Home / Pendekar / Petani Terkuat / 139 Pemangsa Jiwa

Share

139 Pemangsa Jiwa

Author: AgamYupi02
last update publish date: 2026-08-31 18:49:04

Darius Albert duduk di atas ranjang besar yang diterangi cahaya merah muda temaram.

Ia sepenuhnya telanjang, hanya tertutup oleh selimut tebal yang memiliki beberapa noda darah.

Urat-urat di tubuhnya berdenyut pelan, menyesuaikan diri dengan aliran darah yang baru ia kuasai.

Di lantai sekeliling tempat tidur, tiga wanita telanjang total berbaring lemah tidak berdaya.

Mulut mereka ditutup lakban, tubuh mereka dipenuhi luka lebam yang tidak manusiawi.

Kulit mereka tampak pucat pasi, terkuras habi
Continue to read this book for free
Scan code to download App
Locked Chapter

Latest chapter

  • Petani Terkuat   140 Tekad dan Bayangan Hitam

    "Sekian laporan dari kami."Acara berita baru saja berakhir namun suasana berat masih memenuhi ruang tamu sederhana rumah Jaka.Layar televisi tabung di sudut ruangan beralih menampilkan siaran iklan komersial.Cahaya kebiruan dari layar memantul pada dinding rumah yang bercat putih kusam."Belakangan ini semakin marak terjadi pelecehan, benar-benar membuatku muak."Bejo mengepalkan tangan hingga bergetar hebat.Urat-urat hijau di punggung tangannya mencuat tegang saat ia menghantamkan tinjunya ke bantalan kursi busa.Giginya bergemeletuk menahan gelombang amarah yang mendidih di dalam rongga dadanya."Pelaku bajingan itu benar-benar tidak punya nurani," sembur Bejo dengan napas memburu."Kalau sampai kutemukan orangnya di jalanan, akan kuhajar wajahnya sampai hancur!""Kecilkan suaramu, Sayang, kau bisa merusak kursi itu," tegur Susi seraya melirik lorong rumah."Setelah melihat berita ini, aku jadi khawatir kepada Dina."Susi bergumam penuh kekhawatiran sambil meremas ujung taplak m

  • Petani Terkuat   139 Pemangsa Jiwa

    Darius Albert duduk di atas ranjang besar yang diterangi cahaya merah muda temaram.Ia sepenuhnya telanjang, hanya tertutup oleh selimut tebal yang memiliki beberapa noda darah.Urat-urat di tubuhnya berdenyut pelan, menyesuaikan diri dengan aliran darah yang baru ia kuasai.Di lantai sekeliling tempat tidur, tiga wanita telanjang total berbaring lemah tidak berdaya.Mulut mereka ditutup lakban, tubuh mereka dipenuhi luka lebam yang tidak manusiawi.Kulit mereka tampak pucat pasi, terkuras habis oleh ritual mengerikan yang baru saja usai."Ku ku ku."Tawa jahat Darius Albert menggema di ruangan itu.Suaranya terdengar serak dan berat, memantul pada dinding kaca kamar yang tertutup gorden tebal.Ia menggerakkan jemarinya, menikmati lonjakan hawa murni yang mengalir deras di jalur meridian tubuhnya."Tubuh ini lumayan bagus. Energi Yin dari tiga wanita sudah cukup membantuku menerobos tingkat dua fase permulaan."Wush!Kobaran api berwarna putih pucat muncul di telapak tangan Darius Alb

  • Petani Terkuat   138 Hasil Penelitian

    Jeritan panik bernada malu dari Hina Yulia seketika memecah atmosfer panas yang nyaris mengaburkan akal sehat Jaka.Pria itu lekas menegakkan postur tubuh dan menarik kedua lengannya, berinisiatif melepaskan diri dari kepungan lembut ketiga wanita meski batinnya harus melawan kenikmatan sesaat."Dasar kalian bertiga ini. Tanpa perlu melancarkan aksi penyerbuan manja seperti tadi pun, aku pasti akan membagikan cairan berharga ini kepada kalian semua.""Sungguh? Kamu memang majikan terbaik dan paling kami kagumi di seluruh dunia!"Jeanne memekik girang dengan sepasang mata berbinar penuh luapan antusiasme. Saking gembiranya, wanita berambut pirang itu secara spontan menarik kepala Jaka lalu membenamkannya ke dalam belahan dadanya yang empuk."Ahn!"Anehnya, justru Jeanne sendiri yang mendadak mendesah malu dengan nada manja karena sensasi sentuhan tak terduga pada area sensitif tubuhnya.Jaka menelan ludah hingga tenggorokannya terasa begitu kering. Posisi wajahnya terjepit nyaman di an

