LOGIN"Ya, Tuan Muda." Tentu saja Joe Maiden akan melakukan apa saja perintah Brian Jones. Pemuda itu adalah bos barunya. Tak ada alasan baginya untuk menolak.
"Tidak masalah kau mengumumkan aku telah kembali, tapi tolong sembunyikan identitasku."
Joe Maiden menatap bingung. "Kenapa harus begitu, Tuan Muda?"
"Aku belum melakukan tes DNA."
Joe Maiden mendesah lelah, "Tidak ada keraguan bagi saya jika Anda benar-benar cucu dari Tuan Simon, Tuan Muda."
"Aku tahu. Tapi, mendengar ceritamu tentang banyak orang yang berusaha mengambil alih perusahaan milik ... kakekku, aku harus lebih berhati-hati. Aku tidak mau dituduh sebagai cucu palsu. Aku harus membuktikan diri jika aku benar-benar cucu Simon Jones. Apa kau paham maksudku?" Brian menjelaskan dengan hati-hati.
Joe Maiden terhenyak. Dia pun segera membungkuk rendah dan berkata, "Anda benar, Tuan Muda. Astaga, Anda sangat cerdas. Tidak diragukan lagi, Anda memiliki kecerdasan yang sama seperti Tuan Simon."
Brian mengibaskan tangan. "Kau berlebihan, aku tidak secerdas yang kau bilang. Aku hanya berhati-hati."
Joe Maiden tersenyum cerah. "Baik, saya mengerti. Saya akan segera melaksanakan perintah Anda."
Sekembalinya mereka ke J-House, Joe Maiden pun memanggil begitu banyak wartawan yang berasal dari berbagai media. Tidak hanya majalah atau pun surat kabar cetak maupun digital, sang sekretaris juga memanggil wartawan televisi dan radio.
Setidaknya ada ratusan wartawan yang telah berkumpul di depan halaman kediaman mendiang Simon Jones, J-House.
Brian Jones yang menonton pengumuman itu bahkan takjub melihat begitu banyaknya orang yang ingin mengetahui berita tentang sang pengusaha kaya asal negeri itu.
"J Company akan dipimpin oleh cucu kandung satu-satunya Tuan Simon Jones, yakni B. Jones yang merupakan putra dari mendiang Tuan Marco dan Nyonya Beatrice."
Joe Maiden segera turun dari panggung setelah menjelaskan secara singkat perihal cucu sang pengusaha yang masih misterius itu.
Begitu banyak wartawan yang tidak puas dengan pernyataan yang disampaikan oleh Joe Maiden, para wartawan semakin mendesaknya.
"Lalu, kapan dia akan muncul ke publik, Tuan Maiden?"
"Di mana dia sekarang? Apa dia sedang berada di luar negeri atau di negeri ini?"
"Kenapa identitasnya disembunyikan?"
Berbagai pertanyaan terlontar tapi Joe Maiden hanya menjawab singkat, "Dalam waktu dekat, kalian akan segera tahu."
Brian yang melihat berita itu lewat layar kaca pun mendadak mengertakkan gigi.
"Kenapa kau bilang begitu?" cecar Brian begitu Joe Maiden memasuki ruang santai Brian.
Joe Maiden menatap bingung.
"Tuan Maiden, kau sudah bilang kepada wartawan jika aku akan muncul dalam waktu dekat. Sedangkan, saat ini aku bahkan tidak tahu apa yang harus aku lakukan. Kau membuatku dalam masalah."
"Tuan Muda, tenanglah!" Joe Maiden berkata pelan.
Brian sedikit berteriak, "Bagaimana aku bisa tenang? Aku baru 20 tahun dan aku hanyalah seorang mahasiswa jurusan Manajemen Bisnis. Dan kau bilang aku akan muncul di publik dalam waktu dekat? Apa yang bisa aku lakukan?"
"Aku tidak mungkin siap, tidak akan pernah siap!" Brian menambahkan sembari memjiat pelipisnya karena merasa amat sangat pening.
Joe Maiden menahan diri untuk tetap diam sebelum dia yakin Brian tidak berbicara apapun.
