, Sheila, dan Vanya berdiri membeku dengan wajah merah padam bercampur malu. Pria berwibawa ini sama sekali tidak membela Jeeva dengan kata-kata manis, bahkan tidak melirik mereka sedikit pun seolah mereka hanya anggapan angin lalu. Namun, tindakan Langit yang begitu cepat, tegas, dan dingin justru memberi tamparan keras yang membungkam mulut penuh kedengkian mereka. Setelah menyerahkan kembali kartu kreditnya, Langit melirik Jeeva yang berada di belakang punggungnya. "Jalan," perintah Langit singkat tanpa nada bersahabat. Ia berbalik dan melangkah lebar meninggalkan restoran tanpa memedulikan geng populer yang masih berdiri mematung memandangi punggung tegapnya dengan cerna ketakutan. Jeeva yang masih syok buru-buru menunduk, melangkah cepat menyusul Langit keluar dari restoran tersebut. Perjalanan pulang di dalam mobil terasa jauh lebih mencengkeram daripada saat pergi tadi. Jeeva duduk merapat ke pintu mobil, matanya menatap sepatu ketsnya sendiri. Rasa bersalah menumpuk di dadanya. Gara-gara dirinya, hari Minggu pria di sampingnya ini makin berantakan. Nasi gorengnya dimakan habis, waktunya tersita untuk belanja, dan sekarang harus membayar ganti rugi jutaan rupiah karena keributan yang dipicu teman-teman kampusnya. Jeeva meremas gaunnya, mengumpulkan keberanian untuk membuka suara. "M-mas Langit... Jeeva minta maaf soal yang di restoran tadi. Nanti ganti ruginya bakal Jeeva cicil kalau udah mulai dapet kerjaan sampingan…” "Diam," potong Langit dingin tanpa menoleh sedikit pun dari jalanan. "Suara kamu bikin kepala saya makin pusing." Kalimat menusuk itu langsung mengunci rapat bibir Jeeva. Mobil sedan mewah itu berhenti mulus di depan gerbang kediaman Banyuwangsa. Belum sempat Jeeva bernapas lega atau mengucapkan terima kasih atas perlindungannya tadi, Langit sudah membuka kunci pintu dari dalam. "Turun," ucap Langit singkat, suaranya ketus dan datar. "Bawa semua barang belanjaan kamu masuk. Saya masih ada urusan." Jeeva tersentak. "Mas gak masuk dulu?" Langit tidak menjawab. Ia hanya menatap Jeeva lewat kaca spion tengah dengan sorot mata yang menyuruhnya segera keluar. Tanpa berani membantah lagi, Jeeva buru-buru memindahkan kantong-kantong belanjaan ke luar mobil. Begitu pintu mobil tertutup rapat, mobil mulai menjauh meninggalkan halaman rumah, menghilang di balik tikungan jalan. Malam itu. Suasana rumah megah itu terasa amat lengang. Tante Marini sedang beristirahat di kamarnya di lantai bawah setelah seharian mengurus organisasi yayasan, sementara para asisten rumah tangga sudah kembali ke area mereka masing-masing. Di ruang makan, Jeeva duduk seorang diri menatap hidangan makan malam yang disiapkan Simbok. Piring di seberangnya kosong. Pria berwajah dingin itu tidak kunjung pulang hingga jam menunjukkan pukul sepuluh malam. Rasa tidak nyaman dan bersalah terus menggantung di benak Jeeva. Ia merasa Langit pergi sampai larut malam seperti ini karena kesal padanya. Membayangkan pria itu bekerja keras seharian dengan pikiran stres dan perut kosong membuat Jeeva merasa semakin bersalah. Tiba-tiba, sebuah ide terlintas di kepalanya. Jeeva bergegas menuju dapur. Dari dalam koper lamanya, ia mengambil bungkus cokelat bubuk racikan rumahan favorit almarhum ibunya. Dengan cekatan, Jeeva menyeduh cokelat panas beraroma manis yang menenangkan, lalu menuangkannya ke dalam sebuah termos kecil stainless steel agar suhunya tetap terjaga. “Mungkin cokelat hangat bisa bikin mas Langit gak terlalu pusing... sekalian Jeeva bisa minta maaf secara langsung.” Bisiknya polos. Sekitar pukul sebelas malam, terdengar suara deru mesin mobil memasuki pekarangan. Jeeva yang sejak