Home / Pendekar / Petani Terkuat / 037 Uang Keamanan

Share

037 Uang Keamanan

Author: AgamYupi02
last update publish date: 2026-06-20 10:07:42

Namun ketenangan itu tidak bertahan lama.

Saat Jaka dan Susi melewati jalan samping pasar menuju tempat parkir tossa, tiga pria bertubuh kekar muncul dari arah warung kosong. Mereka bergerak tanpa tergesa, tetapi cukup jelas untuk menghalangi jalan.

Langkah Jaka berhenti.

Ketiganya memiliki tubuh besar, kulit gelap terbakar matahari, dan tato yang terlihat di lengan serta leher. Salah satu dari mereka memakai kaus hitam ketat, memperlihatkan bahu lebar. Yang lain mengunyah tusuk gigi sambil ter
Continue to read this book for free
Scan code to download App
Locked Chapter

Latest chapter

  • Petani Terkuat   071 Sang Raja yang Bangkit

    Andini menarik napas dalam-dalam, menahan rongga dadanya sejenak, membiarkan udara dingin ruangan mengisi penuh paru-parunya sebelum ia menatap tepat ke manik mata ayahnya. Gestur tubuhnya berubah kaku, tegang, dan sangat defensif. "Ayah, dengarkan aku baik-baik," suaranya kini tidak lagi bergetar penuh keraguan, melainkan berganti dengan intonasi rendah yang sangat teguh. "Dan tolong, aku minta jangan pernah sela perkataanku sedikit pun sebelum aku benar-benar selesai menjelaskan semuanya."Melihat perubahan drastis pada postur putrinya, pria itu terdiam bungkam. Andini menunjukkan tingkat keseriusan mutlak yang sangat jarang, atau bahkan hampir tidak pernah, ia perlihatkan secara langsung di depan ayahnya sendiri. Ini bukan lagi sekadar percakapan keluarga biasa, melainkan sebuah negosiasi tentang peluang hidup dan mati.Jakun pria paruh baya itu naik turun saat ia menelan ludah. "Glek! Oke," ucapnya, suaranya melunak tanda menyerah. "Akan aku dengarkan dengan baik."Andini tidak

  • Petani Terkuat   070 Di Balik Pintu

    Ratusan kilometer dari teriknya matahari ladang, Andini menyusuri koridor marmer hitam yang membentang panjang dan luas di dalam rumah utama keluarganya di Jakarta. Suara ketukan hak sepatu tingginya bergema konstan, memantul keras di dinding-dinding pualam tinggi yang dihiasi berbagai lukisan klasik bernilai fantastis. Udara dari sistem pendingin ruangan terasa menggigit permukaan kulit lengannya, berbanding terbalik dengan panas yang menjalar perlahan di telapak tangannya yang berkeringat dingin. Jantungnya berdebar dengan ritme melompat-lompat yang tidak menentu. Setiap langkah yang ia ambil di lorong sepi ini terasa sangat berat, seolah gravitasi di bawah kakinya ditarik berkali-kali lipat lebih kuat oleh kecemasan.Langkahnya akhirnya berhenti tepat di depan sebuah pintu kayu jati raksasa setinggi lima meter. Ukiran rumit meliuk di seluruh permukaannya, memancarkan aura otoritas absolut dari sosok yang berada di baliknya. Andini memejamkan mata sejenak. Ia menarik udara dalam

  • Petani Terkuat   069 Tetesan Harapan di Ufuk Timur

    Kabut tipis berwarna kelabu masih menggantung rendah, menyelimuti permukaan tanah merah ladang yang lembap. Udara pagi sedingin es menyusup tanpa ampun dari balik kerah kemeja lusuh Jaka, menembus langsung ke pori-porinya. Ujung sepatu botnya berderit tertahan setiap kali menginjak ranting kering, melangkah dengan penuh perhitungan untuk memecah keheningan fajar. Ia sangat berhati-hati agar tak ada satu pun anggota keluarganya yang terbangun oleh aktivitas rahasianya ini. Di telapak tangannya yang kapalan, sebuah wadah berlapis kaca tebal memancarkan pendar redup.Begitu tiba di tepi sumur tua berlumut, Jaka menghentikan langkah. Hembusan napasnya di udara dingin membentuk kepulan uap putih. Dengan gerakan sangat perlahan seolah memegang benda paling rapuh, ia memiringkan wadah tersebut di atas lubang sumur. Satu tetes cairan spiritual pekat keemasan meluncur turun. Tetesan itu membelah udara, lalu jatuh menghantam air di dasar sumur. Riak kecil menyebar seketika, memancarkan bias

