Share

Bab 6

Author: Zila Aicha
last update publish date: 2026-02-13 17:14:58

Joe Maiden buru-buru membungkukkan badan, "Maaf, Tuan Muda. Saya tidak pernah berbohong."

"Lalu apa yang baru saja kau katakan tadi?" Brian memasang ekspresi kesal.

"Tuan Muda, mohon maaf. Meskipun Tuan Alfred Jones juga bekerja di J-Company, bukan berarti Anda akan selalu bertemu dengan dia."

"Joe, kau tadi mengatakan kepadaku kalau aku akan bertemu dengan dia. Jadi, mana yang benar?" Brian duduk dengan bersedekap sambil menatap jengkel sekretaris kakeknya yang kini telah menjadi sekretarisnya itu.

"Anda dan Tuan Alfred tidak berada di lantai yang sama, Tuan Muda. Anda hanya akan bertemu dengan Tuan Alfred di acara-acara tertentu seperti meeting penting."

"Beda lantai? Kau yakin?" Brian mencoba memastikan.

"Iya, Tuan Muda. Apa Anda mau pergi ke perusahaan untuk melihatnya?" Joe Maiden terlihat sangat bersemangat.

Brian membalas cepat, "Tidak. Tidak sekarang."

"Setelah Anda mendapatkan hasil tes DNA."

Brian akan membalas tapi dia tidak bisa. Sebagai seorang laki-laki dia tidak mungkin menodai kehormatannya sendiri dengan mengingkari janji yang telah ia buat.

Esok paginya, seorang dokter membawa hasil tes DNA milik Brian. Saat membaca hasil tes tersebut dia hanya termangu.

"99,99% cocok."

Joe Maiden melebarkan senyumnya, "Seperti yang sudah saya katakan."

"Anda cucu kandung Tuan Simon."

Brian tidak memberi respon apapun.

"Jadi, apa Anda siap pergi ke J-Company, Tuan Muda?" Joe Maiden terlihat begitu berharap.

Brian tentu tak bisa menghindar lagi, maka dia pun tak punya pilihan selain menyetujui hal itu.

"Akan saya siapkan segala keperluan Anda dengan segera." 

Hanya dalam waktu sepuluh menit, semua keperluan Brian sudah siap. Brian dituntun untuk memakai setelan jas mewah dengan kualitas tinggi. Seorang pelayan laki-laki membantunya memilih jam tangan yang sudah tentu tidak berharga murah.

Selain itu, sepatu pun dipilihkan oleh Joe Maiden dengan cermat. Di samping itu, rambut Brian juga ditata sedemikian rapi. Ditambah lagi, Joe memperlihatkan puluhan jam tangan mewah dengan berbagai merek terkenal dan harga yang sangat fantastis. 

Brian hanya memilih secara asal karena tak mau berlama-lama.

Setelah semuanya selesai, Brian Jones tertegun kala melihat penampilannya dirinya sendiri di depan cermin besar.

Apakah itu benar-benar dirinya?

Di mana laki-laki muda miskin, lusuh dan kotor itu?

Mengapa sekarang dia hanya melihat seorang laki-laki muda tampan yang begitu bersih dan rapi?

"Anda terlihat sangat tampan dan gagah, Tuan Muda." Joe Maiden terlihat bangga akan kemampuannya membuat tuan mudanya menjadi terlihat begitu mempesona dan berkarisma.

"Aku terlihat seperti cucu orang terkaya di dunia." Brian hanya berkomentar ngawur tapi anehnya Joe malah tertawa.

"Anda memang cucu orang terkaya di dunia, Tuan Muda."

Brian memutar badan dan benar-benar senang seolah dia mengenakan pakaian yang begitu ringan. Dia bisa bergerak dengan nyaman.

"Kita berangkat sekarang."

"Baik, Tuan Muda."

Joe Maiden memilihkan limousine untuk kendaraan yang akan dia gunakan untuk membawa sang tuan muda ke J-Company. 

"Joe, siapa saja yang harus aku temui?"

"Direktur utama dan juga sekretaris Anda, Tuan Muda."

Brian memilih diam selama perjalanan yang hanya memakan waktu tak lebih dari lima menit itu. 

