Share

Bab 5

Author: Zila Aicha
last update publish date: 2026-02-08 19:23:39

"Ya, Tuan Muda." Tentu saja Joe Maiden akan melakukan apa saja perintah Brian Jones. Pemuda itu adalah bos barunya. Tak ada alasan baginya untuk menolak.

"Tidak masalah kau mengumumkan aku telah kembali, tapi tolong sembunyikan identitasku."

Joe Maiden menatap bingung. "Kenapa harus begitu, Tuan Muda?"

"Aku belum melakukan tes DNA."

Joe Maiden mendesah lelah, "Tidak ada keraguan bagi saya jika Anda benar-benar cucu dari Tuan Simon, Tuan Muda."

"Aku tahu. Tapi, mendengar ceritamu tentang banyak orang yang berusaha mengambil alih perusahaan milik ... kakekku, aku harus lebih berhati-hati. Aku tidak mau dituduh sebagai cucu palsu. Aku harus membuktikan diri jika aku benar-benar cucu Simon Jones. Apa kau paham maksudku?" Brian menjelaskan dengan hati-hati.

Joe Maiden terhenyak. Dia pun segera membungkuk rendah dan berkata, "Anda benar, Tuan Muda. Astaga, Anda sangat cerdas. Tidak diragukan lagi, Anda memiliki kecerdasan yang sama seperti Tuan Simon."

Brian mengibaskan tangan. "Kau berlebihan, aku tidak secerdas yang kau bilang. Aku hanya berhati-hati."

Joe Maiden tersenyum cerah. "Baik, saya mengerti. Saya akan segera melaksanakan perintah Anda."

Sekembalinya mereka ke J-House, Joe Maiden pun memanggil begitu banyak wartawan yang berasal dari berbagai media. Tidak hanya majalah atau pun surat kabar cetak maupun digital, sang sekretaris juga memanggil wartawan televisi dan radio.

Setidaknya ada ratusan wartawan yang telah berkumpul di depan halaman kediaman mendiang Simon Jones, J-House. 

Brian Jones yang menonton pengumuman itu bahkan takjub melihat begitu banyaknya orang yang ingin mengetahui berita tentang sang pengusaha kaya asal negeri itu.

"J Company akan dipimpin oleh cucu kandung satu-satunya Tuan Simon Jones, yakni B. Jones yang merupakan putra dari mendiang Tuan Marco dan Nyonya Beatrice."

Joe Maiden segera turun dari panggung setelah menjelaskan secara singkat perihal cucu sang pengusaha yang masih misterius itu. 

Begitu banyak wartawan yang tidak puas dengan pernyataan yang disampaikan oleh Joe Maiden, para wartawan semakin mendesaknya.

"Lalu, kapan dia akan muncul ke publik, Tuan Maiden?"

"Di mana dia sekarang? Apa dia sedang berada di luar negeri atau di negeri ini?"

"Kenapa identitasnya disembunyikan?"

Berbagai pertanyaan terlontar tapi Joe Maiden hanya menjawab singkat, "Dalam waktu dekat, kalian akan segera tahu."

Brian yang melihat berita itu lewat layar kaca pun mendadak mengertakkan gigi.

"Kenapa kau bilang begitu?" cecar Brian begitu Joe Maiden memasuki ruang santai Brian.

Joe Maiden menatap bingung.

"Tuan Maiden, kau sudah bilang kepada wartawan jika aku akan muncul dalam waktu dekat. Sedangkan, saat ini aku bahkan tidak tahu apa yang harus aku lakukan. Kau membuatku dalam masalah."

"Tuan Muda, tenanglah!" Joe Maiden berkata pelan.

Brian sedikit berteriak, "Bagaimana aku bisa tenang? Aku baru 20 tahun dan aku hanyalah seorang mahasiswa jurusan Manajemen Bisnis. Dan kau bilang aku akan muncul di publik dalam waktu dekat? Apa yang bisa aku lakukan?"

"Aku tidak mungkin siap, tidak akan pernah siap!" Brian menambahkan sembari memjiat pelipisnya karena merasa amat sangat pening.

Joe Maiden menahan diri untuk tetap diam sebelum dia yakin Brian tidak berbicara apapun. 

