Share

Bab 7

Author: Zila Aicha
last update publish date: 2026-02-13 17:20:28

Namun, tentu saja Joe Maiden tidak akan membiarkan hal itu terjadi.

Segera saja dia memohon izin untuk keluar dan menghentikan kekacauan itu. 

"Tuan Alfred, mohon untuk tidak membuat gaduh."

Alfred langsung tersinggung. "Joe Maiden. Berani sekali kau berkata begitu kepadaku!"

"Maaf, Tuan. Saya tidak seperti itu." Joe masih bersikap sopan.

"Tidak seperti itu? Lalu, apa ini? Aku hanya ingin bertemu dengan keponakanku. Kenapa aku dilarang masuk?" Alfred mendesis marah.

Joe pun menjawab pelan, "Saat ini Tuan Brian sedang menerima tamu, Tuan."

"Aku ini pamannya. Bukankah dia harus memprioritaskan aku dibanding yang lain?" Alfred berkacak pinggang, menatap marah.

"Tuan Brian tidak bisa menemui Anda hari ini, Tuan. Tapi, beliau sudah mengatur pertemuan dengan Anda," Joe berusaha menenangkan Alfred.

Alfred mendengus keras. "Kapan itu?"

"Chloe Lawrence akan segera menghubungi Anda untuk waktunya." Joe Maiden menoleh pada sekretaris tuan mudanya.

Chloe pun mengangguk paham.

Alfred sebenarnya tidak sabar untuk melihat seperti apa keponakannya itu. Akan tetapi, dia tentu tidak boleh gegabah. Jika dia mengambil keputusan yang bodoh, dia bisa tidak mendapatkan apapun nantinya.

"Baiklah, kalau begitu aku tunggu kabar itu."

Alfred pun meninggalkan lantai itu dengan tidak puas.

Sementara itu, di dalam ruangan, konsentrasi Brian Jones telah terpecah.

"Tuan Damian, aku pikir semuanya sudah cukup untuk saat ini." Brian memilih menyudahi pertemuannya dengan sang direktur utama itu.

Damian segera pamit dan meninggalkan Brian hanya bersama dengan Joe.

"Apa yang terjadi?" Brian tak bisa menahan diri untuk bertanya.

"Tuan Alfred memaksa untuk menemui Anda, Tuan Muda. Tapi, saya sudah mengatakan pada beliau bila Anda akan menemuinya nanti."

Brian mendesah. "Kenapa dia ingin menemuiku?"

"Siapapun pasti ingin bertemu dengan orang yang menghalangi jalannya, Tuan Muda."

Masuk akal. Brian paham benar akan hal itu. Alfred Jones menganggap dirinya sebagai pengganggu dalam hal menguasai harta kekayaan sang kakek.

"Lalu, kapan aku akan bertemu dengannya?" Brian yang sadar tak mungkin mengulur waktu.

"Ketika Anda benar-benar siap, Tuan Muda."

"Lusa." Brian menjawab tanpa ragu.

Joe Maiden sedikit terkejut kala mendengarnya. "Anda yakin, Tuan Muda? Anda sebenarnya tidak perlu terburu-buru."

"Tak masalah. Cepat atau lambat, aku harus segera menemuinya, bukan? Jadi, buat apa ditunda?" 

Joe Maiden membungkukkan badan, "Kalau begitu akan saya katakan pada sekretaris Anda."

"Hm."

Brian berpikir sejenak dan tiba-tiba berkata, "Aku akan pergi ke kampus besok."

"Kenapa Anda tiba-tiba berubah pikiran, Tuan Muda?" Joe bertanya dengan ekspresi heran.

"Ada sesuatu yang ingin aku pastikan." Brian memilih untuk merahasiakannya terlebih dulu.

Sebetulnya, dia mungkin bisa meminta bantuan Joe Maiden untuk menyelidiki kasus kecelakaan yang menewaskan sang kakek.

Namun, untuk saat ini dia ingin melakukannya sendiri tanpa ikut campur dari pihak lain.

Esok pagi, Brian meminta Joe Maiden membawa barang-barang lamanya dari rumah yang dia tempati bersama kakeknya dulu.

Tanpa ragu, dia mengenakan kemeja lusuh miliknya dan celana jeans yang warnanya sudah pudar.

