공유

Pewaris Terlupakan
Pewaris Terlupakan
작가: mr.midi

Bab 1

작가: mr.midi
last update 게시일: 2026-07-24 07:13:13

Eric menuruni tangga fakultas setelah kelas berakhir.

Kemeja putihnya sudah mulai pudar, sementara lutut celana jeans yang dikenakannya tampak usang. Meski begitu, pakaian itu tetap bersih dan rapi.

Di tengah lautan mahasiswa yang mengenakan pakaian bermerek, penampilannya begitu mencolok, seolah ia berada di tempat yang salah.

“Sttt… lihat tuh, mantanmu lewat, Issa.”

Christine menyenggol lengan Issabel sambil tersenyum jahil.

Issabel yang berdiri bersama Christine dan Xavia langsung menoleh. Begitu matanya menangkap sosok Eric, wajahnya seketika berubah dingin.

“Sudahlah, jangan bahas dia lagi.”

Christine justru terkekeh.

“Lucu, ya. Dulu kamu sampai tergila-gila sama dia. Sekarang lihat mukanya aja kayak jijik.”

Rahang Issabel mengeras.

Tiga tahun lalu, saat masa orientasi kampus, dialah yang lebih dulu jatuh hati pada Eric. Sikap tenang pria itu membuatnya terpikat. Bahkan, Issabel sendiri yang memohon agar hubungan mereka menjadi lebih dari sekadar teman.

Namun semuanya berubah ketika ia mengetahui kenyataan bahwa Eric hanyalah mahasiswa miskin.

Sejak hari itu, rasa cintanya berubah menjadi rasa malu.

Baginya, pernah mengejar pria miskin adalah aib yang menghancurkan harga dirinya.

Dan selama tiga tahun terakhir, mempermalukan Eric menjadi caranya menghapus aib tersebut.

Melihat Eric hampir mencapai ujung tangga, senyum tipis perlahan muncul di bibir Issabel.

“Eric!”

Eric berhenti dan menoleh.

Issabel menatapnya dengan mata yang sengaja dibuat berkaca-kaca.

“Tolong pegangin buku aku sebentar, dong. Tanganku pegal banget.”

Beberapa mahasiswa mulai memperhatikan mereka.

Tanpa berpikir macam-macam, Eric melangkah mendekat lalu mengulurkan tangan.

Namun tepat saat jemarinya menyentuh buku itu, Issabel tiba-tiba menariknya kembali.

Buku terlepas dari genggamannya, sementara ujung bajunya ikut tertarik sedikit.

“Aaaah!”

Issabel menjerit sambil mundur beberapa langkah.

“Jangan sentuh aku! Eric, aku cuma minta tolong pegangin buku. Kenapa kamu malah narik bajuku? Mau kamu apain aku?”

Christine langsung memanfaatkan situasi.

“Tolong! Ada orang mesum! Dia mau memperkosa Issabel! Dasar cowok miskin nggak tahu diri!”

Kata memperkosa seketika membakar emosi mahasiswa di sekitar.

Tanpa mencari tahu kebenarannya, beberapa mahasiswa langsung menyerbu Eric.

“Salah! Ini salah paham! Aku cuma—”

Bugh!

Sebuah pukulan menghantam perutnya hingga napasnya langsung terputus.

Pukulan pertama menjadi awal.

Tak lama kemudian, tinju dan tendangan menghujani tubuh Eric tanpa ampun.

“Mesum!”

“Dasar sampah!”

“Berani ganggu perempuan!”

Lima mahasiswa mengeroyoknya bergantian.

Eric hanya mampu melindungi kepalanya. Setiap kali mencoba menjelaskan, balasannya hanyalah pukulan berikutnya.

Di antara kerumunan, sebenarnya ada beberapa mahasiswa yang melihat jelas bahwa Issabellah yang sengaja menjatuhkan buku itu.

Mereka tahu Eric dijebak.