"Tuan Muda, saya paham semuanya. Maksud saya adalah, Anda tetap datang ke J-Corporation hanya sekedar menunjukkan pada mereka jika Anda adalah pewaris resmi untuk membuat mereka tidak berani berbuat apapun. Setelah itu, Anda bisa kembali melanjutkan studi Anda sembari belajar tentang perusahaan."

Brian terdiam. Tatapan kesalnya pada Joe Maiden pun menjadi berubah. 

Dia tidak lagi jengkel dan malah berkata, "Kenapa kau tidak jelaskan dari awal?"

Joe tersenyum, "Maaf, ini kesalahan saya. Yang penting Tuan Muda tidak perlu khawatir, saya akan mengatur untuk Anda tapi juga atas persetujuan Anda."

"Baiklah, kalau begitu."

Setelah itu, petugas medis yang dipanggil oleh Joe Maiden pun datang dan mengambil sampel darah milik Brian untuk dicocokkan dengan Marco Jones dan juga Simon Jones. 

Hal ini bertujuan untuk menguatkan hubungan antara ketiga orang itu sehingga tak akan ada yang bisa mengganggu keabsahan Brian di kemudian hari.

Joe menghela napas lega usai pengambilan sampel itu, "Tuan Muda, besok pengacara pribadi Tuan Jones akan datang untuk mengumumkan surat wasiat dari Tuan Simon."

Brian kembali khawatir. "Apa keluarga ayahku yang lain juga akan datang?"

"Tidak, Tuan Muda. Para anggota keluarga yang lain tidak diizinkan menginjakkan kaki mereka di J-House."

"Kenapa begitu?" tanya Brian keheranan.

"Ada banyak alasan, tapi yang tahu pasti hanyalah Tuan Simon."

Misteri? 

Lagi-lagi? 

Astaga, sebanyak apakah rahasia yang dimiliki oleh kakeknya itu? Brian jadi semakin tidak mengerti.

"Lalu, bagaimana mereka akan tahu soal surat wasiat itu?" Brian semakin kritis dalam bertanya.

"Mereka akan mendapatkan salinannya. Itu akan dikirim setelah pengacara membacakan untuk Anda."

"Pengacara? Apa dia tahu siapa aku?" Brian mulai cemas.

"Ya, Tuan Muda. Frank Milton. Beliau adalah pengacara kepercayaan Tuan Simon."

Brian memainkan tangan, semakin gelisah, "Kau yakin dia tidak akan membocorkan rahasiaku?"

"Ya, Tuan Muda. Frank Milton menjadi seorang pengacara terkenal berkat Tuan Simon. Dia tidak akan mungkin berani mengkhianati Anda."

Brian belum bisa mempercayai orang yang dibicarakan oleh sekretaris kakeknya itu tapi dia tidak mungkin mengatakannya.

Joe seakan bisa merasakan kebingungan Brian, dia pun berkata, "Semua telah disiapkan oleh Tuan Simon. Tuan Simon memang baru mengetahui keberadaan Anda, tapi beliau sudah menyayangi Anda. Begitu dia mengetahui tentang Anda, beliau langsung mengganti semua aset kekayaannya atas nama Anda."

Untuk pertama kalinya Brian sedikit merasa tersentuh. Bukan karena sang kakek memberinya seluruh hartanya tapi sang kakek yang menyayanginya. Tiba-tiba dia merasa hidupnya sangatlah lucu.

Selama ini dia hidup serba kekurangan dan selalu dihina-hina karena kemiskinannya. Namun, ternyata salah satu anggota keluarganya adalah salah satu orang terkaya di dunia.

"Tuan Muda, ada yang Anda perlukan lagi?" 

"Kuliahku." Brian baru saja teringat jika dia sudah tidak mengikuti masa kuliah selama dua hari.

Joe Maiden segera menanggapi, "Saya sudah mengirimkan surat kepada pihak kampus Anda, Tuan Muda."

"Apa? Soal apa?" Brian cemas.

"Anda cuti selama satu minggu."

Jawaban Joe membuat Brian bernapas lega. Memang itulah yang dia butuhkan saat ini. Orang-orang juga mungkin hanya akan berpikir bila dia sedang ingin sendirian setelah kehilangan kakeknya.