"Tuan Muda, saya paham semuanya. Maksud saya adalah, Anda tetap datang ke J-Corporation hanya sekedar menunjukkan pada mereka jika Anda adalah pewaris resmi untuk membuat mereka tidak berani berbuat apapun. Setelah itu, Anda bisa kembali melanjutkan studi Anda sembari belajar tentang perusahaan."
Brian terdiam. Tatapan kesalnya pada Joe Maiden pun menjadi berubah.
Dia tidak lagi jengkel dan malah berkata, "Kenapa kau tidak jelaskan dari awal?"
Joe tersenyum, "Maaf, ini kesalahan saya. Yang penting Tuan Muda tidak perlu khawatir, saya akan mengatur untuk Anda tapi juga atas persetujuan Anda."
"Baiklah, kalau begitu."
Setelah itu, petugas medis yang dipanggil oleh Joe Maiden pun datang dan mengambil sampel darah milik Brian untuk dicocokkan dengan Marco Jones dan juga Simon Jones.
Hal ini bertujuan untuk menguatkan hubungan antara ketiga orang itu sehingga tak akan ada yang bisa mengganggu keabsahan Brian di kemudian hari.
Joe menghela napas lega usai pengambilan sampel itu, "Tuan Muda, besok pengacara pribadi Tuan Jones akan datang untuk mengumumkan surat wasiat dari Tuan Simon."
Brian kembali khawatir. "Apa keluarga ayahku yang lain juga akan datang?"
"Tidak, Tuan Muda. Para anggota keluarga yang lain tidak diizinkan menginjakkan kaki mereka di J-House."
"Kenapa begitu?" tanya Brian keheranan.
"Ada banyak alasan, tapi yang tahu pasti hanyalah Tuan Simon."
Misteri?
Lagi-lagi?
Astaga, sebanyak apakah rahasia yang dimiliki oleh kakeknya itu? Brian jadi semakin tidak mengerti.
"Lalu, bagaimana mereka akan tahu soal surat wasiat itu?" Brian semakin kritis dalam bertanya.
"Mereka akan mendapatkan salinannya. Itu akan dikirim setelah pengacara membacakan untuk Anda."
"Pengacara? Apa dia tahu siapa aku?" Brian mulai cemas.
"Ya, Tuan Muda. Frank Milton. Beliau adalah pengacara kepercayaan Tuan Simon."
Brian memainkan tangan, semakin gelisah, "Kau yakin dia tidak akan membocorkan rahasiaku?"
"Ya, Tuan Muda. Frank Milton menjadi seorang pengacara terkenal berkat Tuan Simon. Dia tidak akan mungkin berani mengkhianati Anda."
Brian belum bisa mempercayai orang yang dibicarakan oleh sekretaris kakeknya itu tapi dia tidak mungkin mengatakannya.
Joe seakan bisa merasakan kebingungan Brian, dia pun berkata, "Semua telah disiapkan oleh Tuan Simon. Tuan Simon memang baru mengetahui keberadaan Anda, tapi beliau sudah menyayangi Anda. Begitu dia mengetahui tentang Anda, beliau langsung mengganti semua aset kekayaannya atas nama Anda."
Untuk pertama kalinya Brian sedikit merasa tersentuh. Bukan karena sang kakek memberinya seluruh hartanya tapi sang kakek yang menyayanginya. Tiba-tiba dia merasa hidupnya sangatlah lucu.
Selama ini dia hidup serba kekurangan dan selalu dihina-hina karena kemiskinannya. Namun, ternyata salah satu anggota keluarganya adalah salah satu orang terkaya di dunia.
"Tuan Muda, ada yang Anda perlukan lagi?"
"Kuliahku." Brian baru saja teringat jika dia sudah tidak mengikuti masa kuliah selama dua hari.
Joe Maiden segera menanggapi, "Saya sudah mengirimkan surat kepada pihak kampus Anda, Tuan Muda."
"Apa? Soal apa?" Brian cemas.
"Anda cuti selama satu minggu."
Jawaban Joe membuat Brian bernapas lega. Memang itulah yang dia butuhkan saat ini. Orang-orang juga mungkin hanya akan berpikir bila dia sedang ingin sendirian setelah kehilangan kakeknya.