Namun tak seorang pun peduli.

Sebagian memilih diam.

Sebagian lagi justru menikmati tontonan itu, seolah penderitaan Eric hanyalah hiburan gratis.

Eric menggertakkan gigi.

Rasa sakit akibat pukulan masih sanggup ia tahan.

Namun fitnah dan tatapan jijik dari orang-orang di sekitarnya jauh lebih menyakitkan.

Dengan mata memerah, ia menatap lurus ke arah Issabel.

Wanita itu membalas tatapannya.

Lalu menjulurkan lidah sambil tersenyum mengejek.

“Berhenti!”

Suara Xavia akhirnya memecah keributan.

Kelima mahasiswa itu serempak menoleh.

Tanpa banyak bicara, Xavia mengeluarkan ponselnya, mengarahkan kamera ke arah mereka, lalu mulai merekam.

“Kalau kalian nggak berhenti, video ini bakal aku sebar. Silakan lanjut kalau memang berani.”

Wajah kelima mahasiswa itu langsung berubah pucat.

Begitu menyadari wajah mereka terekam jelas, mereka buru-buru menutupi muka lalu kabur. Kerumunan yang tadi begitu berisik ikut membubarkan diri seolah tak pernah terjadi apa-apa.

Eric membungkuk sambil memegangi perutnya. Ia menarik napas beberapa kali sebelum memaksa dirinya berdiri.

“Terima kasih…”

Xavia hanya mengangguk pelan.

Tanpa mengatakan apa pun, ia menarik Issabel dan Christine meninggalkan tempat itu.

Kalau bukan karena Xavia, mungkin kondisinya akan jauh lebih parah.

Untungnya, tubuh Eric sudah terlalu sering menerima pukulan hingga terbiasa menahan rasa sakit. Biasanya, setelah meminum obat pereda nyeri, luka-lukanya akan membaik dengan sendirinya.

⸻

Satu jam kemudian, Eric tiba di kamar kosnya yang sempit.

Ia mengganti pakaian, lalu bergegas menuju restoran tempatnya bekerja.

Baginya, luka bukan alasan untuk berhenti mencari nafkah.

Kalau tidak bekerja, ia tidak akan makan.

Namun begitu memasuki restoran, Eric langsung merasakan ada yang berbeda.

Tatapan para pelanggan dipenuhi rasa jijik. Beberapa bahkan terang-terangan menunjuk ke arahnya sambil berbisik.

Belum sempat ia memahami apa yang terjadi, manajer restoran menghampirinya dan memecatnya saat itu juga.

Tanpa memberi kesempatan menjelaskan, dua petugas keamanan langsung menyeret Eric keluar.

Eric masih terpaku ketika suara bisik-bisik mulai terdengar dari sekitar.

“Itu dia…”

“Pria yang melecehkan mahasiswi cantik itu.”

Wajah Eric langsung berubah.

Ia buru-buru mengeluarkan ponselnya.

Begitu layar menyala, dadanya terasa sesak.

Grup universitas dipenuhi unggahan tentang dirinya.

Sebuah video memperlihatkan Issabel menangis histeris, disertai caption yang menuduh Eric telah melecehkannya.

Video itu sudah menyebar ke berbagai platform.

Kolom komentarnya dipenuhi hujatan.

“Hajar sampai mati orang mesum begini!”

Bahkan beberapa akun anonim terang-terangan mengancam akan membunuhnya.

Tangan Eric mulai gemetar.

Di mata publik, ia sudah divonis bersalah.

Tak seorang pun peduli pada penjelasannya.

Ia menarik napas panjang, memaksa dirinya tetap tenang.

Langit perlahan menggelap.

Dengan langkah gontai, Eric berjalan pulang menuju kosnya.

Namun saat hampir tiba, sebuah sedan hitam berhenti di pinggir jalan.

Empat pria turun dan berjalan lurus ke arahnya.

Eric langsung mengenali salah satu dari mereka.