tadi duduk menanti di ruang tengah lantai atas langsung berdiri tegak. Dari balik pilar, ia melihat sosok Langit melangkah gontai menaiki tangga. Dasi pria itu sudah melar ditarik ke bawah, kancing atas kemeja hitamnya terbuka memamerkan pangkal lehernya, dan rahang tegasnya tampak makin mengeras karena kelelahan yang luar biasa. Langit melintas tanpa menyadari keberadaan Jeeva, berjalan lurus menuju kamarnya di ujung lorong dan menghilang di balik pintu yang terbiasa tidak dikunci. Jeeva menarik napas panjang, mencoba menetralkan jantungnya yang berdegup kencang. Ia memeluk termos kecil berisi cokelat hangat itu erat-erat di dadanya, lalu melangkah pelan mendekati kamar utama milik Langit. Tok! Tok! Tok! Jeeva menggetarkan jemarinya mengetok pintu kayu tebal tersebut. "M-mas Langit...?" panggilnya lirih. Tidak ada jawaban dari dalam. Jeeva mendorong pintu pelan. Engsel pintu berdecit halus, memperlihatkan ruangan luas berdesain modern minimalis dengan dominasi warna hitam dan abu-abu. Langit berdiri di dekat meja kerjanya, baru saja melepas jam tangan mewahnya dan melemparkannya sembarangan ke atas meja. Mendengar suara engsel pintu, Langit berbalik cepat. Matanya yang merah karena menahan rasa kantuk dan gejala insomnia parah beradu lurus dengan mata bulat Jeeva yang ketakutan. "Kamu lagi?" suara Langit bergetar rendah, sarat akan kejengkelan yang sudah berada di puncaknya. "Sudah saya bilang, jangan pernah melangkah masuk ke area pribadi saya!" Jeeva melangkah mundur satu langkah karena kaget, tetapi ia tetap bertahan seraya mengangkat termos kecil di tangannya. "J-Jeeva cuma mau ngasih ini, Mas... cokelat hangat. Buat Mas minum supaya pegal-pegalnya hilang dan bisa tidur nyenyak... sekalian Jeeva mau minta maaf soal…” "Kamu tidak mengerti bahasa manusia, ya?!" Sebelum Jeeva sempat menyelesaikan kalimatnya, Langit sudah memangkas jarak di antara mereka dalam dua langkah lebar. Gerakannya begitu cepat dan dominan. Tangan kekar Langit mencengkeram lembut namun tegas bahu Jeeva, mendorong tubuh mungil gadis itu mundur hingga punggungnya menabrak permukaan dinding dingin di samping pintu. Brak! Suara hempasan halus itu memantul di udara. Kedua tangan Langit langsung mengunci pergerakan Jeeva di kiri dan kanan dinding, menghimpit tubuh mungil gadis itu sepenuhnya di bawah belenggu. Aroma parfum maskulin yang mahal beradu dengan hangatnya napas beraroma mint milik Langit berhembus tepat di atas permukaan wajah Jeeva. Dada bidang pria yang kini bertelanjang dada itu menempel begitu dekat, hingga Jeeva bisa merasakan detak jantung Langit yang bergemuruh kencang. Jeeva membeku seketika. Termos di tangannya hampir saja merosot jatuh. Pipinya mendadak terbakar panas, dan dadanya berdesir hebat hingga membuatnya kesulitan untuk bernapas. "Mas... L-Langit..." bisik Jeeva terbata-bata, menatap mata elang itu dengan ketakutan. Langit menundukkan kepalanya perlahan, hingga ujung hidung mereka hampir bersentuhan. Matanya menatap tajam bibir mungil Jeeva yang bergetar, lalu naik menembus manik mata gadis itu dengan tatapan yang begitu tajam, penuh ancaman sekaligus gairah yang berbahaya. "Kamu sengaja memancing kesabaran saya, Jeeva Nareswari?" bisik Langit dengan suara berat, dan nafas yang memburu tepat di depan bibir Jeeva."Kamu... siapa?" tanya Karen gelagapan, suaranya yang tadinya melengking kini bergetar hebat di bawah tatapan mata elang Langit.Langit tidak menjawab. Ia bahkan tidak sudi menyebutkan namanya pada tiga gadis di depannya. Tatapan matanya yang dingin merengkuh seisi meja yang berantakan, lalu beralih pada manajer restoran yang berdiri kaku di samping