Home / Pendekar / Petani Terkuat / 015 Tanah yang Menagih

Share

015 Tanah yang Menagih

Author: AgamYupi02
last update publish date: 2026-06-15 21:51:07

Setibanya di ladang, langkah Jaka melambat.

Angin sore bertiup melewati hamparan tanaman sayur dan cabai, tetapi bukannya membawa kesegaran, pemandangan di depan matanya justru terasa menyesakkan. Daun-daun yang seharusnya hijau kini menguning di banyak bagian. Beberapa batang tampak layu, menunduk seperti orang sakit yang kehilangan tenaga untuk berdiri. Tanah di sekitar akar terlihat kusam dan kering, tidak retak parah, tetapi jelas kehilangan daya hidup.

Jaka berdiri diam di tepi ladang.

Unt
Continue to read this book for free
Scan code to download App
Locked Chapter

Latest chapter

  • Petani Terkuat   065 Logika yang Tumbang di Ruang Tamu

    Keempat tamu wanita itu kini menempati satu-satunya sofa panjang di ruangan yang pelapis plastiknya sudah memudar dan retak-retak. Ruang tamu Jaka yang pada dasarnya memang sempit seketika terasa kian menyusut. Ketiga pengawal taktis Andini duduk dengan postur tempur yang sempurna: punggung lurus menantang gravitasi, lutut berdempet rapat, dan pergerakan mata yang tidak henti mengawasi setiap sudut ruang tamu."Di mana Paman dan Bibi?" tanya Andini, suaranya terdengar sumbang memecah kesunyian yang menebal bagai kabut di antara mereka.Jaka menarik sebuah kursi kayu tua dari sudut ruangan, menyeretnya hingga berbunyi nyaring, lalu menempatkan dirinya berhadapan langsung dengan formasi mematikan tersebut. "Mereka masih bekerja di ladang, mungkin belum akan kembali sampai petang nanti," balasnya tenang, menyilangkan lengannya santai di depan dada.Andini mengangguk mengerti, perlahan merapikan letak tas mahal di pangkuannya untuk mengusir kegugupan.Namun, sebelum ada obrolan tambahan y

  • Petani Terkuat   064 Kedatangan Tiga Wanita

    Jaka menempelkan bodi logam dingin ponsel itu ke sisi telinganya. Kualitas audionya begitu jernih, mengalirkan suara dengung sambungan dari seberang nyaris tanpa intervensi statis sama sekali. Jaringan komunikasi tingkat tinggi ini memang terasa berbeda."Halo?" Suara Andini menyapa tiba-tiba dari speaker gawai, frekuensinya terdengar tajam dan memburu, menembus gendang telinga Jaka dengan jelas."Ah, ini aku," balas Jaka, menyandarkan sebelah bahunya pada pilar kayu ruang tengah yang permukaannya kasar. "Sebelumnya, aku ingin mengucapkan terima kasih banyak karena sudah membelikan aku dan adikku ponsel baru. Gadis itu sepertinya tidak mau melepaskannya sedetik pun dari pelukannya."Terdengar suara deru angin dari celah jendela mobil yang terbuka sedikit, serta gesekan keras ban dari aspal latar belakang audio Andini. "Kamu ada di rumah?" potong wanita itu cepat, nadanya mengabaikan sama sekali apresiasi tulus yang baru saja dilontarkan Jaka.Jaka segera menegakkan punggungnya, mendet

  • Petani Terkuat   063 Pengiriman dari Ekspedisi Sultan

    "Paket!""Tunggu sebentar!"Seruan berat dari halaman depan itu sukses memecah keheningan siang yang merayap lambat di desa. Jaka meletakkan cangkulnya di sudut teras, mengusap peluh yang menetes di pelipisnya dengan punggung tangan kotornya, lalu melangkah lebar memutar kenop pintu kayu rumahnya.Engsel karatan itu berderit pelan, menyambut embusan angin kering yang membawa aroma debu jalanan. Di ambang batas pintu, seorang pria berseragam serbahitam dengan rajutan benang emas di kerahnya berdiri tegap. Pria itu menjaga keseimbangan sebuah kardus pekat berukuran lumayan besar di lekuk lengannya, menatap Jaka dengan presisi seorang profesional terlatih."Tolong tanda tangan di sini, Pak," ujar kurir tersebut, suaranya datar namun sangat sopan, sembari menyodorkan layar gawai pemindai yang menyala redup di bawah terik matahari siang."Ah, oke."Ujung jari kapalan Jaka menggoreskan tanda tangan cepat di atas permukaan kaca gawai tersebut. Selesai memverifikasi identitas, kurir itu memin

