로그인Bab 4 Viral!
Hati Bashira hancur berkeping-keping. Semua rasa bahagia seakan direnggut darinya. Bashira tidak punya daya untuk turun dari tempat tidur. Ia hanya bisa menatap dengan air mata yang terus mengalir. Mengapa kejadian pahit ini harus menimpa dirinya? Selama hidup, tak pernah sekalipun Bashira menyakiti hati orang lain. Ia juga tidak pernah berkhianat pada pasangannya. Bashira adalah perempuan setia juga penuh cinta. "Nggak ada satu pun yang kurang dari kamu, Ra. Kamu sempurna. Kamu perempuan yang baik. Perselingkuhan itu terjadi karena Arion adalah laki-laki bajingan." Bashira berusaha memberikan afirmasi positif untuk dirinya sendiri. Ya, nyatanya Arion memang bajingan. Bahkan setelah pertengkaran hebat kemarin, Arion yang gila itu masih sempat melimpahkan semua kesalahan pada Bashira. "Aku selingkuh karena kamu gak pernah becus jadi pacarku, Ra! Kamu sibuk sama urusan kamu sendiri, kamu terlalu mandiri sampai aku merasa rendah diri! Dan yang paling penting, kamu gak pernah mau menyerahkan tubuh kamu sama aku!" Bashira menutup kedua telinganya rapat-rapat, ingin mengusir perkataan Arion yang sangat kurang ajar. "Kamu udah bener, Ra. Harga diri kamu adalah yang nomor satu. Pantang bagi kamu menyerahkan kehormatan sebelum pernikahan." Bashira mencoba tetap waras. Sekali lagi, tidak ada yang salah darinya. Namun, semua rasa sakit di hati tidak bisa dienyahkan dengan mudah. Bashira malah jatuh sakit, tidak pergi bekerja selama berhari-hari. *** "Mama!" Suara Dania melengking saat masuk ke dalam rumah. Langkahnya tergopoh-gopoh menghampiri Lita. "Ada apa, sih?" "Coba Mama lihat! Arion sama Bashira viral, Ma! Katanya Arion selingkuh di apartemennya!" "Apa?!" Lita berdiri, mengambil alih ponsel sang putri. Pada sebuah akun gosip, ada satu unggahan yang menyertakan wajah Arion serta Bashira. Judul perselingkuhan terpampang nyata, disertai bukti rekaman suara, di mana Bashira terdengar berteriak menyebut nama Arion. "Arion tidur sama perempuan lain di apartemen, dan Bashira memergoki mereka?" tanya Lita mencoba mengurai gosip di internet. "Iya, Ma. Ada satu penghuni apartemen yang merekam diam-diam. Mama bisa denger sendiri gimana Bashira ngamuk sama Arion." Lita kembali duduk. Tubuhnya sedikit lemas. Bagaimana bisa Arion selingkuh, padahal acara pertunangan tinggal beberapa hari lagi? "Kita harus menanyakan semua ini pada Bashira," ucap Lita. "Biar saya yang bicara dengan Bashira." Gunawan masuk ke dalam rumah, berucap datar pada Lita dan Dania. "Tapi, Pa—" "Saya lebih berhak," sela Gunawan. "Sebaiknya kalian diam saja di sini, jangan sekali-kali bicara dengan Bashira," tambahnya lantas naik ke lantai dua. Lita mengepalkan tangan, menatap penuh emosi pada Gunawan yang tidak pernah menghargai keberadaannya, sebagai ibu baru Bashira. Sementara di lantai atas, Bashira mendengar pintunya diketuk dari luar. Ia membuka mata. Masih ada rasa pusing di kepala, sehingga lagi-lagi Bashira tidak turun dari tempat tidur. "Masuk aja," ucapnya mempersilakan. Bashira sedikit terkejut melihat keberadaan Gunawan. Ia berangsur duduk, tanpa sadar meringis pelan. Gunawan pastinya heran sekaligus khawatir, sakit