LOGINJoe Maiden buru-buru membungkukkan badan, "Maaf, Tuan Muda. Saya tidak pernah berbohong."
"Lalu apa yang baru saja kau katakan tadi?" Brian memasang ekspresi kesal.
"Tuan Muda, mohon maaf. Meskipun Tuan Alfred Jones juga bekerja di J-Corporation, bukan berarti Anda akan selalu bertemu dengan dia."
"Joe, kau tadi mengatakan kepadaku kalau aku akan bertemu dengan dia. Jadi, mana yang benar?" Brian duduk dengan bersedekap sambil menatap jengkel sekretaris kakeknya yang kini telah menjadi sekretarisnya itu.
"Anda dan Tuan Alfred tidak berada di lantai yang sama, Tuan Muda. Anda hanya akan bertemu dengan Tuan Alfred di acara-acara tertentu seperti meeting penting."
"Beda lantai? Kau yakin?" Brian mencoba memastikan.
"Iya, Tuan Muda. Apa Anda mau pergi ke perusahaan untuk melihatnya?" Joe Maiden terlihat sangat bersemangat.
Brian membalas cepat, "Tidak. Tidak sekarang."
"Setelah Anda mendapatkan hasil tes DNA."
Brian akan membalas tapi dia tidak bisa. Sebagai seorang laki-laki dia tidak mungkin menodai kehormatannya sendiri dengan mengingkari janji yang telah ia buat.
Esok paginya, seorang dokter membawa hasil tes DNA milik Brian. Saat membaca hasil tes tersebut dia hanya termangu.
"99,99% cocok."
Joe Maiden melebarkan senyumnya, "Seperti yang sudah saya katakan."
"Anda cucu kandung Tuan Simon."
Brian tidak memberi respon apapun.
"Jadi, apa Anda siap pergi ke J-Company, Tuan Muda?" Joe Maiden terlihat begitu berharap.
Brian tentu tak bisa menghindar lagi, maka dia pun tak punya pilihan selain menyetujui hal itu.
"Akan saya siapkan segala keperluan Anda dengan segera."
Hanya dalam waktu sepuluh menit, semua keperluan Brian sudah siap. Brian dituntun untuk memakai setelan jas mewah dengan kualitas tinggi. Seorang pelayan laki-laki membantunya memilih jam tangan yang sudah tentu tidak berharga murah.
Selain itu, sepatu pun dipilihkan oleh Joe Maiden dengan cermat. Di samping itu, rambut Brian juga ditata sedemikian rapi. Ditambah lagi, Joe memperlihatkan puluhan jam tangan mewah dengan berbagai merek terkenal dan harga yang sangat fantastis.
Brian hanya memilih secara asal karena tak mau berlama-lama.
Setelah semuanya selesai, Brian Jones tertegun kala melihat penampilannya dirinya sendiri di depan cermin besar.
Apakah itu benar-benar dirinya?
Di mana laki-laki muda miskin, lusuh dan kotor itu?
Mengapa sekarang dia hanya melihat seorang laki-laki muda tampan yang begitu bersih dan rapi?
"Anda terlihat sangat tampan dan gagah, Tuan Muda." Joe Maiden terlihat bangga akan kemampuannya membuat tuan mudanya menjadi terlihat begitu mempesona dan berkarisma.
"Aku terlihat seperti cucu orang terkaya di dunia." Brian hanya berkomentar ngawur tapi anehnya Joe malah tertawa.
"Anda memang cucu orang terkaya di dunia, Tuan Muda."
Brian memutar badan dan benar-benar senang seolah dia mengenakan pakaian yang begitu ringan. Dia bisa bergerak dengan nyaman.
"Kita berangkat sekarang."
"Baik, Tuan Muda."
Joe Maiden memilihkan limousine untuk kendaraan yang akan dia gunakan untuk membawa sang tuan muda ke J-Company.
"Joe, siapa saja yang harus aku temui?"
"Direktur utama dan juga sekretaris Anda, Tuan Muda."
Brian memilih diam selama perjalanan yang hanya memakan waktu tak lebih dari lima menit itu.