"Ada lagi, Tuan Muda?"
"Tidak. Terima kasih, Tuan Maiden."
"Anda tidak perlu berterima kasih, Tuan Muda. Ini sudah menjadi tugas saya untuk melayani Anda. Dan tolong panggil saya Joe."
Brian mengangguk, sudah tak punya kekuatan membantah karena terlalu kelelahan.
Malam itu untuk pertama kalinya, Brian menempati kamar mewahnya yang tak pernah dia bayangkan sebelumnya. Dia menempati lantai 7 dengan fasilitas super lengkap mirip hotel mewah.
Tapi, tetap saja dia tidak bisa tidur malam itu. Pikirannya masih melayang. Dimulai dari dia kehilangan sang kekasih yang telah mengkhianatinya, kemudian kematian kakek yang telah merawat dirinya sejak kecil lalu kemudian dia harus menyaksikan kakek kandungnya kehilangan kesadaran di depan matanya dan akhirnya meninggal.
Tak ada yang mau mengalami berbagai hal yang menyakitkan itu secara bertubi-tubi tapi dia tentu tidak bisa memilih takdirnya.
Keesokan harinya, Joe Maiden yang ternyata tidak tinggal bersama dengan kakeknya itu sudah menemuinya di pagi hari setelah Brian selesai membersihkan diri.
"Pengacara Anda sudah menunggu Anda di lantai 4, Tuan Muda."
Brian segera turun dan menemui sang pengacara yang ternyata masih sangat muda.
"Tuan Muda," sapa Frank sambil membungkuk.
Brian mengangguk kaku dan mempersilakan Frank untuk duduk. Ah, dia harus mulai membiasakan diri dengan sikap orang-orang di sekitarnya.
"Anda masih sangat muda," kata Brian.
"Saya 35 tahun."
Brian terkejut, "Anda 15 tahun lebih tua dari saya. Tapi wajah Anda terlihat jauh lebih muda."
Frank tersenyum dan mengubah ekspresinya, "Saya turut berduka atas meninggalnya Tuan Simon."
Brian mengangguk sekilas.
Frank tampak kesulitas membangun komunikasi dengan Brian dan akhirnya memilih untuk to the point.
"Apa saya boleh membacakan surat wasiat Tuan Simon sekarang, Tuan Muda?"
"Ya, silakan!"
Sesuai yang dikatakan oleh Joe Maiden, seluruh aset milik Simon Jones diberikan untuk Brian Jones sementara keluarga Simon lain hanya mendapatkan bagian dari warisan ayah Simon yang merupakan kakek buyut Brian.
Begitu sang pengacara pergi, Brian langsung berkata pada Joe, "Ini gila. Dia meninggalkan semuanya untukku."
"Anda adalah satu-satunya yang memiliki hubungan darah dengan beliau."
"Itu belum terbukti."
"Hasilnya akan keluar besok pagi, Tuan Muda."
Brian gusar. "Bagaimana jika mereka memusuhiku?"
"Anda tidak perlu mengkhawatirkan hal itu. Kami akan melindungi Anda, keluarga Alfred Jones tak akan pernah bisa menyentuh Anda."
Brian ingat nama itu, "Apa kakek tidak memiliki hubungan baik dengan mereka?"
Joe Maiden terdiam.
"Hei, aku bertanya padamu, Joe. Hanya kau yang bisa menjawabnya. Kau tidak mungkin mengharapkan aku untuk bertanya pada kakekku yang sudah mengembuskan napas terakhirnya, bahkan sebelum aku bertanya banyak?"
Joe Maiden menyerah, "Baik, Tuan Muda. Saya akan menceritakan segalanya."
Brian mengangguk senang.
Joe Maiden pun mulai menjelaskan tentang hubungan rumit antara Alfred Jones yang merupakan keponakan Simon yang berarti pria itu adalah sepupu ayahnya.
"Tuan Marco selalu bersaing dengan Tuan Alfred semenjak dulu. Beliau sama-sama memilih profesi sebagai seorang dokter tapi Tuan Alfred memilih berhenti ketika Tuan Marco menghilang."
"Kenapa berhenti?"