Jason Smith.

Kakak Issabel.

Jantungnya berdegup kencang.

Kakinya seolah terpaku.

Ia bahkan tak sempat berpikir untuk melarikan diri.

Tiga pria itu lebih dulu menerjang, menjatuhkannya ke tanah, lalu menyeretnya seperti karung berisi sampah hingga berhenti tepat di depan Jason.

Tanpa sepatah kata, Jason langsung menendang wajah Eric.

Brak!

“Argh…!”

Tubuh Eric terlempar, sementara darah segar langsung mengucur dari hidungnya.

Jason mencengkeram rambut Eric, memaksanya mendongak, lalu meludahi wajahnya.

“Dasar sampah. Berani-beraninya kau melecehkan adikku.”

“Sebentar… aku—”

Plak!

Sebuah tamparan keras memutus ucapannya.

“Aku tidak datang untuk mendengar penjelasan.”

Tatapan Jason sedingin es.

“Hari ini, kau harus mati.”

Bugh!

Satu tendangan lagi menghantam wajah Eric hingga tubuhnya kembali terguling.

“Arghhh…!”

Jason menoleh kepada anak buahnya.

“Patahkan tangan kanannya.”

Tanpa ragu, dua pria langsung mengunci tubuh Eric, sementara pria ketiga memelintir lengan kanannya sekuat tenaga.

Krak!

Suara tulang patah terdengar jelas.

“Aaaahhh…!”

Jeritan Eric menggema di jalan yang mulai sepi.

Jason hanya menatap tanpa sedikit pun rasa iba.

Setelah memastikan Eric tak lagi mampu melawan, ia bersama ketiga anak buahnya kembali masuk ke mobil dan pergi, meninggalkan Eric tergeletak sendirian.

Air mata bercampur darah mengalir di wajahnya.

Seluruh tubuhnya dipenuhi rasa sakit.

Ia tidak pernah melakukan kesalahan.

Namun, selalu dialah yang harus menanggung akibatnya.

Untuk sesaat, sebuah pikiran melintas di benaknya.

‘Mungkin… mati memang lebih baik daripada terus hidup seperti ini.’

Cling!

Legacy Intelligence berhasil diaktifkan.

Memverifikasi pengguna…

Cincin tembaga di jari Eric tiba-tiba memancarkan cahaya redup setelah terkena percikan darahnya. Selama bertahun-tahun, cincin peninggalan orang tuanya itu tak pernah menunjukkan sesuatu yang aneh. Namun kali ini… berbeda.

Sesaat kemudian, sebuah layar transparan muncul di hadapannya, melayang di udara seperti hologram.

Pandangan Eric mulai kabur.

Senyum tipis terukir di sudut bibirnya.

“Jadi… ini halusinasi terakhirku…”

Napasnya semakin lemah.

“Sebentar lagi… aku bisa bertemu dengan kalian, Ayah… Ibu…”

Dengan sisa tenaga yang dimilikinya, Eric mengangkat tangan kirinya dan perlahan menyentuh layar itu.

Ujung jarinya baru saja mengenai permukaannya…

Saat kesadarannya akhirnya lenyap.

이 작품을 무료로 읽으실 수 있습니다
QR 코드를 스캔하여 앱을 다운로드하세요
댓글 (4)
goodnovel comment avatar
Pengunjung072672
Makin seru, lanjut
goodnovel comment avatar
Pengunjung072672
Menarik lanjutkan
goodnovel comment avatar
mr.midi
Alurnya baru… cuma nama pemerannya yang sama
댓글 더 보기

