Se connecterZhu Pei memaksimalkan kemampuannya untuk hal yang cukup berguna:D
Zhang Liu terdiam, terkejut mendengar pertanyaan Bai Rong tadi. Ia baru menyadari maksud dari keraguan dan tatapan gadis itu selama ini.'Dia suka padaku?' pikirnya, masih tak percaya.Di dalam lautan batinnya, Hui Shen menggeleng pelan. 'Baru sadar sekarang? Astaga.'Bai Rong semakin mendekat, bahkan tangannya meraih tangan Zhang Liu, menggenggamnya erat. Matanya menatap penuh harap, menunggu kata-kata yang ia nanti-nanti."Bagaimana, Tuan Zhang?"Zhang Liu tersenyum tipis, canggung. Ia menarik tangannya perlahan, tak ingin bersikap kasar pada gadis itu."Maaf, Nona."Bai Rong mendongak, alisnya langsung mengernyit."Saat ini aku belum bisa memikirkan soal hubungan dengan lawan jenis," lanjut Zhang Liu, suaranya pelan tapi jelas. "Ada yang harus kulakukan, dan aku tak mau itu menyakiti orang yang menjalin hubungan denganku."Bai Rong menunduk. Ia menggigit bibir, mencoba menahan rasa kecewa yang mulai menggenang di dadanya.Zhang Liu berusaha menolak dengan halus, meski ia tahu apapun
Wen Ying masih membisu. Bibirnya mengeras, matanya menatap kosong ke depan, tak ada satu kata pun keluar dari mulutnya.Xue Lun menghela napas. Sabit di tangannya ia dekatkan ke leher Wen Ying, ujung tajamnya hampir menyentuh kulit."Kubilang jawab."Wen Ying menggigit bibir, tubuhnya gemetar, tapi tetap tak bersuara.Zhang Liu mendengus kesal. Ia meraih sabit dari tangan Xue Lun, dan dalam sekejap, mengayunkannya ke arah tangan Wen Ying.Sret!Satu jari Wen Ying terputus. Darah menyembur, dan pria itu menjerit kesakitan."Aargh!"Xue Lun mengerjap, sedikit terkejut. Ia menatap Zhang Liu, baru teringat. 'Oh benar, dia memang iblis.'Zhang Liu mengangkat sabit itu, masih meneteskan darah, dan menatap Wen Ying dingin. "Aku takkan bertanya lagi. Jawab, atau jari berikutnya putus."Wen Ying terisak, rasa sakit dan ketakutan membuat pertahanannya runtuh."A-aku... aku dapat bahan dan material langka jika membantu Sekte Tiansheng menaklukkan Kota Bailian. M-mereka juga menjanjikan posisi te
Di tengah kerumunan yang mulai memanas, Wen Ying masih berusaha membela diri."Tidak mungkin!" teriaknya, menunjuk Zhu Pei. "Dari mana kau tahu soal kerusakan array? Kau orang asing yang baru datang kemarin!"Zhu Pei tak bergeming. Ia berdiri tenang di hadapan kerumunan yang mulai memusatkan perhatian padanya."Kau benar," ucap Zhu Pei, suaranya tenang. "Aku orang asing. Tapi mataku tidak pernah berbohong."Zhu Pei memejamkan mata sejenak. Saat membuka kembali, iris matanya berubah. Warna hijaunya bersinar terang, memancarkan cahaya aneh yang membuat siapa pun yang menatapnya merasa seperti ditelanjangi.Kerumunan bergemuruh."Itu mata kebenaran!""Mata itu bisa melihat kebenaran apa pun!""Aku pernah dengar rumornya. Tapi kupikir cuma dongeng..."Zhu Pei menatap Wen Ying dengan mata hijaunya yang bersinar."Aku melihatnya dengan mataku sendiri." Zhu Pei kemudian menunjuk ke area kerusakan array yang ia lihat. "Ada beberapa titik kerusakan array di sana."Wen Ying mundur, wajahnya sem
Ratusan anak panah melesat serentak. Udara berdesir kencang, ujung-ujung beracun itu meluncur bak hujan yang membawa kematian.Semua mata tertuju pada Zhang Liu yang berdiri di tengah lapangan, dikelilingi panah dari segala arah.Brak!Panah-panah itu menghantam tanah dan tubuh Zhang Liu bersamaan, menimbulkan debu tebal yang menyelimuti seluruh area.Pecahan batu dan tanah beterbangan, membuat penonton terpaksa menutup mata. Wen Ying tertawa puas, memandang kepulan debu dengan senyum penuh kemenangan."Dasar penyembah iblis," ejeknya. "Rasakan sendiri akibatnya."Bai Rong memegang erat ujung gaunnya, jantungnya berdebar begitu kencang hingga ia hampir tak bisa bernapas.'Tuan Zhang...' batinnya gelisah.Zhu Pei berdiri di sampingnya, masih dengan ekspresi santai, tapi matanya menyipit tajam mengamati.Debu mulai menghilang. Dan di tengah lapangan itu, Zhang Liu masih berdiri tegak.Zhang Liu tak bergerak. Tak terluka. Di sekeliling tubuhnya, lapisan bening seperti perisai tembus pand