Saat sampai di depan gedung J-Company, Brian melihat gedung yang begitu sangat tinggi itu.
Tak pernah sekalipun dia bermimpi bila perusahan dengan puluhan lantai itu adalah milik kakeknya yang sekarang sudah berpindah kepemilikan atas namanya.
Joe Maiden mengarahkan sang tuan muda ke dalam lift khusus yang terpisah.
Brian sedikit terkejut. "Kenapa memakai lift ini?"
"Lift dengan cat emas ini hanya diperuntukkan untuk jajaran eksekutif, Tuan Muda. Anda dan para direktur."
Brian memilih bertanya hal lain. "Di lantai berapa sepupu ayahku berada?"
"Lantai 24, Tuan Muda. Anda di lantai 25. Lantai 25 hanya ditempati oleh Anda."
Penjelasan itu membuat Brian Jones cukup lega.
Begitu lift terbuka, dia sudah disambut oleh beberapa pengawal, dua orang pegawai perempuan dan juga seorang laki-laki paruh baya yang Brian tebak adalah direktur utama yang dimaksud oleh Joe Maiden sebelumnya.
"Selamat datang, Tuan Muda Jones," sapa mereka secara bersamaan.
Brian mengangguk.
"Damian Clayton. Senang sekali akhirnya saya bisa bertemu dengan Anda." Dia mengulurkan tangan ke arah Brian dan Brian pun menyambutnya.
"Saya Chloe Lawrence, sekretaris Anda, Tuan Muda."
"Brian Jones."
"Terima kasih. Bisa kita langsung berbicara saja?" Brian berkata pada Damian. Dia terlihat tak ingin berlama-lama di sana.
Damian segera mengangguk paham.
Cucu sang pemilik J-Company pasti sangatlah sibuk. Dia pun begitu merasa senang karena dia memiliki kesempatan untuk bertemu dengan Brian Jones.
Brian memasuki ruang kerja kakeknya sesuai dengan yang Joe arahkan.
Begitu dia masuk ke dalam diikuti oleh Damian, dia pun meminta pintu itu ditutup.
Sementara itu, di luar ruangan, dua perempuan muda itu saling pandang.
"Dia sangat tampan." Jessica, sekretaris Damian yang lupa memperkenalkan dirinya itu terlihat kagum.
"Aku tidak bisa lebih setuju denganmu. Tapi, sayangnya dia masih sangat muda. Apa menurutmu dia sudah menyelesaikan studinya?"
Chloe terlihat berpikir, "Dari wajahnya yang terlihat masih sangat muda, aku rasa dia masih menempuh pendidikan di universitas."
"Oh, terus bagaimana dengan perusahaan ini?" Jessica mulai cemas.
Chloe mendecak lidah, "Apa yang kau khawatirkan? Dia mungkin memang masih belum lulus dari universitas. Tapi, dia seorang cucu Simon Jones, tentu saja dia tahu apa yang harus dia lakukan."
"Aku harap juga begitu." Jessica mengangguk.
Tapi kemudian mulai merasa cemas, "Tapi, aku khawatir bila Tuan Alfred akan mengganggunya. Kau tahu kan dia sangat berambisi mendapatkan perusahaan ini."
"Siapa yang tidak tahu hal itu? Saat kemarin berita Tuan Simon meninggal telah tersebar, bukankah dia telah berkoar-koar di media jika dia yang akan mungkin mewarisi seluruh harta Tuan Simon?" Chloe jengkel.
Jessica menambahkan, "Ternyata cucu Tuan Simon muncul, aku sangat yakin dia pasti sangat marah besar."
"Dia pasti-"
Chloe tak jadi melanjutkan ucapannya karena mereka tiba-tiba saja mendengar suara bel pintu lift terbuka.
Alfred Jones melangkah keluar dari lift bersama dengan dua orang pengawalnya.
Chloe pun menelan ludah.
Saat Alfred Jones berniat melangkah ke pintu ruang CEO, dua orang penjaga langsung menghadangnya.
"Mohon maaf, Tuan. Anda tidak bisa masuk ke dalam."