Saat sampai di depan gedung J-Company, Brian melihat gedung yang begitu sangat tinggi itu.

Tak pernah sekalipun dia bermimpi bila perusahan dengan puluhan lantai itu adalah milik kakeknya yang sekarang sudah berpindah kepemilikan atas namanya.

Joe Maiden mengarahkan sang tuan muda ke dalam lift khusus yang terpisah. 

Brian sedikit terkejut. "Kenapa memakai lift ini?" 

"Lift dengan cat emas ini hanya diperuntukkan untuk jajaran eksekutif, Tuan Muda. Anda dan para direktur."

Brian memilih bertanya hal lain. "Di lantai berapa sepupu ayahku berada?" 

"Lantai 24, Tuan Muda. Anda di lantai 25. Lantai 25 hanya ditempati oleh Anda."

Penjelasan itu membuat Brian Jones cukup lega. 

Begitu lift terbuka, dia sudah disambut oleh beberapa pengawal, dua orang pegawai perempuan dan juga seorang laki-laki paruh baya yang Brian tebak adalah direktur utama yang dimaksud oleh Joe Maiden sebelumnya.

"Selamat datang, Tuan Muda Jones," sapa mereka secara bersamaan.

Brian mengangguk.

"Damian Clayton. Senang sekali akhirnya saya bisa bertemu dengan Anda." Dia mengulurkan tangan ke arah Brian dan Brian pun menyambutnya.

"Saya Chloe Lawrence, sekretaris Anda, Tuan Muda."

"Brian Jones."

"Terima kasih. Bisa kita langsung berbicara saja?" Brian berkata pada Damian. Dia terlihat tak ingin berlama-lama di sana.

Damian segera mengangguk paham.

Cucu sang pemilik J-Company pasti sangatlah sibuk. Dia pun begitu merasa senang karena dia memiliki kesempatan untuk bertemu dengan Brian Jones.

Brian memasuki ruang kerja kakeknya sesuai dengan yang Joe arahkan.

Begitu dia masuk ke dalam diikuti oleh Damian, dia pun meminta pintu itu ditutup.

Sementara itu, di luar ruangan, dua perempuan muda itu saling pandang.

"Dia sangat tampan." Jessica, sekretaris Damian yang lupa memperkenalkan dirinya itu terlihat kagum.

"Aku tidak bisa lebih setuju denganmu. Tapi, sayangnya dia masih sangat muda. Apa menurutmu dia sudah menyelesaikan studinya?"

Chloe terlihat berpikir, "Dari wajahnya yang terlihat masih sangat muda, aku rasa dia masih menempuh pendidikan di universitas."

"Oh, terus bagaimana dengan perusahaan ini?" Jessica mulai cemas.

Chloe mendecak lidah, "Apa yang kau khawatirkan? Dia mungkin memang masih belum lulus dari universitas. Tapi, dia seorang cucu Simon Jones, tentu saja dia tahu apa yang harus dia lakukan."

"Aku harap juga begitu." Jessica mengangguk. 

Tapi kemudian mulai merasa cemas, "Tapi, aku khawatir bila Tuan Alfred akan mengganggunya. Kau tahu kan dia sangat berambisi mendapatkan perusahaan ini." 

"Siapa yang tidak tahu hal itu? Saat kemarin berita Tuan Simon meninggal telah tersebar, bukankah dia telah berkoar-koar di media jika dia yang akan mungkin mewarisi seluruh harta Tuan Simon?" Chloe jengkel.

Jessica menambahkan, "Ternyata cucu Tuan Simon muncul, aku sangat yakin dia pasti sangat marah besar."

"Dia pasti-"

Chloe tak jadi melanjutkan ucapannya karena mereka tiba-tiba saja mendengar suara bel pintu lift terbuka. 

Alfred Jones melangkah keluar dari lift bersama dengan dua orang pengawalnya.

Chloe pun menelan ludah. 

Saat Alfred Jones berniat melangkah ke pintu ruang CEO, dua orang penjaga langsung menghadangnya. 

"Mohon maaf, Tuan. Anda tidak bisa masuk ke dalam."

