LOGINBab 49 Bertaruh Nyawa Kembali"Usulanku jangan ditolak mentah-mentah, pertimbangkan dulu keuntungan jangka panjangnya."Perkataan Bashira saat turun dari mobil masih terngiang di kepala Sabian. Perempuan itu masih ngotot ingin menikah tahun ini."Kamu pikir menikah itu mudah, Ra?" tanya Sabian seraya berbaring di atas tempat tidur, matanya menatap langit-langit kamar.Sekarang sudah jam dua belas malam, tapi ia tak bisa memejamkan mata. Berulang kali pun Sabian membuang napas pendek.Sejak dulu, hidupnya sudah serumit ini. Dikhianati, dijebak, difitnah. Segala macam perlakuan jahat telah dirasakan Sabian, tapi ia mampu bertahan sampai detik ini."Dulu aku bisa abai pada mereka, tapi sekarang tidak mungkin begitu lagi. Aku harus mempertahankan posisiku, juga hubunganku dengan Bashira." Sabian berguling, menghadap ke sisi kiri seraya memeluk guling.Soal Bashira, sebenarnya Sabian ingin mengakui sudah ada perasaan di hatinya untuk perempuan itu. Namun, bibir Sabian selalu kelu untuk men
Bab 48 Tidak Setuju"Jangan bercanda seperti itu, Ra." Sabian memberikan peringatan."Siapa yang bercanda? Memangnya dari tadi aku kelihatan main-main?" tanya Bashira seraya menunjuk wajahnya sendiri.Sabian menggeleng pelan. Bahkan siapa pun tahu, sejak tadi Bashira sangat serius dengan rasa marahnya, terlebih dengan rasa khawatirnya pada Sabian."Coba jelaskan sama Kakek, kenapa kamu menganggap pernikahan bisa memberikan perlindungan untuk Sabian?" Gunawan sungguh penasaran dengan isi kepala cucunya.Sebelum memberikan jawaban panjang lebar, lebih dulu Bashira membenahi posisi duduknya. Ia juga tampak mengatur napas agar tak menggebu-gebu seperti tadi."Jadi begini, Kek, aku menganggap dengan menikahnya kami berdua, otomatis Sabian akan jadi bagian keluarga kita, begitu juga sebaliknya. Dengan begitu, otomatis orang-orang yang jahat pada Sabian akan berpikir seribu kali saat ingin kembali beraksi. Bukankah bahaya, kalau kita sekeluarga turun tangan memberikan mereka pelajaran?"Itul
Bab 47 Bantuannya Ini?"Hari ini Pak Sabian dalam bahaya lagi. Sekarang yang ingin mencelakainya adalah Pak Anton."Gunawan sungguh resah menerima kabar itu. Sepanjang hari ia mencoba menghubungi Sabian. Sempat berhasil, tapi Sabian hanya mengatakan semuanya baik-baik saja."Sabian salah, keadaan semakin kacau dan mustahil dia masih baik-baik saja!" gerutu Gunawan di ruang kerja yang ada di rumahnya.Tak hanya pada Sabian, Gunawan pun berulangkali menghubungi Bashira."Aku juga baru tau, Kek. Rencananya sore ini, aku dan Sabian akan bertemu. Mungkin nanti, kami akan bertamu ke rumah Kakek."Bashira pun hanya berkata seperti itu, tak memberi informasi lebih lanjut, membuat Gunawan tak bisa tenang sepanjang hari ini."Apa aku harus turun tangan mengatasi Anton dan Melani?" tanya Gunawan pada dirinya sendiri.Jika ia melakukan itu, mungkin masalah memang akan terselesaikan, tapi konflik baru akan tercipta. Keluarga Anton dan Melani pasti tidak akan tinggal diam. Namun, Gunawan sudah tida
Bab 46 KetahuanAnton keluar dari ruangannya, naik ke lantai atas untuk memastikan apakah Sabian sudah pergi atau belum.Ia hanya mengintip dari celah jendela. Saat ruangan itu terlihat kosong, senyum liciknya tersungging penuh."Bagus, dia langsung pergi setelah aku memberinya informasi palsu. Dasar bodoh!" cibirnya riang gembira, lalu kembali ke ruangannya lagi.Anton hendak menghubungi orang-orang suruhannya."Target sudah pergi sarangnya. Sekarang giliran kalian menyambut dia di sana. Pastikan kalian bersembunyi, dan biarkan mobil ambulans tetap di depan gedung." Anton langsung mematikan telepon.Ia sangat bahagia, tak sabaran ingin memberi kabar pada sang kakak tercinta. Maka detik selanjutnya, ia menghubungi Melani."Kamu yakin semuanya sudah berjalan lancar?" tanya Melani di seberang sana, tak mau berharap banyak akan rencana Anton yang menurutnya sangat berbahaya."Aman, Mbak, sekarang si anak haram sudah pergi dari kantor. Aku yakin sebentar lagi dia sampai di tempat eksekusi
