LOGINNamun, tentu saja Joe Maiden tidak akan membiarkan hal itu terjadi.
Segera saja dia memohon izin untuk keluar dan menghentikan kekacauan itu.
"Tuan Alfred, mohon untuk tidak membuat gaduh."
Alfred langsung tersinggung. "Joe Maiden. Berani sekali kau berkata begitu kepadaku!"
"Maaf, Tuan. Saya tidak seperti itu." Joe masih bersikap sopan.
"Tidak seperti itu? Lalu, apa ini? Aku hanya ingin bertemu dengan keponakanku. Kenapa aku dilarang masuk?" Alfred mendesis marah.
Joe pun menjawab pelan, "Saat ini Tuan Brian sedang menerima tamu, Tuan."
"Aku ini pamannya. Bukankah dia harus memprioritaskan aku dibanding yang lain?" Alfred berkacak pinggang, menatap marah.
"Tuan Brian tidak bisa menemui Anda hari ini, Tuan. Tapi, beliau sudah mengatur pertemuan dengan Anda," Joe berusaha menenangkan Alfred.
Alfred mendengus keras. "Kapan itu?"
"Chloe Lawrence akan segera menghubungi Anda untuk waktunya." Joe Maiden menoleh pada sekretaris tuan mudanya.
Chloe pun mengangguk paham.
Alfred sebenarnya tidak sabar untuk melihat seperti apa keponakannya itu. Akan tetapi, dia tentu tidak boleh gegabah. Jika dia mengambil keputusan yang bodoh, dia bisa tidak mendapatkan apapun nantinya.
"Baiklah, kalau begitu aku tunggu kabar itu."
Alfred pun meninggalkan lantai itu dengan tidak puas.
Sementara itu, di dalam ruangan, konsentrasi Brian Jones telah terpecah.
"Tuan Damian, aku pikir semuanya sudah cukup untuk saat ini." Brian memilih menyudahi pertemuannya dengan sang direktur utama itu.
Damian segera pamit dan meninggalkan Brian hanya bersama dengan Joe.
"Apa yang terjadi?" Brian tak bisa menahan diri untuk bertanya.
"Tuan Alfred memaksa untuk menemui Anda, Tuan Muda. Tapi, saya sudah mengatakan pada beliau bila Anda akan menemuinya nanti."
Brian mendesah. "Kenapa dia ingin menemuiku?"
"Siapapun pasti ingin bertemu dengan orang yang menghalangi jalannya, Tuan Muda."
Masuk akal. Brian paham benar akan hal itu. Alfred Jones menganggap dirinya sebagai pengganggu dalam hal menguasai harta kekayaan sang kakek.
"Lalu, kapan aku akan bertemu dengannya?" Brian yang sadar tak mungkin mengulur waktu.
"Ketika Anda benar-benar siap, Tuan Muda."
"Lusa." Brian menjawab tanpa ragu.
Joe Maiden sedikit terkejut kala mendengarnya. "Anda yakin, Tuan Muda? Anda sebenarnya tidak perlu terburu-buru."
"Tak masalah. Cepat atau lambat, aku harus segera menemuinya, bukan? Jadi, buat apa ditunda?"
Joe Maiden membungkukkan badan, "Kalau begitu akan saya katakan pada sekretaris Anda."
"Hm."
Brian berpikir sejenak dan tiba-tiba berkata, "Aku akan pergi ke kampus besok."
"Kenapa Anda tiba-tiba berubah pikiran, Tuan Muda?" Joe bertanya dengan ekspresi heran.
"Ada sesuatu yang ingin aku pastikan." Brian memilih untuk merahasiakannya terlebih dulu.
Sebetulnya, dia mungkin bisa meminta bantuan Joe Maiden untuk menyelidiki kasus kecelakaan yang menewaskan sang kakek.
Namun, untuk saat ini dia ingin melakukannya sendiri tanpa ikut campur dari pihak lain.
Esok pagi, Brian meminta Joe Maiden membawa barang-barang lamanya dari rumah yang dia tempati bersama kakeknya dulu.
Tanpa ragu, dia mengenakan kemeja lusuh miliknya dan celana jeans yang warnanya sudah pudar.
Joe Maiden bertanya karena terkejut, "Tuan Muda, kenapa Anda memakai barang-barang lama Anda?"