"Karena setelah kepergian Tuan Marco, Tuan Alfred ingin mengambil tempat Tuan Marco. Tapi, Tuan Simon tidak pernah mengizinkannya."
Kepala Brian tiba-tiba nyeri. "Jadi, sekarang aku harus berurusan dengan dia? Kalau ceritanya seperti itu. Dia pasti sangat membenciku sekarang. Apa menurutmu dia akan benar-benar menggangguku?"
Joe Maiden menelan ludah.
"Kenapa kau diam, Joe?" Brian curiga.
"Tuan Alfred bekerja di J-Corporation sebagai salah satu direktur, Tuan Muda. Anda nanti akan bertemu beliau."
Brian melongo kaget. "Apa? Katamu dia tidak akan bisa menyentuhku. Kau berbohong padaku?"
"Kau mungkin tidak akan pernah menyangka apa saja yang bisa aku lakukan."Setelah mengatakan hal itu. Brian berniat memukul wajah Rayn lagi tapi dia tidak jadi melakukannya karena tiba-tiba dia melihat mobil petugas polisi melintas di dekat daerah itu.Rayn tertawa mengejek seketika, "Kau takut?"Bukan takut. Kata itu bukanlah kata yang tepat untuk mewakili tindakannya yang tidak jadi dia lakukan itu.Brian hanya tak ingin menyusahkan Joe Maiden jika dia nanti sampai benar-benar kehilangan kendali diri dan berakhir di penjara.Meskipun dia yakin Joe dengan muda bisa mengeluarkannya dari sana, Brian tetap tak ingin membuat masalah.Dia baru saja menyandang gelar pewaris tunggal keluarga Jones. Terlebih lagi, besok pagi akan menemui salah satu sanak saudaranya yang masih hidup sehingga dia merasa perlu untuk menahan diri untuk saat ini.Brian lalu menghela napas panjang. "Terserah apa katamu."Pria muda itu memutar badan dan segera mengambil sepedanya lagi. Rayn tak puas dan menendang
Rayn memutar kepala, melihat ke berbagai arah di sekeliling tempat itu.Rahangnya pun hampir saja terjatuh. Jelas sekali di sana terdapat begitu banyak CCTV yang tentu merekam semua kejadian di tempat itu.Sungguh sial, dia benar-benar lupa soal ini. Ah, padahal dia hanya berniat bersenang-senang dengan mengganggu mahasiswa miskin. Tapi, ternyata dia malah seolah seperti sedang menggali makamnya sendiri.Kalau ayahnya mengetahui apa yang telah dia lakukan di kampus, ayahnya pasti akan segera membunuhnya. Ayahnya begitu kejam dan tak pernah memberi ampun pada siapapun meskipun itu adalah putra kandungnya sendiri.Rayn pun hanya bisa menggertakkan gigi lantaran jengkel dan merebut perlengkapan mengepel yang dipegang oleh Brian."Ingatlah, ini belum selesai." Rayn mengancam seraya melempar sebuah tatapan benci pada Brian, seolah dirinya akan menyimpan wajah Brian di dalam kepalanya dan mengingat semua yang dilakukan oleh Brian terhadapnya.Aline, sang kekasih Rayn berujar dengan ekspr
Meskipun Brian tidak mengetahui niat Diana mengatakan hal itu, tapi dia tidak ingin memikirkan hal itu.Hal paling penting baginya adalah menyeret Brian pergi dari sana. Tanpa mengucapkan sepatah kata pun pada Diana, Brian meninggalkan lantai itu.Brian memilih sebuah ruang kelas kosong yang sudah tidak pernah digunakan dan mendorong Edward ke dalam lalu menutupnya dari dalam."Kau ... apa kau sudah benar-benar bosan hidup, Jones?"Brian hanya melirik Edward sekilas. "Katakan padaku sekarang! Apa kau sengaja menabrak kakekku malam itu?"Mendengar pertanyaan itu, Edward seketika membeku di tempatnya berdiri."Kenapa kau membahas hal yang sudah lama terjadi?"Brian membalas dengan kesal, "Itu baru terjadi beberapa hari yang lalu. Belum lama."Edward mendecakkan lidah. "Ah, persetan denganmu. Kenapa aku harus menjawabnya?"Dengan santai, Edward melangkah ke arah pintu tapi Brian mencegahnya. Dia berdiri tepat di depan pintu."Sialan. Minggir! Aku mau keluar, brengsek!""Kau tidak akan pe