  • Petani Terkuat   068 Pakta di Bawah Bayang Malam

    Seiring berakhirnya kesepakatan operasional itu, Andini secara refleks menekuk lengan kirinya. Ia melirik pergerakan jarum pada piringan logam yang melingkar erat di pergelangan tangannya. Pupil matanya sedikit membesar. "Ah! Waktunya sudah sangat mepet! Kita benar-benar harus segera bertolak kembali menuju kota sekarang juga!"Mendengar interupsi waktu tersebut, gurat kelembutan dan senyum ramah di wajah Jeanne, Rosa, dan Selia menguap tanpa sisa. Ekspresi mereka berubah tegang dan luar biasa serius. Setelah melempar kontak mata singkat dalam keheningan, tangan lentik Jeanne bergerak mengambil sesuatu dari dalam tasnya. Ia menyerahkan sebuah potongan kartu nama premium beraksen hitam pekat kepada Jaka."Jangan pernah ragu untuk langsung menghubungi kami jika waktu panen harian sudah tiba," ujar Jeanne, menekan setiap suku katanya, menyisipkan urgensi kuat yang tak terbantahkan. "Atau... kalau ada sesuatu yang ingin kamu tanyakan terkait apa pun. Kami pasti akan menjawab seluruh pert

  • Petani Terkuat   067 Keraguan di Bawah Atap Rumbia

    Jaka kembali menata ritme langkahnya sealami mungkin, mengarahkan rombongan tamu dari kota itu membelah lebatnya deretan tanaman palawija. Tujuan akhir rute mereka adalah sebuah gubuk peristirahatan beratap daun rumbia yang bersandar tegak di sudut lahan. Di bawah bayangan atap yang meneduhkan itu, Bejo dan Susi tampak menguras sisa tenaga menyusun keranjang-keranjang bambu padat, dipenuhi tumpukan tomat dan dedaunan hijau yang baru saja mereka petik dari batangnya.Keringat mengalir deras membasahi area punggung kaus lusuh milik Bejo, menciptakan noda basah gelap yang terus melebar seiring pergerakan konstan otot lengannya. Di sebelahnya, Susi mengusap lehernya yang mengilap lengket menggunakan handuk kecil yang serat benangnya sudah menipis dan pudar warnanya akibat terlalu sering dicuci."Ayah, Ibu," panggil Jaka dengan intonasi menengah, menghentikan derit anyaman keranjang bambu yang sedang diangkat. Ia membuka telapak tangannya, menunjuk ke arah barisan orang di belakang pungg

  • Petani Terkuat   066 Resonansi di Tengah Ladang

    Angin siang berembus teramat lambat, membawa serta perpaduan aroma tanah merah yang mengering dan getah daun palawija yang menajam di udara terbuka. Keluar dari sejuknya ruang tamu berlantai semen, Jaka melangkah tenang memandu rombongan kecil itu menyusuri jalan setapak berbatu yang membelah area perkebunan. Di sisi kiri dan kanan langkah mereka, hamparan hijau ladang membentang luas seolah tanpa batas yang mengekang. Warna-warni cerah dari buah tomat dan sayuran segar yang menggantung berat di batangnya memantulkan terik cahaya matahari yang menyengat, merambat naik menembus langsung ke pori-pori kulit.Andini menghentikan laju langkahnya secara tiba-tiba. Ujung sepatu hak rendahnya bergesekan pelan dengan kerikil jalanan, menciptakan suara gemeretak pelan. Ia menundukkan punggungnya, memusatkan perhatian penuh pada sekumpulan tomat yang tampak merah mengilat. Ujung jemarinya yang lentik menelusuri tekstur kulit buah tersebut dengan sangat hati-hati, merasakan sisa suhu panas mat

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status