Alfred mendelik kesal. "Apa maksudmu? Kau lupa siapa aku? Berani sekali kau menghadangku!"

"Sekali lagi mohon maaf, Tuan. Kami hanya menjalankan perintah."

"Perintah? Perintah dari siapa? Dari keponakanku yang kurang ajar itu?" Alfred murka. Wajahnya telah memerah.

Alfred pun maju lagi tapi dua penjaga utama masih menghadangnya.

"Apa kalian cari mati? Aku hanya mau bertemu dengan dia. Minggir!" Alfred membentak keras.

Continue to read this book for free
Scan code to download App

Latest chapter

  • Pewaris Muda Terkaya   Bab 32

    Brian tersenyum miring.“Kamu … tidak bisa mundur sekarang, Connery.”Connery menggebrak meja dan langsung meninggalkan ruangannya. Pria itu tersadar sepenuhnya. Dia hanya dijadikan alat oleh Brian untuk menjebak keluarganya sendiri. Semuanya telah direncanakan dengan matang oleh pemuda itu. Dengan penuh amarah, dia pergi dari J-Company dan bergegas kembali ke J-House.Dia mengemasi barang-barangnya dan tanpa pamit meninggalkan J-House. Satu jam kemudian dia tiba di rumah ayahnya dan disambut dengan tatapan dingin Hector.“Sudah sadar?”Connery mendesah pelan. “Bukan saatnya untuk menyindirku. Sekarang yang penting, kita harus temukan cara untuk menggagalkan rencananya.”“Tidak bisa.” Alfred berujar sambil turun dari tangga.Connery menelan ludah, “Ayah, aku minta maaf. Aku sudah begitu bodoh. Aku-”“Itu sudah tidak penting lagi. Seperti katamu, yang harus kita lakukan sekarang adalah … membalikkan keadaan,” potong Alfred dengan tidak sabar.Connery mengangguk penuh rasa lega. “Ak

  • Pewaris Muda Terkaya   Bab 31

    Alfred berbalik perlahan lalu menjawab, “Ya.”Hector mulai mengerti arah pembicaraan itu.Wajah Hector menegang. “Jadi … sebenarnya dia memang sengaja?”Alfred mengangguk tipis. “Dia ingin Connery menemukan semua itu”Hector mengepalkan tangan erat-erat. “Mengapa dia melakukan itu?”Alfred berkata dengan nada dingin, “Dia ingin kita jatuh di tangan Connery.”Suasana ruangan mendadak terasa lebih berat.Hector menarik napas dalam. “Kalau begitu kita harus menghentikannya, Ayah.”Alfred terdiam sejenak, “Kita akan menemui Connery besok.”Esok paginya, mobil hitam milik Alfred berhenti di depan gedung utama J-Company. Dia datang bersama dengan Hector yang menampilkan ekspresi masam saat memasuki area gedung perusahaan besar itu.Langkah mereka cepat, penuh tujuan. Namun begitu mereka sampai di lantai tempat Connery bekerja, langkah mereka terhenti.Dua pria berbadan besar berdiri di depan pintu ruang kerja Connery. Tatapan mereka dingin, sikapnya tegas.Hector langsung melangkah maju. “A

  • Pewaris Muda Terkaya   Bab 30

    “Tuan Muda, apa yang Anda perlukan sekarang? Apa saya perlu-”“Tidak, Joe. Kau tidak perlu melakukan apapun. Kau sudah mengerjakan bagianmu dan itu sudah cukup.”Joe Maiden mengangguk paham. Dia tahu dengan benar bahwa sang tuan muda pasti akan mencarinya jika dia memang memerlukan bantuannya. Jika saat ini dia belum diperlukan, maka dia akan menunggu.Satu minggu berikutnya, Brian Jones sudah melihat kinerja Connery, sang sepupu yang telah dia berikan sebuah tanggung jawab besar. Siang itu, lewat sebuah monitor di ruangannya, dia sedang menyaksikan Connery berdiri di depan meja panjang ruang rapat sedang memimpin sebuah rapat. Rapat itu membahas tentang proyek besar yang sedang ia tangani. Di sekelilingnya, beberapa staf khusus yang dipilih langsung oleh Brian duduk dengan ekspresi serius.Seorang wanita berambut pendek membuka tablet. “Tuan Connery, saya Elena. Saya ditugaskan khusus sebagai analis keuangan proyek ini.”Pria berkacamata di sebelahnya mengangguk. “Saya Rafael, bag