Joe Maiden bertanya karena terkejut, "Tuan Muda, kenapa Anda memakai barang-barang lama Anda?"

"Karena aku masih belum ingin memberitahu mereka." Brian menjawab sambil menggulung lengan kemejanya. 

Semua pelayan dan pengawal sempat dibuat terkejut dengan penampilan tuan muda mereka yang kembali seperti saat dia sebelum memasuki rumah itu. Namun, tak ada satupun dari mereka yang berani bertanya.

"Di mana sepedaku?" Brian bertanya saat tak menemukan sepedanya di tempat parkir koleksi mobil-mobil mewah.

"Saya tidak menemukan sepeda Anda, Tuan Muda. Apakah saya perlu membelikan yang baru?" Joe menawarkan.

"Sekarang masih pagi, bagaimana mungkin?" Brian mengerutkan kening.

Joe tersenyum menanggapi hal itu, "Semuanya mungkin, Tuan Muda. Anda adalah Tuan Muda Jones. Apapun keinginan Anda akan terwujud."

Ah, Brian lupa akan hal itu.

"Baiklah, kalau begitu belikan aku sepeda yang sama persis dengan sepeda lamaku." Brian memerintah.

"Baik, Tuan Muda."

"Tapi, tidak akan membutuhkan waktu yang lama kan? Satu jam lagi jam pertamaku akan dimulai."

Joe menggelengkan kepala dengan tegas, "Hanya sepuluh menit, Tuan Muda."

Brian agak ragu tapi dia tetap menunggu. 

Tepat sepuluh menit kemudian, sepeda yang ber-merk sama dengan sepeda lama Brian pun telah diantar ke J-House oleh kurir.

"Benar-benar sepuluh menit. Kau hebat, Joe." Brian memuji tulus.

Joe bertanya lagi, "Apa yang Anda inginkan lagi, Tuan Muda?"

"Tidak ada. Aku akan menghubungimu nanti." Brian membalas sambil mulai mengambil sepedanya.

Meskipun sangat cemas, Joe tidak bisa berbuat apa-apa. Dia hanya bisa mengirim beberapa pengawal rumah itu yang masih muda untuk mengawasi tuan mudanya di kampus.

Setelah sampai di kampus, Brian segera naik ke lantai empat. 

Akan tetapi, baru saja dia keluar dari lift, dia bertemu dengan Edward Stein yang sedang berjalan bersama dengan mantan kekasihnya, Diana.

Diana terlihat tidak nyaman saat menatapnya tapi Brian tak peduli. Yang dia pedulikan hanyalah Edward Stein yang tengah tersenyum miring kepadanya.

"Wah! Kau masih hidup, Brian! Luar biasa!" Edward menatap dengan tatapan mengejek.

Brian pun mendorong Edward hingga membuat Diana terpaksa harus menyingkir.

"Apa-apaan kau, pecundang? Mau berkelahi denganku?"

"Kalau iya, memangnya kenapa? Kau takut?" Brian membalas tanpa rasa takut sedikit pun.

Edward Stein terkikik geli. 

"Apa katamu? Takut? Sejak kapan Edward Stein takut pada pecundang sepertimu?"

Brian meludah ke samping, "Kalau memang tidak takut berkelahi denganku. Lalu, kenapa saat pemakaman kakekku, kau menyuruh orang untuk memukulku?"

Senyum Edward pun perlahan memudar dari bibirnya. "Banyak omong. Apa maumu?"

"Mauku? Menyeretmu ke neraka, tentu saja."

"Jangan mimpi!" Edward Stein membalas tanpa rasa takut.

"Keluar sekarang dan mari kita buktikan sebenarnya siapa yang pengecut di sini. Kau berani?" Brian bertanya sambil menyipitkan mata.

Edward Stein terlihat terkejut. 

"Kenapa kau diam? Apa kau tidak bisa berkelahi? Apa kau hanya bisa menyuruh anak buahmu untuk melindungimu?" cerca Brian.

Melihat ekspresi Edward yang kaku itu pun kini Brian semakin yakin bila sebenarnya Edward memanglah seorang pengecut.

"Aku tak punya urusan bermain-main denganmu, pecundang!" Edward bergerak menjauh.

Namun, Brian tak membiarkan begitu saja. Laki-laki muda itu menahan lengan Edward.

"Lepaskan aku!" Edward berteriak.