apa yang diderita cucunya sampai tidak masuk kerja selama tiga hari. "Kakek sudah tau semuanya, Ra. Soal perselingkuhan Arion." Mulut Bashira terbuka, tapi tidak ada sepatah kata pun yang mampu dikeluarkan. Kepalanya bingung bukan main. Dari mana Gunawan tahu, padahal Bashira belum bercerita? "Kamu dan Arion viral di sosial media, karena seorang penghuni apartemen merekam pertengkaran kalian dan menyebarkannya di internet." Gunawan mengurai kebingungan di wajah cucunya. "Kakek serius?" tanya Bashira pelan. "Iya, maka dari itu Kakek datang ke sini. Kakek heran, kenapa kamu malah memendam semuanya sendirian? Kamu punya Kakek, Bashira. Kamu bicara menceritakan apa pun pada Kakek." Ucapan Gunawan tidak lagi terdengar, karena sekarang Bashira sibuk membuka sosial medianya. Benar apa kata sang kakek, namanya dan Arion menjadi trending topik. Semua orang berbondong-bondong menghujat Arion, mengatakan bahwa lelaki itu sangat kurang ajar. Tentu saja ada banyak pertanyaan, lantaran siapa yang akan menyangka pasangan paling romantis yang sering membagikan kebahagiaan mereka di sosial media, salah satunya malah melakukan pengkhianatan keji? "Karena Kakek sudah tau, aku mau mengakhiri perjodohan keluarga kita," putus Bashira tidak main-main. Jika ada yang bertanya masih adakah cinta di hati Bashira untuk Arion, maka jawabannya masih. Bagaimanapun juga, telah banyak kenangan manis yang mereka ukir bersama. Namun, Bashira masih punya akal sehat. Ia tidak mau hidup dengan lelaki yang suka berkhianat. Bashira sadar dirinya sangat berharga. Lebih baik melajang sampai mati, daripada harus menjalani hidup dengan laki-laki seperti Arion. Akan tetapi, keputusan Bashira malah disambut tawa oleh Gunawan. Bashira tersinggung bukan main, sehingga air matanya menumpuk saat itu juga. "Kek, aku gak mau nikah sama Arion. Aku gak sudi menyerahkan hidupku sama dia!" tegas Bashira. "Oke, Kakek paham. Tapi pertunangan di hari ulang tahun kamu harus tetap berjalan. Kamu siapkan saja semuanya dengan baik, tunjukkan pada semua orang, kamu akan menjadi orang paling bahagia di hari itu." Bashira menggelengkan kepala. Mengapa Gunawan seolah menganggap enteng semuanya, padahal hati Bashira benar-benar sangat sakit seperti dicabik-cabik? Apakah di mata Gunawan, Bashira tidak lagi berharga? ****Bab 59 Kebersamaan "Jangan takut sama Tante Lita ataupun Dania. Mereka gak punya kuasa apa-apa di sini." Bashira menenangkan empat asisten rumah tangganya."Terima kasih, Non, sudah datang dan membela kami," ucap Asih mewakili teman-temannya."Sama-sama, Bi. Aku juga makasih, karena Bibi dan yang lain lebih mendengarkan apa kata Kakek Gunawan.""Kami semua akan selalu berada di pihak Non Shira dan Pak Gunawan."Bashira tersenyum mendengarnya, seperti mendapat teman setia yang tak akan pernah pergi dari sisinya."Sekarang Bibi dan yang lain kembali bekerja, ya. Kalau Tante Lita berulah lagi, jangan sungkan memberi tahu aku." Bashira lantas meninggalkan dapur.Perempuan itu naik ke lantai dua, berganti baju dan membawa baju ganti lainnya. Malam ini ia akan menginap lagi di hotel. Hatinya yang masih kecewa pada Hadi, enggan sekali bertemu dengan lelaki paruh baya itu.Setelah selesai bersiap dan menenteng satu paper bag juga tas kerja, Bashira kembali ke bawah. Saat itulah ia berpapasan
