แชร์

016 Beban Seorang Ayah

ผู้เขียน: AgamYupi02
last update วันที่เผยแพร่: 2026-06-15 21:51:31

“Jika terus begini,” gumam Bejo tanpa daya, “bagaimana cara kita hidup musim depan? Tabungan sudah hampir habis. Dina sebentar lagi mau melaksanakan ujian tengah semester.”

Jaka jarang mendengar ayahnya berbicara selemah itu. Selama ini, Bejo selalu berusaha tampak kuat di depan keluarga. Bahkan ketika uang menipis, bahkan ketika hasil panen buruk, bahkan ketika tubuhnya kelelahan, ia masih bisa berkata, “Tidak apa-apa, nanti juga ada jalan.”

Namun kali ini, kalimat itu tidak keluar.

Yang tersi
อ่านหนังสือเล่มนี้ต่อได้ฟรี
สแกนรหัสเพื่อดาวน์โหลดแอป
บทที่ถูกล็อก

บทล่าสุด

  • Petani Terkuat   083 Raungan Hitam

    Suara lengkingan tajam berpadu dengan raungan knalpot memecah ketenangan udara pagi. Deru mesin Kawasaki H2 itu menggelegar hebat, menarik nyaris semua tatapan pejalan kaki di sekitar perempatan jalan. Di antara lautan kendaraan biasa, keberadaan motor sport berwarna hitam berkilau itu sontak membekukan waktu. Semua mata refleks menoleh, terpaku pada siluet tajam kuda besi tersebut."Ha ha ha! Kakak, kita jadi pusat perhatian, tahu!" seru Dina riang.Gadis itu membonceng di belakang, mencoba bersaing dengan suara mesin seribu cc yang menderu keren. Lengannya melingkar erat di pinggang Jaka, sementara senyumnya merekah di balik kaca helm yang setengah terbuka.Jaka hanya tersenyum tipis. Ia bisa merasakan getaran tenaga yang merambat naik dari jok motornya. Tatapannya lurus ke depan, mengawasi lampu lalu lintas yang perlahan berubah dari merah ke warna hijau. Tanpa membuang waktu, jemarinya memutar selongsong gas, memacu motor barunya meninggalkan perempatan itu dengan mulus.Kecep

  • Petani Terkuat   083 Laba, Ambisi, dan Setetes Keajaiban

    Cahaya kebiruan dari layar tablet memantul pada lensa kacamata Andini, memperlihatkan deretan grafik yang terus merangkak naik tanpa henti. Udara pendingin ruangan terasa menggigit kulit, namun hawa dingin itu tak sedikit pun meredam denyut antusiasme di dadanya. Sukses besar. Hanya dua kata itu yang paling pantas mendeskripsikan ledakan fenomenal dari hasil kerja samanya dengan Jaka.Di atas meja kerja berbahan kayu mahoni miliknya, berserakan tumpukan laporan keuangan dari berbagai cabang. Kerajaan bisnis yang Andini bangun kini tengah bertransformasi menjadi buah bibir tak berujung di pusaran masyarakat kelas atas. Andini menyandarkan punggungnya, memijat pelan pangkal hidungnya. Aroma kopi hitam yang mulai mendingin di sudut meja perlahan memudar, kalah oleh kuatnya ingatan akan manisnya aroma buah spiritual yang kini menguasai lidah para konglomerat.'Orang-orang itu benar-benar sudah gila,' batinnya, menggeleng pelan seraya tersenyum tipis.Bagaimana tidak? Antrean reservas

  • Petani Terkuat   082 Pulang

    Deru mesin *tossa* membelah jalanan malam, menggetarkan sasis besi di beberapa bagian. Angin malam berembus kencang, membawa aroma karbon sisa pembakaran kendaraan berbaur dengan wangi pecel lele dari tenda-tenda pinggir jalan.Di belakang, Dina bersedekap dada. Bibirnya mengerucut tajam, menatap lurus ke aspal yang berkelebat cepat diterpa lampu kuning jalanan."Hmph!" Gadis itu mendengus keras, berusaha mengalahkan suara bising knalpot. "Padahal aku ingin melihat wajah putus asa sales sombong itu lebih lama lagi, Kak."Jaka memutar tuas gas, mempertahankan laju kendaraan kargonya di kecepatan stabil. Tawa kosong meluncur pelan dari bibirnya. Ia mengulurkan tangan kiri, mengelus asal ujung kepala adiknya. "Sudahlah. Pria itu sudah menerima hukumannya dengan melihat kenyataan tadi."Dina menepis pelan tangan Jaka, masih belum puas. "Kurang! Orang berengsek seperti dia harusnya dipecat saja dari pekerjaannya. Biarkan orang-orang baik seperti Linda yang mengambil alih posisinya. Dunia