Tentu saja Brian tak melepaskannya. "Kau, harus ikut denganku!"

Brian mencengkeram kerah baju Edward Stein sehingga dia tak bisa bergerak bebas.

"Kau ... siapa kau berhak memaksaku? Sialan kau, Jones!" 

Brian Jones melirik ke arah Diana yang terlihat membisu. Gadis itu jelas sedang ketakutan.

Brian pun berkata, "Kau boleh melaporkan pada satpam atau polisi soal ini, Diana. Aku tidak akan keberatan."

Akan tetapi, Brian malah mendengar Diana berujar, "Aku ... tidak akan melaporkanmu."

"Apa? Diana? Apa maksudmu?" Edward terlihat kaget dengan perkataan Diana.

Tidak hanya itu, Diana bahkan berkata lagi, "Kau bisa membawanya pergi dari sini, Brian. Aku akan tutup mulut."

Continue to read this book for free
Scan code to download App

Latest chapter

  • Pewaris Muda Terkaya   Bab 32

    Brian tersenyum miring.“Kamu … tidak bisa mundur sekarang, Connery.”Connery menggebrak meja dan langsung meninggalkan ruangannya. Pria itu tersadar sepenuhnya. Dia hanya dijadikan alat oleh Brian untuk menjebak keluarganya sendiri. Semuanya telah direncanakan dengan matang oleh pemuda itu. Dengan penuh amarah, dia pergi dari J-Company dan bergegas kembali ke J-House.Dia mengemasi barang-barangnya dan tanpa pamit meninggalkan J-House. Satu jam kemudian dia tiba di rumah ayahnya dan disambut dengan tatapan dingin Hector.“Sudah sadar?”Connery mendesah pelan. “Bukan saatnya untuk menyindirku. Sekarang yang penting, kita harus temukan cara untuk menggagalkan rencananya.”“Tidak bisa.” Alfred berujar sambil turun dari tangga.Connery menelan ludah, “Ayah, aku minta maaf. Aku sudah begitu bodoh. Aku-”“Itu sudah tidak penting lagi. Seperti katamu, yang harus kita lakukan sekarang adalah … membalikkan keadaan,” potong Alfred dengan tidak sabar.Connery mengangguk penuh rasa lega. “Ak

  • Pewaris Muda Terkaya   Bab 31

    Alfred berbalik perlahan lalu menjawab, “Ya.”Hector mulai mengerti arah pembicaraan itu.Wajah Hector menegang. “Jadi … sebenarnya dia memang sengaja?”Alfred mengangguk tipis. “Dia ingin Connery menemukan semua itu”Hector mengepalkan tangan erat-erat. “Mengapa dia melakukan itu?”Alfred berkata dengan nada dingin, “Dia ingin kita jatuh di tangan Connery.”Suasana ruangan mendadak terasa lebih berat.Hector menarik napas dalam. “Kalau begitu kita harus menghentikannya, Ayah.”Alfred terdiam sejenak, “Kita akan menemui Connery besok.”Esok paginya, mobil hitam milik Alfred berhenti di depan gedung utama J-Company. Dia datang bersama dengan Hector yang menampilkan ekspresi masam saat memasuki area gedung perusahaan besar itu.Langkah mereka cepat, penuh tujuan. Namun begitu mereka sampai di lantai tempat Connery bekerja, langkah mereka terhenti.Dua pria berbadan besar berdiri di depan pintu ruang kerja Connery. Tatapan mereka dingin, sikapnya tegas.Hector langsung melangkah maju. “A

  • Pewaris Muda Terkaya   Bab 30

    “Tuan Muda, apa yang Anda perlukan sekarang? Apa saya perlu-”“Tidak, Joe. Kau tidak perlu melakukan apapun. Kau sudah mengerjakan bagianmu dan itu sudah cukup.”Joe Maiden mengangguk paham. Dia tahu dengan benar bahwa sang tuan muda pasti akan mencarinya jika dia memang memerlukan bantuannya. Jika saat ini dia belum diperlukan, maka dia akan menunggu.Satu minggu berikutnya, Brian Jones sudah melihat kinerja Connery, sang sepupu yang telah dia berikan sebuah tanggung jawab besar. Siang itu, lewat sebuah monitor di ruangannya, dia sedang menyaksikan Connery berdiri di depan meja panjang ruang rapat sedang memimpin sebuah rapat. Rapat itu membahas tentang proyek besar yang sedang ia tangani. Di sekelilingnya, beberapa staf khusus yang dipilih langsung oleh Brian duduk dengan ekspresi serius.Seorang wanita berambut pendek membuka tablet. “Tuan Connery, saya Elena. Saya ditugaskan khusus sebagai analis keuangan proyek ini.”Pria berkacamata di sebelahnya mengangguk. “Saya Rafael, bag

