LOGIN"Apa ada sesuatu yang terjadi di rumah tangga kalian?"Pertanyaan wartawan itu membuat suasana studio seketika terasa berbeda.Kania terdiam, dia menundukkan wajah dan memainkan ujung jarinya seolah sedang berusaha menahan sesuatu. "Aku sebenarnya agak sedih kalau harus membicarakan hal seperti ini di depan banyak orang," tuturnya lirih.Wartawan wanita tadi langsung menurunkan mikrofonnya sedikit. "Maaf, Bu. Kalau pertanyaannya membuat Anda tidak nyaman, kami tidak perlu melanjutkan," ujarnya hati-hati.Kania buru-buru menggeleng. "Tidak, tidak apa-apa," jawabnya lembut. "Aku hanya sedikit kaget karena ada pertanyaan mengenai suamiku." Ia menarik napas panjang sebelum kembali mengangkat wajah. "Mas Dewa dan aku baik-baik saja," katanya kemudian."Apa itu benar, Bu?" tanya wartawan pria tadi.Kania mengangguk. "Benar.""Lalu kenapa belakangan ini kalian terlihat semakin jarang bersama?" tanyanya lagi.Kania tersenyum tipis. "Karena kami sama-sama sibuk.""Sesibuk itu?" kejar wartawan
Ruangan dressing room di studio pemotretan itu tampak sibuk sejak pagi. Beberapa staf berlalu-lalang membawa pakaian, perlengkapan make-up, hingga kotak-kotak perhiasan yang akan digunakan dalam sesi pemotretan hari itu. Lampu-lampu lighting menyala terang di sekeliling cermin besar.Kania keluar dari bilik rias dengan langkah anggun. Gaun malam berbahan sutra hitam tanpa lengan membalut tubuh jenjangnya dengan sempurna. Kilauan berlian di leher dan jemarinya semakin mempertegas kesan mewah yang melekat pada dirinya.Dia berhenti di depan cermin, lalu memiringkan wajah ke kanan dan kiri. "Bagaimana?" tanyanya sambil merapikan helaian rambut di dekat telinganya.Evan yang sejak tadi duduk di sofa langsung mengangkat kepala. Pria itu bangkit dan berjalan mendekat."Pantas saja banyak brand yang ingin menjadikan dirimu ambas," pujinya sambil tersenyum tipis. "Kamu terlihat luar biasa."Kania mengangkat sebelah alis. "Cuma luar biasa?" tanyanya dengan nada menggoda.Evan terkekeh pelan. "
Mentari menatap Nilam dengan sorot mata penuh harap. Sejak tadi, pikirannya dipenuhi berbagai kemungkinan tentang sikap Dewa yang semakin sulit ia pahami. Perhatian kecil, candaan, cara lelaki itu memandangnya, bahkan kepeduliannya yang terkadang terasa terlalu personal.Semakin dipikirkan, semakin kepalanya terasa penuh. Ia akhirnya memberanikan diri meminta pendapat satu-satunya teman yang menurutnya cukup berani mengatakan sesuatu apa adanya."Katakan, Nilam! Kenapa Pak Dewa seperti itu? Apa itu wajar?" tanya Mentari.Nilam diam sejenak. Tangannya yang semula memainkan sedotan di dalam gelas berhenti bergerak. Raut wajahnya mendadak serius, seolah pertanyaan Mentari bukan sesuatu yang bisa dijawab sambil bercanda."Ada dua jawabannya, Mentari. Pak Dewa tulus pengen ngelindungin kamu karena ada rasa. Atau dia melakukan itu semua karena ada maunya," jawab Nilam serius.Mentari menahan napas. Dadanya terasa sesak mendengar jawaban itu. Bukan karena Nilam mengatakan sesuatu yang baru,
[ “Selama kamu berada di bawah atap kediaman Mahendra, tidak ada satu orang pun di luar sana yang boleh menyentuh atau melukaimu. Paham?”][ “Kamu kerja di rumahku. Itu artinya kamu tanggung jawabku. Kalau ada orang yang berani ganggu kamu, bilang sama aku!”][“Aku tidak peduli kalau ada orang yang lihat. Dan berhenti menyebut dirimu ‘cuma pelayan’ saat kamu berada di pelukanku, Mentari.”][ “Jangan kabur seenaknya, Mentari! Kamu... harus... tanggung jawab!”][ “Siapa yang mengizinkanmu tersenyum dan melayani obrolan pria asing seperti tadi, Mentari? Mulai hari ini, kamu hanya boleh tersenyum manis di hadapanku.”][“Mulai sekarang, jangan pernah anggap semua perhatian yang kuberikan kepadamu hanya sebatas perhatian seorang majikan.”][ “Kalau aku bilang aku menyukai rasa tenteram saat berada di dekatmu... kamu mau percaya, Tari?”]"AAARGHH!" Mentari mengacak rambutnya dengan begitu frustrasi.Sejak kabur dari ruang gym tadi, dia tidak bisa berhenti memikirkan sang majikan. Ucapan tulu
"Kenapa? Kamu suka aku begini?" tanya Dewa sambil tersenyum menggoda, sorot matanya berkelip nakal. 'Ya Elah, pake nanya… Ya sukalah!' batin Mentari. Tapi yang keluar dari bibirnya justru, "Pak! Tolong jangan nanya yang aneh-aneh! Dan saya harus pergi, Pak. Mau mandi." Dewa mendekat selangkah. "Kenapa? Gerah, ya?" Astaga. Mentari menelan ludah. "Cukup, Pak! Berhenti menggoda saya!" "Kamu deg-degan, hm?" bisik Dewa, suaranya rendah dan dalam. Mentari menggeleng cepat. "Pak, saya masih sibuk. Masih banyak yang harus saya lakukan. Tolong minggir." Dewa mengangkat sebelah alis. "Oke. Aku akan minggir. Tapi ada syaratnya." Alis Mentari refleks berkerut. "Syarat apa, Pak?" "Berikan aku bibirmu," jawab Dewa datar. "Baru aku akan melepaskanmu." "Pak—ummph…!" Belum sempat Mentari menjawab, Dewa sudah mengunci bibirnya. Meraupnya lembut di awal, lalu segera berubah intens dan tak sabaran. "Nnhh…" desah Mentari tertahan di sela ciuman. Dewa menekan lebih dalam. Lidahnya menyusup, men
Mentari melotot kaget. Dia mau kabur! Dia harus kabur. Tapi kakinya seperti tertancap di sana. Apalagi ketika dia melihat Dewa berdiri dan bergerak ke arahnya dengan tubuh penuh keringat. "Sudah selesai ngintipnya, hm?"Mentari menggeleng cepat, wajahnya merah padam. "S-Saya nggak mengintip, Pak! Saya cuma… lewat…" beo gadis itu sambil menahan malu.Dewa mengangkat sebelah alis. "Lewat sambil berdiri diam di belakang pintu hampir 5 menit? Alasan yang bagus, Mentari," tanyanya sambil melipat kedua tangannya di dada.Mentari terdiam. Tidak ada alasan yang bisa menyelamatkannya.Dewa melangkah maju, mengenggam pergelangan tangannya sambil berkata, "Masuk! Kamu harus dihukum!" titahnya dengan wajah serius.GAWAT!Kalimat perintah barusan terdengar begitu mutlak di telinganya. Ditambah bunyi klik kecil ketika Dewa sengaja mengunci pintu di belakangnya.Dengan kaki yang terasa seperti jelly, Mentari masuk ke dalam ruangan gym. Bau keringat dan pengharum ruangan bercampur. Matras masih terbe