Bab 58 Menahan MaluDatangnya Gunawan dengan membawa peringatan, otomatis membuat posisi Hadi semakin terancam. Selama beberapa saat, ia dan Lita kompak membisu di tempat semula."Pak Gunawan terlalu ikut campur, Pa. Dia merasa lebih berhak atas Bashira, padahal Papa adalah ayah kandung anak itu!" Lita menoleh pada Hadi, berucap sangat pelan tapi sarat akan amarah yang cukup besar.Hadi diam saja."Segera lakukan sesuatu, Pa, supaya Pak Gunawan tidak memandang rendah posisi Papa di rumah ini.""Diam, Ma!" titah Hadi tak mau mendengar apa pun lagi. "Papa Gunawan tau semua yang terjadi pada kita dan Bashira. Itu artinya, dia punya mata-mata di rumah ini."Lita melotot mendengar itu. Ia lekat menatap Hadi."Jadi maksud Papa ... semua orang yang bekerja di sini tunduk pada Pak Gunawan?"Hadi tak mau menjawab pertanyaan itu. Ia memilih berdiri."Mau ke mana, Pa?""Jangan pernah sekali pun membicarakan pernikahan Bashira dan Sabian di rumah ini.""Gak bisa begitu, Pa!" bentak Lita tak terim
Bab 57 Ancaman Gunawan"Kita berdua tidak punya masalah, Ra!""Punya!" timpal Bashira mengingatkan. "Jangan pernah lupakan masalah yang Papa timbulkan sendiri!""Masalah apa maksud kamu ini? Kamu membuat seakan-akan Papa adalah orang tua yang buruk!"Bashira menatap tajam Hadi. Andai lelaki paruh baya itu bukan ayah kandungnya, mungkin ia akan langsung meludahinya tanpa ragu. Semua itu dikarenakan, Hadi sangat playing victim."Pertama, Papa mendesak supaya aku membantu Papa mendapatkan posisi lebih tinggi di hotel ini. Karena aku menolak, Papa makin berubah dan menganaktirikan aku. Kedua, Papa menyetujui hubungan Dania dan Arion, dengan maksud supaya aku merasa terusik, bukan? Dan yang ketiga, Papa terang-terangan menjadikan Dania prioritas." Bashira membeberkan semuanya tanpa ragu.Lita melotot mendengarnya. Sungguh berani sekali Bashira bicara panjang lebar seperti itu. Sementara Hadi dibuat bungkam seketika. Lelaki paruh baya itu perlahan mundur, satu hal yang membuat Lita menggera
Bab 56 Amarah Di Tengah MalamDada Lita seakan dihantam habis-habisan mendengar berita itu. Ia gegas berdiri. Gerakannya yang cepat dan tiba-tiba itu membuat Hadi terusik dari tidurnya."Ada apa, Ma?" tanya Hadi, dengan mata yang belum sepenuhnya terbuka.Lita tak menjawab. Ia masih sibuk mendengar ocehan Dania di telepon. "Sudah kamu pastikan, Dan, kalau Arion gak mengarang cerita?""Ya ampun, Ma, buat apa Arion mengarang cerita? Dari tadi mukanya kusut, aku sampai gak bisa bikin dia terangsang!" ucap Dania frontal."Ini semua gak bisa dibiarkan!" Lita langsung menatap tajam pada Hadi, setelah memutus panggilannya dengan Dania begitu saja. "Kenapa Papa gak ngasih tau Mama, kalau pernikahan Bashira dan Sabian akan dipercepat?""Apa?" Hadi bertanya linglung."Bashira dan Sabian akan menikah tahun ini, Pa! Papa pasti sudah tau kan?" tuduh Lita dengan jari mengacung ke wajah Hadi."Papa sama sekali gak tau soal itu, Ma!" sanggah Hadi. Lelaki paruh baya itu lekas meninggalkan kamar, henda