최신 챕터

  • Pewaris Terlupakan    Bab 76

    Robert melirik pesan yang masih terbuka di layar ponselnya. “Robert? Memangnya apa yang sedang terjadi?” “Tidak ada.” Ia tidak berniat membuat istrinya ikut memikirkan masalah tersebut. “Aku hanya ingin memastikan.” “Baiklah.” Percakapan mereka sempat terdiam beberapa saat. “Bersabarlah sedikit lagi,” ucap Robert. “Setelah Nadine menyelesaikan SMP-nya, aku akan mengurus semuanya. Kalian pindah ke Velora dan kita akan tinggal bersama.” Hening sesaat terdengar dari seberang. “Kau serius?” “Aku sudah mempertimbangkannya.” Suara wanita itu terdengar lebih cerah. “Baiklah. Aku akan menunggu.” Robert tersenyum kecil. “Kau juga jangan terlalu memaksakan diri di sana,” lanjut wanita itu. “Pekerjaanmu memang penting, tapi jangan sampai lupa beristirahat.” “Aku tahu.” “Kau selalu mengatakan itu. Awas saja jika aku mendapat kabar kau sakit lagi.” Robert tertawa pelan. “Baiklah. Aku akan lebih memperhatikannya.” “Bagus.” Keduanya kembali berbicara sebentar sebelum a

  • Pewaris Terlupakan    Bab 75

    Eric menatapnya beberapa saat.“Memangnya setiap hubungan harus dimulai dengan mengungkapkan perasaan?”“Harus. Itu sudah menjadi hukum mutlak.”“Kenapa harus?”Andreas mengernyit seolah pertanyaan itu terdengar aneh. “Karena kalau tidak ada yang mengatakannya, bagaimana kalian tahu hubungan kalian sudah sampai mana?”“Bukankah sikap seseorang sudah cukup untuk menunjukkan perasaannya?”“Itu berbeda.” Andreas menggeleng. “Kau bisa memperlakukannya dengan baik, dia juga bisa melakukan hal yang sama kepadamu. Tapi selama tidak ada yang mengatakannya, kalian tetap tidak punya hubungan apa-apa.”Eric terdiam sejenak.“Jadi menurutmu, setelah mengungkapkan perasaan, hubungan itu otomatis menjadi resmi?”“Kalau dia menerimamu, tentu saja.” Andreas menatapnya heran. “Memangnya selama ini kau pikir orang-orang mulai berpacaran bagaimana?”Eric tertawa kecil. “Aku hanya bertanya.”Andreas menggelengkan kepala tak berdaya.“Duduk, duduk.”Eric menarik kursi dan duduk.Andreas memasang wajah ser

  • Pewaris Terlupakan    Bab 74

    Dominic terdiam.Tiga pasang mata menatapnya, menunggu jawaban. Namun, alih-alih menjawab pertanyaan Eric, Dominic justru menghela napas.“Jangan melempar pertanyaan seperti itu. Bagaimana aku bisa meninggalkan pekerjaanku yang sekarang? Sumber penghasilanku cuma dari sana.”“Memangnya berapa gajimu sekarang?”“Seribu lima ratus dolar.” Dominic berhenti sejenak. “Baru-baru ini naik seratus dolar. Katanya performa kerjaku cukup baik.”Eric merapikan sendok di samping piringnya.“Apa kau ingin berkuliah atau tidak?”Dominic mengerutkan kening. “Kau menanyakan itu terus. Memangnya kau mau membiayai kuliahku?”“Kenapa tidak?”Dominic terdiam.Ia mengira Eric hanya sedang menggodanya. Namun, ekspresi Eric tidak menunjukkan sedikit pun tanda sedang bercanda.“Jangan bercanda seperti ini. Nanti aku benar-benar menganggapnya serius.”“Aku memang serius.” Eric tersenyum kecil. “Bagaimana kalau seperti ini? Kau akan mendapat beasiswa dari perusahaanku. Sebagai gantinya, setelah lulus nanti, kau