Alfred mendelik kesal. "Apa maksudmu? Kau lupa siapa aku? Berani sekali kau menghadangku!"
"Sekali lagi mohon maaf, Tuan. Kami hanya menjalankan perintah."
"Perintah? Perintah dari siapa? Dari keponakanku yang kurang ajar itu?" Alfred murka. Wajahnya telah memerah.
Alfred pun maju lagi tapi dua penjaga utama masih menghadangnya.
"Apa kalian cari mati? Aku hanya mau bertemu dengan dia. Minggir!" Alfred membentak keras.
"Kau mungkin tidak akan pernah menyangka apa saja yang bisa aku lakukan."Setelah mengatakan hal itu. Brian berniat memukul wajah Rayn lagi tapi dia tidak jadi melakukannya karena tiba-tiba dia melihat mobil petugas polisi melintas di dekat daerah itu.Rayn tertawa mengejek seketika, "Kau takut?"Bukan takut. Kata itu bukanlah kata yang tepat untuk mewakili tindakannya yang tidak jadi dia lakukan itu.Brian hanya tak ingin menyusahkan Joe Maiden jika dia nanti sampai benar-benar kehilangan kendali diri dan berakhir di penjara.Meskipun dia yakin Joe dengan muda bisa mengeluarkannya dari sana, Brian tetap tak ingin membuat masalah.Dia baru saja menyandang gelar pewaris tunggal keluarga Jones. Terlebih lagi, besok pagi akan menemui salah satu sanak saudaranya yang masih hidup sehingga dia merasa perlu untuk menahan diri untuk saat ini.Brian lalu menghela napas panjang. "Terserah apa katamu."Pria muda itu memutar badan dan segera mengambil sepedanya lagi. Rayn tak puas dan menendang
Rayn memutar kepala, melihat ke berbagai arah di sekeliling tempat itu.Rahangnya pun hampir saja terjatuh. Jelas sekali di sana terdapat begitu banyak CCTV yang tentu merekam semua kejadian di tempat itu.Sungguh sial, dia benar-benar lupa soal ini. Ah, padahal dia hanya berniat bersenang-senang dengan mengganggu mahasiswa miskin. Tapi, ternyata dia malah seolah seperti sedang menggali makamnya sendiri.Kalau ayahnya mengetahui apa yang telah dia lakukan di kampus, ayahnya pasti akan segera membunuhnya. Ayahnya begitu kejam dan tak pernah memberi ampun pada siapapun meskipun itu adalah putra kandungnya sendiri.Rayn pun hanya bisa menggertakkan gigi lantaran jengkel dan merebut perlengkapan mengepel yang dipegang oleh Brian."Ingatlah, ini belum selesai." Rayn mengancam seraya melempar sebuah tatapan benci pada Brian, seolah dirinya akan menyimpan wajah Brian di dalam kepalanya dan mengingat semua yang dilakukan oleh Brian terhadapnya.Aline, sang kekasih Rayn berujar dengan ekspr
Meskipun Brian tidak mengetahui niat Diana mengatakan hal itu, tapi dia tidak ingin memikirkan hal itu.Hal paling penting baginya adalah menyeret Brian pergi dari sana. Tanpa mengucapkan sepatah kata pun pada Diana, Brian meninggalkan lantai itu.Brian memilih sebuah ruang kelas kosong yang sudah tidak pernah digunakan dan mendorong Edward ke dalam lalu menutupnya dari dalam."Kau ... apa kau sudah benar-benar bosan hidup, Jones?"Brian hanya melirik Edward sekilas. "Katakan padaku sekarang! Apa kau sengaja menabrak kakekku malam itu?"Mendengar pertanyaan itu, Edward seketika membeku di tempatnya berdiri."Kenapa kau membahas hal yang sudah lama terjadi?"Brian membalas dengan kesal, "Itu baru terjadi beberapa hari yang lalu. Belum lama."Edward mendecakkan lidah. "Ah, persetan denganmu. Kenapa aku harus menjawabnya?"Dengan santai, Edward melangkah ke arah pintu tapi Brian mencegahnya. Dia berdiri tepat di depan pintu."Sialan. Minggir! Aku mau keluar, brengsek!""Kau tidak akan pe