"Tidak ada apa-apa, Wen Ying," jawab Bai Rong, berusaha tenang. "Dia hanya mengajariku teknik penyembuhan."Wen Ying tak percaya. Matanya menyipit penuh kecurigaan, lalu melangkah maju mendesak Zhang Liu dengan emosi."Kau pikir aku bodoh? Orang asing yang tiba-tiba muncul saat kota diserang, lalu kau mengajak gadis pemilik rumah ini ke ruang tertutup sendirian? Apa maksudmu sebenarnya?"Zhang Liu menanggapi dengan tenang. Suaranya pelan, berusaha sopan meski nada Wen Ying mulai meninggi."Aku hanya melakukan permintaan Tuan Bai Xu. Jika kau tidak percaya, silakan tanyakan langsung padanya.""Jangan bawa-bawa nama paman Bai Xu!" bentak Wen Ying. "Kau pikir dengan berpura-pura baik, semua orang akan percaya padamu?"Zhang Liu masih berusaha mengabaikan. Ia memilih diam, berharap pria di depannya ini cepat sadar dan pergi.Tapi Wen Ying terus melontarkan kata-kata pedas. Dan lama kelamaan, perkataannya semakin kurang ajar."Atau mungkin ini sudah rencanamu dari awal? Menyusup ke kota, b
Di satu ruangan di kediaman Tuan Bai Xu, Bai Rong mengajak Zhang Liu duduk di atas kursi panjang. Itu adalah kamarnya sendiri.Bai Rong tampak gugup saat berhadapan dengan Zhang Liu. Matanya tak berani menatap, malah beralih ke arah lain."Berbaliklah," ucap Zhang Liu.Bai Rong refleks mendongak. "Y-ya?""Berbaliklah, Nona. Akan kuperiksa kondisi dantianmu lebih dulu," jelas Zhang Liu."O-oh, baiklah." Bai Rong memutar tubuhnya dan duduk bersila. Dia sedikit salah tingkah.Zhang Liu meletakkan telapak tangannya di punggung Bai Rong, memeriksa aliran energi qi di tubuh gadis itu. Dan energi yang mengalir di sekitar dantiannya memang lemah.Zhang Liu mulai menyembuhkan, dan berbisik pelan."Teknik penyembuhanku sedikit berbeda. Jadi kubantu memperkuat pondasi dantianmu dulu, Nona."Bai Rong mengangguk, matanya terpejam. Sedikit tak fokus karena suara berat Zhang Liu di dekatnya, membuat desiran aneh di tubuhnya.Setelah menyembuhkan, Zhang Liu memberitahu teknik penyembuhannya dengan me
Zhu Pei menempelkan telinganya lebih erat ke dinding. Suara bisikan itu terdengar jelas dua orang, satu laki-laki dan satu perempuan."Tapi dia yang menyelamatkanku dari pembunuhan. Lagi pula, ini memang salahku." Suara Luo Yan terdengar ragu, penuh penyesalan. Ada getar bersalah yang tak bisa dise
"Zhang Liu, kau juga dengar, kan?" tanya Zhu Pei dengan nada sedikit gelisah.Zhang Liu mengangguk pelan. "Karena itu cepat selesaikan permainanmu. Kita harus cepat pergi." Dia menarik kerah pakaian Zhu Pei."T-tunggu sebentar!" Zhu Pei sedikit menahan tubuhnya dan buru-buru meraup koin-koin emas di
"Sepertinya mereka bermalam di sini setelah memusnahkan sekte musuh," lanjut Zhu Pei dengan suara pelan. Lalu menunjuk dengan tangan. "Perjalanan ke sekte mereka pasti memakan waktu. Lihat, ada yang terluka juga."Zhang Liu mengangguk paham. "Masuk akal. Tapi berbahaya jika kita menginap di tempat
"Kau. Sepertinya aku pernah melihatmu."Shu Meili mendekat pada mereka. Dan ternyata, tangannya menunjuk pada Zhu Pei. Matanya menyipit tajam, seperti sedang mencoba mengingat sesuatu.Zhu Pei menunduk dalam, jantungnya berdetak kencang. Ia tahu wajahnya mungkin dikenal. Itu karena dulu lukisan waj