Bab 55 Penolakan!"Bashira dan Sabian akan segera menikah."Arion mengacak rambutnya. Perkataan Melani beberapa jam lalu, berhasil menghancurkan mood-nya hari ini."Kita cari rencana untuk menggagalkan pernikahan itu, Ma!""Mana bisa! Di belakang mereka ada keluarga Pakusadewo!"Sekarang Arion memukul setir kemudi. Ia tak mampu membayangkan, jika kelak Bashira dan Sabian resmi menjadi sepasang suami istri. Itu artinya, jalan untuknya mendapatkan Bashira benar-benar telah buntu."Apa yang harus aku lakukan?" Arion menerawang jauh ke depan, padahal di depannya hanya ada tembok kokoh.Saat ini, ia sedang berada di basement klub malam, hendak menyusul Dania yang sejak tadi merengek minta ditemani. Sayangnya Arion tak bisa menolak, sebab Dania pasti akan curiga mengapa dirinya tiba-tiba tak jadi datang.Kepala Arion bertambah berat ketika masuk ke area klub. Musik berdentum keras. Puluhan orang berbaur, menari seperti kehilangan akal sehat. Pandangan Arion pun berkeliling, mencari di mana
Bab 54 Pemain?"Kamu kasihan sama aku, ya?" tanya Bashira saat di mobil."Apa kelihatannya begitu?" Sabian malah balik bertanya, menoleh sebentar pada Bashira.Sekarang Bashira diam. Sejak tadi, ia tak melihat Sabian menumpahkan sorot kasihan padanya. Lelaki itu malah terlihat seperti ingin memberinya perlindungan ekstra."Ra, aku tau betul kamu bukan perempuan lemah. Selama ini kamu bisa bertahan di rumah, meski di sana ada Dania dan Tante Lita. Tapi untuk berhadapan dengan Om Hadi, aku yakin kamu akan bertarung dengan perasaan kamu sendiri. Sejujurnya kamu enggan berkonflik dengan Om Hadi."Itu benar, dan Bashira tak perlu repot-repot membantah asumsi Sabian."Maka dari itu, serahkan Om Hadi padaku," sambung Sabian."Mau kamu apakan papaku?" tanya Bashira dengan mata memicing. Sejak masuk mobil, ia tak lagi mengenakan kacamata hitamnya."Nggak akan diapa-apain, kok. Tapi setidaknya kalau ada aku, Om Hadi akan segan memarahi kamu."Bashira tertawa mendengarnya. Ia percaya Sabian tak
Bab 43 Dibohongi Arion"Kamu pasti bercanda, kan?" tuduh Dania sedikit menjauh. Jujur saja ia terkejut.Tiba-tiba Arion menanyakan apa ia mau menjadi kekasihnya, padahal hubungan mereka tidak terlalu dekat."Nggak, aku serius, Dania. Aku merasa kamu adalah perempuan paling baik yang pernah aku temu
Bab 42 Kembali Berdusta"Hari ini kamu harus bisa menemui Arion," ucap Lita selesai sarapan.Rumah besar mereka dalam keadaan sepi. Bashira belum kembali dari Lombok, sedangkan Hadi baru saja berangkat ke kantor."Kemarin aku udah telfon dia, Ma, tapi gak diangkat. Kayaknya ... Arion gak mau terlib
Bab 41 Pembalasan Manis"Siapa yang berani membakar semua tas berharga milikku?!" Suara Melani menggelegar, membuat suasana di halaman samping makin mencekam.Tak ada yang berani menghampiri. Melani bertambah geram. Dengan susah payah ia menarik selang air, kemudian berusaha memadamkan api. Namun,
Bab 40 Salah Paham[Tugas dari Bu Melani sudah berhasil saya laksanakan. Sekarang Pak Sabian ada di rumah sakit. Keadaannya kritis.]Melani terbahak senang menerima informasi dari orang suruhannya. Ia lantas masuk ke ruangan Arion, memberikan ponselnya agar sang putra bisa membaca pesan yang ada di