  • Petani Terkuat   062 Pasukan Elit dan Undangan ke Ladang

    Pintu baja tebal di ujung koridor zona keamanan tingkat tinggi terbuka setelah pemindai retina mengenali struktur mata Andini. Ruangan di baliknya memiliki atmosfer yang berbanding terbalik dari laboratorium steril sebelumnya. Tempat ini menguapkan aroma mesiu samar, pelumas senjata, dan residu keringat yang menempel di matras karet. Di dalamnya, tiga wanita yang menjadi garda terdepan pelindungnya sedang membunuh kebosanan dengan cara masing-masing.Ketiganya bukan sekadar pengawal biasa. Mereka adalah unit khusus, aset mematikan yang disiapkan secara rahasia oleh ayahnya. Tidak hanya unggul dalam pertempuran fisik berdarah dingin, ketiga wanita ini dipilih karena kepekaan indera mereka yang terkalibrasi khusus untuk berinteraksi dengan anomali dari dunia spiritual.Di sudut ruangan, Jeanne duduk dengan tulang punggung tegak lurus. Rambut pirangnya diikat tinggi, rapi tanpa helaian yang mengganggu wajahnya. Jemarinya yang panjang dan lentur sedang merakit ulang komponen pistol semi-o

  • Petani Terkuat   061 Keajaiban di Bawah Mikroskop

    Lorong laboratorium bawah tanah itu memancarkan aura dingin yang mengintimidasi, didominasi oleh panel dinding berwarna putih steril dan cahaya lampu neon yang memendar menyilaukan.Suara langkah sepatu Andini bergema beraturan, memantul keras dari permukaan logam kedap suara. Begitu pintu geser otomatis terbuka dengan desis pelan, aroma tajam campuran cairan antiseptik, alkohol, dan ozon langsung menyengat rongga hidungnya.Seorang pria berjas putih dengan kantung mata menghitam tebal sudah mondar-mandir di tengah ruangan. Di atas meja kerjanya yang memanjang, berbagai tabung reaksi, cawan petri, dan layar monitor yang menampilkan grafik fluktuatif berserakan tak beraturan. Pria itu menoleh dengan gerakan kaku, nyaris menjatuhkan pena elektroniknya saat melihat Andini melangkah masuk menembus garis batas steril."Nona, Anda harus melihat ini dengan mata kepala Anda sendiri," ucapnya tanpa repot-repot memberikan salam formal. Ujung jari telunjuknya bergetar hebat saat mengarah ke laya

  • Petani Terkuat   060 Panggilan Fajar dan Sutra Putih

    Dering tajam membelah keheningan kamar utama yang masih terbungkus remang fajar. Di atas ranjang berukuran ekstra besar, sebuah siluet ramping bergerak pelan di balik selimut tebal. Tangan Andini meraba permukaan nakas, menelusuri kayu dingin untuk mencari sumber suara yang mengusik lelapnya. Permukaan kaca ponsel menyentuh telapak tangannya. Matanya masih setengah terpejam, menolak datangnya pagi, saat ibu jarinya secara refleks menggeser ikon hijau di layar yang menyala terang."Di sini Andini," suaranya serak, seperti bisikan yang digerus sisa-sisa kantuk."Nona Andini? Sekarang Anda ada di mana?!"Suara serak dari seberang panggilan meluncur tergesa-gesa. Ada derau statis tipis yang menyertai, diiringi pantulan suara khas dari sebuah ruangan tertutup.Kening Andini berkerut tipis, membentuk lipatan samar di antara kedua alisnya. "Tentu saja di rumah. Memangnya kenapa?""Ini soal cairan yang Nona berikan kepadaku semalam. Aku sudah selesai mengujinya!"Kalimat tunggal itu bekerja l

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status