Bab 45 Jebakan?Sabian menatap curiga pada Anton yang telah meninggalkan ruangannya. Sudah jelas ada yang aneh. Jika benar terjadi keruntuhan di sebuah proyek yang tengah ditangani oleh perusahaan Atmadja, maka sudah pasti berita akan menyebar di mana-mana.Akan tetapi sampai detik ini, tidak ada satupun berita yang ditayangkan. Itu artinya, informasi yang disampaikan Anton bisa saja hanya omong kosong untuk mengusiknya."Baiklah, sepertinya Pak Anton ini ingin main-main denganku," gumam Sabian memutuskan turun ke lobby.Sebetulnya Sabian ingin menanyai beberapa staff, tapi urung melakukannya. Ia teringat akan perkataan Anton, yang mengisyaratkan sebagian besar staff di perusahaan ini, memang belum rela menerima keberadaannya secara penuh.Sabian memilih jalan lain. Didatanginya seorang security yang tengah berjaga."Pak, apa Bapak sudah mendengar keruntuhan di proyek yang sedang ditangani perusahaan kita?" tanya Sabian serius, setelah meminta si security mengikutinya ke tempat yang l
Bab 44 Kekhawatiran HadiMelihat hari-hari Dania lebih bahagia, tentu Hadi turut merasa senang. Ia juga selalu menyambut baik Arion yang kerap datang ke rumah untuk menjemput Dania. Namun, di lubuk hatinya yang paling dalam, ada keresahan yang membuat Hadi tidak tenang. Contohnya saja hari ini. Ketika Bashira pergi bekerja, Dania malah sibuk berdandan dan mengambil banyak foto selfie. Katanya, Arion yang memintanya mengirimkan banyak foto.Sebelumnya Hadi tidak pernah mempermasalahkan Dania yang tak kunjung melamar pekerjaan. Tapi sekarang ia khawatir. Bagaimana kalau Melani mengatakan pada semua orang, Dania adalah perempuan pemalas yang tak bisa melakukan apa-apa?"Lihat, Pa, sejak jadian sama Arion, Dania gak pernah kelihatan sedih lagi. Setiap hari dia bahagia." Lita menghampiri Hadi, memberinya segelas teh hangat dan kue kering.Hadi tersenyum, selalu menatap Dania yang kerap berpindah tempat, demi mendapatkan pencahayaan lebih bagus."Sudah Mama pastikan, Bu Melani tidak akan m
Bab 8 Tidak Ada KekanganSeberapa keras penolakan datang dari Arion dan Melani, nyatanya acara pertunangan tetap diadakan. Bashira telah bertukar cincin dengan Sabian. Masih ada perasaan tidak menyangka, karena sekarang Bashira menyandang status sebagai calon istri dari seorang manusia yang sekali
Bab 24 Pertengkaran Hadi dan Bashira"Pa, kenapa urusan di luar belum selesai juga? Ayo cepat pulang! Barusan Bashira mengamuk dan hampir menampar Dania!"Telepon dari istrinya membuat Hadi terpaksa menyudahi pertemuan dengan orang penting. Ya, lelaki paruh baya itu mampir ke tempat lain setelah pu
Bab 23 Amarah Yang PecahSabian bergegas pulang setelah mengantarkan Bashira dengan selamat, katanya harus bertemu lagi dengan seorang staff perusahaan, sebelum nanti singgah makan malam di rumah Wira.Bashira masuk ke dalam. Rasa lelah yang sempat hilang, harus kembali menyapa tatkala melihat ada
Bab 22 Minta Maaf Lagi?"Boleh aku bertanya, Ra?" Sabian memulai pembicaraan lebih dulu, setelah lima menit terlewati begitu saja, sejak mereka masuk ke dalam mobil dan melakukan perjalan pulang menuju kediaman Bashira.Bashira menoleh sebentar, memberikan anggukan kepala sebagai izin."Ada masalah