Namun, tentu saja Joe Maiden tidak akan membiarkan hal itu terjadi.Segera saja dia memohon izin untuk keluar dan menghentikan kekacauan itu. "Tuan Alfred, mohon untuk tidak membuat gaduh."Alfred langsung tersinggung. "Joe Maiden. Berani sekali kau berkata begitu kepadaku!""Maaf, Tuan. Saya tidak seperti itu." Joe masih bersikap sopan."Tidak seperti itu? Lalu, apa ini? Aku hanya ingin bertemu dengan keponakanku. Kenapa aku dilarang masuk?" Alfred mendesis marah.Joe pun menjawab pelan, "Saat ini Tuan Brian sedang menerima tamu, Tuan.""Aku ini pamannya. Bukankah dia harus memprioritaskan aku dibanding yang lain?" Alfred berkacak pinggang, menatap marah."Tuan Brian tidak bisa menemui Anda hari ini, Tuan. Tapi, beliau sudah mengatur pertemuan dengan Anda," Joe berusaha menenangkan Alfred.Alfred mendengus keras. "Kapan itu?""Chloe Lawrence akan segera menghubungi Anda untuk waktunya." Joe Maiden menoleh pada sekretaris tuan mudanya.Chloe pun mengangguk paham.Alfred sebenarnya ti
Joe Maiden buru-buru membungkukkan badan, "Maaf, Tuan Muda. Saya tidak pernah berbohong.""Lalu apa yang baru saja kau katakan tadi?" Brian memasang ekspresi kesal."Tuan Muda, mohon maaf. Meskipun Tuan Alfred Jones juga bekerja di J-Corporation, bukan berarti Anda akan selalu bertemu dengan dia.""Joe, kau tadi mengatakan kepadaku kalau aku akan bertemu dengan dia. Jadi, mana yang benar?" Brian duduk dengan bersedekap sambil menatap jengkel sekretaris kakeknya yang kini telah menjadi sekretarisnya itu."Anda dan Tuan Alfred tidak berada di lantai yang sama, Tuan Muda. Anda hanya akan bertemu dengan Tuan Alfred di acara-acara tertentu seperti meeting penting.""Beda lantai? Kau yakin?" Brian mencoba memastikan."Iya, Tuan Muda. Apa Anda mau pergi ke perusahaan untuk melihatnya?" Joe Maiden terlihat sangat bersemangat.Brian membalas cepat, "Tidak. Tidak sekarang.""Setelah Anda mendapatkan hasil tes DNA."Brian akan membalas tapi dia tidak bisa. Sebagai seorang laki-laki dia tidak mun
"Ya, Tuan Muda." Tentu saja Joe Maiden akan melakukan apa saja perintah Brian Jones. Pemuda itu adalah bos barunya. Tak ada alasan baginya untuk menolak."Tidak masalah kau mengumumkan aku telah kembali, tapi tolong sembunyikan identitasku."Joe Maiden menatap bingung. "Kenapa harus begitu, Tuan Muda?""Aku belum melakukan tes DNA."Joe Maiden mendesah lelah, "Tidak ada keraguan bagi saya jika Anda benar-benar cucu dari Tuan Simon, Tuan Muda.""Aku tahu. Tapi, mendengar ceritamu tentang banyak orang yang berusaha mengambil alih perusahaan milik ... kakekku, aku harus lebih berhati-hati. Aku tidak mau dituduh sebagai cucu palsu. Aku harus membuktikan diri jika aku benar-benar cucu Simon Jones. Apa kau paham maksudku?" Brian menjelaskan dengan hati-hati.Joe Maiden terhenyak. Dia pun segera membungkuk rendah dan berkata, "Anda benar, Tuan Muda. Astaga, Anda sangat cerdas. Tidak diragukan lagi, Anda memiliki kecerdasan yang sama seperti Tuan Simon."Brian mengibaskan tangan. "Kau berlebi