  • Pewaris Terlupakan    Bab 73

    Setelah berbicara dengan beberapa tamu, Eric akhirnya memiliki sedikit waktu untuk bernapas.Namun, belum sempat ia meninggalkan tempatnya, seseorang sudah berjalan menghampirinya.“Akhirnya kerja kerasmu selama ini terbayar lunas.”Eric menoleh.Xavia berdiri di hadapannya dengan senyum kecil.“Selamat.”“Terima kasih.”Tatapan Xavia sempat turun ke bahu Eric. Ia kemudian membuka tas kecilnya dan mengeluarkan sapu tangan.“Ada noda kecil di jasmu.”Eric mengikuti arah pandangannya dan baru menyadari noda tersebut.“Oh, untung kau melihatnya.” Ia menerima sapu tangan itu dan membersihkan noda di jasnya.Xavia hanya tersenyum melihatnya.“Terima kasih.” Eric mengembalikan sapu tangan tersebut.Xavia mengangguk kecil lalu memasukkannya kembali ke dalam tas.Tidak jauh dari sana, Andreas dan Dominic yang melihat keduanya mulai berbicara pelan sambil sesekali tertawa.Xavia kembali menatap Eric.“Jadi, bagaimana aku harus memanggilmu mulai sekarang? Tuan Brown, Tuan Eric, atau Tuan Muda?”

  • Pewaris Terlupakan    Bab 72

    Tidak lama setelah Eric mengambil tempat di barisan depan, acara peresmian akhirnya dimulai.Seorang pembawa acara naik ke atas panggung dan menyambut seluruh tamu yang hadir. Setelah beberapa kata pembuka, Wali Kota Oxfield mendapat kesempatan memberikan sambutan singkat sebelum akhirnya giliran Robert dipanggil.Tepuk tangan kembali terdengar.Robert berdiri dari kursinya dan berjalan menuju panggung.Sebagai Presiden Direktur, dialah yang selama satu bulan terakhir menangani hampir seluruh proses pembangunan perusahaan. Ia mengucapkan terima kasih kepada semua pihak yang telah membantu, lalu menjelaskan secara singkat arah perusahaan dan rencana mereka setelah mulai beroperasi.Namun, tidak semua perhatian tertuju kepadanya.Sesekali, beberapa pasang mata beralih ke barisan depan.Eric duduk tenang bersama para pemegang saham lainnya.Di antara para pengusaha, pejabat, dan orang-orang dari industri farmasi yang memenuhi tempat itu, usianya terlihat sangat muda.“Dia Eric Brown?”“Y

  • Pewaris Terlupakan    Bab 71

    Satu bulan berlalu.Dalam waktu sesingkat itu, banyak hal telah berubah.Perusahaan farmasi yang sebulan lalu masih berupa rencana di atas meja kini telah berdiri.Kantor pusat di Oriville mulai beroperasi dua minggu lalu. Alih-alih membangun dari nol, mereka membeli sebuah gedung yang sudah berdiri dan merenovasinya sesuai kebutuhan. Sebagian besar urusan administrasi dan manajemen perusahaan kini ditangani dari sana, sementara fasilitas produksi utama berada di Oxfield.Robert menepati perkataannya.Dengan bantuan dua belas keluarga, berbagai hal yang seharusnya membutuhkan waktu berbulan-bulan berhasil diselesaikan jauh lebih cepat. Tenaga ahli didatangkan, jaringan pemasok dibentuk, jalur distribusi dipersiapkan, sementara fasilitas yang mereka dapatkan di Oxfield direnovasi dan disesuaikan dengan kebutuhan produksi.Eric sendiri tidak banyak terlibat dalam urusan tersebut.Selama satu bulan terakhir, sebagian besar waktunya digunakan untuk menyempurnakan formula dua produk pertam

더보기
좋은 소설을 무료로 찾아 읽어보세요
GoodNovel 앱에서 수많은 인기 소설을 무료로 즐기세요! 마음에 드는 작품을 다운로드하고, 언제 어디서나 편하게 읽을 수 있습니다
앱에서 작품을 무료로 읽어보세요
앱에서 읽으려면 QR 코드를 스캔하세요.
DMCA.com Protection Status