Namun, tentu saja Joe Maiden tidak akan membiarkan hal itu terjadi.Segera saja dia memohon izin untuk keluar dan menghentikan kekacauan itu. "Tuan Alfred, mohon untuk tidak membuat gaduh."Alfred langsung tersinggung. "Joe Maiden. Berani sekali kau berkata begitu kepadaku!""Maaf, Tuan. Saya tidak seperti itu." Joe masih bersikap sopan."Tidak seperti itu? Lalu, apa ini? Aku hanya ingin bertemu dengan keponakanku. Kenapa aku dilarang masuk?" Alfred mendesis marah.Joe pun menjawab pelan, "Saat ini Tuan Brian sedang menerima tamu, Tuan.""Aku ini pamannya. Bukankah dia harus memprioritaskan aku dibanding yang lain?" Alfred berkacak pinggang, menatap marah."Tuan Brian tidak bisa menemui Anda hari ini, Tuan. Tapi, beliau sudah mengatur pertemuan dengan Anda," Joe berusaha menenangkan Alfred.Alfred mendengus keras. "Kapan itu?""Chloe Lawrence akan segera menghubungi Anda untuk waktunya." Joe Maiden menoleh pada sekretaris tuan mudanya.Chloe pun mengangguk paham.Alfred sebenarnya ti
Joe Maiden buru-buru membungkukkan badan, "Maaf, Tuan Muda. Saya tidak pernah berbohong.""Lalu apa yang baru saja kau katakan tadi?" Brian memasang ekspresi kesal."Tuan Muda, mohon maaf. Meskipun Tuan Alfred Jones juga bekerja di J-Corporation, bukan berarti Anda akan selalu bertemu dengan dia.""Joe, kau tadi mengatakan kepadaku kalau aku akan bertemu dengan dia. Jadi, mana yang benar?" Brian duduk dengan bersedekap sambil menatap jengkel sekretaris kakeknya yang kini telah menjadi sekretarisnya itu."Anda dan Tuan Alfred tidak berada di lantai yang sama, Tuan Muda. Anda hanya akan bertemu dengan Tuan Alfred di acara-acara tertentu seperti meeting penting.""Beda lantai? Kau yakin?" Brian mencoba memastikan."Iya, Tuan Muda. Apa Anda mau pergi ke perusahaan untuk melihatnya?" Joe Maiden terlihat sangat bersemangat.Brian membalas cepat, "Tidak. Tidak sekarang.""Setelah Anda mendapatkan hasil tes DNA."Brian akan membalas tapi dia tidak bisa. Sebagai seorang laki-laki dia tidak mun
"Ya, Tuan Muda." Tentu saja Joe Maiden akan melakukan apa saja perintah Brian Jones. Pemuda itu adalah bos barunya. Tak ada alasan baginya untuk menolak."Tidak masalah kau mengumumkan aku telah kembali, tapi tolong sembunyikan identitasku."Joe Maiden menatap bingung. "Kenapa harus begitu, Tuan Muda?""Aku belum melakukan tes DNA."Joe Maiden mendesah lelah, "Tidak ada keraguan bagi saya jika Anda benar-benar cucu dari Tuan Simon, Tuan Muda.""Aku tahu. Tapi, mendengar ceritamu tentang banyak orang yang berusaha mengambil alih perusahaan milik ... kakekku, aku harus lebih berhati-hati. Aku tidak mau dituduh sebagai cucu palsu. Aku harus membuktikan diri jika aku benar-benar cucu Simon Jones. Apa kau paham maksudku?" Brian menjelaskan dengan hati-hati.Joe Maiden terhenyak. Dia pun segera membungkuk rendah dan berkata, "Anda benar, Tuan Muda. Astaga, Anda sangat cerdas. Tidak diragukan lagi, Anda memiliki kecerdasan yang sama seperti Tuan Simon."Brian mengibaskan tangan. "Kau berlebi