"Ada lagi, Tuan Muda?"

"Tidak. Terima kasih, Tuan Maiden."

"Anda tidak perlu berterima kasih, Tuan Muda. Ini sudah menjadi tugas saya untuk melayani Anda. Dan tolong panggil saya Joe."

Brian mengangguk, sudah tak punya kekuatan membantah karena terlalu kelelahan.

Malam itu untuk pertama kalinya, Brian menempati kamar mewahnya yang tak pernah dia bayangkan sebelumnya. Dia menempati lantai 7 dengan fasilitas super lengkap mirip hotel mewah. 

Tapi, tetap saja dia tidak bisa tidur malam itu. Pikirannya masih melayang. Dimulai dari dia kehilangan sang kekasih yang telah mengkhianatinya, kemudian kematian kakek yang telah merawat dirinya sejak kecil lalu kemudian dia harus menyaksikan kakek kandungnya kehilangan kesadaran di depan matanya dan akhirnya meninggal.

Tak ada yang mau mengalami berbagai hal yang menyakitkan itu secara bertubi-tubi tapi dia tentu tidak bisa memilih takdirnya.

Keesokan harinya, Joe Maiden yang ternyata tidak tinggal bersama dengan kakeknya itu sudah menemuinya di pagi hari setelah Brian selesai membersihkan diri.

"Pengacara Anda sudah menunggu Anda di lantai 4, Tuan Muda."

Brian segera turun dan menemui sang pengacara yang ternyata masih sangat muda. 

"Tuan Muda," sapa Frank sambil membungkuk.

Brian mengangguk kaku dan mempersilakan Frank untuk duduk. Ah, dia harus mulai membiasakan diri dengan sikap orang-orang di sekitarnya.

"Anda masih sangat muda," kata Brian.

"Saya 35 tahun."

Brian terkejut, "Anda 15 tahun lebih tua dari saya. Tapi wajah Anda terlihat jauh lebih muda."

Frank tersenyum dan mengubah ekspresinya, "Saya turut berduka atas meninggalnya Tuan Simon."

Brian mengangguk sekilas.

Frank tampak kesulitas membangun komunikasi dengan Brian dan akhirnya memilih untuk to the point. 

"Apa saya boleh membacakan surat wasiat Tuan Simon sekarang, Tuan Muda?"

"Ya, silakan!" 

Sesuai yang dikatakan oleh Joe Maiden, seluruh aset milik Simon Jones diberikan untuk Brian Jones sementara keluarga Simon lain hanya mendapatkan bagian dari warisan ayah Simon yang merupakan kakek buyut Brian.

Begitu sang pengacara pergi, Brian langsung berkata pada Joe, "Ini gila. Dia meninggalkan semuanya untukku."

"Anda adalah satu-satunya yang memiliki hubungan darah dengan beliau."

"Itu belum terbukti."

"Hasilnya akan keluar besok pagi, Tuan Muda."

Brian gusar. "Bagaimana jika mereka memusuhiku?"

"Anda tidak perlu mengkhawatirkan hal itu. Kami akan melindungi Anda, keluarga Alfred Jones tak akan pernah bisa menyentuh Anda."

Brian ingat nama itu, "Apa kakek tidak memiliki hubungan baik dengan mereka?"

Joe Maiden terdiam.

"Hei, aku bertanya padamu, Joe. Hanya kau yang bisa menjawabnya. Kau tidak mungkin mengharapkan aku untuk bertanya pada kakekku yang sudah mengembuskan napas terakhirnya, bahkan sebelum aku bertanya banyak?"

Joe Maiden menyerah, "Baik, Tuan Muda. Saya akan menceritakan segalanya."

Brian mengangguk senang. 

Joe Maiden pun mulai menjelaskan tentang hubungan rumit antara Alfred Jones yang merupakan keponakan Simon yang berarti pria itu adalah sepupu ayahnya.

"Tuan Marco selalu bersaing dengan Tuan Alfred semenjak dulu. Beliau sama-sama memilih profesi sebagai seorang dokter tapi Tuan Alfred memilih berhenti ketika Tuan Marco menghilang."

"Kenapa berhenti?"

"Karena setelah kepergian Tuan Marco, Tuan Alfred ingin mengambil tempat Tuan Marco. Tapi, Tuan Simon tidak pernah mengizinkannya."