mereka."Berapa total kerugiannya?" tanya Langit datar, suaranya tenang namun sarat akan otoritas yang tak bisa dibantah."Ah... i-iya, Tuan. Untuk ganti rugi gelas kristal dan piring impor, ditambah pembersihan lokasi, totalnya dua puluh lima juta rupiah," jawab sang manajer dengan membungkuk sopan, sadar betul dari aura dan pakaian Langit bahwa pria di depannya bukanlah orang sembarangan.Tanpa mengedipkan mata, Langit mengeluarkan dompet kulitnya, menarik kartu hitam tanpa batas limit, dan menyerahkannya pada manajer restoran. "Ambil secukupnya. Saya minta kalian minta maaf ke dia, dan bersihkan meja ini sekarang."Manajer itu dengan si
"Buruan naik, kamu udah terlambat satu menit!"Suara berat dan tajam itu menyambar begitu Jeeva baru saja membuka pintu gerbang. Langit duduk di balik kemudi mobil sedan mewah hitamnya yang terparkir di depan rumah, menatap Jeeva lewat kaca jendela yang terbuka dengan raut wajah penuh kekesalan.Jeeva tersentak, refleks mempercepat langkahnya. "M-maaf ya, Mas. Jeeva buat Mas nunggu..."Bukannya lumer, Langit justru mendengkus dan mencibir julid. "Lain kali kalau tidak punya jam tangan, beli! Waktu saya ini mahal, bukan buat nungguin kamu berdandan."Jeeva menunduk seraya membuka pintu baris kedua dan dengan santainya masuk lalu duduk di kursi belakang, mengira ada sopir keluarga yang akan mengantar mereka. Namun, baru saja ia hendak menarik sabuk pengaman, sebuah bentakan menyengat telinganya."Kamu pikir wajah saya ini kayak sopir?!" semprot Langit seraya memutar tubuhnya ke belakang, menatap Jeeva dengan tatapan menusuk.Jeeva yang polos terkedip-kedip, mengernyitkan dahi tidak paha
"Kenapa? Kamu takut nasi gorengnya saya racuni?"Suara berat dan dingin itu memecah keheningan meja makan yang kaku. Langit meletakkan garpu dan sendok stainlesnya dengan denting halus yang sengaja, tatapan tajamnya menghunus lurus ke arah Jeeva yang sejak tadi hanya memutar-mutar sendok di atas piringnya tanpa benar-benar menyuapnya.Jeeva tersentak, refleks menegakkan punggung. "G-gak... bukan gitu, Mas.""Kalau begitu makan," perintah Langit tak terbantahkan. Ia merapikan kemeja hitam yang membalut tubuh jangkungnya, memancarkan aura dominan yang makin membuat ruang makan semi-terbuka di samping kolam renang itu terasa sesak.Tante Marini yang duduk di kepala meja memutar ingatan ke kejadian tadi pagi di kamar, lalu mendengkus kesal melihat sikap putra sulungnya. "Langit, bisa gak sih kamu bicara pakai nada yang sedikit lebih lembut? Jeeva ini baru ditinggal ibunya, masih trauma. Jangan disamakan seperti kamu membentak karyawan kamu di kantor!"Langit tidak mengindahkan teguran ib
“Mmh, rasanya hangat .…”Gumaman itu lolos dari bibir mungil Jeeva seiring tangannya bergerak turun. Alam bawah sadarnya yang sedang tenggelam dalam mimpi sama sekali tidak mengenali bahwa yang sedang disentuhnya bukanlah bantal empuk yang dipeluknya semalam.Melainkan lekukan perut six pack keras milik pria asing yang berbaring di sebelahnya.Jemari lentiknya bergerak makin turun, lalu mendarat tepat di area sensitif teman tidurnya lalu mengelusnya pelan dengan penuh kepolosan sementara bibir Jeeva menyusuri dada bidang di sampingnya dengan manja, menyandarkan kepalanya dan menggesekkan pipinya di sana. Posisinya terasa nyaman bagi Jeeva tengah terlelap setelah menempuh perjalanan panjang hari sebelumnya.Namun, hal itu harus rusak ketika tiba-tiba Jeeva merasakan dahinya ditoyor pelan, tapi langsung mampu membuat Jeeva melepaskan pelukannya.“Aduh–”“Bukankah sudah cukup? Kamu masih mau melecehkanku lebih jauh?”Suara berat dan dalam itu membuat Jeeva langsung membuka matanya. Gadi