"Karena aku masih belum ingin memberitahu mereka." Brian menjawab sambil menggulung lengan kemejanya.
Semua pelayan dan pengawal sempat dibuat terkejut dengan penampilan tuan muda mereka yang kembali seperti saat dia sebelum memasuki rumah itu. Namun, tak ada satupun dari mereka yang berani bertanya.
"Di mana sepedaku?" Brian bertanya saat tak menemukan sepedanya di tempat parkir koleksi mobil-mobil mewah.
"Saya tidak menemukan sepeda Anda, Tuan Muda. Apakah saya perlu membelikan yang baru?" Joe menawarkan.
"Sekarang masih pagi, bagaimana mungkin?" Brian mengerutkan kening.
Joe tersenyum menanggapi hal itu, "Semuanya mungkin, Tuan Muda. Anda adalah Tuan Muda Jones. Apapun keinginan Anda akan terwujud."
Ah, Brian lupa akan hal itu.
"Baiklah, kalau begitu belikan aku sepeda yang sama persis dengan sepeda lamaku." Brian memerintah.
"Baik, Tuan Muda."
"Tapi, tidak akan membutuhkan waktu yang lama kan? Satu jam lagi jam pertamaku akan dimulai."
Joe menggelengkan kepala dengan tegas, "Hanya sepuluh menit, Tuan Muda."
Brian agak ragu tapi dia tetap menunggu.
Tepat sepuluh menit kemudian, sepeda yang ber-merk sama dengan sepeda lama Brian pun telah diantar ke J-House oleh kurir.
"Benar-benar sepuluh menit. Kau hebat, Joe." Brian memuji tulus.
Joe bertanya lagi, "Apa yang Anda inginkan lagi, Tuan Muda?"
"Tidak ada. Aku akan menghubungimu nanti." Brian membalas sambil mulai mengambil sepedanya.
Meskipun sangat cemas, Joe tidak bisa berbuat apa-apa. Dia hanya bisa mengirim beberapa pengawal rumah itu yang masih muda untuk mengawasi tuan mudanya di kampus.
Setelah sampai di kampus, Brian segera naik ke lantai empat.
Akan tetapi, baru saja dia keluar dari lift, dia bertemu dengan Edward Stein yang sedang berjalan bersama dengan mantan kekasihnya, Diana.
Diana terlihat tidak nyaman saat menatapnya tapi Brian tak peduli. Yang dia pedulikan hanyalah Edward Stein yang tengah tersenyum miring kepadanya.
"Wah! Kau masih hidup, Brian! Luar biasa!" Edward menatap dengan tatapan mengejek.
Brian pun mendorong Edward hingga membuat Diana terpaksa harus menyingkir.
"Apa-apaan kau, pecundang? Mau berkelahi denganku?"
"Kalau iya, memangnya kenapa? Kau takut?" Brian membalas tanpa rasa takut sedikit pun.
Edward Stein terkikik geli.
"Apa katamu? Takut? Sejak kapan Edward Stein takut pada pecundang sepertimu?"
Brian meludah ke samping, "Kalau memang tidak takut berkelahi denganku. Lalu, kenapa saat pemakaman kakekku, kau menyuruh orang untuk memukulku?"
Senyum Edward pun perlahan memudar dari bibirnya. "Banyak omong. Apa maumu?"
"Mauku? Menyeretmu ke neraka, tentu saja."
"Jangan mimpi!" Edward Stein membalas tanpa rasa takut.
"Keluar sekarang dan mari kita buktikan sebenarnya siapa yang pengecut di sini. Kau berani?" Brian bertanya sambil menyipitkan mata.
Edward Stein terlihat terkejut.
"Kenapa kau diam? Apa kau tidak bisa berkelahi? Apa kau hanya bisa menyuruh anak buahmu untuk melindungimu?" cerca Brian.
Melihat ekspresi Edward yang kaku itu pun kini Brian semakin yakin bila sebenarnya Edward memanglah seorang pengecut.
"Aku tak punya urusan bermain-main denganmu, pecundang!" Edward bergerak menjauh.
Namun, Brian tak membiarkan begitu saja. Laki-laki muda itu menahan lengan Edward.