  • Petani Terkuat   137 Rayuan Tiga Wanita

    "He he he, sepertinya hubungan Tuan Jaka dan Nona Andini semakin hari semakin dekat."Jeanne menyandarkan pinggul rampingnya ke tepi meja kerja kayu jati. Beberapa helai rambut pirang-emas miliknya menempel basah di pelipis akibat sisa panen yang menguras tenaga, namun kilatan jahil di wajah cantiknya sama sekali tidak memudar."Ayo lekas ceritakan kepada kami, Tuan Jaka. Seperti apa desahan manis Nona Andini saat kalian berdua berhubungan intim?"Rosa mencondongkan tubuhnya ke depan dengan sepasang mata yang berbinar penuh rasa ingin tahu. Di samping kirinya, Selia menganggukkan kepala berkali-kali dengan antusias, memberikan dukungan tanpa syarat terhadap pertanyaan tanpa filter dari rekannya itu. Di sudut ruangan yang lebih tenang, Hina Yulia melirik ke arah mereka sekilas. Semburat rona merah jambu perlahan merambat naik hingga ke ujung telinganya yang mungil."Ehem!"Jaka berdeham berat seraya membetulkan kerah kemejanya. Nada bicaranya sengaja dibuat dalam dan berwibawa demi m

  • Petani Terkuat   136 Interogasi di Rumah dan Tanggung Jawab

    Perjalanan panjang dari kawasan gedung pencakar langit menuju desa agraris yang tenang memakan waktu hingga beberapa jam. Deru bising mesin kendaraan dan aroma polusi perkotaan perlahan sirna, tergantikan oleh semilir angin sejuk yang membawa aroma tanah basah serta kesegaran hamparan ladang hijau yang membentang luas di bawah sinar mentari.Langkah kaki Jaka berderap pelan menyusuri jalan setapak berbatu yang membelah perkebunan sayur milik warga. Di ujung jalan, rumah panggung sederhana dengan dinding kayu jati yang kokoh berdiri menyambut kepulangannya dalam keheningan yang menentramkan.Jaka mendorong pintu depan yang berderit halus, melangkah masuk ke dalam ruang depan yang beralaskan ubin terakota dingin. Namun, atmosfer nyaman itu mendadak sirna saat sepasang mata menatapnya tanpa berkedip.Begitu tiba di rumah, Jaka mendapat tatapan tajam dari adik perempuannya, Dina.Gadis remaja itu tengah berdiri menyandarkan bahu pada ambang pintu lorong dapur, melipat kedua tangannya di d

  • Petani Terkuat   135 Rencana Ekspansi Bisnis

    Sinar matahari membiaskan cahaya menembus dinding kaca lantai teratas gedung pencakar langit. Udara sejuk pendingin ruangan membawa aroma parfum floral yang samar, membungkus suasana tenang di ruang kerja mewah itu."Jadi akhirnya kamu membuat keputusan," ucap Andini pelan sembari menyandarkan punggungnya pada kursi kerja kulit hitam.Di seberang meja kerja gadis itu, Jaka duduk di sofa dengan wajah serius. Kedua tangannya bertaut di pangkuan, menatap lurus ke arah kekasihnya. "Jumlah cairan spiritual yang bisa diproduksi setiap hari melonjak drastis, bahkan jika disisihkan sebagian, masih banyak yang tersisa," jelas Jaka menyampaikan perkembangan dengan nada serius. Andini menopang dagu dengan jemari lentiknya, menatap kekasih tercinta dengan penuh minat. "Dengan kata lain, kamu berniat memulai perusahaan farmasi.""Niatnya begitu, tapi karena kamu sudah memiliki perusahaan farmasi, kita manfaatkan saja yang sudah ada," balas Jaka dengan nada santai namun matang.Mendengar solusi e

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status