Kepala Brian tiba-tiba nyeri. "Jadi, sekarang aku harus berurusan dengan dia? Kalau ceritanya seperti itu. Dia pasti sangat membenciku sekarang. Apa menurutmu dia akan benar-benar menggangguku?"

Joe Maiden menelan ludah. 

"Kenapa kau diam, Joe?" Brian curiga.

"Tuan Alfred bekerja di J-Company sebagai salah satu direktur, Tuan Muda. Anda nanti akan bertemu beliau."

Brian melongo kaget. "Apa? Katamu dia tidak akan bisa menyentuhku. Kau berbohong padaku?" 

Continue to read this book for free
Scan code to download App

Latest chapter

  • Pewaris Muda Terkaya   Bab 32

    Brian tersenyum miring.“Kamu … tidak bisa mundur sekarang, Connery.”Connery menggebrak meja dan langsung meninggalkan ruangannya. Pria itu tersadar sepenuhnya. Dia hanya dijadikan alat oleh Brian untuk menjebak keluarganya sendiri. Semuanya telah direncanakan dengan matang oleh pemuda itu. Dengan penuh amarah, dia pergi dari J-Company dan bergegas kembali ke J-House.Dia mengemasi barang-barangnya dan tanpa pamit meninggalkan J-House. Satu jam kemudian dia tiba di rumah ayahnya dan disambut dengan tatapan dingin Hector.“Sudah sadar?”Connery mendesah pelan. “Bukan saatnya untuk menyindirku. Sekarang yang penting, kita harus temukan cara untuk menggagalkan rencananya.”“Tidak bisa.” Alfred berujar sambil turun dari tangga.Connery menelan ludah, “Ayah, aku minta maaf. Aku sudah begitu bodoh. Aku-”“Itu sudah tidak penting lagi. Seperti katamu, yang harus kita lakukan sekarang adalah … membalikkan keadaan,” potong Alfred dengan tidak sabar.Connery mengangguk penuh rasa lega. “Ak

  • Pewaris Muda Terkaya   Bab 31

    Alfred berbalik perlahan lalu menjawab, “Ya.”Hector mulai mengerti arah pembicaraan itu.Wajah Hector menegang. “Jadi … sebenarnya dia memang sengaja?”Alfred mengangguk tipis. “Dia ingin Connery menemukan semua itu”Hector mengepalkan tangan erat-erat. “Mengapa dia melakukan itu?”Alfred berkata dengan nada dingin, “Dia ingin kita jatuh di tangan Connery.”Suasana ruangan mendadak terasa lebih berat.Hector menarik napas dalam. “Kalau begitu kita harus menghentikannya, Ayah.”Alfred terdiam sejenak, “Kita akan menemui Connery besok.”Esok paginya, mobil hitam milik Alfred berhenti di depan gedung utama J-Company. Dia datang bersama dengan Hector yang menampilkan ekspresi masam saat memasuki area gedung perusahaan besar itu.Langkah mereka cepat, penuh tujuan. Namun begitu mereka sampai di lantai tempat Connery bekerja, langkah mereka terhenti.Dua pria berbadan besar berdiri di depan pintu ruang kerja Connery. Tatapan mereka dingin, sikapnya tegas.Hector langsung melangkah maju. “A

  • Pewaris Muda Terkaya   Bab 30

    “Tuan Muda, apa yang Anda perlukan sekarang? Apa saya perlu-”“Tidak, Joe. Kau tidak perlu melakukan apapun. Kau sudah mengerjakan bagianmu dan itu sudah cukup.”Joe Maiden mengangguk paham. Dia tahu dengan benar bahwa sang tuan muda pasti akan mencarinya jika dia memang memerlukan bantuannya. Jika saat ini dia belum diperlukan, maka dia akan menunggu.Satu minggu berikutnya, Brian Jones sudah melihat kinerja Connery, sang sepupu yang telah dia berikan sebuah tanggung jawab besar. Siang itu, lewat sebuah monitor di ruangannya, dia sedang menyaksikan Connery berdiri di depan meja panjang ruang rapat sedang memimpin sebuah rapat. Rapat itu membahas tentang proyek besar yang sedang ia tangani. Di sekelilingnya, beberapa staf khusus yang dipilih langsung oleh Brian duduk dengan ekspresi serius.Seorang wanita berambut pendek membuka tablet. “Tuan Connery, saya Elena. Saya ditugaskan khusus sebagai analis keuangan proyek ini.”Pria berkacamata di sebelahnya mengangguk. “Saya Rafael, bag