"Lepaskan aku!" Edward berteriak.
Tentu saja Brian tak melepaskannya. "Kau, harus ikut denganku!"
Brian mencengkeram kerah baju Edward Stein sehingga dia tak bisa bergerak bebas.
"Kau ... siapa kau berhak memaksaku? Sialan kau, Jones!"
Brian Jones melirik ke arah Diana yang terlihat membisu. Gadis itu jelas sedang ketakutan.
Brian pun berkata, "Kau boleh melaporkan pada satpam atau polisi soal ini, Diana. Aku tidak akan keberatan."
Akan tetapi, Brian malah mendengar Diana berujar, "Aku ... tidak akan melaporkanmu."
"Apa? Diana? Apa maksudmu?" Edward terlihat kaget dengan perkataan Diana.
Tidak hanya itu, Diana bahkan berkata lagi, "Kau bisa membawanya pergi dari sini, Brian. Aku akan tutup mulut."
"Kau mungkin tidak akan pernah menyangka apa saja yang bisa aku lakukan."Setelah mengatakan hal itu. Brian berniat memukul wajah Rayn lagi tapi dia tidak jadi melakukannya karena tiba-tiba dia melihat mobil petugas polisi melintas di dekat daerah itu.Rayn tertawa mengejek seketika, "Kau takut?"Bukan takut. Kata itu bukanlah kata yang tepat untuk mewakili tindakannya yang tidak jadi dia lakukan itu.Brian hanya tak ingin menyusahkan Joe Maiden jika dia nanti sampai benar-benar kehilangan kendali diri dan berakhir di penjara.Meskipun dia yakin Joe dengan muda bisa mengeluarkannya dari sana, Brian tetap tak ingin membuat masalah.Dia baru saja menyandang gelar pewaris tunggal keluarga Jones. Terlebih lagi, besok pagi akan menemui salah satu sanak saudaranya yang masih hidup sehingga dia merasa perlu untuk menahan diri untuk saat ini.Brian lalu menghela napas panjang. "Terserah apa katamu."Pria muda itu memutar badan dan segera mengambil sepedanya lagi. Rayn tak puas dan menendang
Rayn memutar kepala, melihat ke berbagai arah di sekeliling tempat itu.Rahangnya pun hampir saja terjatuh. Jelas sekali di sana terdapat begitu banyak CCTV yang tentu merekam semua kejadian di tempat itu.Sungguh sial, dia benar-benar lupa soal ini. Ah, padahal dia hanya berniat bersenang-senang dengan mengganggu mahasiswa miskin. Tapi, ternyata dia malah seolah seperti sedang menggali makamnya sendiri.Kalau ayahnya mengetahui apa yang telah dia lakukan di kampus, ayahnya pasti akan segera membunuhnya. Ayahnya begitu kejam dan tak pernah memberi ampun pada siapapun meskipun itu adalah putra kandungnya sendiri.Rayn pun hanya bisa menggertakkan gigi lantaran jengkel dan merebut perlengkapan mengepel yang dipegang oleh Brian."Ingatlah, ini belum selesai." Rayn mengancam seraya melempar sebuah tatapan benci pada Brian, seolah dirinya akan menyimpan wajah Brian di dalam kepalanya dan mengingat semua yang dilakukan oleh Brian terhadapnya.Aline, sang kekasih Rayn berujar dengan ekspr
Meskipun Brian tidak mengetahui niat Diana mengatakan hal itu, tapi dia tidak ingin memikirkan hal itu.Hal paling penting baginya adalah menyeret Brian pergi dari sana. Tanpa mengucapkan sepatah kata pun pada Diana, Brian meninggalkan lantai itu.Brian memilih sebuah ruang kelas kosong yang sudah tidak pernah digunakan dan mendorong Edward ke dalam lalu menutupnya dari dalam."Kau ... apa kau sudah benar-benar bosan hidup, Jones?"Brian hanya melirik Edward sekilas. "Katakan padaku sekarang! Apa kau sengaja menabrak kakekku malam itu?"Mendengar pertanyaan itu, Edward seketika membeku di tempatnya berdiri."Kenapa kau membahas hal yang sudah lama terjadi?"Brian membalas dengan kesal, "Itu baru terjadi beberapa hari yang lalu. Belum lama."Edward mendecakkan lidah. "Ah, persetan denganmu. Kenapa aku harus menjawabnya?"Dengan santai, Edward melangkah ke arah pintu tapi Brian mencegahnya. Dia berdiri tepat di depan pintu."Sialan. Minggir! Aku mau keluar, brengsek!""Kau tidak akan pe