  • Pewaris Muda Terkaya   Bab 29

    Brian pun naik ke lantai di mana Connery berada.Langkah kaki Brian terdengar mendekat, tenang dan terukur.“Maafkan aku, kau harus mendengar semuanya,” ucap Brian pelan.Connery tersenyum hambar tanpa menoleh. “Itu bukan salahmu, kenapa kau meminta maaf, Brian?Brian tidak langsung menjawab. Ia berdiri di samping sofa, menatap Connery dari atas dengan ekspresi yang sulit ditebak.“Mereka itu keluargamu, Connery. Mendengar mereka berbicara seperti itu, kau pasti ….”“Tidak masalah. Lagipula, aku jauh lebih mengenal mereka, Brian.”Brian terdiam.Tapi, kemudian dia bertanya, “Dan sekarang? Apa yang akan kau lakukan, Conery?Hening sejenak memenuhi ruangan.Connery menunduk, kedua tangannya saling menggenggam erat. Namun perlahan, genggaman itu mengendur. Ia mengangkat kepalanya, menatap lurus ke depan. “Aku akan membuktikan jika mereka salah.”Nada suaranya tidak keras. Tidak emosional. Tapi justru itu yang membuatnya terdengar lebih kuat.Brian memperhatikan dengan seksama, matanya s

  • Pewaris Muda Terkaya   Bab 28

    Brian memasukkan kedua tangannya ke dalam saku celana, sikapnya santai namun sorot matanya tajam.“Aku hanya ingin memastikan satu hal,” katanya pelan, menatap serius pamannya tanpa berkedip. “Kenapa kalian ingin berbicara dengan Connery?”Alfred mendengus, “Urusanku dengan putraku itu bukan urusanmu, Bocah Tengik.”Brian mendesah santai, “Kau … hanya ingin menahan Connery kan? Kalian tidak ingin Connery berkembang pesat?”Alfred tertawa kesal, “Menahan Connery agar dia tidak berkembang pesat? Kau pikir aku ini ayah yang picik?” Brian mengangkat alis sedikit. “Bukankah itu yang selalu kau lakukan?”Hector langsung melangkah maju satu langkah. “Jangan sok tahu soal keluarga kami, Brian! Kau bahkan baru mengenal Connery.”Brian tersenyum tipis. “Benarkah? Atau justru aku yang pertama kali benar-benar melihat kemampuannya?”Ucapan itu membuat Hector terdiam sejenak, lalu wajahnya mengeras seketika.“Omong kosong,” balasnya dingin. “Connery itu apa? Sejak kapan dia punya kemampuan yang

  • Pewaris Muda Terkaya   Bab 27

    Hector mengepalkan tangan, luar biasa kesal. Dia masih menatap saudaranya yang sedang bersama dengan Brian. “Kau memang brengsek, Brian!”Tanpa berkata apa-apa lagi, dia berbalik dengan cepat, berniat meninggalkan area gedung itu.“Connery … kau ini bodoh atau apa?” gumamnya lirih sebelum akhirnya benar-benar pergi dari area gedung.Sementara itu, di dalam mobil, suasana justru berbanding terbalik.Connery melirik Brian yang tampak santai sambil membaca surat kabar.Beberapa menit kemudian, mereka tiba di sebuah restoran yang cukup tenang dan eksklusif. Begitu duduk, suasana menjadi jauh lebih santai.Connery menyandarkan tubuhnya sedikit. “Jujur saja … aku masih agak tidak percaya dengan semua ini.”“Yang mana?” tanya Brian sambil membuka menu.“Semua. Dari semalam sampai sekarang. Aku diusir, lalu tiba-tiba tinggal di J-House, dan sekarang … memegang proyek sebesar itu.”Brian mengangguk pelan. “Hidup memang sering tidak memberi kita waktu untuk beradaptasi.”Connery tersenyum tipi

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status