  • Pewaris Muda Terkaya   Bab 29

    Brian pun naik ke lantai di mana Connery berada.Langkah kaki Brian terdengar mendekat, tenang dan terukur.“Maafkan aku, kau harus mendengar semuanya,” ucap Brian pelan.Connery tersenyum hambar tanpa menoleh. “Itu bukan salahmu, kenapa kau meminta maaf, Brian?Brian tidak langsung menjawab. Ia berdiri di samping sofa, menatap Connery dari atas dengan ekspresi yang sulit ditebak.“Mereka itu keluargamu, Connery. Mendengar mereka berbicara seperti itu, kau pasti ….”“Tidak masalah. Lagipula, aku jauh lebih mengenal mereka, Brian.”Brian terdiam.Tapi, kemudian dia bertanya, “Dan sekarang? Apa yang akan kau lakukan, Conery?Hening sejenak memenuhi ruangan.Connery menunduk, kedua tangannya saling menggenggam erat. Namun perlahan, genggaman itu mengendur. Ia mengangkat kepalanya, menatap lurus ke depan. “Aku akan membuktikan jika mereka salah.”Nada suaranya tidak keras. Tidak emosional. Tapi justru itu yang membuatnya terdengar lebih kuat.Brian memperhatikan dengan seksama, matanya s

  • Pewaris Muda Terkaya   Bab 28

    Brian memasukkan kedua tangannya ke dalam saku celana, sikapnya santai namun sorot matanya tajam.“Aku hanya ingin memastikan satu hal,” katanya pelan, menatap serius pamannya tanpa berkedip. “Kenapa kalian ingin berbicara dengan Connery?”Alfred mendengus, “Urusanku dengan putraku itu bukan urusanmu, Bocah Tengik.”Brian mendesah santai, “Kau … hanya ingin menahan Connery kan? Kalian tidak ingin Connery berkembang pesat?”Alfred tertawa kesal, “Menahan Connery agar dia tidak berkembang pesat? Kau pikir aku ini ayah yang picik?” Brian mengangkat alis sedikit. “Bukankah itu yang selalu kau lakukan?”Hector langsung melangkah maju satu langkah. “Jangan sok tahu soal keluarga kami, Brian! Kau bahkan baru mengenal Connery.”Brian tersenyum tipis. “Benarkah? Atau justru aku yang pertama kali benar-benar melihat kemampuannya?”Ucapan itu membuat Hector terdiam sejenak, lalu wajahnya mengeras seketika.“Omong kosong,” balasnya dingin. “Connery itu apa? Sejak kapan dia punya kemampuan yang

  • Pewaris Muda Terkaya   Bab 27

    Hector mengepalkan tangan, luar biasa kesal. Dia masih menatap saudaranya yang sedang bersama dengan Brian. “Kau memang brengsek, Brian!”Tanpa berkata apa-apa lagi, dia berbalik dengan cepat, berniat meninggalkan area gedung itu.“Connery … kau ini bodoh atau apa?” gumamnya lirih sebelum akhirnya benar-benar pergi dari area gedung.Sementara itu, di dalam mobil, suasana justru berbanding terbalik.Connery melirik Brian yang tampak santai sambil membaca surat kabar.Beberapa menit kemudian, mereka tiba di sebuah restoran yang cukup tenang dan eksklusif. Begitu duduk, suasana menjadi jauh lebih santai.Connery menyandarkan tubuhnya sedikit. “Jujur saja … aku masih agak tidak percaya dengan semua ini.”“Yang mana?” tanya Brian sambil membuka menu.“Semua. Dari semalam sampai sekarang. Aku diusir, lalu tiba-tiba tinggal di J-House, dan sekarang … memegang proyek sebesar itu.”Brian mengangguk pelan. “Hidup memang sering tidak memberi kita waktu untuk beradaptasi.”Connery tersenyum tipi

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status