بيت / Pendekar / Petani Terkuat / 092 Tawa di Balik Etalase Kaca

مشاركة

092 Tawa di Balik Etalase Kaca

مؤلف: AgamYupi02
last update تاريخ النشر: 2026-07-29 12:15:32

"Ufufu~."

Tawa Hina mengalun jernih, mengisi ruang kosong di antara deretan manekin berbalut gaun malam. Suara itu membawa getaran aneh, memicu letupan kecil di dada Jaka.

Serpihan memori masa remaja seolah meronta ingin diakui. Namun, sebelum dorongan itu sempat menjalar lebih jauh, Jaka buru-buru menguncinya rapat-rapat di dasar hati.

"Ehem!" Jaka berdeham keras, mencoba membersihkan kerongkongannya yang mendadak kering. "Kamu sendiri bagaimana? Bekerja di tempat eksklusif seperti ini pasti
استمر في قراءة هذا الكتاب مجانا
امسح الكود لتنزيل التطبيق
الفصل مغلق

أحدث فصل

  • Petani Terkuat   106 Setor Barang

    Sepeninggal Dooa dan wanita mudanya, suasana di sekitar area tunggu terasa sedikit lebih senggang. Jaka mengalihkan pandangannya, menatap punggung pengusaha tua yang kian menjauh di antara kerumunan tamu undangan."Siapa pria tadi sebenarnya?" tanya Jaka pelan pada gadis di sampingnya. Matanya menunjukkan rasa penasaran yang wajar.Andini merapatkan posisi berdirinya, menyandarkan lengan pada siku Jaka. "Dooa adalah pebisnis sukses yang bangkit pasca krisis moneter terakhir. Bisnisnya mencakup hampir semua lini, mulai dari makanan ringan hingga industri otomotif skala besar."Jaka menaikkan alisnya, cukup terkejut mendengar gurita bisnis yang dikuasai pria paruh baya tersebut."Kekayaannya diproyeksikan mencapai sepuluh triliun rupiah jika hanya menghitung uang tunai yang dia miliki," tambah Andini menjelaskan. "Jika properti, saham, serta aset lainnya dimasukkan, angkanya bisa membengkak menjadi lebih dari tiga puluh triliun rupiah.""Ternyata dia cukup hebat," gumam Jaka sambil men

  • Petani Terkuat   105 Dooa

    Lampu gantung kristal di aula bernuansa mewah itu memantulkan kilau keemasan yang memanjakan mata. Suasana pesta amal kelas atas terasa begitu riuh oleh perbincangan para elite bertoksido rapi dan bergaun anggun. Di tengah kerumunan tersebut, seorang pria paruh baya bertubuh gempal melangkah mendekat dengan percaya diri."Nona Andini, lama tidak berjumpa. Aku dengar akhir-akhir ini, bisnis Nona mengalami perkembangan yang luar biasa," sapa pria paruh baya bernama Dooa itu. Suaranya berat, dibalut nada ramah yang dipaksakan.Andini menghentikan langkahnya sejenak, lalu membalas sapaan itu dengan keanggunan alami. Tatapan matanya tenang saat menatap pria berpengaruh di hadapannya."Terima kasih atas pujiannya. Tapi bisnisku masih jauh di bawah bisnis Anda, Tuan Dooa," sahut Andini rendah hati.Dooa terkekeh nyaring, menepuk perutnya pelan seolah baru saja mendengar lelucon yang sangat menyenangkan. Tawa itu menggema pelan di antara denting gelas kaca di sekeliling mereka."Ha ha ha, it

  • Petani Terkuat   104 Bayangan di Balik Pesta

    Langkah kaki Jaka dan Andini membawa mereka melewati lorong atrium utama yang teramat megah. Lampu gantung kristal berukuran raksasa yang tergantung tinggi di langit-langit memantulkan pendar cahaya keemasan, menyinari permukaan lantai granit berpola rumit yang berkilau bersih."Khusus hari ini, seluruh gedung ini disewa hanya untuk Pesta Amal," jelas Andini dengan suara lembut. Gadis itu makin mempererat pelukan tangannya pada lengan Jaka, menyalurkan kehangatan di tengah terpaan hawa dingin dari sistem pendingin udara ruangan."Pantas saja di sini terasa agak sepi," sahut Jaka pelan. Matanya menyapu area restoran mewah di lantai pertama yang tampak lengang dengan pandangan yang diselimuti sedikit keraguan.Setelah melangkah beberapa meter melewati deretan pilar penyangga gedung berornamentasi emas, Jaka mendadak menghentikan jalannya. Sebuah pemikiran yang melintas cepat di kepalanya membuat langkahnya tertahan.Dia menoleh ke samping, menatap wajah cantik gadis yang berjalan bersam