  • Petani Terkuat   081 Angka Nol yang Menyilaukan

    Kilau lampu LED showroom memantul dingin di atas permukaan lantai, menciptakan kontras yang tajam dengan suasana kaku di sudut ruangan tersebut. Di hadapan Jaka, berdiri seorang wanita muda. Tidak ada polesan riasan tebal, lipstik mencolok, atau bedak yang berusaha menutupi tekstur kulit aslinya. Wajah Linda bersih, membingkai sepasang mata yang menyiratkan rasa sungkan mendalam, sebuah kesederhanaan langka di tengah lautan manusia-manusia berpenampilan artifisial di tempat ini.Bahu wanita itu sedikit menurun, jari-jarinya bertaut erat di depan perut. "Namaku Linda... maafkan kelakuan rekan kerjaku tadi, Tuan," ucapnya. Suaranya pelan, nyaris tenggelam oleh dengung samar pendingin ruangan.Meski baru saja direndahkan seperti budak oleh sales pria di seberang ruangan sana, Linda masih merendahkan hatinya untuk menutupi kesalahan orang yang telah mencacinya.Mendengar permintaan maaf itu, rahang Dina mengeras. Gadis di sebelah Jaka itu sudah menarik napas tajam, bersiap menumpahkan m

  • Petani Terkuat   080 Sales Sombong

    Jarak lima belas menit berjalan kaki menyusuri trotoar kabupaten ternyata cukup ampuh mengurai sedikit keringat di pelipis Dina. Udara malam yang tadinya lembap dan lengket perlahan tergantikan oleh hawa dingin buatan dari pendingin ruangan yang berembus pelan saat pintu kaca otomatis dealer resmi itu terbuka membelah jalan mereka.Kontras dengan jalanan pasar malam yang berisik, berasap, dan saling berdesakan, ruang pamer ini terasa sangat bersih sekaligus terang benderang. Lantai keramik putihnya memantulkan cahaya lampu sorot dari atas plafon bak cermin raksasa. Aroma karet ban baru yang khas, bercampur semir logam dan wangi cairan pembersih kaca, langsung menyambut kedatangan dua kakak beradik itu.Mata Jaka bergerak memindai ruangan dan seketika terkunci pada sebuah panggung di sudut paling mencolok. Di sana, bertengger sebuah Kawasaki Ninja H2, memancarkan aura buas dari desain bodinya yang runcing dan agresif. Cat peraknya berkilau menantang, seolah menyedot dan memantulkan

  • Petani Terkuat   079 Perut Tak Berdasar

    Seminggu telah menguap sejak Retin Lupoz meninggalkan pekarangan keluarga Jaka. Aroma tanah basah dan daun segar masih tertinggal, menjadi saksi bisu dari lima kali siklus panen yang luar biasa cepat. Angka di layar ponsel Jaka tidak lagi sekadar deretan nol biasa; nominalnya sukses menembus sepuluh miliar rupiah. Cahaya dari layar itu memantul di pupil Jaka saat ia duduk bersandar di teras samping, menikmati semilir angin sore. Pembagian proporsi sembilan banding satu sudah final. Jemari kasar Bejo, sang ayah, sempat menolak keras lembaran digital itu saat Jaka berniat menyerahkan porsi yang jauh lebih besar dari kesepakatan awal.'Aku cuma butuh tembakau dan kopi seduh. Buat apa uang sebanyak itu?' tolak Bejo waktu itu, memaksa Jaka menyisipkan paksa sepuluh persen hak sang ayah ke rekening terpisah agar pria tua itu tidak bisa mengembalikannya lagi. Jaka akhirnya mengalah, mengamankan sembilan puluh persen sisanya.Matahari perlahan luruh, mengubah warna langit menjadi jingga

บทอื่นๆ
สำรวจและอ่านนวนิยายดีๆ ได้ฟรี
เข้าถึงนวนิยายดีๆ จำนวนมากได้ฟรีบนแอป GoodNovel ดาวน์โหลดหนังสือที่คุณชอบและอ่านได้ทุกที่ทุกเวลา
อ่านหนังสือฟรีบนแอป
สแกนรหัสเพื่ออ่านบนแอป
DMCA.com Protection Status