Namun, tentu saja Joe Maiden tidak akan membiarkan hal itu terjadi.Segera saja dia memohon izin untuk keluar dan menghentikan kekacauan itu. "Tuan Alfred, mohon untuk tidak membuat gaduh."Alfred langsung tersinggung. "Joe Maiden. Berani sekali kau berkata begitu kepadaku!""Maaf, Tuan. Saya tidak seperti itu." Joe masih bersikap sopan."Tidak seperti itu? Lalu, apa ini? Aku hanya ingin bertemu dengan keponakanku. Kenapa aku dilarang masuk?" Alfred mendesis marah.Joe pun menjawab pelan, "Saat ini Tuan Brian sedang menerima tamu, Tuan.""Aku ini pamannya. Bukankah dia harus memprioritaskan aku dibanding yang lain?" Alfred berkacak pinggang, menatap marah."Tuan Brian tidak bisa menemui Anda hari ini, Tuan. Tapi, beliau sudah mengatur pertemuan dengan Anda," Joe berusaha menenangkan Alfred.Alfred mendengus keras. "Kapan itu?""Chloe Lawrence akan segera menghubungi Anda untuk waktunya." Joe Maiden menoleh pada sekretaris tuan mudanya.Chloe pun mengangguk paham.Alfred sebenarnya ti
Joe Maiden buru-buru membungkukkan badan, "Maaf, Tuan Muda. Saya tidak pernah berbohong.""Lalu apa yang baru saja kau katakan tadi?" Brian memasang ekspresi kesal."Tuan Muda, mohon maaf. Meskipun Tuan Alfred Jones juga bekerja di J-Corporation, bukan berarti Anda akan selalu bertemu dengan dia.""Joe, kau tadi mengatakan kepadaku kalau aku akan bertemu dengan dia. Jadi, mana yang benar?" Brian duduk dengan bersedekap sambil menatap jengkel sekretaris kakeknya yang kini telah menjadi sekretarisnya itu."Anda dan Tuan Alfred tidak berada di lantai yang sama, Tuan Muda. Anda hanya akan bertemu dengan Tuan Alfred di acara-acara tertentu seperti meeting penting.""Beda lantai? Kau yakin?" Brian mencoba memastikan."Iya, Tuan Muda. Apa Anda mau pergi ke perusahaan untuk melihatnya?" Joe Maiden terlihat sangat bersemangat.Brian membalas cepat, "Tidak. Tidak sekarang.""Setelah Anda mendapatkan hasil tes DNA."Brian akan membalas tapi dia tidak bisa. Sebagai seorang laki-laki dia tidak mun
"Ya, Tuan Muda." Tentu saja Joe Maiden akan melakukan apa saja perintah Brian Jones. Pemuda itu adalah bos barunya. Tak ada alasan baginya untuk menolak."Tidak masalah kau mengumumkan aku telah kembali, tapi tolong sembunyikan identitasku."Joe Maiden menatap bingung. "Kenapa harus begitu, Tuan Muda?""Aku belum melakukan tes DNA."Joe Maiden mendesah lelah, "Tidak ada keraguan bagi saya jika Anda benar-benar cucu dari Tuan Simon, Tuan Muda.""Aku tahu. Tapi, mendengar ceritamu tentang banyak orang yang berusaha mengambil alih perusahaan milik ... kakekku, aku harus lebih berhati-hati. Aku tidak mau dituduh sebagai cucu palsu. Aku harus membuktikan diri jika aku benar-benar cucu Simon Jones. Apa kau paham maksudku?" Brian menjelaskan dengan hati-hati.Joe Maiden terhenyak. Dia pun segera membungkuk rendah dan berkata, "Anda benar, Tuan Muda. Astaga, Anda sangat cerdas. Tidak diragukan lagi, Anda memiliki kecerdasan yang sama seperti Tuan Simon."Brian mengibaskan tangan. "Kau berlebi