  • Petani Terkuat   103 Megastruktur di Tengah Kota Semarang

    Kilau lampu pendar dari fasad kaca menembus kegelapan kota Semarang. Di hadapan mata, berdiri kokoh Hotel Grandis, sebuah mahakarya arsitektur bintang enam yang memancarkan dominasi mutlak.Kompleks megah ini berdiri di atas lahan seluas sepuluh lapangan sepak bola yang digabung menjadi satu. Taman hijau yang terawat presisi mengelilingi lima gedung utama di area tersebut.Empat gedung berdiri megah di empat penjuru mata angin, timur, barat, utara, dan selatan. Sementara di bagian tengah, pilar utama menjulang paling tinggi melintasi awan tipis, menjadi pusat orientasi seluruh lanskap.Tempat ini bukan sekadar penginapan kelas atas. Kamar termurah di sini dipatok dengan harga dua puluh lima juta rupiah per malam. Angka yang terbilang fantastis bagi awam, namun wajar bagi mereka yang berkuasa dan kaya. Meski bisnis penyewaan kamarnya terkesan eksklusif dan jarang penuh, Hotel Grandis tidak pernah sepi pengunjung. Bahkan pada hari libur nasional, tempat ini selalu dipadati lalu lalang

  • Petani Terkuat   102 Pesta Amal

    "Pesta amal?"Jaka menyipitkan kedua matanya. Postur tubuhnya yang semula santai kini sedikit mencondong ke depan. Dia menopang dagu dengan punggung tangan di atas meja kerja. Ekspresi ragu terlukis jelas dari kerutan di dahinya."Normal jika kamu tidak mengetahuinya," jelas Andini, nada suaranya mengalun bagai air yang tenang di danau. "Karena bahkan tidak semua orang kaya di negeri ini tahu soal acara tersebut. Setiap beberapa tahun sekali, pesta amal bergengsi ini akan diadakan secara tertutup di salah satu wilayah elit di Indonesia."Jaka mengangguk pelan. Otaknya yang tajam memproses informasi tersebut dengan cepat."Ternyata begitu. Tapi, kenapa disebut pesta amal? Istilah yang kurang selaras, karena kegiatan pesta sering kali tidak bisa disandingkan dengan kegiatan amal."Sebuah senyum tipis, elegan dan penuh daya tarik terukir di bibir Andini. Gadis itu menatap Jaka dengan pandangan yang jauh lebih lembut."Meski disebut sebagai pesta amal, itu hanyalah bungkus luar. Kenyataan

  • Petani Terkuat    101 Aroma Manis dan Reaksi Alami yang Sulit Dikendalikan

    Cahaya matahari menerobos masuk secara paksa melalui celah tirai vertikal ruang kerja sang CEO, melukis garis-garis keemasan yang presisi di atas permukaan karpet tebal. Ruangan itu begitu tenang dan terisolasi dari hiruk-pikuk kota. Satu-satunya suara yang mendominasi hanyalah ketukan konstan jarum jam dinding dan deru halus mesin pendingin ruangan yang menyemburkan udara sejuk.Jaka bersandar dengan postur teramat nyaman di kursi yang dilapisi kulit impor berkualitas tinggi. Beban hangat dan beraroma wangi terasa mengisi pangkuannya. Andini duduk manis di sana, menyandarkan punggung rampingnya pada dada bidang Jaka dalam keheningan yang luar biasa memabukkan bagi sepasang kekasih baru.Aroma manis perpaduan lili dan vanilla menguar dari helai rambut Andini, menggelitik indera penciuman Jaka. Pemuda itu tidak tahan. Dia menundukkan kepala, mengendus lembut di perpotongan leher kekasihnya dengan rakus. Helaan napasnya menerpa kulit putih Andini.Gadis itu tersentak pelan. Bahunya s

فصول أخرى
استكشاف وقراءة روايات جيدة مجانية
الوصول المجاني إلى عدد كبير من الروايات الجيدة على تطبيق GoodNovel. تنزيل الكتب التي تحبها وقراءتها كلما وأينما أردت
اقرأ الكتب مجانا في التطبيق
امسح الكود للقراءة على التطبيق
DMCA.com Protection Status