  • Pewaris Muda Terkaya   Bab 29

    Brian pun naik ke lantai di mana Connery berada.Langkah kaki Brian terdengar mendekat, tenang dan terukur.“Maafkan aku, kau harus mendengar semuanya,” ucap Brian pelan.Connery tersenyum hambar tanpa menoleh. “Itu bukan salahmu, kenapa kau meminta maaf, Brian?Brian tidak langsung menjawab. Ia berdiri di samping sofa, menatap Connery dari atas dengan ekspresi yang sulit ditebak.“Mereka itu keluargamu, Connery. Mendengar mereka berbicara seperti itu, kau pasti ….”“Tidak masalah. Lagipula, aku jauh lebih mengenal mereka, Brian.”Brian terdiam.Tapi, kemudian dia bertanya, “Dan sekarang? Apa yang akan kau lakukan, Conery?Hening sejenak memenuhi ruangan.Connery menunduk, kedua tangannya saling menggenggam erat. Namun perlahan, genggaman itu mengendur. Ia mengangkat kepalanya, menatap lurus ke depan. “Aku akan membuktikan jika mereka salah.”Nada suaranya tidak keras. Tidak emosional. Tapi justru itu yang membuatnya terdengar lebih kuat.Brian memperhatikan dengan seksama, matanya s

  • Pewaris Muda Terkaya   Bab 28

    Brian memasukkan kedua tangannya ke dalam saku celana, sikapnya santai namun sorot matanya tajam.“Aku hanya ingin memastikan satu hal,” katanya pelan, menatap serius pamannya tanpa berkedip. “Kenapa kalian ingin berbicara dengan Connery?”Alfred mendengus, “Urusanku dengan putraku itu bukan urusanmu, Bocah Tengik.”Brian mendesah santai, “Kau … hanya ingin menahan Connery kan? Kalian tidak ingin Connery berkembang pesat?”Alfred tertawa kesal, “Menahan Connery agar dia tidak berkembang pesat? Kau pikir aku ini ayah yang picik?” Brian mengangkat alis sedikit. “Bukankah itu yang selalu kau lakukan?”Hector langsung melangkah maju satu langkah. “Jangan sok tahu soal keluarga kami, Brian! Kau bahkan baru mengenal Connery.”Brian tersenyum tipis. “Benarkah? Atau justru aku yang pertama kali benar-benar melihat kemampuannya?”Ucapan itu membuat Hector terdiam sejenak, lalu wajahnya mengeras seketika.“Omong kosong,” balasnya dingin. “Connery itu apa? Sejak kapan dia punya kemampuan yang

  • Pewaris Muda Terkaya   Bab 27

    Hector mengepalkan tangan, luar biasa kesal. Dia masih menatap saudaranya yang sedang bersama dengan Brian. “Kau memang brengsek, Brian!”Tanpa berkata apa-apa lagi, dia berbalik dengan cepat, berniat meninggalkan area gedung itu.“Connery … kau ini bodoh atau apa?” gumamnya lirih sebelum akhirnya benar-benar pergi dari area gedung.Sementara itu, di dalam mobil, suasana justru berbanding terbalik.Connery melirik Brian yang tampak santai sambil membaca surat kabar.Beberapa menit kemudian, mereka tiba di sebuah restoran yang cukup tenang dan eksklusif. Begitu duduk, suasana menjadi jauh lebih santai.Connery menyandarkan tubuhnya sedikit. “Jujur saja … aku masih agak tidak percaya dengan semua ini.”“Yang mana?” tanya Brian sambil membuka menu.“Semua. Dari semalam sampai sekarang. Aku diusir, lalu tiba-tiba tinggal di J-House, dan sekarang … memegang proyek sebesar itu.”Brian mengangguk pelan. “Hidup memang sering tidak memberi kita waktu untuk beradaptasi.”Connery tersenyum tipi

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status